
Sampai menjelang petang, tidak ada satu bukti pun yang mampu
mereka dapatkan. Mengenai Rose yang mereka curigai. Tidak ada satu hal kecil
pun dapat mereka temukan untuk sedikit saja memperkuat apa yang mereka
gembar-gemborkan selama ini. Hingga pada akhirnya, mereka mulai menyerah dan
putus asa dengan semua ini.
Satu persatu mulai berpikir, dari mana seruan pengkhianat
itu berasal. Dirunut sejak masalah gudang logistik juga serangan penyusup yang
terang-terangan. Tidak ada satu hal pun yang mengarah kepada wanita itu.
Akan tetapi… seolah termakan gengsi dan egois, mereka semua
belum mau mengakui sepenuhnya, jika memang bukan Rose pengkhianatnya. Mereka
juga perlu bukti dari pihak Rose, untuk menguatkan dan membuat mereka
benar-benar percaya bahwa apa yang mereka pikirkan selama ini adalah salah.
Namun, perihal ini mereka simpan baik-baik. Jangan sampai
pihak Rose atau pun yang pro terhadapnya sampai mengetahui hal ini. Jangan
sampai pula membuat wanita itu jadi besar kepala karena sudah merasa menang
sejak awal.
Meskipun sebenarnya mereka frustasi karena tidak dapat menemukan
apa-apa. Sedangkan keyakinan mereka belum luntur jika Rose adalah
pengkhianatnya.
Di sisi lain markas,
Tepatnya di ruangan pribadi Ben yang kini sudah seperti
ruangan pribadi Rose, beberapa orang berkumpul. Yang pertama pasti ada Relly
selaku asisten bos besar, lalu Anggie yang selalu mendukungnya, serta beberapa
lagi sebagai perwakilan dari orang-orang yang berpihak kepadanya.
Saat ini mereka tengah melakukan diskusi santai di sofa
ruangan itu. Meja kaca yang waktu itu dihancurkan Ben, kini sudah diganti.
Rose baru saja bangun dari kelelahannya, dan sudah
menyegarkan diri. Jadi sore ini, wajahnya sudah nampak segar ketimbang
sebelumnya. Seperti dia sudah siap berperang lagi dengan mulut-mulut kurang
ajar.
Jangan tanya Ben! Pria itu masih lelap di tidurnya yang
nyaman. Setelah terjadi sedikit perkembangan tadi pagi, sampai mentari mau
pergi Ben tidak lagi menunjukkan kemajuan apa pun. Mungkin energinya terkuras
habis saat mengamuk semalam.
Sebelum pergi dari kamarnya, dibelai Rose wajah tegas kekasihnya
itu dengan senyum terurai. Dia pamit pada Ben dan berdoa dalam hati, semoga
pria itu lekas bangun dan sadar. Jadi mereka bisa menghadapi semua ini
bersama-sama kembali.
Saat ini Rose mengenakan celana kulit mengkilap berwarna
hitam, yang diberikan oleh Anggie. Tank top putih polos, serta jaket kulit
warna senada. Jaket kulit itu tidak benar-benar Rose kenakan, hanya menyampir
di bahu. Rambut pirangnya ia biarkan jatuh begitu saja di belakang punggung.
Anggie telah berhasil mendandai Rose menjadi sosok yang
berbeda. Agak mirip dengannya. Namun tampilan Rose tidak memiliki image seksi
seperti yang dia miliki. Kesan penampilan Rose saat ini jauh sekali dengan Rose
yang pertama kali datang.
Waktu itu, yang datang ke sini adalah seorang wanita
rumahan. Cantik, berseri dan terlihat feminin dengan dress sederhana yang ia
kenakan. Tapi yang sekarang, Rose nampak lebih tegas dan garang. Ditambah
dengan tatapan elang yang ia miliki ketika sedang geram.
Rose seperti baru saja bermetamorfosis. Dimulai dengan penampilan
luar. Segala jenis perubahan yang lainnya, Anggie yakin akan menyusul tidak
akan lama lagi. Matanya tak salah menilai orang, Rose akan jadi sesuatu nanti.
“Anggie, ikut denganku sebentar!” Ditarik Rose tangan wanita
seksi itu ke arah kamar mandi, yang terletak di dalam ruangan itu.
“Ekh....” Anggie yang tadinya sedang berbicara serius dengan
salah satu rekannya pun terkejut. Dan hanya terbawa saja.
“Ada apa?” tanyanya pada Rose setelah wanita itu melepaskan
pegangan tangannya. Dengan menatap bingung pada kekasih bosnya itu.
“Apa penampilanku baik-baik saja?” Rose menjawabnya dengan
pertanyaan balik. Sambil memasukkan tangannya ke dalam jaket kulit itu.
Mengenakannya dengan benar. Pose tadi
itu, Anggie yang mendandaninya. Jaket menyampir di bahu, agak… berlebihan
menurutnya.
Nada gugup wanita itu membuat Anggie terkekeh. Ditatapinya
Rose yang tengah bercermin, memperhatikan pula make up yang Anggie buat
untuknya. Sapuan lipstick merah terang, juga… agak berlebihan ia rasa.
Ia tidak biasa menggunakan warna seberani ini. Sebab biasanya,
Rose hanya akan menyapukan warna merah muda atau peach. Supaya bibirnya
terlihat lebih segar. Itu saja sudah cukup baginya.
“Ekhem….” Ditutup Anggie mulutnya dengan satu tangan sambil
berdehem. Sengaja untuk meredam rasa gelinya.
