
Akhirnya Rose bisa mendapatkan ketenangan untuk bisa merelaksasi tubuhnya yang amat lelah itu. Berendam air hangat dengan paduan aroma sabun yang menenangkan, membuatnya lupa waktu. Sudah hampir sejam dia bersemedi di dalam sana.
“Ah, rasanya aku ingin tidur di kamar mandi saja!” gumamnya seraya membilas diri di bawah shower.
Karena Ben yang membawanya ke dalam sini, maka dia tidak mempersiapkan apa pun. Tak ada baju ganti, apalagi pakaian dalam. Rose menggigiti kuku jarinya ketika berpikir.
Ah! Untung saja ada kimono handuk tergantung di sana. Rose balutkan kain abu-abu itu ke tubuhnya. Lalu rambutnya yang basah, ia keringkan dengan handuk kecil yang tergantung di dekat sana juga.
Dengan percaya diri wanita itu melenggangkan kaki beserta tubuhnya yang masih lembab dan basah. Rose membuka pintu kamar mandi sambil bersenandung. Dia benar-benar merasa lebih fresh, meskipun masih terasa kaku beberapa bagian tubuhnya.
Rose tak sadar jika sepasang mata tengah memandangnya dengan buas.
“B- Ben!” Dijatuhkan tangannya yang sedang memegang handuk kecil ke samping.
Rose pun terpaku melihat tampilan segar Ben yang ia pikir pria itu baru saja selesai mandi. Mulutnya bahkan setengah terbuka saking terpananya. Ben tampan sekali!
Pria yang biasa mengenakan setelan eksentriknya, kini hanya mengenakan kaos hitam polos sepasang dengan celana bahan hitam juga. Tak ada topi kebangsaannya, hanya ada rambut berantakan yang masih setengah basah.
Dan ini adalah tampilan favorit Rose, yang tak banyak orang tahu.
Rose seringkali melihat penampilan santai Ben yang begini ketika mereka tinggal bersama di rumah kakaknya. Tak ada yang tahu, tak ada yang pernah melihatnya, meskipun itu adalah anak buahnya sendiri. Dan Rose suka, sangat suka. Hanya dia seorang yang dapat menikmati penampilan ini.
Wanita itu menggigit bibirnya, mencoba menahan diri untuk tidak langsung menyerbu kekasihnya itu. Padahal dia sudah gemas sekali melihatnya.
Sayang, dari penglihatan mata lelaki, bagi Ben, tampilan Rose yang sekarang seperti inilah yang sedang menantang dirinya untuk menyerangnya.
Kelembaban dan harum aroma tubuh Rose setelah mandi, rambut basah acak-acakan, plus pose menggigit bibir yang menurut Ben membuat Rose terlihat semakin sensual.
“B- Ben! Sejak kapan kau di sana?” Rose beranikan diri berjalan mendekat sambil melanjutkan mengeringkan rambutnya lagi.
Pria itu pun akhirnya tersadar, lalu dia menjawab di bawah tekanan debaran jantungnya yang meningkat pesat. “Baru saja, belum lama.”
Kenapa Rose malah mendekat? Kenapa dia malah datang ke sini? Tidak tahukah Rose jika dalam radius dua meter saja sudah merupakan area berbahaya bagi wanita itu. Takutnya Ben tidak tahan dan tak ragu untuk langsung menerkamnya.
Ben juga tidak tahu, jika Rose saat ini tengah meredam bunyi detak jantungnya yang kencang. Malu dia jika sampai Ben mendengarnya. Berrtalu-talu di dalam sana, sampai rasanya mau meledak saking gugupnya.
Mereka pun kini berdiri berhadapan dengan canggung. Tapi Rose berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain, sambil berpikir bagaimana caranya untuk mencairkan situasi aneh ini.
Apa yang kau lakukan di sini, Rose?! Ben meneriaki kekasihnya itu dalam hati.
Wanita itu sama saja sedang menjajakan dirinya sendiri pada raja iblis ini. Aroma manis menguar menggoda indera penciumannya. Sedangkan, belahan dada yang tak sengaja terlihat, kini sedang menguji keimanan indera penglihatannya. Dan indera perabanya tengah menahan diri untuk tidak menyentuh kulit mulus yang kini tengah bertelanjang kaki.
Rasanya seluruh tubuh Ben sudah gatal, sudah tidak tahan untuk membawa Rose ke bawah kekuasaannya.
