
Rose menerima uluran tangan Anggie. Dan menerima saja
tubuhnya terbawa. Seperti terbang melayang dengan sangat ringan seperti sehelai
bulu angsa. Lalu tiga orang sudah bergabung di atas panggung.
“Silahkan, Nona!” Dihela Relly tangannya ke arah depan.
Mempersilahkan Rose untuk maju.
“Hish… dia ini lama sekali!” gerutu wanita seksi itu di
samping Relly.
Rose tetap diam saja. Mematung, memaku diri dan wajahnya,
untuk tetap bergeming tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Anggie pun tidak sabar. Dia mendorong paksa tubuh Rose,
sampai wanita berambut pirang itu maju dan pipinya yang berpaling menyentuh
ujung microphone.
“Ekh….” Suara terkejutnya menggema di seisi aula itu.
Lantaran microphone yang sudah menyala.
Bukan hanya semua orang, tapi Rose sendiri juga terkejut
dengan suaranya sendiri. Tidak menyangka akan sekeras dan sebesar itu suara
yang dihasilkan.
Sebenarnya, Rose sedang bingung dengan dirinya sendiri.
Semalam dia bisa begitu percaya diri dan melangkah lebar tanpa pikir panjang.
Tapi sekarang… keraguan seakan sedang menginjak nyalinya.
Wanita itu meragu dengan apa yang akan dia lakukan saat ini.
Rose pun tidak tahu harus memulai dari mana, harus memulai dengan apa dia
berucap di depan sini.
“Ayo, semangat Rose! Kau pasti bisa!” Anggie menyemangati
sambil setengah berbisik padanya.
“Iya, Nona! Tenang saja! Ada kami di belakang Nona!” Relly
pun bermaksud menyemangati.
“Jadi maksudmu, apa pun yang terjadi kau akan berada di
belakangku? Hem?” Bergemerutuk giginya, ketika membalas bisikan Relly. Rose
setengah kesal.
Begitu pun dengan Anggie yang mendengarnya. Dia juga kesal.
Pria itu bodoh atau tidak pintar merangkai kata-kata, sih?! Bagaimana pun juga,
apa pun yang terjadi, harusnya mereka yang melindungi Rose. Begitu baru benar!
Sepertinya pria itu suka sekali dipukul, ya! Meskipun
maksudnya adalah benar. Tapi kata-katanya barusan tidak dapat diartikan benar!
“Tidak, Nona! Tentu saja tidak begitu! Maksudnya, kami akan
selalu mendukung Nona!” ralat Relly sambil meringis lebar, bagai kambing yang
hendak dipotong lehernya.
Rose memutar bola matanya jengah. Sebab tidak akan ada
habisnya, jika sudah berurusan dengan Relly, si bodoh itu.
“Apa?” Langsung berubah drastis wajah pias Relly saat bertemu
pandang dengan Anggie. Pria itu segera memasang wajah galak sambil
memelototinya.
Lalu… dia pikir Anggie akan takut, begitu? Sungguh memang
bodoh Relly itu. Tak perlu banyak bicara untuk berurusan dengan pria yang satu
ini. Kakinya, yang mengenakan angkle boots berwarna hitam, bagian runcingnya
langsung ia tancapkan pada kaki Relly.
“Aauuww!” Sampai tak bersuara laki-laki itu menahan sakit
pada kakinya. Sampai memerah dan berubah menjadi biru wajah Relly menahan nyeri
luar biasa itu. Hingga dia kira, salah satu jari kakinya ada yang patah, saking
sakit ia rasa di sana.
“Rasakan!” Tersenyum puas wanita seksi itu di tengah
bibirnya yang merapat gemas. Diangkat Anggie kakinya dari kaki Relly kemudian.
Pipinya yang menggembung itu yang paling kentara pucat, saat
menahan nyeri yang terus bergeliat di kakinya. Relly sampai berjingkat-jingkat
dengan satu kaki. Sambil merasai sakit luar biasa pada kakinya yang lain.