“Rose!” Dibaliknya tubuh Rose yang semula masih menghadap
cermin. Aroma khas maskulin masih terhidu samar di sana. Wajar saja, karena
kamar mandi itu adalah bagian dari ruangan pribadi Ben. Bos besar di markas
“Aku tidak ingin merubah dirimu. Tapi kau cantik dalam
penampilan apa pun. Termasuk dirimu yang sekarang. Kau tetap cantik. Bahkan ku
rasa, Tuan Ben pasti akan terkejut jika melihatnya.”
Oh, sungguh! Rose jadi merindukan kekasihnya itu! Kapan
sebenarnya akan bangun?!
“Benarkah?” tanya Rose masih kurang percaya diri.
“Ehm… ehm…,” angguk Anggie membenarkan.
“Pertama, orang akan menilai dirimu melalui penampilan.
Mereka tidak akan meremehkanmu lagi dengan penampilanmu yang seperti ini. Bukan
aku bermaksud mengejek penampilanmu yang sebelumnya. Tapi… kau terlalu manis
untuk berada di tengah kami semua yang keras hidup dan wataknya.”
“Maksudmu, mereka jadi berpikir aku adalah wanita yang
seperti itu juga karena... penampilanku?”
Dicubit Anggie pipi putih Rose dengan gemasnya. “Benar! Kau
itu terlalu cantik dan manis. Sangat kontras untuk berada di antara kami.
Jadi.. uhm, maaf… aku cukup mewajari jika rekan-rekanku yang bodoh itu bisa
sampai berpikiran seperti itu.”
Anggie benar-benar menyesal harus mengatakan hal ini. Tapi
ia tidak ingin menutupi apa pun darinya. Biarkan Rose yang menilai sendiri dan
berpikir sebaiknya dia harus bagaimana.
“Ngomong-ngomong… aku tidak bermaksud merubah dirimu. Jika
kau tidak suka dengan penampilan yang
seperti ini, kau bisa mengubahnya sesuka hatimu!” tambahnya buru-buru. Tak lupa
dia tersenyum lebar, sangat lebar sampai dimiringkan kepalanya.
Rose membalikkan tubuhnya lagi. Ditatap bayangan dirinya di
cermin lamat-lamat. Ini memang bukan gayanya sekali, selama hidupnya ini. Tapi…
Rose cukup memikirkan apa yang barusan Anggie katakan kepadanya.
Baiklah! Dianggukkan Rose kepalanya pada bayangnya di
cermin. Anggap saja ini adalah pakaian dinasnya saat bertugas di luar. Nanti…
ketika dia pulang dan sampai di rumah kembali. Terlepas dari semua urusan
duniawi, ia akan kembali pada Rose yang biasanya.
Sejujurnya, wanita itu suka dengan penampilannya yang
sekarang ini. Memang… cantik sekali ia rasa. Auranya jadi lebih keluar dan
nampak bercahaya. Namun, Rose tidak ingin kehilangan jati dirinya yang
merupakan wanita rumahan dan suka memasak di rumah.
“Kalau begitu, lain kali, kau harus mengajakkku berbelanja!”
ujar Rose begitu saja sambil menarik tangan Anggie kembali. Ke arah luar, untuk
bergabung dengan yang lainnya lagi.
“Hish….” Wanita seksi itu tersenyum kecil seraya menggeleng
lemah. Pasrah saja terbawa ke sana ke sini.
“Bawa aku ke tempat langgananmu, ya!. Aku belum lama tinggal
di negara ini. Jadi belum tahu banyak tempat yang bagus untuk berbelanja,” ucap
Rose seraya menoleh ke belakang. Dia berbicara santai, seolah tidak memiliki
dosa. Padahal tangannya tak henti menarik tangan Anggie.
“I- ya…,” sahut Anggie dengan nada malas. Meskipun begitu,
dia tetap tersenyum sembari terus terbawa tarikan tangan.
Semburat jingga yang berpendar di langit, sudah sepenuhnya
menghilang. Taburan bintang yang kini
menggantikan vista indah di angkasa sana. Malam sudah datang, tepat pukul
sembilan malam sekarang. Adalah waktu yang dijanjikan untuk mereka semua
berkumpul lagi di tempat sebelumnya. Lapangan tembak indoor yang dimiliki markas
besar itu.
Tentu saja, masih menyisakan beberapa anak buah yang
berjaga. Dengan adanya diskusi massal seperti ini, tidak menghilangkan
kewaspadaan mereka sama sekali untuk melindungi markas aka rumah mereka. Jangan
sampai kejadian penyusup terjadi lagi. Keamanan di areal markas ditingkatkan
dari pada biasanya.
Tidak seperti sebelumnya, Rose yang datang terlambat bersama
dengan Anggie. Sekarang, dia yang sudah tiba terlebih dahulu bersama dengan
wanita seksi itu, Relly, juga beberapa orang yang tadi bersamanya.
Saat ini, di atas panggung, tiga orang, Rose, Relly dan
Anggie berdiri bersisian, dengan posisi Rose yang berada di tengah. Netra
abunya menatap nyalang dan tajam pada setiap insan yang mulai membentuk
barisan.
Dilepas tangannya yang berlipat di depan dada, ketika merasa
tak akan ada lagi yang datang. Dia yang berdiri tegak lantas maju. Meraih
microphone yang sudah tersedia. Dan siap untuk berbicara. Rose ingin menyapa
mereka semua terlebih dahulu, sebelum masuk ke poin utamanya.
“Halo! Kita bertemu lagi! Bagaimana kabar kalian malam ini?”
Bersambung…
Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya untukdukung aku dan karya aku..
Terima kasih juga buat yang udah selalu menunggu aku updatesetiap hari
Luuvv buat kalian semuanya ya…
Keep strong and healthy