Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mempermalukan Della



Pada akhirnya, Rose menyetujui apa yang Daniel minta. Wanita itu, hanya pasrah dengan posisi mereka saat ini. Walau, terkadang, cengkeraman tangan si pria di pinggangnya, terasa sangat kuat. Ia hanya dapat mengernyit sedikit, untuk menahannya.


Toh, Rose sendiri, sudah sangat merindukan pria di bawahnya ini. Sudah sangat lama, dan akhirnya mereka melakukan kontak fisik. Bahkan sangat dekat, dan ia bisa merasakan, suara detak jantung Daniel yang tak beraturan.


Sebenarnya apa yang dia rasakan? Apa yang terjadi padanya?


Rose sangat prihatin atas apa yang dialami pria itu. Pertama kali bertemu, namun ia sudah melihat prianya kesakitan begini.


Ia ingin bertanya. Akan tetapi, hubungan mereka saat ini, tidak dalam keadaan bisa bertanya lebih jauh lagi. Mereka, saat ini, sedang menjadi orang asing, untuk satu sama lain.


Mengingat hal itu, wajah Rose jadi murung lagi. Bulu kuduknya merinding, merasakan ketakutan, yang tak pernah terbayangkan sama sekali, sebelumnya. Saat ia masih menjalin hubungan dengan Ben, dulu.


Kemungkinan, apabila, Ben tidak menjadi miliknya lagi. Kemungkinan, apabila Ben menjadi milik orang lain.


Dalam hal ini, Rose merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Harusnya, sejak awal, ketika ia memutuskan untuk jatuh cinta, maka hatinya pun harus sudah siap untuk merasakan kehilangan. Karena, pada dasarnya, di dunia ini tidak ada yang kekal dan abadi.


Sambil menjepit bibirnya, Rose berusaha menahan diri, untuk tidak, kembali menangis.


Menangisi, lengah juga kebodohan dirinya, serta serakah dan kesombongan hatinya, yang hanya mengklaim, bahwa Ben adalah hanya miliknya sendiri.


Sedangkan, sebenarnya, setiap insan adalah milik Tuhan. Dan, Tuhan pula, yang sudah mengatur semuanya. Setiap takdir yang akan diterima oleh setiap umat.


Heehhhh…. Dihela Rose napasnya dengan berat dan panjang.


Akan tetapi, untuk saat ini, bolehkah, ia mengambil sedikit penghargaan atas kesabarannya untuk menunggu selama ini?


Wanita itu lantas, tersenyum kecil, sebelum mengungkapkan sesuatu. “Leherku pegal, apa boleh…, aku bersandar di sini?” Ditepuk Rose dada yang saat ini sedang ia pegang. Dengan telapak tangan. Untuk menopang tubuhnya.


“Hemm…, hem…,” angguk Daniel dengan erangan tidak jelas.


Pria itu mendengarnya, ia tidak mempermasalahkan permintaan Rose yang sederhana. Namun, tidak juga dapat menanggapi lebih banyak, sebab, sakit kepalanya, masih terasa begitu hebat.


Senyum merekah di bibir yang selalu ranum dan menggiurkan, bagi sosok Benny Callary. Dan entahlah, bagi Daniel sendiri.


Dilebarkan Rose lengannya yang bertumpu pada dada Daniel. Ia pun menggeser kedua telapak tangan, memberikan ruang untuk kepalanya bersandar pada dada bidang tersebut. Di antara kedua tangan yang berposisi terbuka.


Perlahan dan sangat pelan, Rose meletakkan kepalanya di sana. Tepat di tengah dada pria itu, sehingga ia masih dapat mendengar dan merasakan bunyi detak jantung Daniel alias Ben tersebut.


Kebiasaan lama, yang selalu ia lakukan kala tidur sambil berpelukan. Rose suka sekali, mendengar suara detak jantung pria itu.


Rasanya, seperti, jantung mereka berada sangat dekat, dan sedang berdetak bersamaan. Seolah, mereka adalah satu kesatuan dalam sebuah kehidupan.


Sayang sekali, momen haru dan menyentuh itu, tidak bertahan lama, karena tubuh Rose, segera ditarik dengan paksa oleh seseorang. Dari atas.


“Apa yang kau lakukan, pada tunanganku?” teriak Della dengan histeris kemarahannya.


Sedangkan, yang menariknya tadi sampai berdiri, adalah Emilio. Si pria berwajah datar, yang selalu berada di sisi wanita itu.


Dihentak Rose tangannya yang masih dicekal oleh Emilio, sampai terlepas dan bebas.


