
“Ada apa, Relly? Sebenarnya apa yang terjadi padanya?” tanya Rose yang tak berhenti khawatir.
Dirinya dan Ben baru saja selesai membersihkan diri dan sarapan pagi. Lalu, keduanya berpindah ke ruangan pribadi Ben, karena ada beberapa hal yang mesti laki-laki itu periksa.
Baru juga beberapa saat mereka mendudukkan diri, seorang anak buah datang dan memberi kabar jika Anggie tiba-tiba pingsan ketika latihan tinju.
Rose yang panik bertekad untuk segera melihat keadaannya. Bagaimana pun juga, Anggie adalah teman pertamanya berada di sana. Juga, sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
Jadi, mau tak mau, pria bertopi koboi itu meninggalkan pekerjaan, yang baru saja ia pegang.
Dan disinilah Ben, menemani Rose di kamar pribadi milik Zayn dan Anggie. Untuk melihat bagaimana keadaan, salah satu wanita terhebat di Harimau Putih.
Tadi, begitu mendapati Anggie hilang kesadaran, Relly langsung membopong dan membawa wanita itu ke kamarnya.
Seorang dokter pun sudah ia panggil untuk memeriksa kondisi Anggie. Bersyukur dokter mengatakan jika Anggie hanya kelelahan.
Namun setelah itu, hatinya pilu mendengar jika wanita seksi itu sekarang sedang mengalami stress yang berlebihan. Dokter menyarankan, supaya mereka semua berusaha membuat Anggie lupa dengan hal yang terus menjadi beban pikirannya.
Relly pun bertekad, ia akan terus berada di sisi Anggie, meski entah wanita itu akan menerimanya atau tidak. Ia pun sudah tidak mampu menutupi perasaannya lagi.
“Sudah berhari-hari dia terus memaksakan diri begini, Nona!” jawab Relly lesu.
Mereka pun mengalihkan pandangan ke arah wanita yang sedang terpejam di atas tempat tidurnya. Mereka sama-sama tahu penyebabnya, namun tidak dapat berbuat banyak.
“Kau belum menemukan jejaknya?” tanya Ben pada Relly. Tujuan pertanyaan itu tentu saja mengenai Zayn yang masih belum dapat ditemukan.
“Belum, Tuan!” Relly menggeleng lemagh.
Kali ini Ben tidak marah atas kegagalan asistennya itu. Sebab ia pun sudah mengetahui seberapa keras Relly mencoba selama ini. Dan hasilnya tetap nihil.
“Johan juga menghilang?” tanya Ben lagi pada Relly.
Kernyit di alis Rose muncul, ia lalu berpaling ke arah kekasihnya. “Maksudmu, ayahnya Zayn? Dia juga menghilang?”
Ben mengangguk kecil untuk jawaban. Bola matanya bergulir sebentar ketika pria itu kemudian berpikir. Apa keduanya menghilang secara bersamaan?
“Ya, Tuan! Tuan Johan juga menghilang. Sama seperti Zayn, dia juga menghilang tanpa jejak,” jelas Relly. Kemudian pria itu menghela napas lelah.
Hilang masalah yang satu, datang lagi masalah yang satunya. Mereka bahkan belum menginterogasi Zayn atas apa yang telah dilakukannya. Namun, anak itu sudah tidak diketahui keberadaannya.
Bagaimana pun juga, mereka mesti meluruskan kesalahpahaman yang sudah semakin jauh ini. Walaupun terasa sangat sulit, seperti mengurai benang kusut.
Ben memperhatikan wajah pucat Anggie. Ia turut prihatin dengan apa yang sedang anak buahnya itu lalui. Pria itu juga jadi mempertimbangkan, untuk lekas memberitahukan kebenarannya kepada Anggie.
Bagaimana pun juga, dia berhak tahu. Apalagi hal ini berkaitan dengan orang terdekatnya.
Walaupun nantinya, Anggie pasti akan kecewa atau marah. Dan tidak tahu pula, anak buahnya itu akan berpihak kepada siapa. Ben tetap akan mengatakannya.
Pria dengan topi koboi itu lantas mengalihkan pandangan ke arah Relly. Dilihatnya pria itu tengah memandangi Anggie tiada henti.
Dan baru kali ini, ia melihat tatapan yang berbeda ada di mata asistennya itu. Terhadap Anggie. Tatapan yang sama yang ia miliki, jika Rose sedang dalam keadaan terluka atau tersakiti.
Kepedulian yang begitu besar, bersamaan dengan amarah serta khawatir, meliputi kedua mata Relly ketika sedang menatap Anggie, saat ini.
