Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Lebih manis



Crip… cip…


Sepasang burung bernyanyi di atas dahan pohon yang rindang. Saling membalas siulan, seperti mereka terlalu gembira dengan datangnya mentari, pagi ini.


Sepasang makhluk lucu itu, tak lama kemudian terbang. Mengepakkan sayap-sayapnya yang cantik. Diyakini, manusia terkadang iri ingin memilikinya juga. Ingin terbang bebas menikmati vista indah semesta dari udara.


Suara nyaring nan merdu itu bak sebuah alarm alami bagi seseorang. Rose yang mesti rela, meninggalkan alam mimpinya yang indah. Kelopak matanya memisahkan diri secara perlahan. Mengepak indah, seperti sayap-sayap burung, yang baru saja membangunkannya.


Perlu waktu hingga beberapa saat, untuknya mengerjapkan mata. Menghidu aroma yang sudah familiar, bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Ternyata, tangannya pun masih melingkar, pada tubuh kekar seseorang. Bahkan, tubuhnya pun didekap erat.


Masih sambil memejamkan mata, Rose menikmati sensai aman dan nyaman di pagi hari ini. Bahkan selimut pun turut menyapu kehangatan ke seluruh tubuhnya sampai ke dada.


Rose makin mengeratkan pelukannya pada bongkahan kokoh berotot itu. Makin mendekat, makin menempel tubuhnya, makin nyaman ia rasa. Wanita itu berhenti bergerak sampai dahinya membentur sebuah dinding lapang dan keras.


Hidungnya menempel di sana. Ditarik Rose napasnya dalam-dalam, makin menghidu aroma familiar itu dengan rakusnya. Aroma yang menenangkan jiwa raga.


Makin lebar senyumnya, makin tidak tahu diri wanita itu menempelkan seluruh tubuhnya. Kemudian Rose memiringkan kepalanya, sehingga pipinya bisa ikut menempel juga pada sesuatu yang keras, padat dan berotot. Juga hangat.


Senyumnya makin lebar merasakan nyamannya sebuah dinding yang lapisannya kenyal seperti sebuah kulit. Tangannya yang melingkari tubuh itu pun digerakkan. Menyusuri sesuatu yang lapang itu dengan telapak tangannya.


“Halusnya… emm…,” gumam Rose. Dilebarkan lengkung manis di bibirnya.


“Dan… dan…” Wanita itu mulai meraba lagi. Ada sesuatu yang… berdetak… di salah satu sisinya.


Telapak tangannya mulai menekan di sana, di area itu. Untuk lebih memastikannya lagi, bahkan telinganya sengaja ia tempelkan di sana. Untuk mendengar bunyi apa yang barusan ia rasakan detakkannya.


“Ini… ini… “ Rose pun membuka matanya dengan cepat.


Rasa aman, nyaman dan kehangatan yang tadi menyusupi jiwa raganya, seperti ia baru saja sampai di gerbang sebuah taman nan indah. Semua itu terlupakan sudah, kala netranya menyadari apa yang baru saja ia lihat.


Pupilnya membesar, kelopak matanya terbuka semakin lebar. Dijepit Rose bibirnya dengan kuat sehingga napasnya pun ikut tertahan di sana. Sampai salivanya pun ikut tenggelam ke dalam kerongkongan lagi.


“Hai!” Suara Ben mengalun tanpa beban.


Pria itu bahkan sudah berbaring miring sambil menopang kepala dengan satu tangan. Seperti sengaja menanti Rose untuk sadar sendiri dengan ulahnya barusan.


Rose mengerjap pelan saat semuanya masih tertahan, berikut dengan keterkejutannya.


‘Ini… ini tidak mungkin!’ teriaknya dalam hati.


Ben, lelaki itu! Kekasihnya, hah… kenapa dia bisa berada… itu selimutnya, kan! Jadi tahu, kan, saat ini dia… tidak… mereka ada dimana?!


Tidak! Ini tidak mungkin!


