
Jangan kira jika akan terasa mudah membawa salah satu orang
paling kuat di kelompok mereka itu. Menjegal Ben sambil membawanya ke ruangan
pribadinya, nyatanya cukup menguras tenaga. Padahal jarak dari tempat awal
mereka di lapangan sampai ke sana hanya beberapa puluh meter saja.
Itu mudah jika yang mereka seret adalah orang biasa dengan
perawakan tubuh normal. Namun untuk Ben, bisa dikatakan jika tubuh Ben
tergolong tinggi besar. Makin terasa berbobot dengan otot-otot kekar di
tubuhnya.
Peluh bercucuran di dahi dan sekitar telinga tiga orang yang
bertugas membawa Ben ke ruangan pribadinya. Mereka mereka merasa seperti sedang
melakukan latihan berat, sebab Ben terus meronta dan berusaha melepaskan diri
dengan susah payah.
Bos besar mereka memang luar biasa keras kepala!
“Lepaskan aku! Lepaskan! Apa kalian tidak mendengarku? Hah!”
“Aku ini adalah pemimpin kalian. Harusnya kalian
mendengarkan aku, bukan malah menurut padanya!”
Tak hentinya pria itu menggerakkan badan sambil berusaha
melepaskan tangan mereka dari tubuhnya. Sambil begitu, mulutnya juga tak
berhenti berteriak, memaki dan menghardik mereka semua yang membawanya.
Seakan sudah mengerti dengan maksud yang diinginkan oleh
Rose, salah satunya mengambil kunci pintu di sisi yang lainnya. Setelah Ben
berhasil di masukkan, dengan terburu-buru mereka semua keluar dari sana. Lalu
mengunci Ben sendirian di ruangannya sendiri.
“Hey! Buka pintunya! Hey! Buka pintunya! Kalian tidak
dengar? Kalian tuli! Aku bilang, buka pintunya!”
Brak! Brak! Brak!
Sambil menggebrak pintunya sendiri dari dalam. Ben berteriak
marah dan frustasi yang menjadi satu padu pada urat lehernya.
Setelah itu, mereka semua berjaga di depan pintu. Waspada
agar bos besar mereka tidak melarikan diri. Mereka harus menjalankan sesuai
dengan yang diperintahkan oleh Nona Rose.
Entah kenapa perintah itu langsung terpatri dan tidak ada
keinginan untuk membantah sama sekali. Seperti Rose punya aura yang membuat
mereka tak mampu membantah dan menyahuti tidak setuju.
Rose yang mereka pikir akan angkuh dan tidak memandang
mereka sama sekali, nyatanya malah terlihat begitu ramah. Dan bahkan mau menundukkan
harga dirinya dengan mengatakan ‘tolong’ pada permintaan pertamanya ini.
Tadi, setelah Ben datang mendekat padanya, Rose juga melihat
sekumpulan anak buah Ben yang lain baru datang dari arah halaman parkir.
Sepertinya itu adalah tim yang Ben perintahkan untuk mencari penyusun yang berhasil kabur.
Ada Relly juga di belakang barisan, bersama Anggie dan juga
Zayn. Dan tanpa sengaja pandangan mata mereka bertemu, Rose dan Relly. Hanya
melalui tatapan Rose yang beberapa detik saja, Relly yang biasanya bodoh itu
memahami keinginan nonanya itu.
Netra abu Rose mengerling, bergulir ke arah ruangan Ben
dengan sangat halus dan tidak kentara. Maka dari itu, segera saja setelah
mereka berbagi jarak, dialihkan pandangan Ben dari mereka semua. Agar lebih
mudah menangkap pria kekar itu dan membawanya pergi.
Rose menatap dengan senyuman di matanya ketika kekasihnya
itu dibawa pergi menjauh. Ini adalah keinginannya. Ini adalah keamuannya. Semua
omong kosong itu harus dia yang menanganinya sendiri.
Tanpa bantuan dari Ben, atau dari siapa pun. Ia hanya harus
berpijak pada kakinya sendiri.
Sebab, yang Rose inginkan adalah pengakuan dari mereka semua
atas kemampuannya. Bukan atas dasar alasan subjektif karena dia adalah
merupakan calon nyonya bos mereka, seperti apa yang Relly ungkapkan.
Rose tidak ingin dipandang sebelah mata. Maka dari itu,
mulai dari permasalahan ini, ia berusaha menanganinya tanpa kehadiran sosok Ben
sama sekali. Ia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri.
