
Betapa khawatirnya Victor, begitu mendengar kabar, jika Rose akan segera melahirkan. Kecemasan yang ia rasakan, sama seperti, ketika dirinya mendengar tentang kabar kecelekaan yang dialami oleh adiknya waktu itu.
Prosesi ini pun mempertaruhkan nyawa seorang manusia. Seorang ibu yang mempertaruhkan jiwa dan raganya, untuk kelahiran seorang anak, yang telah ia kandung, selama 9 bulan lamanya.
Apabila, ia telah melewatkan momen penting ini terhadap putranya, maka, hal ini pun tidak bisa ia lewatkan begitu saja mengenai adiknya.
Karena, bagaimana pun juga, hanya dialah, sanak saudara yang Rose punya di negara ini. Di sini, di tempat mereka tinggal saat ini. Terlebih, tidak ada Ben, sosok yang paling dibutuhkan Rose saat ini.
Jadi, ia mesti berada di sana. Di masa-masa berat yang akan adiknya itu lalui.
Saat ini, satu keluarga kecil, sudah berada di dalam mobil. Victor yang nampak begitu cemas dan tidak bisa mengontrol diri, dilarang menyetir oleh Bella. Sehingga, Paman Alex yang mengambil bagian di belakang kemudi.
Sudah setengah jam mobil itu berkendara. Sementara yang berada di dalamnya, tidak bisa tenang, dalam keraguan masing-masing.
Jangan tanya Bervan! Anak kecil itu rela izin sekolah, demi melihat bibi kesayangannya, melahirkan seorang adik untuk dirinya.
“Victor!” panggil Bella yang duduk di kursi belakang. Bersama Bervan, yang saat ini tengah asyik memandang ke arah luar jalanan.
Nampaknya, anak kecil itu, tengah membayangkan wajah sang adik bayi.
Pria yang duduk di bangku penumpang, di samping sang pengemudi pun menoleh. Dengan raut wajah tidak bersahabat sama sekali. Victor nampak kacau.
“Apakah… kau tidak ingin… menghubungi ayahmu?” tanya Bella ragu.
Ia ingin menanyakan hal ini sejak tadi. Sejak mereka mendapat kabar dari Relly, karena Baz, kakaknya, sedang sibuk mengurus dan menemani Rose, bersama dengan Anggie.
Bagaimanapun juga, Tuan Benneth berhak mengetahui kabar bahagia ini. Begitu pikir Bella. Tetapi, ini pun hak suaminya, untuk mengabari sang ayah mertua atau pun tidak.
“Lalu… jika aku mengabarinya, apa dia akan segera datang ke sini?” balas Victor dengan pertanyaan. Terdapat nada kekecewaan pada melodi yang keluar dari mulutnya.
Yang Victor yakini, ayahnya itu, akan lebih berat dengan pekerjaannya di sana. Juga, dengan istri dan anak sambung, yang sebenarnya tidak tahu diri.
“Tapi….”
“Aku akan menghubunginya, nanti!” putus Victor tak lama. Ia pun kembali menghadap ke depan lagi. Sembari menyandarkan kepalanya ke tangan yang menyiku dan bersandar ke jendela.
Pria itu hanya memutuskannya saat ini. Tidak tahu, ia akan memutuskan untuk menghubungi ayahnya itu atau tidak. Ia akan memikirkannya, sambil berjalannya waktu.
Baik Bella, juga dengan Paman Alex yang berada di sampingnya, mereka sama-sama mengembuskan napas pasrah.
Situasi dan kondisi keluarga Victor memang rumit. Mereka hanya bisa memahami.
***
Kontraksi demi kontraksi tengah Rose rasakan. Melilit perutnya, nyeri dan rasa mulas yang menyerang, sudah memiliki jangka waktu yang sama. Juga ritmenya. Hal ini terjadi setiap setengah jam sekali, dan berlangsung selama sepuluh menit. Kadang kala lima belas menit.
Rose sudah berada di tempat praktik dokter Tania, yang tak lain adalah kediamannya sendiri. Kebetulan sekali, dokter Tania belum berangkat untuk bertugas di rumah sakit. Jadi, Rose bisa segera di tangani di sana.
Wanita itu, kini, tengah berbaring, sambil merasakan mulas yang kadang datang, kadang pergi.
Pada salah satu tangannya, sudah terhubung selang infus, guna membantu menjaga kecukupan cairan di dalam kandungan, sambil menunggu pembukaan terus berjalan dan terbuka lengkap.
Dokter Tania sudah memberikan arahan dan sedikitnya praktik, untuk mengejan serta mengatur napas, ketika masa-masa pembukaan ini. Di mana kontraksi itu akan datang makin sering dan makin hebat terasa pada sang ibu.
Ada Baz di sisinya, memegangi sebelah tangannya yang bebas sembari mengajaknya berbicara. Guna mengalihkan perhatian Rose, dari rasa sakit akibat kontraksi yang datang.
