
Melihat, betapa hancur mobil yang biasa Ben kendarai, ketakutan total, merasuki raga mereka semua, yang datang.
Apalagi Anggie. Wanita seksi itu, tanpa sadar, segera melupakan perihal Zayn. Ia langsung teringat akan sesuatu, tentang Rose yang sedang dalam keadaan mengandung, saat ini.
Hasil yang ia lihat, saat ini, tentu saja, langsung terpikirkan, betapa bahayanya keadaan yang harus dialami oleh Rose, yang sedang hamil muda.
Masih sangat rawan kehamilannya itu, dan memiliki risiko tinggi. Sungguh pun, Anggie jadi khawatir setengah mati, tentang bagaimana keadaa wanita itu, sekarang.
Namun… Baz yang pertama menemukan keberadaan Rose, dia pula yang memanggil namanya, karena diliputi kekhawatiran yang menggila. Tentang bagaimana keadaan wanita spesial, di dalam hatinya itu.
Sayangnya, yang mereka dapati, hanya sosok Rose saja. Tanpa ada Ben di sisinya.
“Sisir lokasi ini! Cari keberadaan Tuan Ben!” perintah Relly langsung, tanpa berpikir panjang. Langsung disusul, gerakan gesit dari para bawahannya.
Wajah sang asisten makin tegang, karena tak menemukan sosok pemimpinya. Atau pun hanya, bayangannya saja. Tidak ada, sepanjang matanya memandang ke bawah, ia tak dapat menangkap sosok Ben, di sana.
“Rose! Kau baik-baik saja?” tanya Anggie kemudian, sambil mencondongkan tubuhnya agak ke depan, untuk dapat melihat Rose dengan jelas.
Wanita yang masih menempel dan berpegangan erat pada batu karang pun, menganggukkan kepala. Dengan tangis yang tertahan.
Ada sorot kelegaan di mata Rose, karena, pada akhirnya, pertolongan pun datang. Namun, ia tidak memikirkan dirinya sama sekali.
Ini tentang Ben yang menghilang. Rose hanya memikirkan pria itu. Ia bersyukur karena, akan ada orang-orang yang datang, untuk mencari keberadaan kekasihnya itu.
Sreekk~!
Pijakan Anggie nyatanya tidak cukup kuat. Sehingga, ia hampir saja tersungkur ke depan. Dan nyaris, ikut masuk ke dalam jurang itu.
“Hati-hati!” Beruntunglah, Relly, dengan sigap, segera menangkapnya. Menjaga kedua bahunya dari arah belakang. Sehingga, Anggie tetap bertahan di posisinya dan tidak jadi terjatuh.
Dalam posisi ini, keduanya saling memandang, dalam jarak yang begitu dekat. Karena, Anggie yang mendadak menolehkan kepalanya, mempersempit jarak pandang, dirinya dan juga Relly.
Keduanya, saling menatap sebentar. Memasuki apa yang mereka lihat, pada bola mata masing-masing. Namun kemudian, posisi intens itu, mesti berakhir, karena suara panggilan Baz yang begitu keras, ke arah bawah.
“Rose! Aku akan menyelamatkanmu, sebentar lagi! Bertahanlah!” Jeda sebentar, karena Rose menanggapi dengan sebuah anggukan. “Dimana Ben?” Kemudian, wanita itu menggeleng lemah bersama tatapan pilu.
“Bertahanlah, sebentar lagi, oke!” angguk Rose lagi, sambil menjepit bibir, berusaha menahan sedih dan tangis.
Tak ingin memperpanjang pertanyaannya lagi, Baz lantas bergegas mengatur strategi. Meskipun, ia mulai menyadari, kemungkinan terburuk, terjadi pada orang itu. Ia pun, tak ingin membuat Rose semakin sedih.
“Sepertinya, kita saja tidak cukup! Kau kerahkan tim ahli, untuk memeriksa kejadian ini. Juga… “ Kepala Baz, jatuh tertunduk sebentar. “Untuk mencari keberadaan Ben!” Karena, ia pun ikut menyesal, orang yang sudah ia anggap teman itu, menghilang. Karena, tidak nampak sosoknya, di sisi Rose, saat ini.
Padahal, mereka semua tahu, Ben akan berusaha keras, mati-matian menjaga wanita itu. Mungkin saja… mungkin saja… Baz berspekulasi dalam hati. Ia enggan menyebutkan hal terburuk yang mungkin, sudah terjadi.
Semoga saja, masih ada asa untuknya!
