Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mirip ayahnya



Di suatu pagi, Daniel dan Della sudah berada di bandara. Tentu saja, ada Emilio yang selalu mengekori di belakang mereka. Dengan alibi, menjalankan tugas, untuk selalu menjaga nonanya.


Tapi, Daniel tahu, bahwa tugasnya tidak hanya itu saja. Menyenangkan hati Della, adalah salah satu tugas utama si pemuda.


Wajah Della dirundung ketegangan sejak ia dijemput oleh sang tunangan. Perjalanan kali ini, sungguh pun membuat hatinya berdebar hebat.


Sebab, destinasi mereka kali ini adalah… suatu tempat, suatu negara, yang paling Della hindari, di seluruh dunia ini.


Secara tidak sengaja, hotel yang ditangani oleh Daniel, akan membuka cabang baru, di negara tersebut. Namun kali ini, sedikit berbeda, karena mereka akan membangun sebuah resort di sana.


Biasanya, di negara lain, mereka akan membangun hotel mewah seperti kiblat bisnis mereka. Akan tetapi, sekarang ini, mereka ingin mencoba peruntungan baru dengan membuka sebuah resort indah dan cantik. Yang letaknya, tepat di lepas pantai, sebuah pulau eksotik.


Meski, tempat yang mereka akan datangi, jauh dari daerah wanita itu tinggal. Namun tetap saja, Della hanya mencoba, menghindari segala kemungkinan terjadi.


Tidak ada yang tahu, kan, apakah mereka akan bertemu lagi atau pun tidak!


Dengan pertentangan keras dari tunangannya itu, Daniel malah makin penasaran untuk pergi ke sana. Apalagi, Della terus saja mengungkapkan alasan kekanakan yang tidak masuk akal. Hal ini pun, membuat Daniel, merasa, semakin curiga.


Mungkinkah… tempat itu, berhubungan dengannya? Atau malah… dia yang asli memang berasal dari sana?


Meskipun demikian, ia tetap harus menyimpan, segala kecurigaannya ini. Ia tidak boleh menunjukkannya di depan Della, atau siapapun.


Sebab, ia tinggal bersama dengan seluruh orang-orang Della, yang juga merupakan orang-orang dari calon ayah mertuanya, August Felipe.


Yang meski, ia belum tahu identitas mereka, yang sebenarnya. Namun, Daniel meyakini, jika identitas tunangan beserta calon ayah mertuanya, tidaklah biasa. Mereka bukan hanya konglomerat biasa. Ada identitas lain, yang mereka miliki.


“Kenapa masih cemberut?” Daniel akhirnya buka suara. Mengusap sedikit pipi Della. Hanya, sebagai syarat agar tidak terlalu kentara sikap siaganya.


“Habisnya, kau tidak mau mendengarkanku! Padahal, kan, bisa, kau memerintahkan orang lain, untuk survey langsung ke sana.” Della mengungkapkan keluhannya dengan bibi mengerut. Pun, sambil mengentakkan kakinya agak keras, berlagak manja pada tunangannya itu.


“Tapi, aku adalah direktur pelaksananya! Lagipula, setelah sekian lama, akhirnya, kita bisa liburan ke luar negeri, kan! Tidak hanya bekerja melulu!” gurau Daniel seraya mencubit kecil, hidung Della.


“Ku dengar, alam di sana sangat indah dan pantainya juga mempunyai ombak yang bagus. Mungkin, kita bisa mencoba surving di sana.”


“Sudah lama sekali… aku ingin berjalan-jalan seperti ini, denganmu!” Pada kalimat terakhirnya, sesekali Daniel melirik pada tunangannya itu. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi Della, atas ucapannya tersebut.


Karena, bagaimanapun juga, ia harus membuat Della melupakan segala keresahan yang tidak tahu apa itu. Agar, Daniel dapat mengeluarkan upaya, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Iya, ya! Benar juga! Kalau dipikir-pikir… kita memang tidak pernah liburan, semenjak kau sadar dari koma!” sambut Della, dengan wajah lebih ceria.


Wanita itu berpikir, mungkin saja, dengan berlibur bersama begini, mereka bisa lebih dekat lagi. Sebab, Della tak memungkiri, jika, Daniel, masih menjaga jarak dengannya.


Seolah, laki-laki itu, belum sepenuhnya, membuka hati untuk dirinya.