Biarlah mereka tahu, biarlah mereka mengerti. Sehingga
ditutup mulut yang berisi omong kosong tak berarti.
Relly, Zayn dan Anggie mengambil posisi mereka
dengan mereka. Masih ada pula anak buah Ben yang lainnya, yang tadi mencari
sosok penyusup. Mereka berbaris, berkumpul di salah satu sisi.
Mata Zayn mengerling ke suatu arah. Hingga kemudian, salah
satu dari anggota demonstrasi itu mulai menyerukan keluhan mereka lagi. Dan
suara itu pun saling bersahut-sahutan.
“Kau harus pergi dari sini!”
“Kami tidak menerima pengkhianat di dalam kelompok ini!”
“Harimau Putih adalah tim yang solid, jangan sampai, karena
kehadiran satu wanita, geng mafia kita jadi hancur dan berantakan.”
“Benar! Kami tidak ingin kelompok kita hancur karena seorang
wanita asing yang tidak jelas ini!”
Beberapa di antaranya sampai mengepalkan tangan mereka ke
atas. Seolah sangat setuju dengan orasi-orasi yang disampaikan.
Di depan mereka semua, Rose tak menampakkan wajah takutnya
sama sekali. Tidak takut dia pada semua orang itu. Karena jujur saja, Rose
lebih takut pada hukuman yang akan Ben berikan setelah diperlakukan seperti ini.
Hukuman ganda saja belum dilaksanakan. Lalu akan hadir
kembali hukuman baru menyusul. Atau mungkin hukuman itu akan dirapel menjadi
tiga kali lipat.
Hah! Rose mendesah tak berdaya memikirkan hal ini.
Baiklah! Mari pikirkan hal itu nanti saja! Sekarang fokuskan
diri pada kerumunan orang yang sudah membuat gaduh di tengah malam begini.
Dimana seharusnya mereka semua sudah mulai beristirahat, selepas menjalani hari
yang panjang ini.
“Sudah selesai bicaranya?” suara Rose yang bertanya tak
terdengar karena suasanya terlampau rius ramai.
“Ck!” Wanita itu menggaruk ujung alisnya sambil berdecak
kesal.
Dia ingin berteriak, namun rasanya sayang sekali untuk
menyakiti tenggorokannya dengan bersuara nyaring.
Rose kembali bersidekap sambil memandangi wajah semua orang
di depannya satu persatu. Sepertinya lebih baik jika dia menunggu sedikit lagi.
Sampai riuh itu agak mereda. Barulah setelah itu suaranya akan didengarkan.
Di kala dia dengan sabar menunggu, tiba-tiba seorang anak
buah datang. Mendekat pada Rose sambil menyodorkan sebuah pengeras suara toa
pada dirinya.
Awalnya dia memandang ragu benda itu. Namun anak buah itu
makin menyodorkannya lebih dekat lagi. “Gunakan ini, Nona! Mereka barulah akan
mendengarkan Nona bicara!”
Pengeras suara toa itu tidak terlalu besar, namun cukup
untuk ia genggam di tangan. Benda kecil guna mengeraskan suara seseorang dengan
nuansa lantang.
“Nona?” Disodorkan lagi, sampai benda itu sengaja
disentuhkan ke lengannya.
“Ya!” jawab Rose agak kaget. Di kepalanya terlalu banyak
yang ia pikirkan. Makanya dia jadi menatap kosong sebentar.
“Ini Tuan Ben yang memerintahkan!” sebutnya membuka informasi.
Ia pikir nonanya terlihat ragu, makanya dia memberikan
informasi penting ini. Juga agar nonanya itu tahu bahwa Tuan Ben selalu mendukung
apa pun keputusan Rose. Ben akan mendukung sepenuhnya.
Rose pun mengambil alih benda itu. Tangan kanannya sekarang
terasa lebih berbobot ketimbang yang sebelumnya terasa hampa.
Meski pengeras suara itu berukuran tidak terlalu besar.
Namun, corongnya saja sudah dapat menangkup seluruh wajah mungil milik wanita
itu.
“Tes! Tes!”
Oke! Suaranya masih bisa keluar dengan nyaring. Berarti alat itu masih
berfungsi dengan benar.
“Oke! Halo semuanya!” ucap Rose dengan ujung pengeras suara
itu tepat di mulutnya.
Bersambung…