
“Ampun, Tuan! Ampun!” Kemudian Relly bersembunyi di balik tubuh Rose sambil memegangi kedua bahunya. Pria itu seperti kucing kecil yang sedang ketakutan akan dikuliti oleh seekor serigala besar.
Melihat tubuh kekasihnya itu disentuh, Ben menjadi marah. Meski Relly tak memiliki maksud tertentu dia sekarang murka. Rose semakin tertawa melihat kepala Ben yang seakan sedang mengepulkan asap saking panas amarahnya. Dia menyadari marahnya Ben pasti karena Relly meringkuk di belakang punggungnya.
“Kau sudah bosan hidup rupanya!” Suara marah pria bertopi koboi itu menggelegar seperti guntur. Semua orang yang ada di sana mematung dan menganga, seperti tersambar aliran yang menyetrum sampai ke jantung mereka. Mereka semua kesusahan menelan ludah.
Termasuk dengan Anggie dan pria tampan itu, mereka tahu bagaimana kejamnya tuan mereka ketika melampiaskan amarahnya. Terlebih Relly sepertinya sudah benar-benar melewati batas kesabaran bos besar mereka itu. Habis sudah riwayatnya kini!
Bola mata Rose yang sedang bergerak tanpa sengaja menangkap adegan tangan Ben yang hendak mengeluarkan senjata dari balik kemejanya yang terlipat. Sebuah cahaya melintas dengan cepat di matanya. Rose harus melakukan sesuatu sebelum nyawa Relly menjadi taruhan. Dia juga tahu bagaimana seramnya laki-laki itu jika sudah marah. Rose menyingkirkan tangan Relly dengan kasar, kemudian maju ke arah Ben. Tak peduli jika Relly masih meringkuk ketakutan.
“Sudah! Aku tidak marah lagi sekarang!” Dia merangkul lengan Ben sambil menurunkan senjata itu dari tangan kekasihnya. Sangat halus cara yang Rose gunakan, tanpa Ben menyadarinya. Pria itu terlalu terpana oleh manisnya senyum yang Rose tunjukkan.
Hah! Pria itu mendesah lega. Tangan yang semula sudah memegang pistol pun pergi. Dia lebih tertarik menyentuh pipi kenyal dan lembut milik kekasihnya itu. Tenang rasanya melihat Rose tidak marah lagi. Melihat senyuman itu, beban di hatinya seolah diangkat begitu saja. Hal yang Ben takutkan bahwa Rose akan mempercayai semua ucapan anak buahnya yang bodoh kini bisa ia singkirkan.
“Terima kasih!” lirihnya membalas senyum lembut yang Rose berikan.
Anak buahnya yang sedari tadi tidak melangkah menjauh pun kembali menganga melihat pemandangan ini. Sungguh langka, benar-benar langka, bahkan mereka pikir senyum seperti itu sudah punah seperti seekor badak putih yang telah menghilang dari muka bumi ini.
Pemandangan seperti ini membuat mereka bingung harus berekspresi seperti apa. Adapun beberapa di antaranya berpikir bahwa apa yang mereka lihat barusan lebih menakutkan ketimbang senyum dingin yang biasa Ben tunjukkan.
“Ayo masuk dulu! Kau pasti lelah!” ajak Ben pada Rose sembari membimbing langkah wanita itu. Pria bertopi koboi itu tak peduli dengan anak buahnya yang masih mematung di tempat dengan ekspresi mereka masing-masing. Dia menggenggam tangan Rose yang tengah memeluk lengannya sembari berjalan bersama.
Beberapa detik hilang kesadaran, akhirnya mereka semua berjalan cepat menyusul Ben dan Rose di depan. Anggie dan pria tampan itu yang memimpin. Mereka meninggalkan Relly yang masih terduduk lemas di halaman parkir sebab pikirannya masih melayang ke beberapa saat tadi. Ketika nyawanya hampir melayang di tangan bosnya tadi.
Ketika berjalan, Rose masih menyempatkan diri untuk bertanya lagi.
“Jadi itu adalah sebuah kebenaran atau benar-benar merupakan candaan kalian mengenai jumlah wanita yang pernah kau bawa ke sini?” Dia menyipitkan bola matanya yang melirik ke arah pria di sebelahnya.
“Menurutmu aku pria yang seperti itu? Hem!” Ben bertanya balik sambil membuat ekspresi yang dapat di percaya. Ia mencubit kecil dagu kekasihnya itu.
