
Setelah Ben sadar, setelah ia setidaknya puas memastikan bahwa pria yang begitu dicintainya sudah kembali, Rose akhirnya keluar dari ruang rawat intensif itu.
Meskipun sebenarnya, Ben tidak mau ditinggal barang semenit saja. Efek pasca terpisah lama, pria gagah itu jadi khawatir berlebihan, takut tidak akan bisa bertemu lagi dengan sang pemilik hati.
Sebenarnya, Rose mempunyai perasaan yang sama. Ia pun tidak ingin dipisahkan lagi dengan kekasihnya, walau dengan alasan apapun dan meski sedetik pun.
Hanya saja, kondisi Ben yang sebelumnya sangat lemah, memang perlu untuk diperiksa lagi perkembangannya oleh tim ahli.
Lalu untuk sementara waktu, Ben masih disarankan untuk tetap tengkurap dalam posisi merebahnya di atas brangkar. Sampai setidaknya, luka-luka basah itu sedikit mengering.
Selesai pemeriksaan, pihak keluarga diperbolehkan masuk kembali. Sambil menunggu pihak rumah sakit menyiapkan kamar rawat untuk Ben. Lelaki itu, akan segera dipindahkan dari ruang rawat intensif.
Rose, sambil menggandeng tangan Berly, masuk ke dalam ruangan itu lagi. Ada Baz di belakang mereka yang mengekor dan berusaha untuk tetap tersenyum. Meski, dirinya sedang patah hati.
“Papa!” Suara nyaring Berly langsung mengisi kekosongan dan hening ruangan tersebut.
Dengan tidak sabar, anak kecil itu melepaskan pegangan tangan ibunya. Lalu, berlari ke arah brangkar tempat Ben yang lemah sedang tersenyum.
Akan tetapi, saat Berly sudah akan sampai di pinggir brangkar, Ben sengaja menyurutkan senyum. Kemudian mengubah wajahnya menjadi serius. “Kau siapa?” tanyanya pada Berly.
Anak kecil itu, sontak saja menghentikan langkah. Mengernyitkan alis, lalu memandang ibunya. Seolah dia bertanya, apakah benar bahwa sang ayah sudah mengingatnya.
Rose tahu bahwa itu adalah akting Ben saja yang jahil. Jika memang tidak ingat, untuk apa tadi dia tersenyum begitu lebar, begitu melihat Berly masuk.
Maka, demi menjadi pihak netral, Rose hanya mengangkat kedua tangan sambil mengedikkan bahu. Dia tidak tahu!
Lantas, Berly memandang ke arah Ben lagi. “Namaku Berly!” Anak kecil itu menyentuh dadanya sendiri. “Paman Baz bilang, kau adalah Papaku.” Kelopak mata anak keci itu mengedip beberapa kali dengan polosnya.
“Kau anak-ku?” Dalam keadaan lemahnya, pria itu berakting dengan sempurna. Ia angkat kedua alis dengan ekspresi ragu, ketika bertanya.
“Maaf, Berly! Sepertinya, Paman salah bicara tadi. Dia bukan Papamu! Ayo kita pergi!” Baz pun buka suara. Tangan yang menjulur ke depan melambai-lambai ke arah si anak perempuan.
“Heeyy!” Kontan saja, Ben segera bereaksi.
Ingin sekali ia meneriaki pria itu. Namun, kondisinya yang masih lemah ini membuat Ben hanya dapat berseru pelan dan panjang. Demi menghentikan aksi Baz membawa putrinya pergi.
Berly yang sudah akan berbalik pun, memalingkan tubuhnya lagi ke hadapan Ben.
Sementara Rose juga Baz, saling tukar pandang sambil tergugu bersama. Laki-laki itu, masih saja!
Lalu Rose memandang kekasih yang lemah itu. “Ben!” panggilnya dengan lembut. “Dia putri kita. Anak perempuan yang sudah berhasil kau jaga dan kau selamatkan…, saat itu!” Selepas itu, matanya mengkristal haru.
Ben tentu tahu, apa yang Rose maksud. ‘Saat itu’ adalah ketika ia mesti merelakan nyawanya, demi melindungi sang kekasih hati agar tetap terselamatkan.
Pinggir jurang, karang tajam dan terjal, serta debur ombak yang begitu kencang. Merupakan setting tempat yang menjadi saksi, berpisahnya pasangan kekasih itu.
“Kemarilah!” pinta Ben pada Berly, sambil mengembangkan senyum. Meski nampak lemah, tapi hangatnya tetap menarik anak kecil itu untuk tetap mendekat.
Berly pun melaju tanpa ragu. Pada seseorang yang sudah pernah ia rasakan pelukannya. Namun, saat itu status mereka belum dipastikan bahwa adalah anak dan ayah.
