Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Membunuh saudara sendiri



“PLAKK!!!”


Sebuah tamparan keras mendarat, pada pipi seorang wanita. Saking kerasnya, wajah itu sampai terlempar ke samping, bersama dengan beberapa anak rambutnya.


Pun, dengan sebagian tubuhnya. Yang ikut terbawa, hingga jadi sedikit berpaling.


Wanita yang mendapat tamparan kuat itu adalah, Della. Sedangkan, yang melayangkan tangannya barusan, adalah ayahnya sendiri. Felipe August.


“Ayah!” rintihnya seraya memegangi pipi yang terasa kebas. Dan ia yakin, sekarang sudah memar dan memerah.


Sungguh pun! Wanita itu sangat merasakan kekuatan, pada tamparan itu. Sebab, setetes cairan beraroma tembaga, telah merembes dari sudut bibirnya.


Dalam tatapannya, terdapat rasa kecewa. Karena, tidak pernah sekali pun, ayahnya marah, sampai melukainya, seperti ini.


Tidak masalah, jika ia hanya dibentak dan diceramahi. Della sudah terbiasa mendengarnya, sejak kecil.


Namun, netra yang memandang sang ayah pun, saat ini tengah bergoyang, karena bingung dan heran.


Ia sedang bertanya-tanya dalam setiap jengkal kekecewaannya. Sebenarnya, apa, alasan ayahnya, sampai buru-buru memerintahkannya pulang. Dan, setelah sampai, malah, hanya tamparan keras yang ia dapatkan.


“Tamparan itu pun, belum pantas, untuk menebus semua kesalahanmu, Della!” seru Felipe sambil menahan geram.


Pria paruh baya, dengan postur tinggi besar, dengan perut yang sedikit membuncit pun, kembali duduk di kursi kebesarannya.


Laci di dekat tangan kanan, ia buka. Sebuah cerutu ia sesapkan di bibir yang sudah berwarna merah tua.


Klik~!


Ujung cerutu itu pun ia nyalakan dengan korek api, hingga menimbulkan nyala kemerahan.


“Apa maksud, Ayah? Memangnya, kesalahan apa yang sudah aku perbuat? Heh!” Sang putri yang belum menerima tindakan ayahnya, padanya, pun menggeram marah.


Sebab, ia merasa, sama sekali, tidak melakukan kesalahan apapun.


Emilio berdiri di sudut ruangan itu. Menatap dengan prihatin pada nonanya. Pria itu pun tahu, bagaimana tuannya selalu menyayangi sang nona. Maka, dia pun ikut bertanya-tanya dalam diamnya, hal apa yang membuat tuannya sangat marah.


“Lihat ini!”


Sebuah proyektor dinyalakan oleh Felipe, yang cahayanya langsung mengarah ke dinding putih di belakangnya. Yang langsung terhubung ke ponsel miliknya.


“Setelah melihat ini, kau akan sadar, kesalahan apa yang sudah kau perbuat!” Diputar pria itu sebuah file video yang sudah ia pilih.


Masih, sambil memegangi pipinya yang tak berhenti menyisakan rasa panas dan perih, Della mengarahkan pandangan ke arah dinding, yang sudah berpendar cahaya itu.


Tiga! Dua! Satu!


Ketika, layar mulai menghitung mundur, jantung Della, mendadak berdebar. Sampai, bergumam heran dalam hati. Ada apa ini?


Dalam video tersebut, nampak wajah Rose dan Berly yang sedang saling tersenyum dan bergurau. Di sebuah pinggiran jalan.


“Ch!” decak Della langsung, melihat hal ini. Beribu benci dan muak, langsung ia rasakan, seketika.


Ibu dan anak itu, adalah, dua orang yang sudah merebut Daniel dari sisinya. Tatapan membunuh pun, ia layangkan, pada ulasan gambar bergerak tersebut.


Sedang, Felipe memilih memadamkan amarah di dada, dengan meniupkannya, bersama asap-asap tebal dari cerutunya.