Senyum kurang ajar itu semakin membuat Rose ingin menampik apa pun, yang saat ini sedang ia pikir sebagai realitanya. Beberapa gigi Ben pun turut pamer tanpa beban.


Pria itu… ahh… sangat tampan! Terlena sebentar wanita itu melihat bias cahaya mentari menyirami ujung kepala Ben yang rambutnya berantakan, tak tertata.


Kemana bajunya? Itu poin utama yang harus ia pikirkan. Tidak! Rose mesti menanyakannya secara langsung. Kenapa tubuhnya tidak memakai pakaian? Kenapa pria itu bertelanjang dada?


Kepala Rose bergeleng cepat, sangat cepat, ketika dia sedang menampik pemikiran buruk yang melesat  masuk ke dalam otaknya.


“Selamat pagi!” Ben tersenyum kian lebar.


“Kau… kau… bagaimana bisa berada di sini?” tanya Rose, tapi lebih seperti sedang menuduh.


Ben mendengus ringan bersama tawa kecilnya. Sanggahan kepalanya sampai turun, saking ia menahan tawa.


“Jadi kau lupa?” tanyanya dengan alis yang terangkat naik.


Lupa? Lupa apa?


Wanita itu bertanya sendiri dalam hati. Sambil diserbu rasa panik otaknya mulai berpikir keras.


Tadi malam… sebenarnya apa yang terjadi?! Meski sudah seberapa keras dia berusaha, tapi Rose tak dapat mengingat apa pun.


Memorinya berhenti sampai saat dirinya dibanting jatuh ke atas tempat tidur ini. Juga… tatapan Ben yang berkabut dan penuh gairah.


Oh tidak! Tidak mungkin! Jangan-jangan… jangan-jangan hal itu terjadi!


Wajah perempuan itu langsung memelas. Setengah menangis, namun tanpa air mata.


Sedangkan Ben, tetap menopang kepalanya, sambil asyik menikmati tontonan paginya. Wajah panik Rose telah menjadi hiburan paginya, hari ini.


Tunggu… tunggu!


Disibak selimutnya yang bermotif beruang, dengan cepat dan penuh tenaga. Serta wajah panik tak jua lekang dari sana.


“Hah…” Wanita itu langsung merosot lagi ke bantal. Rose kembali merebahkan dirinya sambil bernapas lega.


Ternyata pakaiannya masih utuh! Hanya jaket kulitnya saja yang sudah tergeletak di ujung ranjang.


“Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Hah?” Disentil dahi wanita itu sambil merapatkan gigi menahan rasa gemas.


Naik turun bahu Ben, sebab laki-laki itu berusaha keras menahan tawanya sejak tadi.


“Masih pagi, tapi pikiranmu sudah kotor saja!” tegur Ben lagi. Sudut bibirnya naik sebelah sembari merebahkan diri dengan nyaman.


Mengikuti posisi Rose saat ini, Ben menelentangkan tubuhnya, mengunci kedua tangan di belakang kepala, sebagai tamabahan bantal, guna membuat kepalanya menjadi lebih tinggi dan lebih nyaman.


“Tenang saja, Rose! Aku tidak melakukan apa pun padamu,” ucap Ben tenang. Dipandanginya langit-langit kamar itu sambil menerawang.


Deg!


Rose menoleh, memiringkan kepala sampai ia bisa melihat wajah serta ekspresi kekasihnya itu dengan jelas.


Sebagian hatinya merasa lega, sebagian lagi merasa seperti baru saja dipukul dengan keras. Rose kembali meluruskan kepalanya lagi, sama menatap ke langit-langit kamar. Tak berani ia memandangi kekasihnya itu lebih lama.


Ada sejumput perasaan bersalah. Bagaimana pun juga, ia merasa seperti seorang yang munafik. Rose tahu, ada sisi lain dari dirinya yang mendamba untuk disentuh lebih jauh. Oleh tangan lebar dan kekar, yang setiap kali menyentuhnya selalu memiliki efek setrum dan panas yang membakar.


