
Cerah mentari, telah menggantikan hari kemarin yang dipenuhi dengan badai. Pagi hari sudah menyambut pasangan ayah dan anak yang masih terlelap dan tak melepas tautan tangan mereka.
Berly masih belum bisa leluasa memeluk ayahnya, sebab bisa saja terkena luka tembak Ben yang masih basah. Maka, ia hanya berkesempatan untuk memeluk lengan kekar berotot ayahnya saja.
Semalam, Rose pun sekalian memesan tempat tidur tambahan untuk ditempatkan di sisi ranjang Ben. Jika hanya ada dirinya, tak apa walau ia harus tidur di sofa sambil menunggui kekasihnya yang sedang terluka.
Akan tetapi, ada sosok mungil yang tidak mau lepas dan begitu posesif terhadap sang ayah. Berly tetap ingin berada di sisi Ben, walau apapun yang terjadi.
Mempertimbangkan luka yang diderita lelaki itu, maka Rose meminta pihak rumah sakit untuk menyediakan tempat tidur tambahan. Supaya, putrinya tetap bisa merasakan kehadiran ayahnya, meski ia sedang tertidur.
Yah, walau sebenarnya, diri Rose sendiri juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan sang putri.
Mereka baru saja bertemu, jadi rasanya enggan sekali jika mereka harus dipisahkan kembali. Walau hanya untuk sekadar terlelap dan masuk ke alam mimpi.
Pagi-pagi sekali Rose sudah bangun, adalah rutinitas pagi yang sudah biasa ia jalani setelah menjadi seorang ibu.
Setelah mencuci muka dan menyegarkan diri di kamar mandi, Rose perlu keluar sebentar untuk membeli sarapan bagi dirinya dan juga Berly.
Lalu kebetulan, saat dirinya baru saja kembali ke kamar, seorang dokter dan perawat datang untuk melakukan pemeriksaan pagi.
“Apa perlu saya bangunkan?” tanya Rose pada dokter yang baru saja masuk. Merujuk pada Ben yang masih terlelap dan begitu pulas.
Wanita itu pun meletakkan bungkusan roti dan makanan lainnya di atas meja yang terletak di sudut kamar.
“Tidak perlu! Saya hanya akan mengecek denyut nadinya saja.” Si dokter menjawab dengan sopan. “Karena posisi tidurnya masih tengkurap, saya bisa mengecek bekas luka tembaknya, tanpa perlu membangunkan suami Nyonya.”
Benar! Karena memang pihak rumah sakit, sengaja membalutkan tubuh Ben pakaian pasien yang bagian belakangnya terbuka dan bisa dirapatkan dengan diikat. Ini semacam pakaian steril. Bukan seperti seragam pasien pada umumnya yang seperti setelan piyama.
Suami? Mendadak, Rose jadi tersipu sendiri mendengarnya. Pipi wanita berkulit putih itu pun bersemu merah. Bibirnya pun mengulum, agar tak tersenyum berlebihan.
Perawat yang datang bersamanya bertugas mengganti cairan infus yang sudah hampir habis. Sementara sang dokter, mengerjakan yang sudah ia sebutkan tadi.
Naluri Ben tetap kuat meskipun kondisinya sedang tidak prima, seperti sekarang ini. Pria itu pun terbangun karena ada tangan seseorang yang menyentuhnya.
“Hm!” Tanpa sadar, Ben mengerang sambil menampik tangan sang dokter, yang hendak mengecek denyut nadi di pergelangan tangan.
“Ah…, maaf, Dok!” Tak lama, penglihatannya pun menjadi jelas dan tahu siapa yang barusan memegang tangannya.
Ben yang sudah benar-benar bangun pun memberikan tangannya lagi untuk diperiksa. Namun, ketika dia sedikit saja menggerakkan badan, pria itu pun mengerang sambil mengernyitkan alis. “Hermhh!” Dirasakannya seluruh tubuh yang terasa kaku. Akibat terlalu lama merebah dalam posisi yang sama.
Melihat ekspresi tidak baik di wajah kekasihnya, Rose pun segera berjalan mendekat. Lalu, berdiri di sisi ranjang yang lain, di sebelah dokter yang hendak memeriksa.