Tak lama si anak melambai ke depan dengan senyum cemerlang. Terdengar, dari suaranya, Berly menyebutkan nama seorang pria bernama Baz dan juga…, Daniel.


Gambar pun langsung beralih, pada dua pria yang dituju.


Bara di matanya langsung menyala-nyala. Ternyata, tunangannya, langsung bergerak untuk mencari wanita dan anak kecil itu.


Begitu pentingkah, mereka berdua, meski, Daniel belum mengingat keduanya?!


Hati dimakan dengki, jiwanya diliputi oleh amarah. Bara api di matanya pun semakin berkobar dan membesar. Della menatap video yang masih berjalan dengan tatapan menghunus tajam.


Video itu, terus berjalan, sampai menampakkan kejadian orang yang ia suruh sengaja menjalankan motor ke arah empat orang di depannya. Dan, hampir menyerempet mereka.


Bibirnya menyeringai kecil, namun kembali mengerut karean aksi orang suruhannya itu gagal. Belum sempat ia memaki, karena kegagalan itu, hal selanjutnya yang terjadi, membuat tangan yang memegangi pipi, jatuh ke bawah begitu saja.


DOR~!


DOR~!


DOR~!


DOR~!


Senyum iblis terbit, kala ia melihat sebuah mobil melintas, sambil memberondongkan tembakan ke arah empat orang itu.


Cerdik! Puji Della dalam hati. Sebab ternyata, orang suruhannya itu, sudah merencanakan hal ini dengan matang. Ternyata, yang tadi itu, hanya sebuah pengalihan saja.


Akan tetapi…, pupil matanya membesar kala melihat, Daniel, merelakan diri-punggungnya, menerima berondongan peluru-peluru itu. Demi, menyelamatkan mereka semua.


Dengan tragis, dengan cara memeluk ketiganya. Termasuk si pria yang Della tahu juga.


Della! Dirinya, seperti baru saja dihantamkan ke sebuah karang yang begitu kokoh dan besar.


Bukan hanya hatinya, namun, seluruh jiwa raga terasa remuk melihat hal ini.


Mengapa?


Mengapa rencananya sendiri menjadi sebuah boomerang baginya?


Della tidak dapat menerima kenyataan yang baru saja ia lihat. Itu bukan hal yang dia inginkan.


“Tidak! Tidak mungkin!” Wanita itu, menggelengkan kepalanya, dengan ketidakberdayaan serta rasa mengelak yang tinggi.


Tepat, ketika, Ben mengeluarkan begitu banyak darah dari mulutnya, Felipe pun mengeluarkan suara. “Kau sudah mengerti kesalahanmu, sekarang?”


Della hanya menatap sang ayah. Bibirnya terlalu kedinginan dan kaku, untuk mengucapkan sepatah kata pun.


Patah hati dan rasa sakitnya, lebih terasa, sebab, dia sendirilah, yang menghancurkan hidup pasangannya sendiri.


Wanita itu, sekarang menyadari kesalahannya. Namun, terasa amat sulit untuk mengungkapkan penyesalannya.


“Bukan itu saja kesalahanmu, Della!” ucap Felipe seraya melepas cerutu dari mulut. Lantas berdiri, lalu menyandarkan bokongnya pada meja.


Tanpa menoleh ke arah video yang masih berjalan, dan menunjukkan betapa sedih Rose dan Berly saat itu, Felipe kembali berucap. Demi mengatakan sebuah pengumuman, yang ia sendiri pun, tidak menyangkanya.


“APAAAA!!!” teriakan Della menggema pada seisi ruangan itu. Pas, sekali dengan video yang berakhir dengan Ben yang menutup matanya sambil tersenyum.


Wanita itu, berteriak, tanpa memedulikan lagi pipinya yang masih terasa sakit. Kenyataan apa lagi ini?


“Tolong jelaskan, Ayah! Jangan membuat lelucon seperti ini! Ini sama sekali, tidak lucu!” Dengan berani, Della maju satu langkah. Tatapan tajamnya pun, sekarang, ia alihkan kepada sang ayah.