Bisa saja, Emilio tetap menahannya. Akan tetapi, ia memiliki tugas lain, untuk membangunkan Daniel, dari posisinya saat ini. Membantu, memapahnya, karena bahkan, Daniel tidak bisa berdiri dengan tegak, sendiri.


“Tunangan? Heh!” Rose tersenyum sinis. Kemudian, ia maju satu langkah, serta mencondongkan tubuhnya ke depan. Kini, wajah kedua wanita itu saling berhadapan.


“Nona Della Moran August…!” sebut Rose dengan bisik mengancam.


Mata Della lantas membulat besar, bahkan hampir keluar. Sebab, ternyata, Rose mengenalinya. Mengetahui nama lengkapnya, berarti Rose sudah menyelidiki tentang identitasnya.


Dan, mungkin saja, sudah mengetahui, apabila, penyebab kecelakaan yang menimpa mereka, adalah direncanakan oleh dirinya. Juga motif dibalik rencana yang berujung nestapa bagi Rose sendiri. Yang adalah, untuk merebut Ben dari sisinya.


“Jika…, tidak salah ingat…, lelaki yang menjadi tunanganmu itu…, seharusnya adalah calon suamiku!” bisik Rose lagi, menyindir dengan perlahan. Menusuk dengan barisan silet, namun itu belum selesai.


Erghmm…. Della menggeram. Antara marah, benci, juga takut menyerbu di dalam diri. Ingin menyemburkan sanggahan, tapi Rose sudah mulai membisikkan serangannya lagi.


Dijauhkan Rose tubuhnya lagi. Lantas, ia melipat tangan di depan dada. Mencemooh serta mengejek wanita hebat yang berada di depannya, dengan satu tatapan yang menyipit tajam.


Heh! Bibir Rose mencibir sinis lagi.


“Jika kau benar adalah tunangannya…, harusnya kau tahu apa yang terjadi pada tunanganmu itu, saat ini!” Rose menjeda sebentar dengan menelengkan kepalanya ke sebelah kiri. Makin brengsek ia memandangi Della dengan segala cemoohnya. “Dulu, saat dia bersamaku…, dia tidak pernah kesakitan seperti ini, sama sekali. Karena apa?”


Rose memicingkan mata serta memajukan tubuhnya lagi. “Karena aku bisa mengurusnya dengan benar! Dengan cinta dan perhatian. Sedangkan kau?” Ditatapinya wanita itu dari atas sampai ke bawah, dengan hanya menggulirkan bola matanya saja. “Kau mengurusnya dengan obsesi dan ambisi. Kau tidak mencintainya sama sekali!”


“DIAM KAU!!” teriak Della tidak terima. Histeris, kasar, serak suara wanita itu, kala mengumandangkan penolakannya.


Bahkan, tubuhnya sampai gemetar berikut dengan kepalanya. Yang sebentar lagi, akan mengalirkan lava panas yang selalu tersimpan bersama emosinya.


Della, wanita itu adalah seseorang yang juga tidak sabaran.


Apabila, di depan Daniel, ia akan menggunakan topeng lemah lembut dan manja. Maka, saat ini, Della telah terprovokasi. Hati dan pikirannya, sangat terganggu dengan semua hal yang Rose katakan.


Plak~!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Rose. Ceplakan tangan berwarna merah, sekarang menghiasi di sana. Bahkan, Rose dapat merasakan dengan lidahnya, jika sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah.


Ini, tamparan yang sangat-sangat keras.


“DELLA!” tegur Daniel dengan keras. Sembari menahan kesakitan di kepalanya.


Walau, dengan alasan apa pun, tindakan Della tidak dibenarkan sama sekali. Pun, pria itu, masih dapat mendengar dengan jelas, isi percakapan keduanya.


Hanya saja, ia sedang mengumpulkan kekuatan saat ini. Untuk bisa menopang tubuhnya sendiri, kemudian ia bisa melepaskan diri.


Sambil begitu, ia harap Rose bisa mengulur waktu.


Tsk! Rose berdecak sembari mengulas senyum mengejek. Sakit memasng. Tapi ia merasa puas dengan hal itu.


Dengan begini, berarti wanita mengerikan itu, telah mengakui, bahwa semua yang ia ucapkan adalah benar.


Della menatapnya dengan seribu aura kebencian. Seluruh tubuhnya masih gemetar, apalagi kepalan tangan di samping tubuhnya. Masih mengumpulkan segenap emosi di sana.


Akan tetapi, Rose punya lebih banyak alasan lagi untuk membencinya. Wanita itu, telah mengambil apa yang seharusnya, menjadi miliknya. Dengan cara kotor dan keji.