“Ben-“
“Hmmp”
Baru saja dia akan membuka suara, tubuhnya tiba-tiba disergap dengan begitu cepat. Ben, pria itu langsung menarik pinggangnya, mendekapnya erat dan langsung menyerang bibirnya dengan ganas.
Hilang kesadaran sebentar, Rose pun membalas bibir pria itu. Mereka lupa diri dalam tautan panas nan menggelora. Hingga Ben menurunkan bibirnya yang basah dan lembab itu untuk menyentuh leher jenjang Rose dan menghirup dalam aromanya.
Tidak! Belum cukup! Ia masih menginginkan lebih. Ciumannya yang basah turun ke dada Rose yang terbuka, ke belahan dada yang tadi dilihatnya tanpa sengaja.
Tepat ketika bibirnya masih menyentuh dada Rose yang terbuka, Ben membuka matanya. Pria itu menarik diri lalu menjauhkan tubuh Rose darinya.
“Maafkan aku, Rose! Aku tidak sengaja!” ucap Ben penuh penyesalan sambil membalikkan diri membelakangi kekasihnya itu.
Dia lepas kendali lagi! Hampir saja! Dan Ben pun melirik pada bagian celananya yang kini terasa sesak. Ben junior ternyata sudah bangkit!
“Pakai bajumu dulu! Nanti aku akan kembali lagi!” pinta Ben seraya melarikan diri ke arah pintu rahasia.
“Kau mau kemana?” tanya Rose yang sedari tadi mengernyitkan alis. Bingung dengan sikap aneh Ben yang mendadak berubah.
“Mandi air dingin!” jawab Ben cepat.
Brak!
Lalu ditutup pintu rahasia itu dengan keras.
Rose melihat wajah dan telinga Ben yang memerah di detik terakhir sebelum pria itu menghilang. Sambil terengah-engah, dia berpikir sebentar.
“Ya, ampun! A-“ Rose lantas membekap mulutnya yang ingin berteriak dengan keras.
Aaaaaa! Dilanjutkan teriakan itu tanpa bersuara.
“Mandi air dingin? Berarti dia sedang bermain solo sekarang!” Rose tergelak sampai terduduk di ranjang.
Sebagai wanita dewasa dia paham, apa yang sebenarnya tadi mereka berdua rasakan. Sebenarnya keduanya menginginkan hal itu. Tapi keduanya pun meragu dan lagi Rose belum benar-benar siap akan hal ini. Nanti, ketika sudah menjadi lebih kuat pikirnya, barulah dia akan menyerahkan diri ini seutuhnya pada kekasihnya itu.
“Aku baru ingat! Jika memang benar yang dia ucapkan, berarti dia sudah puasa lama sekali, kan!” Rose mengingat perihal pengakuan Ben mengenai wanita bayaran. Sudah lama sekali, pria itu mengakui sebelum mengenal Rose, itu yang terakhir kali.
“Ya, ampun! Ini salahku!” Dipandanginya tampilan dirinya sendiri yang hanya mengenakan handuk kimono saja.
Rose merasa bersalah karena pasti Ben sedang sangat menderita di sana. Pasti pria itu menahan diri setengah mati setelah berpuasa lama. Mengingat hal itu, Rose langsung menutup jubah mandinya itu rapat-rapat di bagian dada. Ia jadi berwaspada.
“Berarti aku tidak boleh menggodanya lagi dengan penampilan seperti ini! Bisa gawat urusannya!” Sebab Rose belum siap untuk sampai ke tahap itu. Masih ada yang harus ia capai.
Rose meraba dadanya, tempat dimana terakhir kali Ben meninggalkan ciumannya di sana. Dan harus ia akui, jika sebenarnya dia pun menikmati setiap perlakuan Ben padanya tadi.
“Gila! Ini benar-benar gila!” teriaknya frustasi sambil bergidik ngeri. Dipukuli pinggiran ranjangnya sendiri berulang kali.
Rose menyadari, sebenarnya yang berbahaya itu dirinya sendiri, bukannya kekasihnya!
Bersambung...
Abis ini mereka ngapain lagi ya... pengkhianatnya siapa ya?
Lanjutannya nanti malam ya,, author mau beres-beres rumah dulu 😁
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya
Terima kasih
Keep strong and healthy semuanya 🥰