
Rose dan Relly sudah menyetujui rencana dadakan yang baru
saja Rose cetuskan.
Pada saat situasi sedang seperti ini, tidak banyak ide yang
bisa datang di kepala setiap orang. Jadi… siapa pun yang punya rencana, mereka
patut untuk mencobanya.
Dua orang itu merangkak ke arah Anggie berada saat ini. Hal
itu dilakukan agar supaya Ben tidak melihat dengan jelas keadaan mereka.
Keduanya membutuhkan bantuan satu orang lagi, untuk membuat rencana mereka
berjalan dengan mulus.
Setelah Anggir dijelaskan secara singkat, peran apa yang
akan ia ambil dalam rencana tersebut, wanita seksi itu pun menyerahkan tugasnya
pada salah satu rekan yang berada di sana. Evakuasi korban bisa dilakukan oleh
orang lain, sedangkan tugas ini Rose tidak menginginkan orang lain yang
melakukannya.
Ia tidak banyak mengenal orang di sana. Jadi Rose hanya mau
melakukan dengan orang yang dikiranya nyaman baginya.
“Kau ingat apa yang mesti kau lakukan?” tanya Rose pada
Anggie untuk yang terakhir kalinya.
Dia ingin memastikan jika wanita seksi itu mengerti dan
tidak ragu untuk melakukan hal ini. Sama seperti pada Relly. Rose mengatakan
hal yang sama, bahwa saat ini anggap saja Ben sedang tidak ada di antara
mereka.
Dan… tidak ada yang perlu ditakutkan dengan tindakan yang
akan mereka ambil nanti. Sebab yang mereka akan hadapi setelah ini, bukanlah Ben.
Bukan bos besar mereka!
Jadi walau hari-hari biasa mereka takut dan segan terhadap
Ben, untuk kali ini saja, Rose meminta pada mereka berdua untuk tidak memandang
pria kekar itu sama sekali. Hanya di momen mereka akan menghentikan Ben saja.
Hanya pada saat itu, kemudian mereka kembali saling rukun
lagi seperti sebelumnya.
“Ya, aku ingat!” jawab Anggie sangat yakin. Rose dapat
melihat dengan jelas di matanya.
“Kalau begitu, ayo! Kita mulai berpencar!”
Ketiganya saling mengangguk pada
satu sama lain, kemudian bergerak gesit menemui posisi yang sudah mereka
tentukan tadi.
Hanya Relly yang bergerak
sendiri, sedangkan Rose dan Anggie datang dari arah yang sama.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Ketika mereka sedang melebarkan
langkah untuk menuju ke arah Ben, pria bertopi koboi itu mulai merajalela lagi.
Ditembakkan pelurunya ke semua arah. Dan setelah itu, bibirnya kembali
menyeringai. Seperti dia sangat puas dengan melakukan hal itu.
Saat ini ketiganya sudah berada di posisi yang ditentukan.
Rose dan Anggie berada di sisi kanan Ben, sedang Relly menunggu di
belakangnya. Meski begitu, mereka tetap
memberi jarak antara tempat mereka berdiri dengan posisi Ben saat ini.
Takutnya, Ben menyadari keberadaan mereka, lalu pria itu
menyerbu mereka dengan peluru yang dia
punya.
“Sekarang!” seru Rose saat mereka bertiga sudah benar-benar
siap.
Dan lagi Ben saat ini sedang lengah, karena sedang sibuk
menembak ke sana-sini.
“Hyaaa….” Anggie yang maju pertama kali. Dia menendang
dengan sangat keras, tautan kedua tangan Ben pada senjata apinya.
Dugh! Dugh! Ssreeekkk!!
Sepertinya… Anggie mengerahkan seluruh kekuatannya untuk
melakukan hal ini. Mungkin wanita itu takut gagal, makanya dia melakukannya
semaksimal mungkin. Ditambah lagi Anggie tahu kapasitas Ben bukan untuk
dijadikan tandingannya sama sekali.
Senjata laras panjang yang tadinya bernaung di tangan Ben
jatuh ke bawah, sampai terlempar jauh. Sampai beberapa meter dan membutuhkan
sedikit waktu untuk menggapainya lagi. Meski sambil menggeram, bertambah murka
pria seram itu.
Sepersekian detik, Rose dan Anggie bertemu tatap sambil
saling membalas kerlingan mata yang diberikan. Sekarang adalah gilirannya.
Giliran Rose mengambil perannya.
Sebelum Ben sempat membungkuk untuk meraih laras panjangnya
lagi, Rose sudah menyerbunya dengan sebuah dekapan yang amat erat. Sangat erat
karena Rose sampai mengunci kedua tangannya di belakang pinggang Ben.
juga ingin mendengar debaran jantungnya saat ini. Apa yang tengah kekasihnya
itu rasakan sekarang?!
