Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Demonstrasi



Jangan kira jika akan terasa mudah membawa salah satu orang


paling kuat di kelompok mereka itu. Menjegal Ben sambil membawanya ke ruangan


pribadinya, nyatanya cukup menguras tenaga. Padahal jarak dari tempat awal


mereka di lapangan sampai ke sana hanya beberapa puluh meter saja.


Itu mudah jika yang mereka seret adalah orang biasa dengan


perawakan tubuh normal. Namun untuk Ben, bisa dikatakan jika tubuh Ben


tergolong tinggi besar. Makin terasa berbobot dengan otot-otot kekar di


tubuhnya.


Peluh bercucuran di dahi dan sekitar telinga tiga orang yang


bertugas membawa Ben ke ruangan pribadinya. Mereka mereka merasa seperti sedang


melakukan latihan berat, sebab Ben terus meronta dan berusaha melepaskan diri


dengan susah payah.


Bos besar mereka memang luar biasa keras kepala!


“Lepaskan aku! Lepaskan! Apa kalian tidak mendengarku? Hah!”


“Aku ini adalah pemimpin kalian. Harusnya kalian


mendengarkan aku, bukan malah menurut padanya!”


Tak hentinya pria itu menggerakkan badan sambil berusaha


melepaskan tangan mereka dari tubuhnya. Sambil begitu, mulutnya juga tak


berhenti berteriak, memaki dan menghardik mereka semua yang membawanya.


Seakan sudah mengerti dengan maksud yang diinginkan oleh


Rose, salah satunya mengambil kunci pintu di sisi yang lainnya. Setelah Ben


berhasil di masukkan, dengan terburu-buru mereka semua keluar dari sana. Lalu


mengunci Ben sendirian di ruangannya sendiri.


“Hey! Buka pintunya! Hey! Buka pintunya! Kalian tidak


dengar? Kalian tuli! Aku bilang, buka pintunya!”


Brak! Brak! Brak!


Sambil menggebrak pintunya sendiri dari dalam. Ben berteriak


marah dan frustasi yang menjadi satu padu pada urat lehernya.


Setelah itu, mereka semua berjaga di depan pintu. Waspada


agar bos besar mereka tidak melarikan diri. Mereka harus menjalankan sesuai


dengan yang diperintahkan oleh Nona Rose.


Entah kenapa perintah itu langsung terpatri dan tidak ada


keinginan untuk membantah sama sekali. Seperti Rose punya aura yang membuat


mereka tak mampu membantah dan menyahuti tidak setuju.


Rose yang mereka pikir akan angkuh dan tidak memandang


mereka sama sekali, nyatanya malah terlihat begitu ramah. Dan bahkan mau menundukkan


harga dirinya dengan mengatakan ‘tolong’ pada permintaan pertamanya ini.


Tadi, setelah Ben datang mendekat padanya, Rose juga melihat


sekumpulan anak buah Ben yang lain baru datang dari arah halaman parkir.


Sepertinya itu adalah tim yang Ben perintahkan untuk mencari penyusun  yang berhasil kabur.


Ada Relly juga di belakang barisan, bersama Anggie dan juga


Zayn. Dan tanpa sengaja pandangan mata mereka bertemu, Rose dan Relly. Hanya


melalui tatapan Rose yang beberapa detik saja, Relly yang biasanya bodoh itu


memahami keinginan nonanya itu.


Netra abu Rose mengerling, bergulir ke arah ruangan Ben


dengan sangat halus dan tidak kentara. Maka dari itu, segera saja setelah


mereka berbagi jarak, dialihkan pandangan Ben dari mereka semua. Agar lebih


mudah menangkap pria kekar itu dan membawanya pergi.


Rose menatap dengan senyuman di matanya ketika kekasihnya


itu dibawa pergi menjauh. Ini adalah keinginannya. Ini adalah keamuannya. Semua


omong kosong itu harus dia yang menanganinya sendiri.


Tanpa bantuan dari Ben, atau dari siapa pun. Ia hanya harus


berpijak pada kakinya sendiri.


Sebab, yang Rose inginkan adalah pengakuan dari mereka semua


atas kemampuannya. Bukan atas dasar alasan subjektif karena dia adalah


merupakan calon nyonya bos mereka, seperti apa yang Relly ungkapkan.


Rose tidak ingin dipandang sebelah mata. Maka dari itu,


mulai dari permasalahan ini, ia berusaha menanganinya tanpa kehadiran sosok Ben


sama sekali. Ia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri.