Pada akhirnya, wanita itu pun tidak lagi murung dan suasana tidak selalu tegang.


Sementara di belakang mereka, Emilio nampak menatap tajam pada punggung pria, yang tengah digandeng mesra oleh nonanya.


Sebagai sesama lelaki, sepertinya, Emilio menyadari bahwa, semua ucapan Daniel tidak murni. Ada makna dan tujuan lain, dalam ucapan laki-laki tersebut.


Mendapati, punggungnya diserang hawa dingin, Daniel lantas menolehkan kepala. Sepertinya, ia tahu siapa yang memberinya rasa tidak nyaman itu.


Jika, seorang Benny Callary akan menyerang orang yang berbuat demikian padanya. Meski, hanya dengan sebuah tatapan. Namun, seorang Daniel Ernesto melakukannya, dengan cara yang lebih halus dan bijaksana.


“Ahh, Emilio! Kau sudah sarapan? Aku sampai tidak menyadari kehadiranmu, karena kau diam saja, dari tadi!” sapa Daniel dengan senyum ramah.


Maksud ucapannya adalah, sejak tadi hanya ada dunia dia dan Della saja. Dan Emilio berada di luar lingkaran mereka berdua.


Menyindir pengawal pribadi itu, tentang posisi dan statusnya saat ini. Menyentuh derajat yang menjadi penghalang antara dia dan juga tunangannya.


“Sudah, Tuan! Saya sudah sarapan!” jawab Emilio dengan sopan dan sedikit menundukkan kepala.


Meski, dalam hati, pria muda itu tengah menggeram karena marah.


Ya! Dia sadar, bahwa dia hanyalah keset untuk nonanya. Jadi, tidak perlu, diingatkan dengan jelas, lagi. Karena hal itu, hanya melukai harga diri serta perasaan cintanya, yang sulit bahkan hampir tidak mungkin dibalas.


Della, bahkan, hanya menoleh ke arahnya sebentar. Lalu bersikap tak acuh lagi. Lalu, lebih memilih, untuk bergelayut manja, pada Daniel kembali.


Benar-benar! Beberapa tahun belakangan ini, adalah momen paling berat yang harus dijalani oleh Emilio.


Sungguh pun, jika biasanya, Della suka berganti lelaki hanya untuk kesenangannya, Emilio sudah biasa. Namun, kali ini, adalah masa paling lama, Della menghabiskan waktu, dengan seorang lelaki yang dia pilih.


Bahkan, nampaknya, nonanya itu, sudah memakai hati. Sudah menyerahkan hatinya untuk pria itu. Sebab, hanya dengan beberapa ucapan sederhana saja, nonanya itu, sudah akan dengan mudahnya dibujuk.


***


Dan selalu, mereka tidak mau pergi sendirian saja. Selalu, inginnya mereka, berkumpul dengan seluruh keluarga. Victor dan Bella, selalu ingin merayakan hari bahagia mereka, bersama orang-orang terdekat, tanpa ada yang terlewat satu pun.


Jadi, tujuan mereka waktu itu berkunjung ke tempat Rose adalah, selain untuk melepas rindu, keduanya juga bertujuan untuk mengajak Rose, Berly, juga Baz tentu, untuk ikut bersama dengan mereka.


Dan beruntunglah, semua orang menyetujui. Termasuk Paman Alex, juga ikut serta. Karena pria tua itu, sudah dianggap bagian dari keluarga mereka sendiri.


“Semalam Kakak menghubungiku, katanya, dia punya rencana besar saat kita sudah berada di sana,” ujar Bella, kala mereka sedang berada dalam perjalanan menuju bandara.


“Rencana besar?” Victor mengulang. Alisnya menukik bersama rasa penasaran.


“Yah! Kakak tidak menyebutkan secara detail apa rencananya. Yang jelas, ini berhubungan dengan Rose dan juga Berly,” jawab Bella seraya mengedikkan kedua bahu. Ia mengatakan apa adanya. Seperti, apa yang kakaknya itu, katakan kepadanya tadi malam.


Victor menanggapi, dengan menaikkan alis seraya mengedikkan bahunya juga. Meski ia pun tidak tahu pastinya, namun, ia seperti mempunyai sebuah pemikiran.


Entahlah! Jika tebakannya ini benar, ia hanya berharap, apabila, hal ini akan menjadi yang terbaik untuk semua orang.


