Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Janji Rose



Semenjak hari itu, Rose berubah menjadi seseorang yang pendiam dan juga dingin. Bersamaan dengan itu pula, sosok Ben, tak juga ditemukan.


Hanya selembar topi kebangsaan yang biasa Ben kenakan. Yang pada saat kejadian, sempat terbang, dihempas angin kencang. Hanya benda itu yang dapat mereka temukan.


Padahal segenap tim sudah dikerahkan, bahkan ditambah dengan tim dari pihak kepolisian, tapi semua tim pencari, tak satu pun yang dapat menemukan jejak Ben, sama sekali.


Ada kenalan lama Ben dan Relly, yang begitu mendengar kabar ini, segera bertindak untuk membantu melakukan tindakan pencarian.


Namun, sudah hampir dua minggu, bahkan, wilayah pencariannya pun sudah diperluas, tapi tetap saja hasilnya nihil.


Harimau Putih berduka, semua orang yang mengenal Ben berduka. Mereka semua merasa sangat kehilangan Ben. Sosok eksentrik, namun sebenarnya penuh dengan kasih sayang.


Kelompoknya, ia anggap keluarga. Markasnya, dianggap rumah baginya. Kekasihnya, ia tempatkan sebagai penantian akhir hidupnya.


Siapa yang tidak merasa kehilangan sosok Benny Callary? Tidak satu orang pun.


Bahkan, meski kelompok mafia yang kontra terhadap sosoknya sekali pun. Mereka merasa kehilangan sosok yang menjadi lawan terkuat dan paling ditakuti, di antara mereka semua.


Meski, hal ini bisa mereka manfaatkan untuk melakukan perluasan wilayah, atau pun memanfaatkan keadaan untuk menjadi kelompok yang terbesar.


Tapi rasa-rasanya, tak ada pergerakan berarti sedikit pun dari mereka. Mungkin, sosok itu, terlalu mereka segani, bersama dengan kelompoknya.


Konflik yang anggota Harimau Putih khawatirkan pun, tidak terjadi dalam waktu dekat, selama pemimpin mereka belum ditemukan.


Padahal, pada masa itu, adalah masa-masa krusial, ketika para pemimpin Harimau Putih, tidak ada yang berkonsentrasi pada kelompok, hanya sibuk dengan pencarian.


Hingga, satu bulang berlalu, semenjak pria dengan ciri khas topi koboi itu menghilang, aksi pencarian pun dihentikan. Semua tim pencari dibubarkan.


Lalu, mereka semua yang mengenal Ben, datang ke pinggir jurang, tempat kejadian nahas itu terjadi.


Semuanya mengenakan pakaian hitam, seakan tengah berkabung dan sedang melepas kepergian Ben untuk selama-lamanya. Mereka semua ikhlas, karena banyak kemungkinan bisa terjadi, di bawah sana.


Air laut dan seisinya, terlalu ganas untuk menyelamatkan, seseorang yang dalam keadaan lemah dan terluka parah. Mereka tidak sebaik itu, untuk membuat Ben kembali pada keluarganya. Pada orang-orang yang menunggunya.


Namun, dari semua orang itu, hanya Rose yang mengenakan pakaian berwarna putih. Gaun berlengan sabrina, dengan bagian rok lebar melewati lutut.


Angin yang bertiup kencang, membuat rambut pirangnya yang digerai, serta bagian roknya, melambai-lambai, seakan sedang mengucapkan selamat tinggal.


Topi koboi yang biasa Ben, kekasihnya pakai, saat ini, berada di tangannya. Seakan, sedang memberikan pelukan hangat antara dirinya dan Ben, kepada calon anak mereka.


Victor dan keluarga kecilnya, berdiri, beberapa langkah di belakang Rose. Di sisi kanan mereka, ada Baz, juga Relly yang sedang merangkul Anggie.


Sebenarnya, Victor pun tengah melakukan hal yang sama. Sebab, sebagai seorang wanita, Bella dan Anggie, sangat tahu, betapa kehilangannya Rose saat ini.


Mereka yang di belakang bahkan tak bisa membendung kristal bening di pelupuk mata. Bahkan mereka tak mampu untuk menampung nelangsa, yang tengah Rose alami.


Lalu, segenap anggota Harimau Putih, berkumpul, di belakang mereka semua. Ikut melepaskan pemimpin yang sudah mereka anggap sebagai ayah. Yang selalu menjaga dan melindungi mereka, walau kadang sifatnya terlalu tegas dan pemarah.


