Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Metamorfosis



Sampai menjelang petang, tidak ada satu bukti pun yang mampu


mereka dapatkan. Mengenai Rose yang mereka curigai. Tidak ada satu hal kecil


pun dapat mereka temukan untuk sedikit saja memperkuat apa yang mereka


gembar-gemborkan selama ini. Hingga pada akhirnya, mereka mulai menyerah dan


putus asa dengan semua ini.


Satu persatu mulai berpikir, dari mana seruan pengkhianat


itu berasal. Dirunut sejak masalah gudang logistik juga serangan penyusup yang


terang-terangan. Tidak ada satu hal pun yang mengarah kepada wanita itu.


Akan tetapi… seolah termakan gengsi dan egois, mereka semua


belum mau mengakui sepenuhnya, jika memang bukan Rose pengkhianatnya. Mereka


juga perlu bukti dari pihak Rose, untuk menguatkan dan membuat mereka


benar-benar percaya bahwa apa yang mereka pikirkan selama ini adalah salah.


Namun, perihal ini mereka simpan baik-baik. Jangan sampai


pihak Rose atau pun yang pro terhadapnya sampai mengetahui hal ini. Jangan


sampai pula membuat wanita itu jadi besar kepala karena sudah merasa menang


sejak awal.


Meskipun sebenarnya mereka frustasi karena tidak dapat menemukan


apa-apa. Sedangkan keyakinan mereka belum luntur jika Rose adalah


pengkhianatnya.


Di sisi lain markas,


Tepatnya di ruangan pribadi Ben yang kini sudah seperti


ruangan pribadi Rose, beberapa orang berkumpul. Yang pertama pasti ada Relly


selaku asisten bos besar, lalu Anggie yang selalu mendukungnya, serta beberapa


lagi sebagai perwakilan dari orang-orang yang berpihak kepadanya.


Saat ini mereka tengah melakukan diskusi santai di sofa


ruangan itu. Meja kaca yang waktu itu dihancurkan Ben, kini sudah diganti.


Rose baru saja bangun dari kelelahannya, dan sudah


menyegarkan diri. Jadi sore ini, wajahnya sudah nampak segar ketimbang


sebelumnya. Seperti dia sudah siap berperang lagi dengan mulut-mulut kurang


ajar.


Jangan tanya Ben! Pria itu masih lelap di tidurnya yang


nyaman. Setelah terjadi sedikit perkembangan tadi pagi, sampai mentari mau


pergi Ben tidak lagi menunjukkan kemajuan apa pun. Mungkin energinya terkuras


habis saat mengamuk semalam.


Sebelum pergi dari kamarnya, dibelai Rose wajah tegas kekasihnya


itu dengan senyum terurai. Dia pamit pada Ben dan berdoa dalam hati, semoga


pria itu lekas bangun dan sadar. Jadi mereka bisa menghadapi semua ini


bersama-sama kembali.


Saat ini Rose mengenakan celana kulit mengkilap berwarna


hitam, yang diberikan oleh Anggie. Tank top putih polos, serta jaket kulit


warna senada. Jaket kulit itu tidak benar-benar Rose kenakan, hanya menyampir


di bahu. Rambut pirangnya ia biarkan jatuh begitu saja di belakang punggung.


Anggie telah berhasil mendandai Rose menjadi sosok yang


berbeda. Agak mirip dengannya. Namun tampilan Rose tidak memiliki image seksi


seperti yang dia miliki. Kesan penampilan Rose saat ini jauh sekali dengan Rose


yang pertama kali datang.


Waktu itu, yang datang ke sini adalah seorang wanita


rumahan. Cantik, berseri dan terlihat feminin dengan dress sederhana yang ia


kenakan. Tapi yang sekarang, Rose nampak lebih tegas dan garang. Ditambah


dengan tatapan elang yang ia miliki ketika sedang geram.


Rose seperti baru saja bermetamorfosis. Dimulai dengan penampilan


luar. Segala jenis perubahan yang lainnya, Anggie yakin akan menyusul tidak


akan lama lagi. Matanya tak salah menilai orang, Rose akan jadi sesuatu nanti.


“Anggie, ikut denganku sebentar!” Ditarik Rose tangan wanita


seksi itu ke arah kamar mandi, yang terletak di dalam ruangan itu.


“Ekh....” Anggie yang tadinya sedang berbicara serius dengan


salah satu rekannya pun terkejut. Dan hanya terbawa saja.


“Ada apa?” tanyanya pada Rose setelah wanita itu melepaskan


pegangan tangannya. Dengan menatap bingung pada kekasih bosnya itu.


“Apa penampilanku baik-baik saja?” Rose menjawabnya dengan


pertanyaan balik. Sambil memasukkan tangannya ke dalam jaket kulit itu.


Mengenakannya dengan benar. Pose  tadi


itu, Anggie yang mendandaninya. Jaket menyampir di bahu, agak… berlebihan


menurutnya.


Nada gugup wanita itu membuat Anggie terkekeh. Ditatapinya


Rose yang tengah bercermin, memperhatikan pula make up yang Anggie buat


untuknya. Sapuan lipstick merah terang, juga… agak berlebihan ia rasa.


Ia tidak biasa menggunakan warna seberani ini. Sebab biasanya,


Rose hanya akan menyapukan warna merah muda atau peach. Supaya bibirnya


terlihat lebih segar. Itu saja sudah cukup baginya.


“Ekhem….” Ditutup Anggie mulutnya dengan satu tangan sambil


berdehem. Sengaja untuk meredam rasa gelinya.