‘Heh! Tuan Relly mulai lagi!’
Pandangan mata jengah juga datang dari sebagian orang di
bawah sana. Selalu saja, di saat seperti apa pun, selalu ada hal konyol yang
asisten bos mereka lakukan.
Tapi mereka juga menyadari, jika berkat hal itu, suasana di
dalam sini sedikit mencair. Tidak setegang tadi. Juga… tidak terlalu sesak lagi
bagi Rose untuk bernapas.
‘Oke, sudah cukup!’ Sudah cukup bagi Rose untuk menenangkan
diri sejenak sambil mengambil napas teratur. Sekarang adalah waktunya.
“Ekhm… ekhm….”
Wanita itu meraih badan microphone sebagai pegangan.
Menempatkan kedua bibirnya menghadap ke ujung bulatnya, lalu mengeluarkan
sedikit suara. Sambil melancarkan tenggorokannya yang kesat dan tidak licin.
Kata-katanya nanti tidak akan lancar keluar dari sana, jika begitu.
Masih meringis, sambil menahan sakit, Relly menurunkan
kakinya. Dia berhenti berjingkat, lalu berdiri tegap di sisi Anggie. Meski
dengan susah payah. Karena sakitnya itu benar-benar tak main-main.
Baik Anggie mau pun Relly, dapat merasakan jantung mereka
berdebar saat menunggu.
Dipejamkan Rose matanya erat sambil menarik napas panjang.
Kemudian ia keluarkan melalui embusan pelan bibirnya yang terbuka. Huh!
Suara napasnya mulai tenang. Wanita itu memang sedang
berusaha menenangkan dirinya yang gugup luar biasa saat ini.
Dua orang di belakangnya juga melakukan hal yang sama.
Seperti gugupnya Rose, Relly dan Anggie juga merasakannya.
“Hai… ekhm… “ Rose berdehem lagi karena ia lupa untuk
Mata semua orang menatapnya. Menunggu dan menanti dengan
sabar, namun tanpa ekspresi apa pun di wajah mereka. Rose jadi tidak bisa menebak gerangan apakah yang tengah mereka
pikirkan saat ini.
“Apakah kalian semua baik-baik saja? Ahh… tentu saja tidak,
ya!” Digaruk Rose kepala belakangnya sambil tersenyum canggung. Masih bimbang
wanita itu untuk memulai kata-katanya.
“Untuk kejadian malam ini… ekhm… “ Sekali lagi, untuk yang
terakhir kalinya, Rose pejamkan matanya kuat-kuat untuk mengusir gugup yang
masih menyerang.
“Untuk kejadian malam ini, aku ingin meminta maaf kepada
kalian semua!” lanjutnya kemudian menunduk serta membungkukkan tubuhnya.
Diucapkan kalimat itu dengan cepat, namun masih cukup jelas sampai di telinga
semua orang.
“Nona-“ Anggie langsung menahan Relly dengan tangannya. Pria
itu hendak protes karena tidak sepatutnya nonanya yang meminta maaf. Sebab,
yang terjadi tadi malam, bukan salahnya sama sekali.
Sebenarnya Anggie pun hendak protes. Tapi ia yakin, jika
Rose belum benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Anggie yakin, Rose tidak akan
bodoh dengan merendahkan dirinya seperti ini. Pasti ada kelanjutan yang menarik
setelah ini.
Dilirik Relly sebentar wajah Anggie yang serius. Wanita
seksi itu menatap lurus ke depan pada nona mereka. Pria itu mengerutkan alis
kala melihat tatapan Anggie yang terlihat misterius.
Baiklah! Sebaiknya dia mengikuti jejak Anggie. Diam dan
menunggu. Lalu, dibawa langkahnya mundur kembali.