“Kami…,” Ia mengusap perutnya dengan lembut seraya menundukkan pandangan. Lantas, wajahnya memaku dengan tegak kembali. Menatap dengan pandangan dalam, diselimuti kristal bening yang siap mencair.


“Aku… dan anak kita… akan tetap menunggumu di sini. Jadi… kembalilah!” ucapnya kemudian seraya menyusurkan topi yang sedari tadi ia peluk ke kepalanya. Rose mengenakan topi koboi milik Ben di kepalanya sendiri.


Pada saat melakukan hal itu, mengalirlah air mata yang kini telah mencair. Membuat garis lurus, kala ia jatuh ketika Rose bahkan tidak berkedip sekali pun.


Suara pelan, halus dan lembut itu, tak terdengar oleh siapa pun. Hanya terbawa angin sebagai janji, dari seorang perempuan, dan calon ibu bagi seorang janin yang sedang bertumbuh kembang.


Pada saat pelupuknya, tak kuat lagi membendung, kristal yang mencair pun tumpah. Tidak hanya menetes dan membasahi wajah, namun juga tersapu dan terbawa angin yang berembus.


Kesedihan dan pilu, nelangsa dan takdir ini, Rose mengusir mereka pergi. Memerintahkan kepada semua yang membuat jiwa raganya menjadi lemah, untuk ikut terbang bersama angin.


Dalam hati, ia berucap dan berjanji, jika, jasad Ben tak sampai di depan matanya, maka, dia tidak akan menganggap Ben telah pergi dari dunia ini. Rose akan menganggapnya masih menghilang. Hanya belum ditemukan.


Maka, dia dan anaknya hanya perlu tetap kuat dan selalu tegar. Sambil menunggu, lelaki mereka kembali pulang. Meski semua orang menganggapnya, sudah benar-benar tiada. Dalam hatinya, Rose menganggap Ben, tetap ada.


Saat Rose mengucapkan janji ini, di dalam sanubari, angin berembus semakin kencang. Seperti membawa ikrar yang Rose kumandangkan, ke setiap penjuru dunia. Mungkin saja, di sudut terpencil dunia ini, janjinya akan didengarkan. Oleh seseorang.


Berapapun lamanya, meski harus menghabiskan satu dekade, atau satu abad sekali pun, Rose akan tetap menunggu. Menanti kekasih hatinya kembali, juga ayah dari calon bayi yang berada di dalam kandungannya ini.


“Ayo, Rose! Sudah saatnya kita pulang!” ajak Bella. Yang lantas, merangkul lalu membimbing adik iparnya itu untuk pergi dari tepian jurang, penuh kepedihan.


Anggie pun sudah maju. Ia ikut merangkul Rose di sisi yang lain. Memberi topangan, juga kekuatan bagi seseorang, yang sudah ia anggap teman dan keluarga.


Sempat bergeming untuk beberapa saat, Rose lantas mengikuti arahan kakak ipar dan juga temannya. Ketika tubuhnya sudah berbalik, ia menoleh, dan menghentikan langkahnya, untuk beberapa saat.


Melihat, dan menatap ke arah tempat Ben pergi, untuk yang terakhir kalinya.


‘Kami akan menunggumu, Ben!’ sebut Rose dalam hati.


Lalu, ia pun mengikuti langkah kedua wanita itu membawanya. Untuk pergi dari sana. Meninggalkan, jejak kepedihan dan kesedihan dimana takdir ini berawal.


“Kau ikut pulang dengan kami, ya?” ucap Bella, saat mereka sudah berada di sisi mobil yang Victor kendarai. Kakaknya itu juga Bervan, sudah menunggu di sisi mobil lainnya.


“Sementara ini, selama masa kehamilanmu, biar Bella yang merawat dan menjagamu,” ucap Victor hendak membuka pintu.


Mendengar hal itu, lantas, Rose memaku diri, mematung sambil menatap ke arah kakaknya itu, dengan tatapan penuh arti.


“Tidak!” putus Rose dengan tegas.


Kedua wanita yang berada di sisinya pun sampai menoleh, karena terkejut. Kaget mendengar  dinginnya suara yang Rose keluarkan.


Victor, bahkan Baz dan Relly pun ikut menoleh karena jawaban tegas itu.


Bersambung…