Hah! Ben menghela napas pelan.
Apakah dia telah begitu bodoh selama ini? Sejak kapan Relly yang jarang serius memiliki tatapan seperti itu kepada Anggie?
Betapa bodohnya! Ternyata anak itu menyimpan rasa terhadap Anggie!
“Ayo!” Diusap lembut bahu Rose yang sedang ia rangkul. Untuk menarik atensi wanita itu kepadanya. “Kita sebaiknya kembali! Pekerjaanku masih menumpuk!”
“Tapi, Ben! Aku masih ingin di sini, menemani Anggie. Aku ingin menunggunya sampai terbangun,” jawab Rose sembari menatap penuh harap.
Tck! Pria itu berdecak pelan. Wanitanya ini kenapa tidak peka juga?! Harusnya mereka memang pergi, untuk memberi ruang bagi Relly dan Anggie.
“Sudah, ayo!” Dan Ben tidak berbelas kasihan sama sekali. Ia tetap membawa Rose, menyeret langkahnya dengan sengaja ke arah luar kamar itu.
“Ayo, kembali! Nanti, aku akan menjelaskannya kepadamu!” bisik Ben saat langkah kekasihnya itu terasa berat dan terpaksa. Bahkan berulang kali, Rose menoleh ke belakang dengan tidak rela.
Benar-benar! Saat ini, Ben seperti sedang membujuk anak kecil saja!
Rose menatapnya, meski dengan kebingungan, namun akhirnya wanita itu mau ikhlas terbawa ajakannya keluar.
Clek~!
Terdengar pintu kamar tertutup kembali.
Sekarang, di kamar itu, hanya ada Relly yang sadar dan terus menyaksikan Anggie terpejam. Pria itu menjulurkan tanganya. Jemari lentik wanita itu, seperti mempunyai magnet, menarik tangan Relly untuk menyentuhnya.
Hingga, hanya ujung jemarinya yang berhasil menyentuh ujung jemari Anggie. Relly begitu takut, gerakannya nanti akan membangunkan Anggie yang tengah beristirahat.
Waktu telah berganti siang bersama terik yang menyengat. Ini bahkan sudah lewat tengah hari. Sudah pukul 2 siang, sudah berlalu berjam-jam semenjak Anggie pingsan tadi.
Egh…! Anggie mulai sadar. Ia mulai mentas dari alam bawah sadarnya. Kelopak matanya ia buka perlahan, mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya.
Bersamaan dengan kesadarannya yang pulih, Anggie pun merasakan tubuhnya terasa sakit semua. Terasa remuk seperti habis dipukuli.
Kepalanya yang masih terasa pening pun ingin ia pegangi, untuk sekadar memberikan kenyamanan juga sedikit pijatan. Mungkin saja, rasa peningnya akan benar-benar mereda.
Namun… satu tangannya tak bebas ia gerakkan. Ada sesuatu yang menahan, membebaninya sehingga tak dapat ia angkat.
Anggie menoleh. Lalu mendapati seseorang tengah melamun. Menatap jauh ke depan, ke dinding kamarnya yang tidak ada apa-apa, dengan satu tangan yang menyanggah dagu.
Lalu… ia pun mendapati, jika tangannya yang tak bisa digerakkan, ternyata sedang digenggam dengan erat oleh orang itu. Dan dia adalah Relly!
Takutnya, dia sedang bermimpi saat ini. Atau mungkin, hal yang baru saja dilihatnya, adalah sebuah khayalan belaka. Anggie lantas mengucek mata, membiarkan pandangannya menjadi lebih jelas.
Oh, tidak! Ini bukan mimpi! Dia memang adalah benar-benar Relly.
Apa yang sedang pria itu lakukan di sini? Dan juga… apa maksudnya ini?
Ditatap Anggie tangannya yang masih dibalut genggaman tangan hangat.
Jadi seperti ini, ya, rasanya sebuah tangan besar melindungi dan membalut tangannya yang lebih kecil?! Anggie hampir lupa rasa itu, karena sudah bertahun-tahun ia memutuskan untuk menjauhi pria.
Dalam posisi tidurannya, Anggie pun jadi menatapi Relly yang setia melamun.
Ekh! Keluhan pun lolos dari mulut Anggie, karena genggaman di tangannya terasa semakin erat.
“K- kau sudah bangun?” Relly pun tersadar. Ia menatap ke arah Anggie, lalu dengan gugup ia bertanya. Sambil melepaskan tangannya dari tangan yang sedari tadi ia genggam.
Bersambung…