Meski pria itu mengernyitkan alis ketika melihat
wajahnya. Meski tuan seramnya itu menampilkan wajah terseram yang membuat nyali
orang menciut seketika. Meski tangannya terus berusaha melepaskan rengkuhan
Rose dari tubuhnya. Wanita itu tetap bertahan.
Sekuat tenaga dia bertahan dari kuatnya tenaga lelaki yang
berniat memisahkan diri darinya. Dan walau suara serak dan rendah milik Ben
terus meneriakinya. Bahkan ketika bulu tengkuknya saja sudah berdiri menyadari
level tinggi tingkat keseraman orang itu.
“Sadarlah, Ben! Kumohon!” lirihnya pada dada bidang itu.
Mungkin saja… dengan posisi seperti ini, Rose bisa bicara
langsung ke sanubarinya. Rose harap dia bisa membangunkan sisi normal Ben yang
sedang ditidurkan di alam bawah sadar sana.
“Lepas!” Suara serak itu terus saja mengancam dan tangan
Ben tak berhenti berusaha untuk melepaskan tangan Rose.
Entah Rose memiliki kekuatan dari mana, yang jelas, saat ini, Ben
yang bahkan tidak sadar sekali pun, tidak dapat melepaskan pegangan tangan Rose
sama sekali.
Dia bukanlah wanita ahli bela diri seperti Anggie, tidak
juga kemampuan yang dimilikinya begitu banyak dalam menghadapi seseorang secara
fisik. Rose minim pengalaman. Bahkan tidak punya sama sekali. Dia tidak pernah bertarung dengan seseorang.
Jadi saat ini… wanita itu hanya bermodalkan nekat dan tekad
yang sangat kuat. Ia sangat ingin membuat kekasihnya itu sadar kembali. Dan
jangan sampai rumah ini, markas ini, menjadi lebih hancur lagi. Rose tidak ingin nantinya Ben akan semakin menyesal, mengetahui semua kekacauan ini adalah disebabkan oleh dirinya.
“Ben, ini aku Rose! Ku mohon sadarlah!” Setengah menangis
suaranya yang tercekat. Namun Rose berusaha tegar. Penjara tangannya makin ia
kokohkan malah.
“Lepas!” Pria itu seakan tuli dan tidak mendengar ucapannya sama
sekali.
Dengan kasar, Ben terus berusaha melepaskan diri. Sampai
lengan Rose meninggalkan beberapa bekas merah di permukaannya.
‘Ya, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?’ Dia berdoa di dalam
harapannya yang tipis.
Cup!
Mendadak Rose berjinjit, lalu mengecup bibir Ben singkat.
Entah dari mana idenya ini muncul. Rose hanya merasa harus melakukannya saja. Mengikuti nalurinya.
Berhasil! Ben sempat tertegun untuk beberapa saat setelah
mendapat serangan mendadak Rose. Pandangan matanya pun menjadi kosong.
Netra hitam legamnya hanya menatap ke bawah tanpa terisi
tujuan apa-apa. Kosong. Hampa. Lalu bergulir perlahan menuju wajah wanita di hadapannya.
“Ro-.”
Bugh!
Dan terlambat Ben menyadari sesuatu, karena Relly sudah
keburu memukul kepala belakang bosnya itu dengan sebuah balok kayu yang tak
sengaja di dapatinya.
Sontak saja, pria bertopi koboi itu langsung terkulai ke
tubuh Rose. Ben lekas tak sadarkan diri.
Dia pingsan!
Untung saja masih ada Rose di sana, memeluknya. Jika sampai Ben terjatuh
ke bawah, akan semakin sulit untuk mengangkat tubuh berat itu. Atau bisa jadi Rose
akan ikut tersungkur ke bawah bersama-sama. Semua orang tahu bagaimana berat tubuh kekar dan
menjulang tinggi itu.
“Relly! Tolong bantu aku! Ugh….” Rose meminta pada Relly.
Sebab, dia sudah tidak tahan lagi, untuk terus menopang tubuh Ben yang sangat-sangat
berat.
“Ahh, iya!” Dilempar Relly kayu yang tadi dipegangnya.
Lalu ia memanggil beberapa anak buahnya, untuk membopong
tubuh bos besar mereka, yang saat ini sedang tidak sadarkan diri. Dan karena hal itu, semakin
bertambah pula bobot tubuh Ben menjadi beban bagi orang lain.
Di sebuah sudut, di kala semuanya masih kacau balau dan banyak
debu berterbangan. Sebuah senyuman lebar terpatri di bibir seseorang.
Bersambung…
Maaf, satu dulu aja, ya, malam mini aja
Author lagi sibuk ngurusin bocah yang rewel
Selamat membaca semuanya
Jangan lupa kasih like, voter dan komentar kalian
sebanyak-banyaknya… ya… ya
Keep strong and healthy ya semuanya