Biarlah mereka tahu, biarlah mereka mengerti. Sehingga


ditutup mulut yang berisi omong kosong tak berarti.


Relly, Zayn dan Anggie mengambil posisi mereka


dengan mereka. Masih ada pula anak buah Ben yang lainnya, yang tadi mencari


sosok penyusup. Mereka berbaris, berkumpul di salah satu sisi.


Mata Zayn mengerling ke suatu arah. Hingga kemudian, salah


satu dari anggota demonstrasi itu mulai menyerukan keluhan mereka lagi. Dan


suara itu pun saling bersahut-sahutan.


“Kau harus pergi dari sini!”


“Kami tidak menerima pengkhianat di dalam kelompok ini!”


“Harimau Putih adalah tim yang solid, jangan sampai, karena


kehadiran satu wanita, geng mafia kita jadi hancur dan berantakan.”


“Benar! Kami tidak ingin kelompok kita hancur karena seorang


wanita asing yang tidak jelas ini!”


Beberapa di antaranya sampai mengepalkan tangan mereka ke


atas. Seolah sangat setuju dengan orasi-orasi yang disampaikan.


Di depan mereka semua, Rose tak menampakkan wajah takutnya


sama sekali. Tidak takut dia pada semua orang itu. Karena jujur saja, Rose


lebih takut pada hukuman yang akan Ben berikan setelah  diperlakukan seperti ini.


Hukuman ganda saja belum dilaksanakan. Lalu akan hadir


kembali hukuman baru menyusul. Atau mungkin hukuman itu akan dirapel menjadi


tiga kali lipat.


Hah! Rose mendesah tak berdaya memikirkan hal ini.


Baiklah! Mari pikirkan hal itu nanti saja! Sekarang fokuskan


diri pada kerumunan orang yang sudah membuat gaduh di tengah malam begini.


Dimana seharusnya mereka semua sudah mulai beristirahat, selepas menjalani hari


yang panjang ini.


“Sudah selesai bicaranya?” suara Rose yang bertanya tak


terdengar karena suasanya terlampau rius ramai.


“Ck!” Wanita itu menggaruk ujung alisnya sambil berdecak


kesal.


Dia ingin berteriak, namun rasanya sayang sekali untuk


menyakiti tenggorokannya dengan bersuara nyaring.


Rose kembali bersidekap sambil memandangi wajah semua orang


di depannya satu persatu. Sepertinya lebih baik jika dia menunggu sedikit lagi.


Sampai riuh itu agak mereda. Barulah setelah itu suaranya akan didengarkan.


Di kala dia dengan sabar menunggu, tiba-tiba seorang anak


buah datang. Mendekat pada Rose sambil menyodorkan sebuah pengeras suara toa


pada dirinya.


Awalnya dia memandang ragu benda itu. Namun anak buah itu


makin menyodorkannya lebih dekat lagi. “Gunakan ini, Nona! Mereka barulah akan


mendengarkan Nona bicara!”


Pengeras suara toa itu tidak terlalu besar, namun cukup


untuk ia genggam di tangan. Benda kecil guna mengeraskan suara seseorang dengan


nuansa lantang.


“Nona?” Disodorkan lagi, sampai benda itu sengaja


disentuhkan ke lengannya.


“Ya!” jawab Rose agak kaget. Di kepalanya terlalu banyak


yang ia pikirkan. Makanya dia jadi menatap kosong sebentar.


“Ini Tuan Ben yang memerintahkan!” sebutnya membuka informasi.


Ia pikir nonanya terlihat ragu, makanya dia memberikan


informasi penting ini. Juga agar nonanya itu tahu bahwa Tuan Ben selalu mendukung


apa pun keputusan Rose. Ben akan mendukung sepenuhnya.


Rose pun mengambil alih benda itu. Tangan kanannya sekarang


terasa lebih berbobot ketimbang yang sebelumnya terasa hampa.


Meski pengeras suara itu berukuran tidak terlalu besar.


Namun, corongnya saja sudah dapat menangkup seluruh wajah mungil milik wanita


itu.


“Tes! Tes!”


Oke! Suaranya masih bisa keluar  dengan nyaring. Berarti alat itu masih


berfungsi dengan benar.


“Oke! Halo semuanya!” ucap Rose dengan ujung pengeras suara


itu tepat di mulutnya.


Bersambung…