“Aku sudah menghubungi kakakmu. Sepertinya, dia akan datang bersama Bella. Dan keponakanku itu, pasti tidak akan ketinggalan. Dari yang terakhir kali, aku mengabari mereka, bocah itu sudah sangat tidak sabar, ingin segera melihat adik bayinya.”
Hh…. Rose tersenyum, bersamaan dengan dengusan pelan dari hidung, begitu Baz menyebutkan soal Bervan.
Keponakannya itu! Oh, Rose sungguh sangat merindukannya!
Terakhir kali mereka bertemu, mungkin sudah sekitar satu bulan yang lalu. Ketika kakaknya mengajak keluarga kecilnya itu, datang ke markas untuk mengunjungi dan mengecek keadaannya.
Saat ini, jalan lahirnya masih mengalami pembukaan dua. Masih menunggu, sambil berjalannya intensitas kontraksi yang Rose rasakan. Sebab, makin dekat jalan lahir bagi sang bayi, makin hebat pula rasa mulas yang menyerang.
“Baz!” panggil Rose seraya menyentuh genggaman tangan mereka. Lantas ia pun tersenyum. “Terima kasih!” ucapnya tulus kemudian.
“Ch! Terima kasih untuk apa?! Kau ini ada-ada saja!” Pria itu berdecak kecil seraya tersenyum garing.
“Terima kasih karena kau selalu ada di sisiku. Terima kasih, karena kau sudah begitu menjagaku dan anakku,” sambung Rose, mempertegas ucapannya.
Lantas, pandangan Baz turun ke bawah, pada perut Rose yang masih besar. Ia pun mengusapkan tangannya, dengan lembut pada perut itu.
“Tentu saja aku akan selalu menjagamu.” Mana mungkin aku membiarkan wanita yang ku cintai, berjuang sendirian, Rose. Sambung pria itu dalam hati.
“Dan untuk anak ini…,” Baz masih menyusurkan tangannya pada perut buncit itu. Ada sebuah pergerakan. Dan itu terjadi, pas pada telapak tangannya yang lebar dan hangat.
Seolah, anak itu sudah mengenali Baz, bahkan sebelum ia lahir ke dunia ini.
Dua orang dewasa itu pun saling berpandangan. Baz tersenyum lebar, sementara Rose membalasnya dengan sebuah senyuman lemah.
“Aku sudah menganggapnya, seperti anakku sendiri. Jadi, jangan sungkan, jangan menjadikan aku orang lain, dengan selalu mengucapkan terima kasih.”
“Tapi, Baz-“ Karena Rose tahu, ada perasaan tulus yang Baz simpan untuknya. Rose tidak bodoh, hanya saja, ia ingin terus berpura-pura bodoh seolah tidak mengetahuinya.
Sebab, karena hal itu pula, Rose merasa berat Baz melakukan ini semua padanya. Sebab ia tidak dapat membalas perasaan tulus itu. Cintanya, hatinya, hidupnya, sampai saat ini, masih milik Ben seorang. Dan kini, milik anaknya.
Ia belum bisa, atau mungkin tidak akan bisa, menyerahkan hatinya untuk orang lain lagi. Bahkan, jika Ben tidak kembali.
“Rose! Aku cukup, dengan melihatmu bahagia!” tutur Baz dengan sejuta cinta yang ia punya.
Dia tidak terobsesi untuk memilikinya. Hanya melihat Rose bahagia, maka, dirinya pun akan ikut merasa bahagia.
“Terima kasih!” Linangan air mata, tanpa sadar mengalir di ujung pelupuk mata.
Sungguh pun, Rose merasa terharu, amat terharu dengan sikap dan tindakan Baz terhadap dirinya. Ketulusan murni itu, sungguh Rose tidak dapat membalasnya. Dan, Rose sangat menyesal akan hal itu.
Tidak perlu, tidak usah, jangan lagi mengucapkan terima kasih padanya. Baz malah merasa terasingkan dengan kalimat itu.
***
Dalam kurun waktu 1 jam, pembukaan Rose berjalan dengan begitu cepat. Kini jalan lahirnya, sudah menuju pembukaan 8. Ia pun kini tengah berjuang keras, antara menahan rasa mulasnya yang hebat, juga dorongan untuk mengejan dari sang bayi.
Karena pada masa ini, Rose masih belum diperbolehkan untuk mengejan sama sekali, karena pembukaannya masih belum lengkap.
Hanya satu orang saja yang diperbolehkan masuk untuk menemani Rose. Sementara yang lainnya, dipersilahkan untuk menunggu di luar.
Maka dari itu, Relly dan Anggie yang menunggu di luar, sementara Baz yang terus menemani dan terus menyemangati Rose di dalam ruang bersalin. Dokter Tania juga seorang perawat sudah bersiap siaga di sana. Sambil memberi arahan untuk Rose mengatur napas.
Victor dan keluarga kecilnya pun sampai, bersama Paman Alex.
“Bagaimana keadaan adikku?” tanya Victor buru-buru pada Relly dan juga Anggie.
Mereka terengah-engah karena berlari setelah mobil mereka selesai diparkir. Begitu panik dan terburu-burunya mereka, apalagi ini dikarenakan mengikuti ritme langkah Victor yang sudah sangat menggila kekhawatirannya.
