
Teriakan itu juga membuat Rose yang sudah berada cukup jauh pun menoleh sebentar.
“Maaf, Relly! Tapi aku tidak berjanji apa pun padamu, kan!” Dibalas teriakan Relly sambil melambaikan tangan. Rose pun berlalu pergi melesat seperti bayangan.
Relly menjatuhkan lututnya ke lantai. Sungguh ia ingin sekali menangis dengan keras sekarang ini. Bagaimana jika sampai bosnya tahu jika dia lalai?! Bisa habis dia nanti!
Dikejar? Harusnya begitu! Tapi bagaimana dia bisa mengejar lari Rose yang cepatnya seperti orang yang sedang kesetanan?! Sedangkan dia saja belum menutup pintu kamar Rose dan lupa juga menutup pintu ruangan Ben.
Dilebarkan bibirnya yang menipis sambil melengkung ke bawah. Dengan penuh ketidakberdayaan, Relly hanya bisa berharap, jika tidak akan terjadi sesuatu apa pun pada nonanya, sebelum dia bisa menyusul.
Sementara di sisi Ben,
Pria bertopi koboi itu sejak keluar dari kamar Rose tidak bisa berkonsentrasi penuh. Sejak tadi yang dia lakukan menggelengkan kepalanya terus. Meskipun begitu, kakinya tak berhenti membawa tubuhnya melesat secepat mungkin.
Fokusnya terpecah menjadi dua.
Sebelah otaknya memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menangkap brengsek yang sudah berani mengotori markas sekaligus rumahnya ini. Tatapannya sudah terkunci pada satu titik. Di atas atap gedung yang letaknya di
seberang ruangan pribadinya. Sekelebat bayangan hitam sempat dilihatnya di sana.
Inginnya ia cepat sampai di sana, namun sebelah otaknya yang lain tak bisa berhenti mengenang bayangan punggung polos, putih dan mulus milik Rose.
Ya, ampun! Tangannya terasa gatal sekali ingin menyentuhnya. Ingin mendaratkan telapak tangannya di sana kemudian menjelajahinya.
Sembari terus melesat, Ben meraup wajahnya. Hanya melihat punggung telanjang itu saja sudah membuat gejolak birahinya meningkat dengan kuat.
Juniornya di bawah sana juga membuat kepalanya makin terasa berat. Dia membuat celana yang Ben kenakan menjadi terasa ketat dan sesak.
Rose, Rose! Sampai kapan dia harus menderita seperti ini!
Tuk!
Dipukul kepalanya sendiri dengan pistol yang sudah siap di tangannya sejak tadi. Pria bertopi koboi itu mencoba menarik seluruh kesadarannya sendiri. Untuk urusan Rose, nanti dia akan membuat perhitungannya sendiri. Meskipun dia belum memutuskan akan membuat perhitungan dengan siapa, dengan dirinya sendiri, kah?! Atau dengan kekasihnya yang selalu menguji pertahanannya?!
Sekarang, ia fokuskan lagi pikirannya pada atap gedung yang sebagian besar menjadi asrama para anak buahnya. Orang dengan pakaian serba hitam itu pasti sudah pergi. Tapi dia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Kali ini dia tidak boleh kecolongan lagi!
Ben terus menghiraukan anak buahnya yang bertanya ada apa, atau bahkan yang sekadar bertanya. Hingga salah satu petinggi Harimau Putih yang dilewatinya menerima pesan dari Relly. Dia pun memerintahkan kepada anak
buahnya yang lain untuk mengikuti Ben di belakang, sambil memberitahukan apa yang terjadi.
Kini Ben sudah diiringi sekitar sepuluh orang di belakangnya. Dia pun menoleh sebentar untuk melihat. Ini pasti pekerjaan Relly pikirnya.
“Perintahkan yang lain untuk mengepung markas sampai radius 5 kilometer ke luar!” Sambil terus berlari, Ben memerintahkan sesuatu pada anak buah di belakangnya.
Tidak ada gunanya mereka bergerak begitu banyak bersama. Lebih efektif jika mereka menyebar dan menyergap orang itu dari berbagai arah yang menjadi kemungkinan.
“Baik, Tuan!” Anak buahnya itu pun menyahuti sambil merogoh sakunya. Ia menghubungi rekannya yang lain untuk menginformasikan perintah Ben ini secara estafet pada yang lainnya juga.
