
Sambil latihan menembak, Rose memikirkan apa yang dikatakan Ben kepadanya tadi pagi. Ini mengenai Relly dan Anggie.
Dor~!
Pada papan poin, Rose mendapat nilai 8 kali ini. Sudah ada peningkatan, banyak malah. Karena, hanya dalam waktu hitungan bulan saja, wanita itu sudah dapat mendapatkan nilai bagus.
Ditarik Rose senjata yang baru saja ia muntahkan pelurunya. Sambil menelengkan kepala, sambil pula ia menghela napas. Hah!
“Jadi, Relly menyukai Anggie? Tapi sejak kapan?” tanyanya pada diri sendiri.
Rose meringis saat memikirkan betapa tidak peka dirinya selama ini. Padahal, kan, dia wanita, harusnya dia yang lebih peka mengenai hal ini. Tapi, mengapa bisa Ben yang bisa lebih awal menyadarinya?!
Ia benar-benar tidak habis pikir!
Tuk~!
Kepalan tangan yang menggenggam senjata, Rose gunakan untuk memukul kepalanya yang bodoh.
Wanita itu sudah bersiap dengan kuda-kudanya lagi. Ia pun sudah mengangkat tangannya yang memegang senjata. Matanya memicing saat membidik papan tembak di depan.
“Tidak, tidak, tidak!” Rose menggeleng sambil menurunkan senjatanya kembali.
“Heh! Aku jadi tidak bisa konsentrasi gara-gara memikirkan mereka!” keluhnya dengan wajah setengah kesal.
Lantas, ia berkacak pinggang sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Dengan gelisah, sambil ia menggigiti kuku jarinya sendiri.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?” gumam Rose tak berhenti. Bersamaan dengan itu pula otaknya tidak berhenti bekerja.
Ia sedang memikirkan, bagaimana caranya supaya dua orang itu menjadi lebih dekat. Walaupun agak tidak mungkin, mengingat Anggie yang memiliki penyimpangan.
Juga luka dalam yang tengah wanita itu rasakan saat ini. Rose sedikit tahu, jika, lebih baik ditinggalkan secara terang-terangan, daripada mendadak menghilang begini.
Tidak mendapatkan kepastian yang jelas, adalah hal yang lebih rumit diselesaikan oleh hati. Karena pada saat itu, perasaan dan hubungan mereka tengah baik-baik saja.
Tak ada masalah, tidak ada keributan pula yang membuat mereka harus berpisah. Karena jelas, yang membuat Zayn menghilang, tidak ada hubungannya dengan Anggie.
Ini pasti berhubungan dengan pengkhianatan, yang ada kaitannya dengan wanita itu.
Terlepas dari itu semua, instingnya mengatakan, jika masih ada harapan bagi keduanya. Masih bisa Anggie disembuhkan dari kesukaannya yang salah jalur. Asal Relly bisa menyentuh sampai jauh ke lubuk hatinya.
“Tapi… bukannya mereka lebih sering bertengkar? Apa bisa, ya, mereka disatukan?” Nampak Rose mulai meragu.
Ia jadi teringat bagaimana kesehariannya dua insan itu. Mereka berdua biasanya memang sudah seperti kucing dan anjing yang saling menggigit ketika bertemu.
“Hah! Entahlah!” desahnya kemudian sambil menodongkan senjatanya lagi ke depan.
Dor~!
“Yeay!!!” Wanita itu lantas berteriak sambil melompat girang. Ia berjingkat-jingkat sebab hatinya begitu senang.
Mendapat nilai 8 saja, sudah merupakan kemajuan pesat baginya. Untuk seorang amatir yang sedang giat-giatnya belajar.
Tapi sekarang… 9 adalah pencapaiannya yang tertinggi. Itu setara angka yang didapatkan oleh seorang profesional!
Jadi… bisa dibayangkan, bagaimana wanita itu senangnya bukan main, sekarang!
***
Di suatu tempat, di wilayah terpencil jauh dari keramaian. Dan bahkan berada di seberang pulau. Seseorang tengah berdiri dengan kepala tertunduk.
Dia mematung, memaku di tempatnya tanpa pergerakan sedikit pun. Bahkan terpaan angin kencang, seakan tak berpengaruh sama sekali kepadanya.
Orang itu adalah Zayn. Manusia yang telah dicari-cari banyak orang selama ini.
Campur aduk ekspresi memenuhi wajahnya yang mengarah ke bawah. Sayu tatapan itu juga mempunyai senyawa tajam yang mendendam.
Kesedihan. Kemarahan. Kekecewaan. Berpaur menjadi satu kesatuan, menyeruak sampai membaut aura di sekitarnya kian gelap dan suram.
Netra cokelat yang tengah bersatu dengan nestapa yang kini ia rasakan, tengah menatap ke bawah. Ke arah gundukan tanah merah yang masih basah.
Dahulu, ia telah ditinggalkan oleh ibunya. Tidak cukupkah dengan hal itu?
Lalu, sekarang… ia mesti ditinggalkan pula oleh ayahnya!
Benar memang! Zayn tidak berbohong mengenai pamitnya pada Anggie, ketika mengatakan akan meninjau gudang produksi.
Namun, baru selesai ia menjalankan tugas, Zayn mendapatkan kabar tidak enak dari rumah. Sanak saudaranya mengatakan jika ayahnya, kian hari kian menggila. Bahkan beberapa kali mencoba melukai dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Zayn pun memutuskan kembali ke rumah. Untuk melihat bagaimana kondisi ayahnya itu saat ini.