“Jika, Ayah memang, ingin menghentikanku untuk mendapatkannya…, itu terserah! Aku pun masih punya banyak cara, untuk mendapatkannya kembali, meski, dalam keadaan sekarat!” tegas wanita itu lagi pada ayahnya. Dengan berani, dengan nyalang tatapannya. Seolah sang ayah adalah seorang musuh.


Dimatikan Felipe cerutu yang baru saja ia hisap. Padahal baru dinyalakan, namun, pria paruh baya itu, tetap menekannya dengan keras ke asbak. Sampai, surut asap yang dikeluarakan, juga mati bara yang tadi menyala.


Felipe pun bergerak, berpaling dari tempatnya berdiri sekarang. Lalu berdiri tepat, di hadapan sang putri.


“Ayah, juga baru mengetahuinya, Nak!” Suara lelaki itu pun melembut. Melebur bersama segenap kasih sayang.


“Kau ingat, kan, dulu, Ayah pernah bercerita, jika dirimu, memiliki seorang saudara kembar. Dan menghilang, menghilang, begitu kalian dilahirkan-.” Tatapan sang penguasa itu pun jatuh. “Bersama ibu, yang melahirkanmu.”


Ya! Della memang pernah mengetahui cerita nostalgia ini. Cerita masa lalu, tentang seorang wanita yang ia cinta, namun mendadak meninggalkannya dan sang ayah, setelah melahirkan dirinya, dan juga, seorang saudara lelaki.


Saking cintanya sang ayah, pada wanita itu, Della pun sampai lelah, untuk meminta, supaya ayahnya, segera menikah lagi. Tetapi, sang ayah tetap memilih untuk menyendiri.


“Sebenarnya, sampai sekarang…, Ayah masih mencari mereka!” sambung lelaki itu dengan nada lesu.


Napas dan segala penyangkalan, kini, tertahan di tenggorokan. Della tahan, sambil berusaha mencerna, informasi yang baru saja ia dengar.


“Tidak mungkin! Ayah pasti salah!”


Bagaimana pun juga, semua ini terlalu mendadak bagi Della. Rasanya, begitu sulit, untuk bisa langsung menerima kenyataan ini. Sangat sulit, mungkin!


“Tapi, ini adalah kenyataannya, Nak! Kau harus menerimanya!” ujar sang ayah sambil memberikan hasil tes DNA, antara dirinya dan juga Daniel, yang ia kenal.


“Kapan Ayah melakukannya?” tanya Della yang menjurus pada hasil laporan, yang sedang. ia pegang.


Berulang kali, wanita itu menahan geram dan erang, dari amarah dan seluruh perasaannya yang campur aduk.


“Sudah lama! Tapi, Ayah baru ingat untuk membaca laporan itu,” jawab Felipe dengan tenang.


“Tetap saja! Aku tidak bisa menerima semuanya! Ini pasti, hanya permainan Ayah, kan? Ayah pasti, merencanakan ini semua, agar aku berhenti dan menyerah!” Della masih memiliki asumsi. Ia tidak akan terkecoh dengan mudah.


Mereka, sama-sama berasal dari dunia gelap. Segala sesuatunya, dapat dimanipulasi dengan mudah. Jadi, tak mudah baginya, untuk langsung mempercayai.


“Mungkin, itu adalah alasan kedua! Tapi yang pertama…, karena memang, itu adalah kenyatannya, Della! Dia adalah saudara lelakimu! Dia saudara kembarmu!”


“Apa kau tidak memerhatikan…, wajah kalian, sebenarnya terlihat sangat mirip! Juga, dengan kebiasaan ibumu, yang tidak sabaran. Hal itu, sangat melekat pada sifat dasar kalian,” tambah Felipe mencoba menjelaskan.


Sekelebat, bayang wajah tampan Daniel pun muncul di hadapannya. Lalu, wajah dirinya sendiri hadir di sebelah wajah itu.


Lantas, dia pun memperhatikan serta membandingkan.