Ternyata, emosi yang terkumpul menjadi semakin besar. Sebab, biasanya, ia hanya tinggal menodongkan senjata di kepala orang, yang ia tidak sukai. Membunuhnya, melenyapkannya dari dunia ini. Maka barulah, ia merasa puas.


Dengan sikap dan ucapan Rose tadi, sudah cukup untuk membangkitkan sisi gelap Della, yang tidak Daniel ketaui.


Dan hal ini malah, membuat Rose semakin senang. Memancing musuh untuk melepaskan topengnya. Tarikan di salah satu sudut bibirnya pun semakin lebar.


Dilayangkan Della telapak tangannya yang lain ke arah wajah Rose. Hendak memberikan cap tangannya lagi, di pipi yang satunya.


Akan tetapi…, Rose segera menangkap tangan tersebut. Lengan ramping Della, ia cekal dengan kuat, di udara. Sambil memandangi wanita itu, dengan benci, remeh, cemooh serta ejekan yang Rose punya.


Sepertinya, Della tidak tahu, apabila, Rose yang saat ini sudah berbeda. Dia bukanlah, seorang wanita rumahan seperti dulu. Yang lemah dan tidak bisa apa-apa.


Segera, Rose memelintir tangan itu. Dengan gerakan cepat, bahkan sampai tubuh Della pun ikut berputar dan berbalik. Hingga kini, tangan yang masih berada di dalam cengkeraman Rose, berada tepat di belakang punggung.


“Nona!” seru Emilio dengan rasa khawatirnya.


Pria muda itu, ingin menolong nonanya. Akan tetapi, ia sedang memegangi Daniel saat ini. Jika, ia melepaskan pria ini, pasti nonanya tidak akan suka. Karena bagi Della sendiri, keberadaan Daniel, saat ini, lebih penting dari hal apapun.


Perasaan tersingkir jelas ada. Namun, ia tetap harus menjalankan permainan, sesuai dengan aturan nonanya. Apabila, masih ingin berada di sisinya, berarti Emilio masih tetap harus berguna.


Sshhhsss…. Della mendesis kesakitan. Tangannya dipelintir habis, lalu terkunci di belakang tubuhnya. Sudah begitu, tangan Rose yang lain, memegangi lengan Della, di sisi yang lain. Sehingga, ia tidak dapat membalikkan tubuhnya lagi, karena Rose benar-benar mempertahankan dan menjaga posisinya saat ini.


Belum cukup sampai di situ. Tak lama kemudian, Rose menendang belakang tubuh Della dengan satu kaki. Sembari melakukannya, ia melepaskan cekalan tangannya pada wanita tersebut.


Dan, Della pun, terhuyung-huyung ke depan. Beruntunglah, jika wanita itu tidak sampai tersungkur ke pasir pantai.


Wanita itu memang berusaha menyeimbangkan diri, dengan merentangkan sedikit, kedua tangannya. Seperti, bebek yang sedang mengepak-ngepakkan sayapnya yang hendak terbang.


Tapi Della bukan bebek. Maka, Rose menambahkan satu tendangan lagi, dengan sangat-sangat santai. Bahkan, ia tidak membuka lipatan tangannya di depan. Tetapi, hal itu berhasil membuat wajah serta tubuh itu, terjerembab, pada pasir pantai yang kering.


“Akh…!” pekik wanita itu. Setengah kaget, setengah kesal.


Della jatuh, tepat dengan seluruh wajah yang mendarat terlebih dahulu. Ia jatuh dalam posisi bersujud. Dan tepat di hadapannya, terdapat seekor anjing kecil yang tengah duduk. Dan sepertinya sudah sejak tadi, ia berada di sana. Dan ketenangan.


Seolah hewan itu, sejak tadi sedang memerhatikan mereka. Sedang menikmati tontonan gratis.


Diangkat Della kepalanya, hingga wajah yang kini penuh dengan bulir pasir itu menampakkan diri, ke hadapan sang anjing. Mata wanita itu pun, membelalak kaget. Ia pikir, tidak ada apa-apa di sana.


“Guk… guk….” Kemudian, yang didapatinya adalah satu gong-gongan kencang dari anjing tersebut. Lantas, hewan itu pergi.


“Lihat! Bahkan, anjing saja muak melihat wajahmu!” ejek Rose dengan kekehan yang mengesalkan. Bahunya naik turun seirama. Ia benar-benar merasa sangat terhibur.


Biasanya, setiap hari, Rose selalu punya hiburan seperti ini. Dengan memberikan pelajaran pada orang-orang yang tidak tahu diri, dan sering kali melakukan tindakan yang salah.


