
Keesokan harinya,
Sepasang kekasih nampak tengah melakukan kegiatan sarapannya di ruangan pribadi milik Ben. Sekarang, ini adalah rutinitas baru selama beberapa waktu belakangan.
Keduanya akan beristirahat di kamar Rose. Sedang aktivitas lainnya, seperti makan atau berdiskusi dengan yang lain, akan mereka lakukan di ruangan si pria.
Tidak mungkin juga, kan, mereka ramai-ramai membawa beberapa orang, seperti Relly atau siapa pun lagi, untuk berdiskusi di dalam kamar Rose.
Saat ini, bagi Ben, kamar Rose, sudah merupakan ruangan pribadi baginya juga. Lebih pribadi malah, sampai tidak sembarang orang bisa menginjakkan kaki di sana.
Tok~! Tok~!
“Tuan, ini kami!”
Setelah suara ketukan pintu terdengar, menyusul suara Relly yang nyaring. Nampaknya, ada beberapa manusia datang bersama dengannya.
“Biar aku bukakan!” Rose mengambil inisiatif, sebab remote untuk membuka pintu ruangan, masih tergeletak di atas meja kerja kekasihnya.
Sama saja, antara dia melangkah menuju meja kerja atau menuju pintu. Sama-sama berjalan, pikirnya. Sedangkan saat ini, mereka sedang menghabiskan sarapan, sambil duduk di sofa.
Ben hanya menolehnya sebentar, kemudian mengangguk ringan. Membiarkan, sementara ia melanjutkan makan.
Clek~!
Pintu dibuka Rose. Dan muncullah sosok tiga orang di hadapannya. Relly, bersama Anggie, juga… ada Baz di belakang keduanya.
Jangan lupakan kehadiran Baz di markas Harimau Putih!
Pria itu masih ada di sana. Dan sedang merana selama beberapa waktu ini.
Baz adalah pria dewasa. Dia tidak buta, tidak juga bodoh dan polos. Pria itu tahu, jika semenjak malam itu, hubungan keduanya semakin intim. Juga, makin sering dua sejoli itu menghabiskan malam-malam indah bersama.
Heh! Meski hatinya sakit. Tapi dia tidak berhak sakit hati, kan?
Maka, Baz kebanyakan memilih untuk menyibukkan diri dengan membantu dan menjalankan, beberapa tugas anggota mafia itu, ke luar.
Bukannya bodoh, karena tetap membiarkan dirinya terus-menerus digerus sakit hati. Tapi, Baz hanya merasa betah saja, berada di sana. Di markas mafia itu. Rasanya, seperti memiliki keluarga baru.
Terlebih, dia dapat melihat wanita yang disukainya dari dekat. Yah… meski yang ia lihat, jika wanita itu makin hari, makin mesra dengan kekasihnya.
Jadi, Baz mengambil tindakan dengan berkamuflase dengan sikap acuhnya. Agar Ben juga, tidak selalu menganggapnya, seperti seorang musuh.
Seperti saat ini, di belakang Relly dan Anggie, Baz malah memandang ke samping, dengan acuh tak acuh.
Dan kebetulan sekali, Rose memang tidak terlalu memedulikannya. Yah, wajar saja! Rose, kan, memang tidak ada perasaan kepadanya! Heh!
“Kalian-“
“Rose! Kau akan bertemu dengan Zayn?” Pertanyaan Anggie langsung memotong kata-kata yang mau keluar dari mulutnya.
Wanita seksi itu nampak begitu antusias, setelah mendengar kabar ini dari Relly. Sebab, sampai saat ini, belum ada satu pun yang mengatakan kebenaran mengenai Zayn kepadanya.
“I- iya!” jawabnya terbata. Melirik ke arah Relly dan Baz secara bergantian, sebab ia bingung harus menanggapi bagaimana. Tangannya pun menghela, mempersilakan ketiganya masuk ke dalam. “Ayo, masuk dulu! Kalian sudah sarapan?”
“Aku sudah!” jawab Baz singkat. Anggie mengangguk, karena memiliki jawaban yang sama.
“Aku juga sudah! Tapi, jika Nona punya makanan lebih, berikan saja padaku! Perutku masih cukup untuk menampung…” seraya menepuk-nepuk perutnya, Relly tersenyum tidak tahu diri. Mengkode jika perutnya belum cukup penuh.
Plak~!
“Kau mau…, ku isi perutmu… dengan peluru?” Baz lantas menepuk bahu pria itu, lalu memegang dan meremasnya kuat. Sambil membisikkan ancamannya dengan mesra.
“Hehe… tidak, tidak! Hem… “ Relly langsung melambaikan tangannya, dengan cepat. Sambil berusaha meloloskan diri, dari cengkeraman Baz. “…mendadak perutku terasa kenyang”. Tersenyum lebar dan kaku kemudian.