“Nona Rose kuat sekali. Dia tidak mengeluh sejak tadi,” jawab Relly.
“Barusan, kami dengar, sudah masuk pembukaan 8,” tambah Anggie di samping.
Mereka pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi cemas di wajah.
“Berarti sebentar lagi!” gumam Bella seraya berpikir.
Victor menggigit bibirnya, membiarkan hatinya digerogoti perasaan resah. Lantas, ia melangkahkan kaki, mondar mandir di hadapan semua orang dengan gelisah.
Tap~!
Pria itu pun menghentikan langkahnya tiba-tiba. Dan langsung menghadap ke arah Relly dan Anggie lagi.
“Lalu, apakah aku bisa masuk ke dalam? Aku ingin melihat bagaimana keadaan adikku!”
“Sayangnya tidak bisa, Tuan!” jawab Anggie dengan menyesal. “Dokter Tania sudah berpesan, tidak ada yang boleh masuk ke dalam lagi.”
“Ck!” decak Victor kesal. Dan ia makin merasa tidak berdaya. Ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa untuk adik satu-satunya itu.
“Mama, Bibi Rose akan melahirkan sebentar lagi!” seru Bervan seraya menggoyang pegangan tangannya pada sang ibu. Ia tersenyum ceria, meski sudah sangat tidak sabar. Bervan tetap berdiri dengan tenang.
“Iya, Sayang!” Bella tersenyum membalas putranya. Lantas mengajak putranya itu untuk berjalan ke arah suaminya, yang nampak kacau.
Bella pun jadi membayangkan, bagaimana, jika saat itu, Victor ada, pada saat melahirkan Bervan, putra mereka. Pasti, akan sekacau ini pula penampilan pria itu.
Hh… Hh… Tersenyum wanita itu sambil membayangkan.
“Tenanglah! Yang harus kita lakukan saat ini adalah, banyak berdoa. Agar proses melahirkannya dilancarkan, lalu, ibu dan bayinya bisa selamat dan tetap sehat,” Disusurkan tangan Bella, pada punggung yang melengkung dan tidak berdiri tegak itu.
Ia mengusap dengan lembut dan juga memberikan kehangatan serta energi positif pada sang suami. Agar tidak lagi risau, hati suaminya itu.
Tangan yang membelai itu pun turun ke bawah, kala sang suami menoleh kepadanya. Kemudian, tangan itu pun menggenggam. Sembari Victor tersadar akan kecemasannya yang berlebihan. Pria itu lantas tersenyum lemah, untuk membalas istrinya.
Sementara di dalam sana,
Di ruangan bersaling itu, Rose tengah berjuang dan berusaha keras. Sudah 15 menit berlalu dan pembukaannya kini sudah lengkap. Rose sudah siap untuk melahirkan.
Dokter Tania memposisikan tubuh Rose, untuk setengah menduduk pada posisi merebahnya ini. Sebelah tangannya terus menggenggam tangan Baz dengan erat dan sangat kuat, setiap kali ajakan untuk mengejan itu datang.
“Ayo, Rose! Kau pasti bisa!” Baz tak berhenti menyemangati.
“Ya, sedikit lagi! Tarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan melalui mulut. Kumpulkan tenagamu. Bersiap untuk mengejan dengan sangat kuat!” Dokter Tania mengarahkan dengan begitu sabar.
“Huh…,” Rose membuang napasnya. Lantas… “Hhheekkhh….” Dia berusaha mengejan dengan sangat keras sambil menekan otot perutnya ke bawah.
Dan Baz, membiarkan saja, tangannya sampai kebas diremat kuat oleh wanita itu. Yang penting, Rose bisa segera melahirkan bayinya.
Eearrghhhh~!
Suara tangisan bayi pun terdengar tak lama.
“Selamat, Nona! Bayimu sudah lahir!” ucap sang dokter seraya menggendong si jabang bayi. Ia tersenyum hangat pada sang ibu.
“Selamat!” desah Baz penuh haru.
Rose menggangguk dengan senyum lemahnya. Tangis haru beserta peluh, berpadu pada wajahnya yang lelah.
Lantas, wanita itu meluruskan pandangannya. Memandang ke arah langit-langit ruangan.
‘Anak kita sudah lahir, Ben!’ sebutnya dalam hati. Bersama kristal bening yang terus mengalir. Anugerah cinta mereka, telah lahir ke dunia ini.
***
Lalu, di suatu tempat, di sudut dunia ini,
Seseorang, tiba-tiba membuka mata. Terbuka, terbelalak, seakan ia baru saja bangun dari perjalanan panjangnya di alam bawah sadar.
Ia memejamkan matanya kembali. Bayang seorang bayi yang menepuk wajahnya, terasa amat jelas. Lantas, ia membuka mtanya lagi. Yang ternyata, tidak ada apa-apa ia dapati.
Bersambung…
nah, abis ini loncat lagi ke beberapa tahun mendatang ya teman-teman...
kok aku deg-degan bgt ya,, xixixi