“Mana aku tahu!” Rose mengedikkan kedua bahunya dengan wajah acuh.
“Aku bukan pria murahan,” kata Ben menutupi kebenarannya dengan mimik wajah meyakinkan yang ia buat. Ben memberikan pernyataan ini ketika menyadari jika anak buahnya sudah berada beberapa langkah saja darinya. Mereka semua harus mendengar hal ini.
Rose mengacuhkan hal itu, namun dia tetap bertekad tidak akan mempercayainya begitu saja. Waktunya di tempat ini masih panjang. Masih banyak kesempatan untuknya mengetahui bahwa hal ini adalah sebuah kebenaran atau tidak. Hanya saja, masih ada pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Jadi dia kembali bertanya.
“Apakah kau memiliki banyak anak buah wanita?” bisiknya pada Ben sambil berjinjit. Rose agak canggung untuk mengajukan pertanyaan ini, sebab anak buah Ben tepat berada di belakang langkahnya. Sejujurnya ia kurang nyaman terdapat wanita berpakaian seksi berada di sekeliling kekasihnya.
“Tidak banyak! Hanya dua” Ben mengerti jika hal itu pasti merajuk pada Anggie yang tadi menyapanya dengan begitu dekat. Pria itu melengkungkan bibirnya ketika menyadari jika kekasihnya itu masih cemburu dan waspada. Ben tersenyum puas.
“Dua? Anggie dan?” Rose berpikir kebingungan. Dia tahu tentu saja yang jelas di matanya adalah wanita cantik nan seksi yang sudah memperkenalkan diri kepadanya dengan nama Anggie itu. Lalu satu lagi siapa? Akankah ada wanita seksi lainnya? Rose agak takut Ben akan tergoda oleh mereka semua.
“Zayn,” jawab Ben santai.
“Itu terdengar seperti nama lela-“ Melihat Rose yang nampak berpikir, Ben segera menyelanya.
“Zayna. Sebenarnya namanya adalah Zayna” Buru-buru Ben menjelaskan. Sampai pada saat ini suasananya masih kondusif dan cukup hening.
“Lalu... dimana orangnya?” Rose mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat yang baru saja ia datangi ini. Tempat itu terlihat seperti sebuah asrama lama, dia bisa melihat ada banyak kamar-kamar di lantai dua. Bangunan dengan dua lantai itu berdiri mengelilingi sebuah lapangan besar di tengahnya. Rose dapat melihat beberapa orang sedang melakukan latihan bela diri di sana.
Sejauh matanya menyapu tempat itu, Rose tak mendapati seorang wanita pun di sana. Hanya ada Anggie saja yang berada di belakangnya saat ini.
“Dia ada di sebelahnya” Ben masih santai menjawab pertanyaan dari rasa penasaran Rose yang tidak sabar.
Sambil berpikir, Rose merenung sebentar. Menimang jawaban yang Ben berikan, ‘dia’ yang dimaksud berarti ... Anggie, kan?! Jadi maksudnya orang yang bernama Zayna itu ada di sebelah Anggie, kan?! Rose menoleh dengan terburu-buru.
“Ya, itu dia!” seru Ben seolah mengetahui kemana arah pandangan mata Rose saat ini.
Rose merasakan energi keterkejutan melonjak di tatapan matanya. Pantas saja dilihat dari fitur wajahnya, lelaki yang dipeluk lengannya oleh Anggie itu bisa dibilang memiliki kecantikan yang alami. Rose dapat merasakannya. Aura feminim juga masih terpancar dari dirinya. Makanya sampai detik tadi Rose masih bertanya-tanya mengenai identitas orang itu. Lupakan pria tampan, dia adalah wanita cantik!
“Zayn, sayang! Kau tidak boleh menatapnya seperti itu! Bagaimanapun juga nona Rose adalah nyonya bos kita!” Anggie mengingatkan orang di sebelahnya. Yang saat ini sedang menatap balik Rose dengan perasaan tidak nyaman. Anggie sempatkan memberi ciuman di pipi orang itu untuk menghiburnya.
“Itu-“ Rose segera menghadap ke depan lagi. Dengan ekspresi lebih terkejut lagi dia bertanya.
Dan orang-orang di belakangnya menahan diri untuk tidak mengungkapkan hal apa pun dengan mulut mereka sendiri. Wajah mereka malahan terlihat tertekan.