Sudah dua hari ini, ia libur. Dan sekarang, ia mendapatkan hiburannya lagi.


Dan sungguh! Hiburan kali ini, terasa amat menyenangkan ketimbang hiburan-hiburannya yang lain.


Della bangun, ia lantas berdiri. Sambil menggeram, wanita itu melesat ke arah Rose, dengan satu kepalan tangan.


Ia benar-benar tidak terima, dipermaluka…, sangat dipermalukan seperti ini! Tidak pernah sekali pun di dalam hidupnya. Tidak pernah!


Sebuah tinjuan melayang, mengarah pada titik pusat, di wajah Rose. Della sudah menguncinya. Segenap kebencian, serta marah dan kesal, sudah pasti, akan membuat tinju ini, mendarat dengan sangat kuat.


Hap~!


Rose kembali menghentikannya. Ia menangkap kepalan tangan tersebut. Dengan santai dan begitu mudah. Bahkan, saat ini, kepalan tangan Della, sedang ia remat dan ingin ia hancurkan.


Sembari mempertahankan kepalan tangan itu di udara, Rose tersenyum begitu manis pada Della. Sebentar, sebab ia lantas memberikan ekspresi seriusnya.


Dak~!


“Kau sudah dimakan oleh emosimu sendiri!” Rose menendang kaki kiri Della, sehingga telapak kakinya bergeser dan pijakannya semakin terbuka.


Dak~!


“Sehingga kuda-kudamu jadi tidak kuat!” Sekarang kaki kanan Della yang Rose tendang. Sehingga membuat, tungkai kakinya semakin terbuka.


Pada posisi dan pijakannya yang begitu lebar kali ini, Della jadi, tidak bisa bergerak kemana pun. Sebab, apabila ia mencoba untuk mengambil satu langkah pun, maka dirinya akan tersungkur. Lagi.


Saat ini, pegangan dan keseimbangannya, hanya bertumpu pada satu titik. Yaitu, cengkeraman tangan Rose pada kepalan tangannya.


“Emosi hanya akan membuatmu menjadi lengah dan kalah!” Kepalan tangan itu pun Rose hempas. Sambil tersenyum, ia berpaling dari hadapan Della.


Meninggalkan wanita yang saat ini, sedang berusaha keras untuk menjaga keseimbangannya. Della merentangkan tangan sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang sudah maju mundur, ingin terjatuh.


Sungguh pun! Wanita itu bergerak-gerak dengan lucu! Rose dapat melihatnya, dengan sekali lirik, ketika kepalanya, ia tolehkan ke samping.


“Hey! Berhenti di situ! Aku belum membuat perhitungan denganmu!” Sambil berusaha mempertahankan diri agar tidak terjatuh, Della meneriaki Rose. Agar ia merasa, harga dirinya, tidak benar-benar semakin jatuh.


Di sepanjang hidupnya ini, Della baru merasakan, dipermalukan dengan teramat sangat, sampai seperti ini. Harga dirinya terluka. Namun ia tidak ingin terlihat lemah dan tidak bisa melawan, di hadapan pesaingnya.


Padahal, ia sudah tidak bisa melakukan apapun. Berdiri saja sulit, apalagi ingin membalas Rose!


Heh! Hanya sebuah senyum sinis tipis. Rose enggan meladeni orang tidak penting. Masih ada banyak hal yang bisa ia lakukan, selain meladeni wanita licik dan picik itu.


“Nona!” Melihat nonanya dalam keadaan tidak berdaya, maka, Emilio tidak dapat menahan diri lagi.


Ia melepaskan Daniel. Membiarkan laki-laki itu berdiri dengan gontai, lantas menghampiri nonanya. Karena pada dasarnya, yang ia pedulikan, hanya nonanya saja. Tidak ada yang lain. Sementara menjaga Daniel, adalah sebuah perintah.


“Tunggu!” panggil Daniel lemah, pada wanita yang sedang bergerak menjauh.


Dengan sisa tenaga dan energi yang ia punya, Daniel berusaha berjalan. Tak lupa, tas kecil yang masih tergeletak di pasir, yang tadi berada di sisi Rose pun ia bawa.


“Tunggu dulu, Rose!” Laki-laki itu, melangkah dengan gontainya, sambil terhuyung-huyung, sebab kepalanya masih berdenyut sakit.


Rose membalikkan tubuhnya dengan cepat. Mendengar namanya dipanggil oleh suara itu, rasanya, seperti sedang diobati, rindunya yang terasa amat berat.


Bersambung…