Laki-laki itu menarik tangannya kembali. “Dokter, karena terlalu lama dalam posisi seperti ini, tubuh saya jadi terasa pegal dan kaku sekali. Bisakah Dokter membantu saya bangun, supaya saya bisa duduk?”
“Oh, tentu saja boleh! Tapi, apa Tuan sudah kuat untuk duduk?”
“Tenang saja, Dok! Saya bukan manusia lemah!” Ben menyahut pelan.
Puk~!
Rose pun memukul pelan kaki Ben, seraya menggerutu. “Tidak sopan! Padahal, kau hanya perlu bilang sudah kuat, kan?!”
Dokter dan perawat yang datang pun tertawa ringan. Bersama dengan Rose, ketiganya membantu Ben mengubah posisinya di atas ranjang.
Akan tetapi, sebelum itu, Rose perlu melepaskan tangan Ben dengan hati-hati, dari pegangan bocah perempuan yang masih tidur meringkuk di sebelahnya.
Ya! Supaya Berly tetap terjaga dalam lelapnya. Sebab, kemarin adalah hari yang cukup panjang untuk dilalui, untuk anak kecil itu.
Dengan perlahan dan hati-hati, akhirnya Ben bisa menduduk di atas brangkar rumah sakit itu dengan posisi kaki menyelonjor ke depan.
Namun, pria itu tidak bisa banyak bergerak. Hanya dapat duduk tegak dan kaku seperti robot. Karena, sedikit saja ia menggerakkan badan, luka di punggungnya mulai berdenyut lagi.
Paling tidak! Lehernya tidak perlu kram lagi, seperti semalam sampai pagi ini.
Setelah melakukan beberapa prosuder pemeriksaan standar, dokter dan perawat tersebut pun undur diri. Lalu mengatakan, bahwa nanti sore, keadaan Ben akan diobservasi lagi.
Sarapan pagi untuk pasien pun datang. Karena Ben tidak banyak bergerak, maka Rose berinisiatif untuk menyuapinya.
“Jangan memandangku terus! Aku malu!” ujar Rose yang duduk menyamping di pinggir ranjang.
Diaduk-aduk Rose makanan di atas nampan sambil mengulum senyum dengan pipi yang memerah.
“Lalu kau, jangan menyiksaku terus!” balas pria itu sambil mengunyah makanannya.
“Hah?” Mulut wanita itu pun menganga. “Kapan aku menyiksamu, Ben? Sementara kita saja baru bertemu!” Rose menanggapinya dengan serius.
“Dengan duduk menghadapku begini saja, kau sudah menyiksaku.” Ben langsung meneruskan, sebelum Rose berhasil memotong ucapannya. “Gara-gara wajah cantikmu dan luka di punggungku…, aku jadi tersiksa karena tidak bisa menciummu!”
Tak~!
Sendok penuh makanan yang sudah melayang di udara pun jatuh lagi ke nampan. Rose menghela napas seraya tersenyum tak berdaya.
“Ya, ampun, Ben! Bisa-bisanya…, di saat seperti ini….” Wanita itu memalingkan wajah ke samping dengan satu sudut bibir yang terangkat naik. Tidak habis pikir.
Akan tetapi, sedetik kemudian, Rose segera mencondongkan badan ke depan. Menghampiri wajah tegas dan tampan Ben yang sudah tak terlihat pucat.
Kemudian, ditanamkanlah bibir lembutnya pada bibir lelaki yang akhirnya kembali padanya, setelah sekian lama.
Rose mengecup bibir itu, agak lama. Dan hanya berupa kecupan samar, untuk melepas rindu di dalam hati. Tidak ia ikutsertakan gairah yang menggebu, begitu melihat kekasihnya ada di hadapan.
Ia pun menarik diri. Duduk dengan tegak lagi, seraya menjejalkan satu sendok makanan penuh ke mulut Ben yang sontak saja menganga.
Pria itu terkejut dengan serangan Rose yang begitu tiba-tiba. Lagi pula, ini sudah lama sekali, semenjak ia berpisah dengan kekasihnya itu. Rasanya, sudah sangat lama sekali, Ben tidak merasakan manis, kenyal dan candu bibir sang kekasih hati.