Benar memang! Wajah mereka terlihat mirip, meski mereka berbeda gender.


Kenapa?


Kenapa ia baru menyadarinya?


Ketika, bayang wajah dirinya sendiri menghilang, Della membandingkan wajah Daniel dengan wajah sang ayah.


Ini lebih mirip lagi. Jelas, Daniel adalah gambaran sang ayah, ketika masih muda.


Bodoh! Sungguh bodoh! Kenapa tak satu pun pemikiran ini, hadir sejak dulu? Kenapa baru sekarang?!


“Ayah hanya tidak ingin, kau menyesal karena telah memburu, saudaramu sendiri. Juga…, berhentilah dari jalan yang selalu kau ambil itu, Della!”


“Bukannya, Ayah tidak peduli dengan tetap diam dan membiarkanmu. Ayah, hanya tidak mau terlalu mengekangmu. Ayah takut kau pergi meninggalkan Ayah, seperti ibumu dulu. Makanya, Ayah membebaskan dirimu, untuk melakukan apapun yang kau suka.”


“Meski, harus melibatkan banyak nyawa, hanya untuk sekadar obsesimu belaka!” Nada bicaranya pun melemah.


Felipe tahu, bahwa sifat dan kebiasaan buruk putrinya itu, tak lain adalah berkat campur tangan dirinya sendiri.


“Della! Ayah sudah pernah merasakan, bagaimana rasanya terpisah jauh dari putra Ayah. Jadi tolong, jangan pisahkan lagi, dia dan putrinya!” Hal ini pun merujuk pada Daniel aka Ben, dan juga Berly, tentu.


“Jadi…, Ayah sudah mengetahui semuanya?” tanya Della yang sudah berkaca-kaca. Sudah ingin menangis, dan bahkan dadanya sudah terasa sesak.


Della tetaplah manusia, meski, dengan segala superioritas yang dia punya. Dalam lubuk hatinya, masih ada sisi manusiawi yang tersisa. Dan dari sudut itulah, Della mulai memikirkan, setiap kata yang ayahnya itu ucapkan.


“Sudah! Ayah sudah mengetahui semuanya, Nak! Segalanya, sejak kau bertemu dengannya, dulu. Hingga ternyata, saat kejadian itu, kekasihnya sedang mengandung.”


Tadi, tatapan pria berumur itu begitu tegas dan sedikit marah. Tapi kini, sepasang bola mata itu, menatap dengan penuh kasih sayang, juga dengan mengiba dan mengharu.


Akhirnya, ia menemukan kenyataan membahagiakan ini. Akan tetapi, hal ini pasti akan sulit untuk diterima, oleh sang putri.


“Tidak, Ayah! Tidak!” Della memundurkan langkah dengan gelisah. Matanya pun memancarkan aura ketakutan.


“Della!” Dan, Felipe maju, mencoba menghampiri dengan berniat menenangkannya.


“Tidak, Ayah!” Tubuh yang gemetar itu, terus mundur sambil menggelengkan kepala.


Hingga, kakinya tersandung kakinya yang lain, lalu jatuh, terjerembab ke lantai.


“Nona!” Langsung saja, Emilio yang berada tak jauh pun, segera mengangkat, tubuh, yang masih gemetar itu.


Bukan karena dia tidak menerima kenyataan ini! Della sedang berusaha untuk menerimanya.


Hanya saja, benaknya kembali mengingat adegan terakhir yang ia lihat, pada penayangan video tadi. Ketika, Daniel lantas memejamkan mata, dalam kondisi yang sudah sangat parah.


Berarti…, berarti dia sudah membunuh…, saudaranya sendiri, kan?!


Apa yang telah ia lakukan? Apa yang sudah ia perbuat?


Sungguh pun! Kenyataan inilah, yang belum bisa Dell terima, sebenarnya!


Bersambung…


sabar pemirsah... ke sini dulu ya... kaget ga? kaget?


aku juga... xixixi 


abis ini, lanjut bahas kondisi babang ben,,, oke