Maka saat ini, keduanya, sedang saling mengukuhkan tali kasih di antara ayah dan anak, secara resmi. Dengan penuh cinta dan kerinduan.
Anak perempuan itu memeluk leher sang ayah. Lantas, kepala Ben yang menyamping ditempelkan Berly pula. Sehingga, wajah mereka yang mirip saling merekat.
Sementara Ben, tangannya yang panjang, melingkarkan tangannya pada tubuh mungil gadis itu. Membawa Berly lebih merapat lagi padanya.
Supaya ia, bisa merasakan aroma dan kehadiran anak perempuan itu, secara nyata. Sebab, selama ini, Ben hanya merasakan kehadiran Berly, dalam bayang dan angannya saja. Dalam wujud bayi perempuan cantik, yang selalu datang di dalam mimpi dan pikirannya.
“Papa!”
Oh, sungguh! Ben merasakan dadanya sedang dibanjiri aliran kebahagiaan saat ini. Setetes tangis haru pun meluruh dari ujung mata. Mengalir, sampai membasahi bantal di bawah kepala.
Demi apa, pria itu semakin tidak merasa menyesal! Sama sekali! Dengan keputusannya saat itu, untuk memilih Rose saja yang hidup di antara mereka berdua. Kala itu, di tebing terjal itu.
Karena nyatanya, dia telah berhasil menyelamatkan dua kehidupan. Kekasih, belahan jiwa yang amat ia cinta. Ditambah, satu lagi, buah hasil cinta mereka.
Baz menelan ludah, demi membahasi tenggorokan yang terasa kering kerontang, sama seperti hatinya. Yang tak jua disirami oleh seseorang, dengan hujan kebahagiaan.
Sebab, cinta pertamanya tidak tersampaikan, sama sekali. Bahkan, sebelum ia membuat pernyataan cinta.
Didorongnya Rose ke arah depan. Mengedikkan kepala, ketika wanita itu menoleh dengan bingung padanya.
Bergabunglah! Baz bilang begitu melalui tatapan dan senyumannya yang sendu.
Rose tidak langsung pergi. Ia malah sengaja menghadapkan tubuhnya ke arah pria itu.
Kemudian, diambil Rose salah satu tangan Baz untuk ia genggam dengan kedua tangan. Rose menggenggamnya dengan sangat erat. Lantas mengusapkan kedua jempol pada punggung tangan Baz yang lebar.
Terima kasih! Rose juga mengatakannya lewat senyum dan tatapannya yang begitu tulus.
Barulah wanita itu berbalik, seraya melepaskan genggaman tangannya satu persatu pada telapak hangat yang kini berpasrah diri.
Cinta tidak bisa dipaksakan. Hal itu yang Baz terapkan. Pada akhirnya, jika memang bukan miliknya, maka tidak akan pernah menjadi miliknya. Meski, sudah sekeras apapun ia berusaha.
Rose melangkah maju, dan pada saat itulah tautan tangan mereka terlepas. Maka, Baz anggap ini sebagai bentuk perpisahannya juga pada perjuangan yang sudah ia lakukan selama 5 tahun belakangan.
Wanita dengan surai emas itu pun mendekat dan memeluk dua orang terkasihnya. Bergabung dalam peluk hangat satu keluarga, yang selama ini terpisahkan.
Ketiganya memejamkan mata, merasai rindu dan pedih yang sedang terobati dengan pertemuan dan pengakuan ini.
Lalu, Baz menyadari, bahwa ia tidak memiliki tempat di sana lagi. Lelaki itu pun berbalik, melangkah dengan pelan menuju keluar.
Untuk terakhir kalinya, ketika sudah berada di luar pintu, Baz melihat penyatuan keluarga itu. Si lelaki pun tersenyum, meski hati masih menyisakan pedih.
Baz pun pergi. Tahu, bahwa satu keluarga itu butuh waktu untuk saling bertemu, untuk saling melepas rindu.
Bersambung…
Halo teman-teman semuanya! Apa kabar?
Mulai hari ini, aku akan lanjut update cerita ini lagi, sampai tamat. Ingat, ya, sampai tamat!
Soalnya, ceritanya babang Ben sama neng Rose emang udah mau mendekati akhir.
Mohon maaf, kalo aku hiatus lamaaaaaa banget,, hehe
Authornya sempat terjebak di dunia fana yang lain xixixi
Dan tentunya, terima kasih banyak buat yang masih nungguin cerita ini. Yang masih nulis di kolom komentar, kapan diterusinnya. Padahal aku udah kaya menghilang ditelan bumi hehe
Keep strong and healthy teman-teman, supaya bisa terus baca dan dukung cerita-cerita aku, ya