
"Sudah!" Akhirnya Rose bisa melepaskan diri juga dari kukungan Ben yang begitu kuat. Dia harus mendorongnya sekuat tenaga hingga sebenarnya Rose kebingungan, dirinya terengah-engah karena lelah berusaha atau karena terjerat bibir pria itu cukup lama?!
"Sudah cukup, okey! Sudah cukup! Aku jadi anak baik sekarang!" Tangannya melambai di depan wajah Ben. Anggap saja itu bendera putih sebagai tanda dia menyerah! Kuasa laki-laki itu sungguh tak terkalahkan!
Kemudian Rose duduk dengan tenang sambil menghadap ke depan. Tapi dadanya naik turun dengan kentara, mencoba mengumpulkan oksigen ke dalam rongga paru-parunya.
"Bagus, anak baik!" Tersenyum puas, Ben mengusap puncak kepala wanita itu juga.
"Sebelumnya... kenapa kau diam?" Untuk beberapa saat pria itu menimbang. Tapi batinnya tetap menginginkannya untuk bertanya mengenai kebisuan wanita itu sekarang juga.
"Aku? Tidak apa-apa!" Ia menggeleng. Nadanya yakin namun wanita itu mengernyitkan alisnya.
Rose malahan merasa jika sejak tadi dirinya tak berhenti mengoceh. Dia berbicara tentang hal ini dan itu tiada henti. Jadi darimana dirinya bisa dikatakan diam?! Malah ia merasa jika kekasihnya sendiri yang tak banyak bicara dan hanya menanggapi seadanya saja.
"Ahh,, aku hanya lelah tadi!" Dia menunjuk atap mobil setelah mendapatkan petunjuk mengenai pertanyaan itu.
"Benar!" sambungnya meyakinkan pria itu ketika dilihatnya Ben sedang menautkan kedua pangkal alisnya.
"Hey... aku ini hanya manusia biasa. Mulutku kelelahan setelah banyak bicara! Lagipula kau juga tiba-tiba berhenti menanggapi semua ucapanku, kan! Makanya aku berhenti saja lalu diam!" Rose terdengar seperti sedang mengeluarkan keluhannya yang ia tahan sejak tadi.
"Ternyata melihat pemandangan di luar pun terasa menyenangkan! Rasanya hatiku tenang sekali!" imbuhnya lagi sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela seperti tadi.
"Syukurlah!" Ben terlihat lega. Beban di bahu yang sejak tadi bergelayut pun mendadak sirna.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Rose langsung menoleh begitu terdengar helaan nafas panjang dari belakang punggungnya.
"Aku khawatir kau merasa berat melakukan hal ini" Tatapan mata Ben berubah sendu.
Kemudian pria itu menyampaikan semua kekhawatiran yang sejak tadi bergumul di benaknya. Seperti tak ingin membebani Rose akan pilihannya ini, Ben pun tak ingin Rose merasa terpaksa. Sehingga jalannya akan terasa berat nanti.
"Kau terlalu banyak mengkhawatirkan aku, Ben! Ini adalah pilihanku sendiri, tentu saja aku bertekad untuk menjalaninya. Lihat saja, aku pasti bisa kau banggakan ketika bersanding denganmu nanti!" Rose menatap Ben dengan keyakinan yang teguh.
Meskipun dari luar penampilannya terlihat lemah lembut, namun sebenarnya Rose memiliki prinsip yang kuat terhadap hidupnya.
Dia telah menjalin hubungan dengan pria luar biasa. Bukan pria kaya biasa yang identitasnya aman-aman saja. Prianya ini di kelilingi oleh banyak bahaya. Jadi Rose tahu bahwa tidak mungkin selamanya Ben akan selalu bisa menjaganya.
Dia tidak mau terlalu merepotkan pria itu. Adanya dia di sisi Ben, bukan untuk menjadi beban. Rose tidak menginginkan hal itu. Dia ingin menjadi partner yang bisa diandalkan. Bahkan jika perlu, dia bisa membantu Ben kala pria itu dalam bahaya.
"Jika yang kau jalani nanti terlalu berat bagimu, katakan saja! Jangan memendamnya hanya karena ambisimu saja! Jika begitu, kau bisa merusak tubuh dan hidupmu nanti!" kata Ben bijak.
"Lagipula kau selalu menjadi kebanggaan ku, Rose!" Dicubitnya dagu wanita itu lalu Ben mengusap pipi Rose dengan lembut setelah mereka saling bertatapan.
