Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Sebuah keberuntungan



Seorang penyusup yang tertembak di kedua kakinya pun dibawa ke markas. Tidak melewati jalan belakang seperti tadi Ben dan Rose datang. Mereka memutar arah, lalu masuk ke markas melalui gerbang utama.


Penyusup itu ditempatkan di ruang bawah tanah, yang letaknya tepat di bawah gedung yang merupakan asrama bagi para anggota.  Ruangan bawah tanah biasanya digunakan untuk menghukum tawanan kelas berat atau pun para pengkhianat.


Geng Harimau Putih biasa melakukannya di sana. Di tempat gelap, lembab dan minim udara, tempat yang cocok untuk menyiksa tahanan mereka secara perlahan.  Juga dengan tidak memberi  mereka makan atau pun air. Mental mereka diserang terlebih dahulu. Barulah siksaan fisik datang kemudian.


Seperti nasib penyusup yang tertangkap itu. Baru saja tangan dan kakinya di rantai, dan rantai itu terhubung sangat kuat ke dinding kamar inapnya sementara ini. Penjara itu dingin, gelap dan pen gap. Sedang kakinya yang terluka, dibiarkan begitu saja membusuk mungkin.


Tapi entah bagaimana jika dia mau diajak bekerja sama. Mungkinkah Ben masih mau mengampuni dirinya?!


Tapi si ketua geng mafia tengah diurus oleh Rose di ruangan pribadinya. Relly yang biasanya merawat Ben ketika pria itu terluka kini masih  menjalankan tugas untuk mengejar penyusup yang satunya lagi. Asisten bos mafia itu belum kembali.


Mungkin sebentar lagi dia akan datang dan membuat keributan dengan mulutnya!


Jadi sampai saat ini belum keluar lagi perintah lanjut  untuk menangani orang itu. Seperti Ben ingin menunggu yang satunya tertangkap lebih dulu. Barulah mereka akan disiksa bersama-sama.


Di ruangan pria bertopi koboi itu,


Dia tengah dirawat oleh Rose, kekasihnya. Jaket kulitnya juga sudah dibuka dan menyisakan kemeja motif bunga-bunga berwarna merah saja. Juga lengan kanannya yang berdarah-darah, berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan pria itu.


“Kapan sebenarnya dokternya akan datang?” tanya Rose kesal sambil membersihkan darah yang mengalir di lengan Ben.


“Mungkin sebentar lagi! Aku yang terluka, tapi kenapa kau yang tidak sabar? Heh!” Dipandanginya wajah Rose yang sangat telaten mengurus dirinya.


Sebuah handuk kecil basah diusapkan ke lengannya yang berdarah-darah. Tangan Rose cekatan, tapi juga tidak kasar ketika dia menghapus bau amis itu dari lengannya ini.


“Jika menunggu terlalu lama, aku takut lukamu akan infeksi, Ben!” Dia masih protes keras. Harusnya Rose memarahi dokter yang bertugas merawat Ben, tapi karena tidak ada, jadilah tuan seramnya yang jadi bahan pelampiasan kekesalannya itu.


“Kau tidak jijik sama sekali?” Khawatir Ben wanitanya itu akan kapok setelah ini.


Sebab kejadian hari ini adalah pengalaman pertama Rose terjun langsung di medan perang. Melihat sendiri sebuah pertarungan sengit dari jarak dekat. Hingga menjatuhkan beberapa korban. Sudah pasti gelora merah terlihat di matanya, juga bau anyir darah menusuk hidungnya.


Ben khawatir Rose trauma karena hal ini. Tapi… dilihat dari tindakan yang kekasihnya itu ambil, hingga bahkan berani melayangkan tembakan pada penyusup itu, Rose seperti sedang menikmatinya.


Entahlah! Ben ingin mendengar jawaban dari mulut Rose langsung. Seandainya wanita itu mau menyerah pun, dia tidak akan masalah sama sekali.


“Dengan apa?” Rose bertanya balik sambil memeras handuk ke baskom di depannya. Semburat merah langsung menodai sekumpulan air yang semula bening.


“Dengan ini!” Ditunjuk lukanya dengan sebuah lirikkan. Ben pun melanjutkan. “Darah ini, serta darah-darah semua orang yang berceceran tadi. Kau tidak mual sama sekali? Atau kapok karenanya?”