“Egh!” Sambil mengunyah, lelaki itu melenguh dengan wajah kesakitan.
“Kenapa? Ada apa?” Rose pun auto panik.
“Jantungku!” rintih Ben lagi seraya melengkungkan sedikit punggungnya.
Begitu Rose mendekat, Ben segera meraih tangan Rose lalu ia tempatkan di dadanya di sebelah kiri. Meski bingung, Rose tetap mengikuti saja apa yang lelaki itu mau. Sambil mencoba mengetahui apa yang mendadak terjadi padanya.
Wajah khawatir Rose kini berada begitu dekat. Sambil bergumam dan bertanya mengenai keluhan Ben saat ini. “Ada apa, Ben? Jantungmu kenapa? Ku panggilkan dokter saja, ya?”
Cup~!
Begitu pertanyaan ketiga terlontar, segera ditarik Ben tangan yang Rose yang lain. Sehingga, tubuh wanita itu pun condong ke depan. Dan sekarang, adalah giliran Ben yang memberikan kecupannya. Sedikit lebih lama.
Setelah cukup, barulah ia melepaskan kedua tangan Rose. Sambil mengumpulkan kesadaran, wanita itu pun menduduk kembali. Dengan tatapan kosong, ia ambil lagi nampan makanan untuk Ben yang tadi ial letakkan di ujung ranjang.
“Yang kau berikan tadi, terlalu sebentar. Dan hanya membuat jantungku jadi berdebar. Kau jahat sekali…, padahal kita sudah lama tidak bertemu. Paling tidak, biarkan aku merasakan bibirmu, sedikit lebih lama!”
Pria itu berseru dengan wajah acuh tak acuh khas seorang Benny Callary. Berucap bagai korban, padahal dia adalah tersangkanya di sini.
“Ha?” Rose yang masih setengah sadar pun hanya bisa membuka mulut.
“Kalau aku sudah sembuh nanti…, ku pastikan akan memakanmu hidup-hidup, seperti dulu!” imbuh Ben seraya menggerakkan kedua alis. Ia menyeringai samar.
Bukan Rose yang segera menanggapi ucapan frontal Ben itu. Namun, suara kecil yang masih terdengar serak dan parau, terdengar dari sisi mereka.
“Papa mau memakan Mama? Memangnya, Mama bisa dimakan?” tanya Berly yang baru saja bangun.
Anak perempuan itu, entah sejak kapan bangunnya. Bahkan sekarang sudah menduduk dengan melipat kaki ke belakang, sambil mengucek mata yang pandangannya masih buram.
Karena, tidak ia rasakan tangan sang ayah yang tak lepas ia peluk sejak semalam. Anak kecil itu pun bangun dari lelapnya, untuk menjadi eksistensi hal selalu didekapnya itu.
Pertanyaan polos Berly pun membuat Rose segera tersadar, dan tergelak bersama dengan Ben.
“Kau sudah bangun, Sayang?” sapa Ben pada bidadari kecilnya itu. Sambil berusaha meredakan tawa.
“Turunlah! Cuci muka lalu kembali lagi ke sini!” Sang ibu pun memberi perintah dengan lembut.
Anak kecil yang masih setengah sadar itu langsung mengangguk, meski ritual mengucek matanya masih belum selesai.
Berly segera turun dari tempat tidur di samping brangkar yang Ben tempati. Lantas masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi, anak gadis itu ambil dan meminum segelas air putih yang terdapat di atas nakas. Yang memang sudah digunakannya sejak semalam.
Naik lagi ke atas ranjang, lalu duduk dengan rapi di tempat semula. Tidak! Lebih tepatnya, posisinya saat ini jadi lebih menempel pada sang ayah.
Sambil menerima suapan dari kekasihnya, Ben memperhatikan setiap gerakan Berly dengan senyum yang tak bisa ia lepaskan.
“Kau mendidiknya dengan baik!” komentarnya kemudian seraya mengalihkan pandangan pada Rose.
Dengan begitu bangga dan haru, ditatapnya wajah sang kekasih. Lalu wajah sang putri, yang kini sedang menatap dengan wajah lugu dan lucu.
