Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Maafkan Ibu!



Segenap tim Harimau Putih menyusul ke arah tempat kejadian, di mana mereka mendengar suara ledakan, yang amat keras itu.


TIdak perlu menunggu lebih lama, tak perlu berpikir ulang. Bukan juga mereka menjadi pesimis dan hilang harapan. Akan tetapi, dari cara Zayn putus asa dan frustasi, hal yang terjadi, seolah nampak jelas, di depan mata.


Tidak ada yang bersuara, tidak ada komunikasi. Dalam keadaan tegang seperti itu, semuanya nampak, memiliki naluri yang sama. Semuanya bergerak ke arah yang sama, hanya, dengan sekali memandang.


Brak~!


Brak~!


Brak~!


Dengan kompak, barisan mobil SUV hitam itu mengeluarkan bunyi keras, kala, setiap orang yang memasukinya menutup pintu, dengan keras.


Diburu-buru oleh rasa frustasi dan ketakutan, mereka akhirnya, pergi dari sana. Dalam kebisuan yang merebakkan kesuraman.


Pada masa ini, Anggie yang tadinya, hendak menceburkan diri ke laut, ingin mencari sosok, sengaja menenggelamkan diri, pun akhirnya, memutuskan untuk ikut.


Bagaimana pun juga, semua yang terlibat, merupakan orang-orang penting baginya. Relly pun mengingatkan, jika, tak ada harapan lagi, bagi Zayn, untuk mereka cari. Dengan menipiskan bibir, juga gelengan kepala yang lemah, Relly mengingatkan hal ini.


Setelah memejamkan  matanya dengan erat, setelah mengembuskan napas berat. Anggie mencoba menata perasaannya kembali. Walau, saat ini, masih hancur berkeping-keping di dalamnya.


Seperti bongkahan cermin, yang dilempari batu.


Benar! Ada orang yang mesti mereka prioritaskan, keselamatannya terlebih dahulu. Harus dipastikan keadaan mereka, saat ini.


Berselimut gundah gulana, Anggie akhirnya mengikuti bayang-bayang Relly dan Baz.


Jika, saat berangkat, Anggie yang duduk di depan, di sebelah Relly.Maka, saat ini, ia memilih untuk duduk di bangku belakang. Sambil merenungkan semua yang terjadi, sambil terus berharap dan berdoa, semoga saja, Tuan Ben dan Rose masih selamat.


Yang jelas, semua wajah yang tengah bergerak, sekarang, tidak satu pun di antara mereka, yang tidak tegang.


***


Sementara, di tepian jurang itu, Rose masih mencoba mempertahankan diri, dengan pegangan yang Ben berikan. Meski, tubuhnya pun mulai merasa kelelahan.


Akibat siksaan fisik, dan juga batinnya.


Ingat! Saat ini, Rose adalah seorang wanita hamil. Fisik dan psikisnya, tidak seperti wanita sehat pada umumnya.


Melihat kekasihnya, orang yang sangat dicintainya, ayah untuk calon anaknya, kelak, meregang nyawa, bagaimana tidak sakit seluruh jiwa raganya. Batinnya pasti sangat tersiksa.


Miris dan ironis. Jika, ia egois, mungkin, ia akan menyusul Ben, menjatuhkan diri ke dari tepian karang, lalu, hidup dan mati bersama.


Tapi… tapi naluri keibuannya sudah muncul, meskipun Rose masih hamil muda. Ia memiliki tindakan defensif yan kuat, untuk mempertahankan janin di dalam perutnya.


Baiklah, jika memang dia sudah bosan hidup di dunia ini! Atau, dia tidak dapat hidup, tanpa cintanya!


Namun, janin yang sedang berkembang di dalam perutnya mempunyai hak untuk tetap hidup. Bahkan ia belum merasakan, nikmatnya menghirup, udara yang begitu banyak, di dunia nyata ini.


“Aaakhhh… aaakhhh…,” tangis pilu Rose menggema pada tepian karang itu. Teriakannya yang menyakitkan, mengarah pada dasar jurang, yang merupakan sebuah lautan. Dan entah seberapa dalam.


Jika saja, di bawah mereka adalah bibir pantai, dengan luas pasir yang membentang, pasti, Rose masih dapat melihat raga Ben saat ini.


Apakah, pria itu selamat atau tidak. Apakah, kekasihnya itu, masih bernyawa atau tidak.


Dengan air laut dan ombak yang mengganas, Rose benar-benar tidak dapat melihat lagi, bentuk kekasihnya itu, saat ini.


Seolah Ben, menghilang di telan bumi. Namun… ada sisi dirinya, yang tidak dapat menerima kenyataan ini. Ia masih berharap, jika, kekasihnya itu masih selamat dan bernyawa.


Mungkin saja, Ben, saat ini, sedang berlindung di suatu tempat, di bawah sana. Dari deru ombak yang menampar karang, dengan begitu keras. Dari air laut yang nampak, mulai pasang kembali.