“Tidak!” Dengan cepat Rose menggeleng dengan ekspresi polos.


Ia tidak merasakan jijik sama sekali. Tidak juga merasa mual karena mencium bau anyir yang menyengat. Tidak takut juga karena melihat adegan tembak menembak itu secara langsung di depan matanya.


“Biasa saja!” Dia lalu mengedikkan kedua bahunya dengan tidak acuh. “Justru tadi itu sangat seru!”


Ben menekan bibirnya kuat-kuat kala melihat hal itu. Enteng sekali dia mengatakannya! Padahal tadi itu, semua hal yang dilakukan Rose sangat berbahaya. Tak terkecuali, termasuk dengan kenekatannya untuk terjun dari atap gedung. Meski bangunan itu tidak terlalu tinggi.


“Sepertinya kau sedang meremehkan aku, Ben!” Sambil mengusap bagian lengan Ben dengan sedikit noda darah.


“Meremehkan?” Ditautkan kedua alisnya yang tebal. “Apa maksudmu?”


“Aku sudah menyiapkan mentalku untuk mengalami hal ini. Aku sudah menyiapkan diriku sampai sejauh itu, asal kau tahu. Walau pun jujur, tadi itu sangat menegangkan hingga dadaku rasanya berdebar kencang, tapi aku sangat menikmatinya.”


Rose menertawakan kepuasannya sendiri. Entahlah, ia pikir ini adalah sebuah keberuntungan tersendiri baginya!


Tak!


“Sakit, Ben!” protes Rose sambil mengusap keningnya yang disentil oleh tuan seramnya itu.


“Kau pikir itu lucu! Kenapa malah tertawa?!”


Mulai runtuh kepercayaan diri Rose jika ditatap menakutkan seperti itu. Tetap saja, sekali tuan seram, memang akan tetap menjadi tuan seram yang wajahnya menakutkan ketika marah.


Rose langsung memberengut lesu. Ditundukkan kepalanya pura-pura berwajah sedih. Tapi tangannya tak berhenti membersihkan sisa darah yang ada.


“Sebenarnya aku menginginkan hal itu!” Ia menatap Rose dengan wajah tanpa ekspresi.


Namun terlihat ambigu menurut wanitanya. Apa maksud ucapannya itu?


Rose langsung mendelik setelah sebuah petunjuk didapatkan. Heh! Bisa-bisanya tuan seramnya memikirkan hal tidak senonoh seperti itu di saat seperti ini. Bukannya tadi dia sedang memarahinya, ya?!


“Kau menatapku seakan isi kepalaku hanyalah pikiran kotor semua!” tebak Ben sambil menatap Rose lama. Nada bicaranya agak protes memang.


“Memang benar, kan!” jawab Rose enteng sambil memeras handuk kecil itu lagi, menyingkirkan sisa darah di sana.


“Aku bisa… mewujudkan isi pikiranmu itu jika kau mau!” tawar Ben dengan lirikkan menggoda sambil diangkat kedua alisnya secara singkat.


“Ben!” pekik Rose agak kencang.


Tuan seramnya padahal terluka, tapi masih sempat-sempatnya menggoda dirinya!


Tunggu, tunggu dulu! Rose nampak berpikir sebentar.


Jadi sebenarnya, tuan seramnya itu tidak berpikiran ke arah sana sama sekali?! Jadi hanya dia saja yang menggiring opininya sendiri ?! Sehingga menyangka jika Ben sedang berpikir mesum, begitu?!


Oh, sungguh! Rose membuang wajahnya ke samping, yang sedang merasa malu setengah mati saat ini.


“Sekarang kau sudah menyadarinya?” Tawa kecil lolos dari rahang Ben yang terbuka.


Dengan malu-malu Rose menoleh, lalu mengangguk pelan sambil meringis. Terlihat sedikit barisan gigi putihnya yang rapi.


“Apa?” Wajah datar Ben berubah menjadi lebih tenang ketika bertanya. Dia seolah menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rose. Sambil begitu, dia akan menggodanya lagi nanti.


Menggelenglah wanita itu seraya meringis lagi. Sebab dia tidak mengerti maksud yang Ben ucapkan.


Bersambung…


yuk,, bisa yukk,,


dukung terus cerita ini ya manteman.. kasih like, vote sama komentar kalian sebanyak-banyaknya,,


terima kasih


keep strong and healthy semuanya ya