Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mencari kenyamanan



“Mereka benar-benar menginjak harga diriku, Rose!” desah Ben frustasi dan sangat marah.


Pria bertopi koboi itu sampai merundukkan kepala dan menopangnya dengan satu tangannya yang tak terluka.


Siapa bilang jika dia tidak tertekan?! Tentu saja dia tertekan dengan masalah yang ada. Mereka mencari masalah bukan di suatu tempat di luar sana. Melainkan di dalam wilayah teritorialnya sendiri. Tidak! Bahkan di dalam markasnya sendiri.


Apakah orang itu benar-benar meremehkannya sebagai ketua kelompok di sini?! Dan kelompok yang dia miliki bukanlah sebuah geng mafia kecil dan curut-curut pengecut yang sok kuat dan banyak gaya.


Mereka ini adalah geng mafia terbesar di sini, di negeri ini. Siapa pun segan untuk mencari masalah dengan mereka.


Namun para penyusup itu… benar-benar… membuatnya sangat kesal. Dan sudah lewat beberapa waktu, mereka belum juga menemukan dalam di balik masalah gudang logistiknya. Lalu ditambah dengan masalah penyusup yang datang menyerang. Mungkinkah mereka berasal dari orang yang sama?


Siapa orang itu? Siapa orang yang telah berani-beraninya mempermainkan dirinya sampai seperti ini?


Bagaimana kelompok yang lain akan  memandangnya? Jika mereka sampai mengetaui masalahnya ini. Diserang langsung di inti jantung. Tidakkah semua orang akan menertawakan ketidakberdayaan mereka?


Ben kesal, dia sangat marah. Namun sejauh ini semua keluh kesahnya hanya ia simpan sendiri. Dan sentuhan tangan Rose di punggungnya seakan meruntuhkan semua kekuatannya untuk bertahan.


Sekarang dia lemah, dia geram, dia marah.


Ben lepas topi kebangsaannya itu, lalu ia letakkan di meja kaca yang tadi ditendangnya. Kemudia ia meletakkannya kepalanya pada sandaran sofa.


Ben menarik napasnya panjang, lalu mengeluarkannya melalui mulut.  Ditiupkan semua perasaan campur aduknya saat ini sambil memejamkan mata.


Rose, sebagai kekasihnya, dia terus mengusap lengan Ben seraya tersenyum tipis. Dia juga tak berdaya melihat semua masalah ini. Meski begitu, Rose tetap berharap ia dapat membantu.


“Istirahatlah, Ben! Jangan terlalu memaksakan diri. Kau perlu mengistirahatkan kepala dan tubuhmu, agar kau bisa berpikir dengan jernih setelah ini. “ Rose bangun dari duduknya, mengusap pipi sampai ke rahang pria itu sambil memberikan senyum yang meneduhkan.


“Aku akan kembali dulu ke kamarku!”  Ditinggalkan wajah kokoh yang baru saja disentuhnya.


Niat Rose untuk membiarkan Ben sendiri lebih dulu pun tertahan. Ben menahan pergelangan tangan itu di saat dia masih menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.


“Jangan pergi! Tetaplah di sini!” Pria itu tetap memejamkan matanya lalu merengkuh tubuh Rose yang masih berdiri. Melingkarkan tangan di pinggangnya, menyandarkan kepala ke perutnya.


Masih belum cukup nyaman. Jadi Ben menarik tubuh Rose semakin mendekat sampai kakinya menyentuh sofa. Dia pun menarik diri sampai dia benar-benar mendekap wanita itu dengan eratnya. Dan kini kepalanya pun bersandar di dada Rose yang hangat.


Wanita itu hanya bisa pasrah. Membiarkan kekasihnya mencari kenyamanannya sendiri. Diusap kepala Ben dengan penuh kasih sayang. Berharap seluruh beban di pundak lelaki itu dapat berkurang dengan begini.


“Ugh… ini nyaman sekali!” desah Ben sambil menggerak-gerakkan kepalanya di tengah dada Rose.


Rose menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Berpikir jika pria ini sudah seperti anak kecil yang tengah melepas rindu dengan ibu yang lama tak ditemuinya.


“Nyaman sekali, mmcchh!” Bergerak-gerak lagi, lalu dikecup tengah dua gundukan milik wanita itu. Kali ini Ben tersenyum senang dan amat lebar.


Rose membelalakkan mata ketika menyadari kelakuan Ben yang mulai menyimpang. Ini tidak lagi ‘mencari kenyamanan’ seperti yang Rose pikirkan. Ini lebih pada ‘mencari kenyamanan’ yang pria itu pikirkan.