Ssthss.... Meringis Relly sambil berjalan menghindari Baz, agar tidak diterkam lagi. Ia lantas berpindah posisi, di samping Anggie.
Napas yang semula ingin ia embuskan, jadi tertahan di dada. Mendadak Rose merasakan sesak dan kesulitan bernapas, setelah diterjang pertanyaan itu.
Rasanya, ia belum siap untuk menjelaskan semua hal secara terperinci, kepada Anggie. Rose belum siap melihat sinar kekecewaan di mata temannya itu.
Lantas, ia menoleh pada Relly dan Baz bergantian. Kemudian… pandangannya pun bersirobok dengan kekasihnya. Rose lalu mengerlingkan mata, meminta pendapat pada Ben, tentang apa yang harus ia katakan.
Sebab, jujur saja, ia tidak tega untuk mengatakan segalanya. Bahwa salah satu di antara mereka, memang benar-benar… adalah seorang pengkhianat.
Ben mengedikkan dagunya sambil melirik ke bawah. Mengisyaratkan Rose agar duduk, sembari meneruskan sarapannya dulu. Biar nanti, itu akan menjadi urusannya.
Heehh! Begitu dalam napas yang Rose tarik, sehingga ia perlu melepaskannya dengan berat dan panjang. Ia pun mendudukkan diri di samping kekasihnya.
Sedangkan Baz, memilih untuk duduk di sofa tunggal. Dan… wanita yang sekarang berwajah lesu itu, digandeng dan diajak duduk oleh Relly, di sofa panjang di seberang Ben dan Rose.
Beberapa pasang mata memerhatikan tautan tangan itu, sementara mereka berkomentar dalam hati.
Anggie pasrah? Ia tidak marah? Apakah ini suatu mukjizat atau hikmah, setelah kepergian Zayn dari markas?
Mereka juga bertanya-tanya. Sebab, biasanya, Anggie akan marah jika Relly berani menyentuh, walau seujung kukunya saja.
Bahkan Relly menekan kedua bahu Anggie, agar wanita itu lekas menduduk. Dan tak hanya diam akibat kesedihan yang kembali datang.
Hening tercipta, sementara yang terdengar hanya suara gesekan alat makan Ben dan Rose, yang masih meneruskan sarapannya.
Walau, sebenarnya, Rose sudah merasa tidak berselera semenjak Anggie mengutarakan pertanyaannya, tadi.
Belum habis benar makanannya di piring, tapi Rose sudah tidak memiliki minat lagi. Lantas ia tenggak segelas air putih, untuk membantu mencerna makanannya di dalam perut.
Ben juga melakukan hal yang sama, hanya saja, makanannya sudah habis tak bersisa. Rose tidak menyangka! Padahal lelaki itu makan dengan tenang.
Saat dirasa suasananya sudah cocok dan kondusif, maka, Baz mengajukan pertanyaannya. “Apakah kalian yakin, akan tetap menemuinya?”
Semua orang lantas menoleh ke arahnya. Tidak terkecuali. Termasuk dengan Anggie, yang sekarang menukkan alisnya dalam. Apa maksud pertanyaan itu?
“Tidakkah, kalian curiga, jika ini adalah sebuah jebakan?”
Anggie sampai menahan napasnya, mendengar pertanyaan yang selanjutnya. Apa-apaan ini?
“Bisakah… bisakah paling tidak, kalian jelaskan dulu… masalahnya kepadaku? Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, saat ini.” Ia menggeleng, bersama ketidakberdayaan dan rasa tidak percaya.
Bagaimana bisa, hanya dirinya saja yang tidak tahu apa-apa?! Sementara yang lain, nampak tidak terkejut sama sekali dengan pertanyaan yang Tuan Baz ajukan. Termasuk dengan Relly sekali pun.
Hah! Ben membuang napas lelahnya ke samping. Menatap Rose, sepertinya, kekasihnya itu menyerahkan semuanya, kepadanya.
“Kau masih ingat, tentang satu penyusup yang belum tertangkap… sampai saat ini?” Dicondongkan tubuh Ben seraya menutkan jari jemarinya, lalu bertumpu tangannya di atas paha. Wajah Ben, terlihat benar-benar serius sekarang.
Dan… pertanyaan itu, membuat perasaan Anggie jadi tidak enak. Namun ia tetap menganggukkan kepala. Tentu saja dia masih ingat!
Ia pun masih geram, karena merasa gagal dengan misi itu. Walau, sampai saat ini, ia pun masih menyimpan tanya, kenapa pemimpin mereka, mendiamkannya.
“Orang itu… “
Deg~! Deg~! Deg~! Deg~!
Mengapa sekarang ia bahkan berdebar?! Anggie merasa semakin buruk firasatnya saat ini.
“Orang itu adalah Zayn!” lanjut Ben tanpa jeda. Dengan intonasi sejelas mungkin.
“Apa?” pekik wanita itu tak percaya.
Bersambung…