Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Modal nekat



Rose dan Relly sudah menyetujui rencana dadakan yang baru


saja Rose cetuskan.


Pada saat situasi sedang seperti ini, tidak banyak ide yang


bisa datang di kepala setiap orang. Jadi… siapa pun yang punya rencana, mereka


patut untuk mencobanya.


Dua orang itu merangkak ke arah Anggie berada saat ini. Hal


itu dilakukan agar supaya Ben tidak melihat dengan jelas keadaan mereka.


Keduanya membutuhkan bantuan satu orang lagi, untuk membuat rencana mereka


berjalan dengan mulus.


Setelah Anggir dijelaskan secara singkat, peran apa yang


akan ia ambil dalam rencana tersebut, wanita seksi itu pun menyerahkan tugasnya


pada salah satu rekan yang berada di sana. Evakuasi korban bisa dilakukan oleh


orang lain, sedangkan tugas ini Rose tidak menginginkan orang lain yang


melakukannya.


Ia tidak banyak mengenal orang di sana. Jadi Rose hanya mau


melakukan dengan orang yang dikiranya nyaman baginya.


“Kau ingat apa yang mesti kau lakukan?” tanya Rose pada


Anggie untuk yang terakhir kalinya.


Dia ingin memastikan jika wanita seksi itu mengerti dan


tidak ragu untuk melakukan hal ini. Sama seperti pada Relly. Rose mengatakan


hal yang sama, bahwa saat ini anggap saja Ben sedang tidak ada di antara


mereka.


Dan… tidak ada yang perlu ditakutkan dengan tindakan yang


akan mereka ambil nanti. Sebab yang mereka akan hadapi setelah ini, bukanlah Ben.


Bukan bos besar mereka!


Jadi walau hari-hari biasa mereka takut dan segan terhadap


Ben, untuk kali ini saja, Rose meminta pada mereka berdua untuk tidak memandang


pria kekar itu sama sekali. Hanya di momen mereka akan menghentikan Ben saja.


Hanya pada saat itu, kemudian mereka kembali saling rukun


lagi seperti sebelumnya.


“Ya, aku ingat!” jawab Anggie sangat yakin. Rose dapat


melihat dengan jelas di matanya.


“Kalau begitu, ayo! Kita mulai berpencar!”


Ketiganya saling mengangguk pada


satu sama lain, kemudian bergerak gesit menemui posisi yang sudah mereka


tentukan tadi.


Hanya Relly yang bergerak


sendiri, sedangkan Rose dan Anggie datang dari arah yang sama.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Ketika mereka sedang melebarkan


langkah untuk menuju ke arah Ben, pria bertopi koboi itu mulai merajalela lagi.


Ditembakkan pelurunya ke semua arah. Dan setelah itu, bibirnya kembali


menyeringai. Seperti dia sangat puas dengan melakukan hal itu.


Saat ini ketiganya sudah berada di posisi yang ditentukan.


Rose dan Anggie berada di sisi kanan Ben, sedang Relly menunggu di


belakangnya.  Meski begitu, mereka tetap


memberi jarak antara tempat mereka berdiri dengan posisi Ben saat ini.


Takutnya, Ben menyadari keberadaan mereka, lalu pria itu


menyerbu mereka dengan peluru  yang dia


punya.


“Sekarang!” seru Rose saat mereka bertiga sudah benar-benar


siap.


Dan lagi Ben saat ini sedang lengah, karena sedang sibuk


menembak ke sana-sini.


“Hyaaa….” Anggie yang maju pertama kali. Dia menendang


dengan sangat keras, tautan kedua tangan Ben pada senjata apinya.


Dugh! Dugh! Ssreeekkk!!


Sepertinya… Anggie mengerahkan seluruh kekuatannya untuk


melakukan hal ini. Mungkin wanita itu takut gagal, makanya dia melakukannya


semaksimal mungkin. Ditambah lagi Anggie tahu kapasitas Ben bukan untuk


dijadikan tandingannya sama sekali.


Senjata laras panjang yang tadinya bernaung di tangan Ben


jatuh ke bawah, sampai terlempar jauh. Sampai beberapa meter dan membutuhkan


sedikit waktu untuk menggapainya lagi. Meski sambil menggeram, bertambah murka


pria seram itu.


Sepersekian detik, Rose dan Anggie bertemu tatap sambil


saling membalas kerlingan mata yang diberikan. Sekarang adalah gilirannya.


Giliran Rose mengambil perannya.


Sebelum Ben sempat membungkuk untuk meraih laras panjangnya


lagi, Rose sudah menyerbunya dengan sebuah dekapan yang amat erat. Sangat erat


karena Rose sampai mengunci kedua tangannya di belakang pinggang Ben.


juga ingin mendengar debaran jantungnya saat ini. Apa yang tengah kekasihnya


itu rasakan sekarang?!