Ternyata, Rose telah berhasil membuat Berly kecil menjadi anak yang begitu mandiri dan pintar. Walaupun, wanita itu telah berjuang sendiri untuk merawatnya sejak mengandung dan hingga saat ini.
“Maaf, aku tidak ada di saat-saat kau sangat membutuhkanku!” Ia pun menundukkan kepala. Melarikan tatapan sendunya ke samping.
”Ben!” Disentuh Rose tangan sang kekasih. “Harusnya, aku yang sangat berterima kasih padamu, karena telah berkorban untuk menyelamatkan kami.” Lalu tersenyum dengan lembut.
Ia pun mengambil tangan Berly untuk digenggamnya dengan tangan yang lain. Sehingga, mereka seperti membuat lingkaran dengan saling berpegangan tangan.
“Jika bukan karena perjuanganmu yang keras, bidadari manis ini, tidak akan hadir ke dunia.” Sambil menggenggam tangan Berly, Rose juga membelai pipi sang putri.
“Jika kau tidak bersikeras untuk menyelematkan aku, kita semua, tidak akan berkumpul di sini,” imbuhnya seraya menatap Ben dan Berly lagi dengan senyum dan tatapan sendu. Mata wanita berambut pirang itu juga mulai menggenang air mata.
“Apa yang kita lalui selama ini adalah takdir, Ben! Namun takdir selalu memberi kesempatan di waktu yang tepat. Takdir juga tidak akan sekejam itu, untuk membuat kita terus menderita. Dan oleh karena takdir juga, kita jadi berkumpul dengan orang-orang yang begitu kita cinta.”
“Terima kasih, Rose! Sepertinya…, akan ada ribuan dan bahkan jutaan terima kasih yang akan kau dengar setelah ini!”
Sendu, haru, dan penuh suka cita memenuhi atmosfer kamar rawat itu. Mencairkan kristal bening yang selalu tertumpuk di pelupuk mata.
Rose dan Ben yang saling mencinta, akhirnya dipertemukan lagi oleh takdir. Yang sebelumnya, mereka rasa begitu kejam dan menyiksa hidup mereka.
Ditambah, ada seorang bidadari kecil nan cantik yang kini melengkapi hidup mereka yang telah lebih berwarna.
“Mama, Papa bicara terus! Aku lapar!” Si kecil pun mendadak protes dengan wajah lugu.
Suasana haru di sana pun jadi pecah dengan gelak tawa dari mulut kedua orang tua. Sambil menyeka air mata yang hendak tumpah, dari pelupuk mata keduanya.
“Ok! Kebetulan, Mama sudah membeli roti!” Rose kemudian berjalan menuju meja di sudut kamar, lalu mengambil bungkusan yang tadi dibawanya dari luar.
Ia serahkan satu roti dengan isian cokelat kepada si anak perempuan. Lalu kembali menyuapi sang kekasih hati.
Berly menyantap roti dari Rose, sambil memandangi dua manusia dewasa di hadapan. Sejujurnya, hatinya begitu gembira, karena ternyata, ia sudah mempunyai orang tua yang lengkap, sekarang.
Akan tetapi, anak kecil itu lebih memilih untuk menyantap roti di tangan. Demi mencegah euphoria yang sedang ia rasa saat ini. Di dalam dada dan begitu berlebihan saking senangnya.
Sebab, ia tidak ingin merepotkan ayahnya yang sedang terluka. Sementara, gejolaknya ingin memeluk sang ayah dengan sangat erat.
Oh, sungguh! Jika kedua orang tuanya mengetahui hal ini, akan seberapa bangga lagi Ben dan Rose pada anak mereka. Betapa pintar dan pengertiannya, seorang Berly.
“Kau sudah sarapan?” tanya Ben perhatian.
“Belum! Tapi aku akan sarapan setelah ini!” jawab Rose dengan tersenyum.
Clek~!
Tiba-tiba, pintu kamar rawat tersebut dibuka dari arah luar.
Salah satu orang-orang yang menyelamatkan Ben dan menjaga mereka hingga sekarang, masuk ke dalam lalu bicara. “Maaf mengganggu! Tapi…, ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian!”
“Siapa?” tanya Rose langsung.
Bersambung…