Walau, ia ditempa sebagai seorang lelaki oleh sang ayah. Tapi, hatinya tetaplah hati seorang wanita. Yang lembut dan halus, serta sangat mudah mengiba.
Apalagi terhadap orang tua yang tinggal hanya satu-satunya itu. Zayn tidak dapat menutup mata. Ia tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada ayahnya.
Sebab, jauh di lubuk hatinya yang terdalam. Ia masih berharap ayahnya bisa sembuh. Bisa normal kembali.
Sehingga, ia bisa menunjukkan kepada Johan, betapa sekarang Zayn telah menjadi kuat. Dan bahkan ia dapat menghancurkan kelompok itu, jika ia mau.
Ketika kembali, yang disebut-sebut ayahnya itu memang hanya namanya saja. Johan ingin sekali diperhatikan oleh putri semata wayangnya itu. Dengan berbagai cara.
Karena pikirannya sudah setengah waras, maka Johan pun sudah tidak dapat berpikir dengan benar. Sehingga, cara yang ia pergunakan adalah cara yang tidak masuk akal.
Pernah sekali waktu, Johan mencoba menabrakkan diri pada sebuah mobil di jalan raya. Hal itu ia lakukan, karena kesal permintaannya untuk bertemu dengan Zayn tak kunjung dikabulkan.
Pernah juga, ia hampir mengiris urat nadinya. Oleh karena, sebab yang sama.
Karena pada intinya, Johan hanya menginginkan Zayn ada di sisinya.
Maka, dengan berat hati, Zayn pun memutuskan untuk membawa ayahnya itu berlibur. Bermaksud membuat hatinya senang. Agar tidak terpikirkan untuk membuat masalah kembali.
Namun, sangat disayangkan, ia juga tidak dapat mengabari satu pun anggota Harimau Putih mengenai masalah ini. Sebab, hal ini merupakan rahasia yang sudah ia simpan rapat sendiri, selama bertahun-tahun ini.
Tidak ada yang tahu. Tidak satu pun dari mereka. Yang Zayn pikir begitu. Meski kenyataannya, Ben juga yang lain, sudah mengetahui perihal ayahnya itu.
Zayn membawa ayahnya ke kampung halaman di pulau seberang. Jauh dari keramaian, jauh pula dari markas Harimau Putih. Supaya ayahnya itu juga lekas melupakan dendamnya terhadap tempat itu.
Ia pikir begitu. Menyenangkan hati ayahnya adalah cara agar keadaan bisa membaik.
Kebetulan juga, selama mereka di sana, wanita mengerikan itu pun tak menghubunginya. Jadi tak mengganggu acaranya untuk menyenangkan ayahnya itu.
Tapi siapa sangka, setelah seminggu mereka berada di sana. Zayn yang melihat sikap ayahnya sudah membaik pun, mengutarakan keinginannya untuk kembali bertugas lagi. Namun Johan menolaknya mentah-mentah.
Ia masih ingin di sini bersama denga putrinya itu. Johan menolaknya sambil merengek seperti anak kecil. Bahkan sampai berguling-guling di lantai.
Zayn yang sudah bersabar selama ini pun tidak tahan. Ia membentak ayahnya, dengan keras. Mungkin saja, emosinya yang tertahan selama ini ia lampiaskan saat itu.
Lalu… Johan kabur dari villa tempat mereka menginap saat itu. Ia berlari dengan kencang, sementara Zayn tidak mengejarnya.
Ia pusing, terlalu pening dan penat ia rasa di kepalanya. Sampai rasanya mau meledak sekarang juga.
Hingga malam menjelang, ayahnya itu tidak kunjung pulang. Zayn pikir, Johan paling-paling sedang menghibur diri di sekitar kebun saja.
Lalu, seseorang datang ke villanya. Mengetuk pintu dengan tergesa dan tidak sabar, dari arah luar.
Orang yang datang, ia pikir adalah ayahnya. Tetapi bukan, justru orang itu membawa kabar tentang ayahnya itu. Bahwa, Johan ditemukan tergeletak di beberapa meter pada kedalaman sebuah jurang, di pinggir kebun.
Sempat koma dua minggu, pada akhirnya Johan mengembuskan napas terakhir. Mungkin memang sudah ajalnya sampai di sini.
Namun, Zayn tidak dapat menerimanya begitu saja. Ini bukan tentang takdirnya yang begini. Tapi, ia makin menyalahkan Ben atas takdirnya yang seperti ini.
Sebab, nasib ayahnya tidak akan sedemikian buruk, jika saja ayahnya masih bertahan di Harimau Putih, dan memimpin di sana. Sesuai dengan janji yang pemimpin sebelumnya ucapkan.
Hari ini, genap satu minggu kepergian ayahnya. Johan dimakamkan di sini, di kampung halamannya. Dan Zayn masih bertahan di sini, guna menata perasaannya kembali, kala ia mesti kembali ke markas Harimau Putih.
Dan hari ini pula, ia mendapatkan angin segar dari wanita mengerikan, yang sudah hilang kabar selama itu.
Sampai ia sempat berpikir, jika wanita itu sudah tidak tertarik lagi pada Ben. Lalu, ia pun mesti bekerja keras sendiri, untuk menghancurkannya. Zayn masih dan akan tetap setia pada dendam kesumatnya.
“Ayah… aku pasti akan membuat tempat itu hancur, beserta pemimpinnya!” janji Zayn sambil menatap kubur ayahnya yang masih berupa gundukan tanah.
Saat ini, rencana yang ia punya sangat matang dan terencana. Sangat berisiko tentunya.
Namun, hanya ini satu-satunya cara untuk menghancurkan, seluruh hidup orang itu.
Bersambung…