Meski pria itu mengernyitkan alis ketika melihat


wajahnya. Meski tuan seramnya itu menampilkan wajah terseram yang membuat nyali


orang menciut seketika. Meski tangannya terus berusaha melepaskan rengkuhan


Rose dari tubuhnya. Wanita itu tetap bertahan.


Sekuat tenaga dia bertahan dari kuatnya tenaga lelaki yang


berniat memisahkan diri darinya. Dan walau suara serak dan rendah milik Ben


terus meneriakinya. Bahkan ketika bulu tengkuknya saja sudah berdiri menyadari


level tinggi tingkat keseraman orang itu.


“Sadarlah, Ben! Kumohon!” lirihnya pada dada bidang itu.


Mungkin saja… dengan posisi seperti ini, Rose bisa bicara


langsung ke sanubarinya. Rose harap dia bisa membangunkan sisi normal Ben yang


sedang ditidurkan di alam bawah sadar sana.


“Lepas!” Suara serak itu terus saja mengancam dan tangan


Ben tak berhenti berusaha untuk melepaskan tangan Rose.


Entah Rose memiliki kekuatan dari mana, yang jelas, saat ini, Ben


yang bahkan tidak sadar sekali pun, tidak dapat melepaskan pegangan tangan Rose


sama sekali.


Dia bukanlah wanita ahli bela diri seperti Anggie, tidak


juga kemampuan yang dimilikinya begitu banyak dalam menghadapi seseorang secara


fisik. Rose minim pengalaman. Bahkan tidak punya sama sekali. Dia tidak pernah bertarung dengan seseorang.


Jadi saat ini… wanita itu hanya bermodalkan nekat dan tekad


yang sangat kuat. Ia sangat ingin membuat kekasihnya itu sadar kembali. Dan


jangan sampai rumah ini, markas ini, menjadi lebih hancur lagi. Rose tidak ingin nantinya Ben akan semakin menyesal, mengetahui semua kekacauan ini adalah disebabkan oleh dirinya.


“Ben, ini aku Rose! Ku mohon sadarlah!” Setengah menangis


suaranya yang tercekat. Namun Rose berusaha tegar. Penjara tangannya makin ia


kokohkan malah.


“Lepas!” Pria itu seakan tuli dan tidak mendengar ucapannya sama


sekali.


Dengan kasar, Ben terus berusaha melepaskan diri. Sampai


lengan Rose meninggalkan beberapa bekas merah di permukaannya.


‘Ya, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?’ Dia berdoa di dalam


harapannya yang tipis.


Cup!


Mendadak Rose berjinjit, lalu mengecup bibir Ben singkat.


Entah dari mana idenya ini muncul. Rose hanya merasa harus melakukannya saja. Mengikuti nalurinya.


Berhasil! Ben sempat tertegun untuk beberapa saat setelah


mendapat serangan mendadak Rose. Pandangan matanya pun menjadi kosong.


Netra hitam legamnya hanya menatap ke bawah tanpa terisi


tujuan apa-apa. Kosong. Hampa. Lalu bergulir perlahan menuju wajah wanita di hadapannya.


“Ro-.”


Bugh!


Dan terlambat Ben menyadari sesuatu, karena Relly sudah


keburu memukul kepala belakang bosnya itu dengan sebuah balok kayu yang tak


sengaja di dapatinya.


Sontak saja, pria bertopi koboi itu langsung terkulai ke


tubuh Rose.  Ben lekas tak sadarkan diri.


Dia pingsan!


Untung saja masih ada Rose di sana, memeluknya. Jika sampai Ben terjatuh


ke bawah, akan semakin sulit untuk mengangkat tubuh berat itu. Atau bisa jadi Rose


akan ikut tersungkur ke bawah bersama-sama. Semua orang tahu bagaimana berat tubuh kekar dan


menjulang tinggi itu.


“Relly! Tolong bantu aku! Ugh….” Rose meminta pada Relly.


Sebab, dia sudah tidak tahan lagi, untuk terus menopang tubuh Ben yang sangat-sangat


berat.


“Ahh, iya!” Dilempar Relly kayu yang tadi dipegangnya.


Lalu ia memanggil beberapa anak buahnya, untuk membopong


tubuh bos besar mereka, yang saat ini sedang tidak sadarkan diri. Dan karena hal itu, semakin


bertambah pula bobot tubuh Ben menjadi beban bagi orang lain.


Di sebuah sudut, di kala semuanya masih kacau balau dan banyak


debu berterbangan. Sebuah senyuman lebar terpatri di bibir seseorang.


Bersambung…


Maaf, satu dulu aja, ya, malam mini aja


Author lagi sibuk ngurusin bocah yang rewel


Selamat membaca semuanya


Jangan lupa kasih like, voter dan komentar kalian


sebanyak-banyaknya… ya… ya


Keep strong and healthy ya semuanya