Rose, masih mengharapkan banyak hal. Masih berusaha berpikir positif, meskipun sebenarnya, itu adalah sebuah penyangkalan, yang alam bawah sadarnya lakukan.


“Ben!!!”


“Ben!!!”


Bahkan, Rose masih mencoba berteriak, memanggil namanya. Masih berharap ada sesosok yang menyahuti panggilannya itu.


Saat, sudah merasakan aman dan mantap dengan posisinya, Rose lantas menengadahkan kepala. Ikut menyandarkan kepalanya itu pada terjalnya batu karang.


Sambil meneruskan tangis. Melanjutkan rintih pilunya dengan suara keras. Ia ingin melawan suara keras, debur ombak, yang begitu kencang. Ia masih ingin, Ben mendengar suaranya, dari bawah sana.


“Ben!”


“Ben!”


Mulutnya, seolah tak mampu dan tak mempunyai pilihan, untuk menyebutkan kosa kata lain, selain, nama itu. Lidahnya kelu, untuk mengucapkan hal lain lagi.


Dada serta bahunya bergerak, mengikuti irama isak tangis, yang ia lepas, sejadi-jadinya. Sambil terus merapalkan nama Ben, seolah itu adalah mantra.


Mantra, untuk mengembalikan, sosok orang yang sangat dicintainya itu. Bertabur, lelehan air mata.


Benarkah, benarkah tidak ada yang akan datang? Sesuai dengan apa yang Ben katakan, tadi?


Lelehan air mata itu semakin banjir, saat memikirkan hal ini.


Rose baru menyadarinya, saat ini. Bersama pilu dan kesakitan yang luar biasa, di dalam hatinya, Rose menggeram.


“AAAKKHHH!” teriaknya marah.


Jadi, ini adalah rencana yang sudah Zayn siapkan, untuk mereka?! Inilah, alasan mengapa saat di villa tadi, tidak ada, terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka berdua.


Karena… karena di luar sana, sepanjang jalan ini, sudah mereka tutup aksesnya, dan hanya bisa dilalui oleh mereka berdua saja.


“Heehh… hh… hh…,” Dalam sembilu tangisannya, Rose tersenyum miris. Bibirnya bergetar, campur aduk kepedihan serta amarah yang baru saja datang.


Lantas, ia mengingat kembali. Jika, ada sesuatu yang sedang bertumbuh, berkembang, di dalam rahimnya. Rose memejamkan matanya, dengan keras lagi.


Di satu sisi, ia sangat marah, sedih, dan hancur. Tapi di sisi lain, ia ingat untuk tidak boleh memiliki emosi berlebihan, karena akan memerngaruhi perkembangan janinnya.


Padahal, Rose masih ingin menangis, Rose masih ingin berteriak. Meluapkan campuran perasaan, yang bisa saja membuatnya, menjadi orang gila, dan tidak waras.


“Ben… hiks… hiks…,” rintihnya seraya menahan tangis, agar tak lagi menggema. “Aku harus bagaimana, Ben?!” Kepalanya yang bersandar, bolak balik, berpaling dengan resah.


Sungguh pun, ia ingin sekali menceburkan dirinya, saat ini.


Keputus-asaan yang ia alami, sudah mencapai batasnya. Rose sudah hilang harapan, jika saja dirinya pun akan selamat.


“Bagaimana, jika, kami menyusulmu saja?” tanyanya sendiri seraya menatap ke bawah. Seolah berbicara pada Ben, yang sudah lebih dulu terjun ke air laut.


Kami! Dia dan calon anak mereka! Bagaimana, jika Rose dan janin di dalam perutnya, menyusul Ben, lalu mereka bisa hidup bersama, di surga.


Sepertinya, hal itu lebih baik. Dari pada harus, terus tersiksa seperti ini.


Ingatan, memori, kilasan, tentang bagaimana Ben meregang nyawa, terus terngiang di dalam benak. Dan hal itu, melongsorkan harapannya, sampai habis tak tersisa.


“Sayang!” Wanita itu, mencoba berbicara pada calon anaknya, dengan mengelus perutnya yang masih rata. Hal itu ia lakukan, sambil berusaha keras, menahan tangis. “Bagaimana jika, kita menyusl ayahmu?”


“Kau tidak akan menyalahkan ibu, kan, karena tidak memberimu kesempatan untuk menghirup udara, di dunia ini?” Saat mengucapkan tanya itu, Rose semakin menjadi tangisannya.


Lantas, ia tak sanggup, lalu memejamkan matanya, lagi.


Sungguh, pun! Ia jadi merasa sangat jahat, dengan berbicara seperti itu.


Rose kembali kebingungan, frustasinya pun semakin menjadi-jadi.


“Tolong, maafkan ibu, ya, Sayang! Ibu, hanya tidak tahu, apa yang harus ibu lakukan, saat ini!” Ia mengusap perutnya lagi, dengan kepala tertunduk, memandangi.


Dan tepat, saat itu juga, sebuah suara memanggil, dari atas.


“ROSE!!”


Dengan peluh dan air mata yang sudah bercampur, wanita itu mendongakkan kepalanya.


Bersambung…