Beruntng, mobil yang Relly kendarai, membawa peralatan lengkap, di bagian belakang mobil. Ada gulungan tali panjang, yang bisa mereka pergunakan, untuk membawa Rose, ke atas lagi. Untuk menyelamatkan wanita itu.
Baz sendiri yang akan turun tangan. Ia mempersiapkan tali panjang itu, sementara Relly sedang menghubungi anak buahnya yang lain.
Sedangkan, pohon rindang yang menjadi favorit setiap orang yang mampir ke sana, sedang membara. Ia tersambar kobaran api, yang berasal dari mobil Ben yang meledak.
Batang pohon itu masih cukup kuat, ia rasa. Dan lagi, nanti, Relly akan membantu menahan tali itu, dari atas.
“Sudah siap?” tanya Relly pada Baz yang sudah berdiri, tepat, di ujung jurang. Yang sudah tak berpembatas lagi.
Pembatas yang tadinya berdiri tegak pun, sudah terkoyak di bagian tengahnya. Pas di posisi mobil itu meledak. Ia pun merasakan dampaknya.
“Hem!” erang Baz sebagai jawaban. Ia pun mengangguk, penuh keyakinan.
Lalu… ia melompat, dengan posisi, masih menghadap Relly dan Anggie. Yang siap siaga, dari atas sana.
Kakinya menghentak karang terjal itu, setiap kali ia akan melompat, menuruninya. Hingga, sampailah ia, di samping Rose, yang terlihat, sangat kacau.
“Rose!” panggilnya tak berdaya.
Dari dekat, Baz jadi bisa melihat, betapa menyakitkan raut wajah wanita itu. Tidak ada luka fisik yang berarti. Dengan begitu, psikisnya yang rusak dan menderita saat ini.
Wajahnya masih basah, oleh peluh dan kristal bening yang terjatuh dari mata. Hampir kering, namun kemudian basah lagi, karena Baz memanggilnya.
“Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku!” Diulurkan tangan Baz untuk meraih wajah itu. Ia hapus sejumlah air yang menempel seperti lem di pipi. Dan terus menarik turun, yang masih berada di pelupuk mata.
“Pelan-pelan, lepaskan peganganmu, lalu raih tanganku!” Baz memberi arahan. Meski dalam hati, itu pun berlaku untuk kehidupan nyata ini. Di saat, wanita cantik itu, tidak lagi memiliki pijakan yang tepat.
Yah… pria itu hanya dapat berharap, apabila, Rose dapat memikirkan perkatannya tadi. Nanti mungkin, ketika wanita itu sudah pulih.
Rose melakukan apa yang Baz perintahkan. Segera, setelah Baz mendapatkan tangannya, pria itu mengarahkan kembali, tangan Rose untuk berpegangan padanya. Yang kanan, kemudian, ia membantu Rose, melepaskan tangan kirinya, juga untuk berpegangan. Sambil Baz, mengikatkan tali yang masih terjulur, di bawah ikatan di tubuhnya.
Ketika, sudah merasa aman mereka berdua, Baz berteriak ke atas. Memberi aba-aba pada yang siap siaga di atas sana. “Relly! Angkat!”
Orang nomor dua di Harimau Putih itu, lantas memberikan jempolnya, sebagai jawaban. Ia pun sudah bersiap di atas sana.
Beberapa orang yang sudah datang, setelah melakukan pencarian, Relly perintahkan untuk membantunya. Untuk menarik Baz dan Rose dari bawah.
Setelah berusaha, beberapa lama, mulai nampaklah sosok dua manusia itu. Baz yang tengah merangkul dan memeluk Rose dengan erat.
Saat, dirasa jaraknya cukup, Anggie dan Relly bergegas menarik tubuh Rose yang sudah kelelahan. Sementara, anak buah yang lain, membantu Baz.
“Rose!” seru Anggie sedih, kala mereka akhirnya sudah bisa berdiri.
Dan Rose pun langsung memeluknya. Dengan erat, sangat erat. Wanita itu memang sedang membutuhkan sebuah sandaran yang tepat dan nyaman. Guna meluapkan seluruh emosi yang hampir, membuatnya menjadi gila.
Mereka lantas meninggalkan tempat itu. Dengan menyisahkan beberapa orang yang masih menunggu, tim lainnya datang, untuk mengevakuasi tempat itu, juga untuk meneruskan pencarian terhadap Ben. Yang masih belum ditemukan.
Dan yang pertama mesti mereka lakukan adalah, membawa Rose ke rumah sakit. Untuk menjalani beberapa pemeriksaan.
Bersambung…