Pun, ia tidak bisa memaksakan kehendak dan perasaan adiknya. Tetap saja, semua keputusan, ada di tangan Rose.


Bervan yang sudah besar, memerhatikan obrolan ibu dan ayahnya, dari kursi depan. Ia juga punya pemikiran yang sama, seperti Victor.


Anak itu, bukan tidak tahu apa-apa selama ini. Bervan yang sekarang, hanya akan berbicara, sesuai kapasitasnya sebagai seorang anak.


Ia tahu bahwa Paman Baz-nya itu mempunyai perasaan terhadap Bibi Rose kesayangannya itu. Meski, Paman Baz memiliki pertalian darah dengannya. Tidak serta merta membuat Bervan mendukung pamannya itu.


Tetap saja, ia lebih mementingkan kebahagiaan Bibi Rose-nya.


Seperti Rose, ia pun masih berharap paman seramnya kembali. Karena, bagaimanapun juga, bibinya itu, hanya akan bahagia, bersama dengan laki-laki itu.


Haaahhh…. Bervan meniupkan napas panjang melalui mulut, yang setengah terbuka. Ke arah jendela di sisinya. Memandang ke arah jalanan, sambil merapalkan harapannya. Semoga Paman Ben lekas kembali.


***


Seorang gadis kecil, tengah duduk dengan sebuah boneka penguin di pelukan. Ia menduduk pada pinggir taman kecil di bagian depan ruko Zanna Bakery.


Rambut pirangnya yang panjang, dikepang dari atas sampai ke punggung. Diikat dengan pita besar bermotif senada, dengan gaun yang sedang ia kenakan saat ini.


Gaun kuning, dengan motif bunga dan daun kecil. Mirip, seperti yang ibunya miliki, ketika muda. Rambut serta kulitnya yang putih pucat menuruni Rose.


Hanya saja, bentuk serta bola mata anak itu, mirip sekali dengan milik ayahnya. Mata anak kecil itu nampak tegas, dengan netra hitam keabuan. Mirip dengan iris mata Ben yang dominan hitam legam.


Benar! Anak itu adalah Berly. Berly Zanna Callary, yang sebentar lagi akan berusia 4 tahun.


Ia menduduk dengan lutut tertekuk dan salah satu siku tangannya menyanggah ke sana. Sebab, tangan itu, sedang ia gunakan untuk menopang sejumput wajah mungil yang sedang merasa, sangat bosan.


“Rose Callary! Baz Peterson! Apakah kalian masih lama?” teriak anak kecil itu, dengan nada kesal dan tidak sabar.


Kemudian, dengan cepat, ia memasang wajah membosankannya, lagi. Dan tetap, berdiam dengan tenang. Tapi jelas, ia sudah mulai cemberut karena kesal.


Sementara di dalam toko,


Rose dan Baz nampak saling pandang. Keduanya menghela napas tak berdaya.


Jika Baz langsung tersenyum, menanggapi panggilan itu. Rose pun membalasnya. “Panggil aku Mama, Berly!” Dan agak memarahi.


“10 menit lagi Mama tidak keluar, aku akan melakukannya lagi!” Terdengar sahutan dari arah luar.


“Ck! Anak itu…,” Digelengkan Rose kepalanya seraya berdecak. “…benar-benar mirip ayahnya, yang tidak sabaran!”


Deg~!


Hal ini, cukup memukul perasaan Baz. Pria di depannya itu, merasa sedang dibuka matanya, akan kenyataan, bahwa Berly bukanlah putri kandungnya. Bukan darah dagingnya.


Sementara, ia sudah menganggap anak manis dan cantik itu, sudah ia anggap, seperti putri kandungnya sendiri.


Tapi tidak apa-apa! Pria itu menjepit bibir, seraya meneruskan kegiatan mereka lagi. Yang tengah membenahi beberapa barang, agar selagi mereka tinggal, semuanya akan tetap aman di dalam toko.


Dan untuk barang-barang yang akan mereka bawa, untuk berlibur, sudah tertata rapi, di sisi Berly, yang sudah tak sabar, terus menunggu, di depan.


Pada akhirnya, ia tetap akan melaksanakan rencana yang sudah ia buat dengan matang. Baz pun ingin, memberikan sebuah kebahagiaan, untuk Berly. Meski, dia bukan darah dagingnya.


Bersambung…