Mereka juga geram mendengar kabar dari Relly. Masalah di gudang logistik ternyata tidak cukup mengusik ketenangan kelompok mereka yang sudah terjaga selama bertahun-tahun lamanya itu.
Drap! Drap! Drap!
Anak tangga disusuri oleh mereka semua hingga mencapai puncaknya. Namun ketika mereka tiba, atap gedung itu sudah kosong. Tapi ini pun sudah sesuai dengan dugaan Ben. Karena jarak yang mesti mereka tempuh tak akan cukup untuk menangkap orang itu di tempat.
Ben tak menghiraukan hal itu, dia malah berjalan menuju pinggiran atap gedung itu yang mengarah ke bagian buritan gedung. Di sana memang terdapat kebun cokelat yang rindang. Ben memperhatikan dengan wajah amat
serius.
Luar biasa, memang luar biasa keberanian bos mereka itu. Patut diacungi dua jempol. Namun di sisi lain, mereka semua khawatir terjadi sesuatu pada bos besar mereka.
“Kenapa kalian semua berteriak? Dimana Ben?” Rose yang baru saja datang pun segera bertanya. Ditatapnya mereka satu per satu, karena tak jua memberikan jawaban.
“Kenapa kalian semua hanya diam saja? Dimana Ben sekarang?” Wanita itu mulai menegaskan suaranya dengan netra yang ia bulatkan besar.
Namun para anak buah Ben masih bungkam. Mereka semua hanya saling melirik dan saling memandang.
“Aku tanya sekali lagi! Dimana Ben sekarang?” teriak Rose emosional. Matanya sampai berkaca-kaca menahan perasaan khawatir tak menentu ini. Ditambah lagi, ketika menaiki tangga, ia mendengar mereka semua menyerukan nama Ben dengan begitu kerasnya.
“Terserah apa yang kalian pikirkan tentang aku. Aku tak peduli! Katakan dulu dimana Ben sekarang!” Dengan dada yang naik turun dengan cepat, Rose menahan segala emosinya yang berkecamuk. Ia sudah sangat mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu.
Terserah semua orang mau mengatakan dia adalah pengkhianatnya atau apa pun itu. Rose hanya sedang mengkhawatirkan Ben. Dia mengkhawatirkan kekasihnya itu setengah mati sekarang. Tidak bisakah mereka
mengesampingkan masalah ini terlebih dahulu dan memikirkan bagaimana keadaan bos mereka?!
Melihat mata Rose yang mulai berkaca-kaca, salah satu di antara mereka pun akhirnya ada yang mau bicara. Orang itu mungkin menemukan jejak ketulusan di mata Rose saat ini.
“Bos melompat ke bawah lewat sana!”
Rose segera berlari dari penghujung tangga yang dipijaknya. Dia berdiri di posisi Ben tadi. Menggulirkan bola matanya, menyapu seluruh pandangannya di bawah sana.
Ini sangat tinggi! Rose jadi makin takut Ben terluka karena hal ini.
Mereka yang masih mematung pun memandangi punggung Rose dengan kebingungan. Apa yang akan nona mereka lakukan sebenarnya?!
“Ben! Ben!” Rose berseru begitu gembira kala melihat sosok yang dia cari tengah bergerak ke arah tengah kebun cokelat itu. Kedua tangannya melambai ke atas pada tuan seramnya yang tak juga menoleh. Mungkin dia belum
mendengarnya!
Di bawah sana,
Ben sedang mengintai, mengikuti jejak ban sepeda motor yang mulai bergerak dari belakang dinding bangunan menuju ke tengah perkebunan. Daun telinganya berkedut, dia seperti mendengar seseorang memanggil namanya.
Pria dengan topi koboi dan kemeja bunga-bunga itu menoleh ke arah sumber suara.
“ROSE!!!”
Bersambung…
Rose kenapa, hayo…..
Yukk,, bisa yukk,, ikutin terus ceritanya ya
Jujur aku berdebar pas nulis part ini,,
Supaya aku lebih rajin update lagi, jangan lupa kasih dukungan buat karya aku ini ya
Dengan cara kasih like, vote, sama komentar kalian
Terima kasih juga buat temen-temen yang selalu ikutin dan udah dukung karya aku dari sebelum-sebelumnya
Keep strong and heathy semuanya ya