Semua orang yang hadir di sana, yang terluka berat maupun
ringan, juga yang dalam keadaan baik-baik saja, sempat tertegun oleh pernyataan
Rose barusan. Nada bicaranya terdengar tulus dan sampai menyentuh ke sanubari
mereka.
Semuanya jadi terhenyak dan kehabisan kata-kata. Hening
dalam kata-kata Rose yang menusuk hati.
Rose mengangkat kepalanya dan berdiri dengan tegap lagi.
Dengan perubahan drastis di wajah cantiknya. Gugup dan kebingungan yang tadi
menguasai dirinya kini sudah sirna.
Wajah cantik Rose nampak lebih bersinar dan berbinar dari
sebelumnya. Tatapannya menjadi berkilau dengan keyakinan. Garis rahangnya juga
menjadi jelas dengan ketegasan yang dia bawa serta di matanya.
Rose yang saat ini nampak berkilau bak berlian. Seperti
sosoknya yang tadi malam. Kecantikan wanita itu menjadi terpampang nyata.
Sehingga mampu membuat mata semua orang menjadi silau ketika menatapnya.
“Turunkan mata kalian, hey!” teriak Relly emosi dari
belakang. Telunjuknya bahkan mengacung lurus, menghunuskan kemarahan kepada
para anak buahnya.
“Relly!” protes Amber. Tapi sepertinya dia tidak dapat
mencegah pria itu. Karena Relly sudah terlanjur maju dengan emosinya.
“Kalian pikir, kenapa Tuan Ben sampai marah sekali terhadap
kalian?! Salah satu alasannya adalah ini! Mata kurang ajar kalian yang berani
lama menatap Nona Rose!” Pria itu mengembuskan napasnya cepat-cepat yang
diliputi oleh emosi.
Relly berbicara dengan nada tinggi. Bahkan tanpa mic pun
suaranya sudah terdengar kencang sekali. Rose sempat terkejut sebentar, tapi
dengan cepat menguasai diri.
Agaknya dia harus berterima kasih atas penghargaan tinggi
Relly kepadanya. Namun sungguh, ia benar-benar tidak apa-apa sama sekali dengan
hal ini.
“Bukannya aku sudah memperingatkan kalian tentang hal ini?! Jangan
memandang Nona Rose lebih dari tiga detik. Atau jika perlu, jangan memandang
wajahnya sama sekali!” teriaknya lagi masih emosi.
Mendengkus seraya tersenyum kecil wanita itu. Tapi Rose
merasa ini agak berlebihan. Ia merasa tidak perlu diperlakukan sampai seperti
ini. Apalagi Ben sedang tidak ada bersamanya. Ia ingin diperlakukan seperti
biasanya saja oleh semua orang.
“Sudahlah Relly! Lagi pula tidak ada Ben di sini. Tidak
apa-apa!” Disentuhnya tangan pria itu untuk memperingati. Sambil tersenyum
tipis, untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak masalah dengan hal ini.
“Tapi, Nona-“
“Sekarang aku sedang berbicara dengan mereka semua, jika
mereka tidak memandangku, lalu mereka memandang siapa?!” Rose langsung
memotongnya setelah menggeleng pelan.
“Sudahlah, tidak apa-apa!” tambahnya seraya menggeleng lagi.
Diberikan Rose sedikit tekanan pada lengan Relly yang ia pegang. Dengan maksud
untuk menekankan hal ini.
Mau tidak mau Relly mundur. Lidahnya juga mendadak kelu
tidak dapat membantah nonanya lagi. Tatapan tegas Rose telah mampu membuatnya
patuh dan menurut. Namun giginya masih bergemerutuk dengan ketidak-ikhlasannya
untuk berhenti memperingati mereka semua.
Bersambung…
Hali semuanya... ketemu lagi sama ceritanya babang dan neng rose ya
mulai tanaggal 1 ini aku bakal update rutin lagi ya saayyy
selamat membaca,,, semoga sukak