Namun tetap saja, dia pun sudah berkomitmen dengan dirinya sendiri, untuk menyerahkan seluruh dirinya kepada pria itu, nanti, setelah ia merasa telah cukup menjadi kuat dan tidak lemah seperti ini.


“Lalu… kenapa kau tidak pakai baju?” tuduh Rose lagi untuk mengalihkan pikirannya yang kalut.


Masih tanpa memandang, ia belum siap untuk bertemu mata dengan tatapan Ben yang selalu menginginkan dirinya.


Karena… jika terlalu lama… hanya dengan tatapan itu saja, Ben bahkan sebenarnya sudah bisa meruntuhkan dinding pertahanann yang sudah ia buat sekokoh mungkin.


“Aku gerah!” seru Ben cepat. Pria itu hanya meliriknya sekilas.


Sangat gerah bagi pria itu, karena perlu menahan hasratnya semalaman. Ia pikir, dengan membuka pakaian atasnya, akan mengurangi rasa panas yang menjalar. Nyatanya, ia malah makin terasa terbakar dengan kulitnya yang bersentuhan langsung dengan Rose.


Padahal wanita itu memakai pakaian lengkap. Tidak ada hal seperti wanita itu menunjukkan sesuatu, seperti sengaja menggoda imannya.


Sungguh pun, Rose adalah satu-satunya wanita, yang meski dalam pakaian lengkap dan tertutup pun sudah mampu membangkitkan api gairahnya. Hanya Rose satu-satunya!


Akibat tautan bibir mereka yang panas, wanita itu tidak tahu bagaimana dia berjuang semalaman seorang diri!


“Habisnya, kau memelukku terlalu erat!” Ben melirik lagi, menunggu reaksi wanita di sampingnya.


Meski hal itu adalah ia yang memintanya! Masih untung, kan, dia hanya meminta dipeluk sepanjang malam! Hanya itu… tidak lebih! Bagaimana jika dia minta pertanggung jawaban yang lain.


Bugh!


“Itu, kan, kau yang minta sendiri!” Dipukul Rose dada bidang Ben sambil mengomel.


Akhirnya wanita itu mengingat segalanya. Dari sejak mereka bergumul dalam pertukaran madu hingga negosiasi tidur bersama tanpa melakukan apa pun. Ben hanya minta Rose memeluknya.


Wajah Rose memerah, ia ingat bagaimana ketika dirinya menyetujui permintaan itu dengan malu-malu. Pun sambil menahan diri agar tidak bertindak kelewat batas, yang dapat memancing libido pria itu lagi.


Diyakini Rose, wajahnya saat itu pasti merahnya sama dengan saat ini.


“Aku cuci muka lebih dulu!” Wanita itu segera bangkit dari pembaringannya. Ingin melesat cepat dan melarikan diri agar Ben tidak mengetahui rona merahnya saat ini.


Grep!


Rose kalah cepat! Dengan gerakan cepat, Ben meraih pergelangan tangannya. Menahannya, kemudian menariknya sampai wajah Rose berpaling dan berhadapan dengan wajah pria itu.


Cup!


“Morning Kiss!” Pria itu lantas tersenyum begitu lebar tanpa dosa. Setelah mengecup singkat bibirnya.


“Aku belum sikat gigi, Ben!” protes Rose sambil membelalakkan mata.


Cup!


“Aku tak peduli! Rasanya malah jadi lebih manis!” sanggah Ben setelah mengecup Rose lagi.


“Be-“


Cup!


Dikecup lagi bibirnya sebelum selesai dia menyerukan nama pria itu. Lantas Ben tersenyum makin lebar.


Pegangan tangan itu kendur dan Rose akhirnya bisa melarikan diri. Wanita itu melesat ke kamar mandi sambil menangkup kedua sisi wajahnya yang terasa panas dan mendidih.


Ben tertawa sebentar. Dan kembali merebahkan diri dengan tambahan tangan sebagai bantalan. Pandangannya jadi meninggi.


Pria itu tertawa sinis pada Ben junior yang tengah merekah di bawah sana. Ini belum giliranmu, Kid!


Bersambung…