Cepat Rose menarik kepala Ben menjauh darinya. Mendorong bahu itu agar semakin berjarak dengan tubuhnya dengan kepala pria itu.


Tapi tenaganya kalah jauh. Selain karena dia adalah wanita, Ben juga merupakan seorang pria tangguh. Tentu saja kekuatan Rose ini hanya sebatas ujung kukunya saja.


“Lepas, Ben! Kau mulai nakal, ya!” Bergemurutuk giginya sambil terus berusaha keras.


Padahal Ben hanya mengunci tangannya di belakang pinggang Rose sambil tersenyum santai. Tapi Rose sudah sangat kesusahan  melepaskan diri dari penjara tangannya itu.


“Diamlah, Sayang! Aku tidak melakukan apa pun, kan?!” ujar Ben membela diri dengan tidak tahu diri. Dia tersenyum smirk sambil terus mempertahankan Rose di dalam tangannya.


“Kau mau ku pukul, ya?” Dua kepalan tangannya memukul bahu pria itu. Rose kesal, dia geram karena usahanya sia-sia, sedangkan pria itu terlalu keras kepala.


“Kau sudah memukulku, Sayang!” Terkekej geli bibirnya yang seksi itu.


“Ben!!!” seru Rose protes dengan tingkah tuan seramnya itu. Bukan tuan seram lagi sekarang, tapi tuan mesum!


Malah makin kencang suara kekehan Ben setelah mendengar Rose berseru agak keras.


“Diamlah, Rose! Ini sangat menyenangkan. Aku janji, aku tidak akan melakukannya lebih dari ini!”


Dan bagi Rose, ini sudah melebihi ekspektasinya. Ini sudah melewati batas, pikirnya. Tapi… dia akan mencoba untuk mempercayai ucapan Ben. Bisakah pria itu dipercaya?


Lagi pula dia tidak bisa membantu apa-apa lagi selain membiarkannya saja melakukan ini. Meskipun ia merasa geli dan mulai meremang bulu tengkuknya.


“Janji?”


“Iya!” jawab Ben dengan tenang.


“Ugh….” Kembali pria itu melakukan aksinya. Mencari kenyamanan seperti seekor anjing yang sedang digendong oleh tuannya.


Dan sejak awal, Ben tidak membuka matanya sama sekali. Hanya dinikmatinya saja pelukan ini di dada Rose yang menghangatkan hati. Dilupakan semua masalahnya untuk  sementara waktu dengan menghibur diri.


Pada akhirnya Rose hanya bisa tersenyum tak berdaya ketika kekasihnya itu terus bergerak-gerak di depannya ini. Lalu diusapnya lagi kepala lelaki itu dengan lembut dan pelan


Kasihan sekali, tuan seramnya ini!


‘Rose, sebenarnya kapan aku bisa memilikimu seutuhnya?’


Bohong jika Ben tidak merasakan apa-apa dalam pose seperti ini. Sebagai lelaki normal justru gejolak itu mulai membawa pelan dan pelan membakar pertahanan dirinya. Dua benda kenyal yang membuat laki-laki mana pun tidak akan tahan. Begitu juga dengan dirinya.


Sebenarnya dengan melakukan hal itu, pikirannya bisa menjadi lebih segar setelah ini. Tapi Ben tahu, dia harus mendapatkan izin dari Rose untuk menyentuhnya. Karena yang Ben inginkan bukan lagi bermain dengan beragam wanita. Melainkan dengan kekasih yang sudah ia sebut sebagai calon istrinya sendiri.


Juniornya juga perlahan menegang di bawah sana. Namun pikirannya yang rumit dengan segala masalah menekannya untuk bangun sesegera mungkin. Dan sejauh ini, hanya ingin dinikmatinya nuansa tentram dan damai ini.


Meski begitu, pria itu tetap berharap bahwa cepat atau lambat mereka akan memiliki satu sama lain.


“Tu- an!” Tersendat seruan Anggie yang baru masuk bersama dengan Zayn.


Rose menarik napas terkejutnya sangat panjang. Matanya juga membola karena begitu kaget dengan kedatangan mereka berdua.


“Ben! Ben! Ben!” Dipukulinya bahu pria itu agar mau melepaskan diri darinya dengan wajah panik.


Bersambung…


Jangan lupa kasih dukungan terus untuk karya aku ya manteman


Tengok pula ceritaku di pf sebelah,, Rain Destiny di novel*e


Terima kasih


Keep strong and healthy semuanya