"Aku bertemu denganmu yang seperti ini, aku juga jatuh cinta pada dirimu yang seperti ini! Lalu... bagaimana pun dirimu nanti, aku akan tetap mencintaimu, Rose!" Tak lekang tatapan yang Ben berikan berikut kalimatnya membuat wanita itu menitihkan air mata haru.
"Mungkin cintaku akan bertambah seiring berjalannya waktu nanti!" sambung Ben lagi sambil membayangkan bahwa mereka akan tumbuh tua bersama kelak. Dia terkekeh sendiri memikirkan hal itu.
Untung saja saat ini Relly sedang menggunakan earphone di telinganya. Karena jika dia sampai mendengar perbincangan kedua insan di belakang mereka saat ini, Relly pasti akan memilih untuk terjun keluar dari mobil. Saking tidak tahan dengan siksaan bagi dia yang kaun penyendiri.
"Terima kasih, Ben, karena telah mencintaiku!" Rasa syukur Rose hanya bisa ia ungkapkan dengan kalimat itu. Wanita itu larut dalam haru sehingga tak dapat mengungkapkan banyak ungkapan lagi. Dan ia meyakini jika cintanya pada pria itu pun semakin menggunung saat ini.
Rose segera menahan dada pria itu ketika ia merasa Ben akan menyerangnya lagi. Hanyut dalam perasaan ini, tentu saja Ben ingin sekali meluapkannya melalui tindakan fisik. Ia ingin meluapkan perasaan cinta yang ia miliki sebesar-besarnya kepada wanita itu.
"Kan, sudah tadi!" seru Rose dengan wajah memelas.
Bibirnya sudah dilahap tadi, sekarang dia belum ingin lagi. Lebih tepatnya, tempat mereka saat ini begitu tidak mendukung. Rose tidak ingin tindakan mereka berdua menjadi tontonan orag lain. Terserah jika pria itu tidak tahu malu! Tapi urat malu miliknya belum putus sama sekali! Sekuat tenaga Rose menahan dada Ben agar tidak semakin mendekat.
"Sebentar saja! Janji!" Ben tak mau kalah. Dia juga memasang wajah memelasnya ketika memohon. Tapi dia tidak berniat untuk memundurkan tubuhnya juga.
"Janji?" Rose luluh melihat wajah melas pria yang biasanya seram itu. Dia tidak tega. Pikirnya, pasti pria itu menginginkannya sekali.
"Sebentar!" sambungnya kembali memperingati setelah Ben menyepakatinya dengan sebuah senyuman.
Rose pun mengurangi tenaganya yang menahan dada pria itu. Sikutnya mulai menekuk tatkala Ben mulai mendekatkan wajahnya. Rose mulai memejamkan mata. Ia pikir akan menerima sentuhan lembut di bibirnya. Dia sudah siap. Bahkan dengan kemungkinan buruk jika pria itu tidak menepati janjinya, lalu melahap bibirnya dengan rakus kembali.
cup
Tapi ternyata, keningnya lah yang menjadi tempat Ben mendaratkan bibirnya. Pria itu menyalurkan cintanya dengan begitu dalam sampai matanya terpejam.
Rose yang semula terhenyak pun sempat membuka matanya lebar-lebar. Merasakan ada aliran hangat yang terus menjalar ke dalam sanubarinya, Rose pun ikut memejamkan matanya. Ia terima perasaan cinta yang kini tengah Ben berikan kepadanya, seraya merengkuh punggung lebar lelaki itu.
Hidung Relly kembang kempis di balik kemudi. Tak sengaja dia melihat adegan romantis itu. Sehingga saat ini ia merasa benar-benar akan menangis. Tak kuasa dia menahan derita ini. Sendirian pula!
"Sebentar lagi kita akan sampai, Tuan, Nona!" Relly memberi informasi saat dua insan itu sudah duduk seperti biasa kembali. Aura bahagia yang mereka pancarkan benar-benar membuat iri.
"Aku gugup!" kata Rose girang pada Ben sambil memegangi dadanya yang terasa berdebar hebat.
"Benarkah? Biarkan aku mengetahuinya juga!" Buyar sudah perasaan gugupnya tadi ketika Ben mengulurkan tangan berusaha menyentuh dadanya. Pria itu berekspresi serius sehingga membuat Rose panik.
"Ben!" Rose segera melotot seraya memukul niat lancang tangan lelaki itu.
Ben pun tergelak riang, sangat puas menggoda kekasihnya itu selama perjalanan.
Dan Relly lah yang paling menderita selama perjalanan. Tuan dan nonanya benar-benar berbahagia di atas penderitaan orang lain sekarang.