“Rose!” Dibaliknya tubuh Rose yang semula masih menghadap


cermin. Aroma khas maskulin masih terhidu samar di sana. Wajar saja, karena


kamar mandi itu adalah bagian dari ruangan pribadi Ben. Bos besar di markas


“Aku tidak ingin merubah dirimu. Tapi kau cantik dalam


penampilan apa pun. Termasuk dirimu yang sekarang. Kau tetap cantik. Bahkan ku


rasa, Tuan Ben pasti akan terkejut jika melihatnya.”


Oh, sungguh! Rose jadi merindukan kekasihnya itu! Kapan


sebenarnya akan bangun?!


“Benarkah?” tanya Rose masih kurang percaya diri.


“Ehm… ehm…,” angguk Anggie membenarkan.


“Pertama, orang akan menilai dirimu melalui penampilan.


Mereka tidak akan meremehkanmu lagi dengan penampilanmu yang seperti ini. Bukan


aku bermaksud mengejek penampilanmu yang sebelumnya. Tapi… kau terlalu manis


untuk berada di tengah kami semua yang keras hidup dan wataknya.”


“Maksudmu, mereka jadi berpikir aku adalah wanita yang


seperti itu juga karena... penampilanku?”


Dicubit Anggie pipi putih Rose dengan gemasnya. “Benar! Kau


itu terlalu cantik dan manis. Sangat kontras untuk berada di antara kami.


Jadi.. uhm, maaf… aku cukup mewajari jika rekan-rekanku yang bodoh itu bisa


sampai berpikiran seperti itu.”


Anggie benar-benar menyesal harus mengatakan hal ini. Tapi


ia tidak ingin menutupi apa pun darinya. Biarkan Rose yang menilai sendiri dan


berpikir sebaiknya dia harus bagaimana.


“Ngomong-ngomong… aku tidak bermaksud merubah dirimu. Jika


kau tidak suka dengan penampilan  yang


seperti ini, kau bisa mengubahnya sesuka hatimu!” tambahnya buru-buru. Tak lupa


dia tersenyum lebar, sangat lebar sampai dimiringkan kepalanya.


Rose membalikkan tubuhnya lagi. Ditatap bayangan dirinya di


cermin lamat-lamat. Ini memang bukan gayanya sekali, selama hidupnya ini. Tapi…


Rose cukup memikirkan apa yang barusan Anggie katakan kepadanya.


Baiklah! Dianggukkan Rose kepalanya pada bayangnya di


cermin. Anggap saja ini adalah pakaian dinasnya saat bertugas di luar. Nanti…


ketika dia pulang dan sampai di rumah kembali. Terlepas dari semua urusan


duniawi, ia akan kembali pada Rose yang biasanya.


Sejujurnya, wanita itu suka dengan penampilannya yang


sekarang ini. Memang… cantik sekali ia rasa. Auranya jadi lebih keluar dan


nampak bercahaya. Namun, Rose tidak ingin kehilangan jati dirinya yang


merupakan wanita rumahan dan suka memasak di rumah.


“Kalau begitu, lain kali, kau harus mengajakkku berbelanja!”


ujar Rose begitu saja sambil menarik tangan Anggie kembali. Ke arah luar, untuk


bergabung dengan yang lainnya lagi.


“Hish….” Wanita seksi itu tersenyum kecil seraya menggeleng


lemah. Pasrah saja terbawa ke sana ke sini.


“Bawa aku ke tempat langgananmu, ya!. Aku belum lama tinggal


di negara ini. Jadi belum tahu banyak tempat yang bagus untuk berbelanja,” ucap


Rose seraya menoleh ke belakang. Dia berbicara santai, seolah tidak memiliki


dosa. Padahal tangannya tak henti menarik tangan Anggie.


“I- ya…,” sahut Anggie dengan nada malas. Meskipun begitu,


dia tetap tersenyum sembari terus terbawa tarikan tangan.


Semburat jingga yang berpendar di langit, sudah sepenuhnya


menghilang. Taburan bintang yang  kini


menggantikan vista indah di angkasa sana. Malam sudah datang, tepat pukul


sembilan malam sekarang. Adalah waktu yang dijanjikan untuk mereka semua


berkumpul lagi di tempat sebelumnya. Lapangan tembak indoor yang dimiliki markas


besar itu.


Tentu saja, masih menyisakan beberapa anak buah yang


berjaga. Dengan adanya diskusi massal seperti ini, tidak menghilangkan


kewaspadaan mereka sama sekali untuk melindungi markas aka rumah mereka. Jangan


sampai kejadian penyusup terjadi lagi. Keamanan di areal markas ditingkatkan


dari pada biasanya.


Tidak seperti sebelumnya, Rose yang datang terlambat bersama


dengan Anggie. Sekarang, dia yang sudah tiba terlebih dahulu bersama dengan


wanita seksi itu, Relly, juga beberapa orang yang tadi bersamanya.


Saat ini, di atas panggung, tiga orang, Rose, Relly dan


Anggie berdiri bersisian, dengan posisi Rose yang berada di tengah. Netra


abunya menatap nyalang dan tajam pada setiap insan yang mulai membentuk


barisan.


Dilepas tangannya yang berlipat di depan dada, ketika merasa


tak akan ada lagi yang datang. Dia yang berdiri tegak lantas maju. Meraih


microphone yang sudah tersedia. Dan siap untuk berbicara. Rose ingin menyapa


mereka semua terlebih dahulu, sebelum masuk ke poin utamanya.


“Halo! Kita bertemu lagi! Bagaimana kabar kalian malam ini?”


Bersambung…


Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya untukdukung aku dan karya aku..


Terima kasih juga buat yang udah selalu menunggu aku updatesetiap hari


Luuvv buat kalian semuanya ya…


Keep strong and healthy