
“Mama!”
“Rose!”
Rose langsung tahu siapa pemilik suara anak kecil itu. Sementara, suara pria dewasa yang menyusul setelah itu, jelas bukan suara milik orang yang ia kira.
“Berly! Baz!” panggil wanita itu dengan ceria begitu mengetahui siapa yang datang. “Berly! Kau cantik sekali, Sayang!” pujinya pada sang putri.
Anak perempuannya itu mengenakan gaun putih senada dengan yang Rose kenakan. Hanya saja terlihat lebih simpel dengan lengan pendek di bahu.
Anak kecil itu juga memakai mahkota dan penutup kepala yang menjuntai ke belakang. Hanya saja, mahkota yang Berly kenakan, adalah mahkota yang terbuat dari ranting kering dan bunga-bunga segar.
Tampilan Berly saat ini nampak mirip dengan peri kecil dari khayangan. Sangat cantik, suci dan bersinar.
“Mama juga sangat cantik!” Anak itu langsung menyambut tangan ibunya yang sudah merentang. “Papa pasti akan gugup, nanti, saat bertemu dengan Mama! Sama seperti aku sekarang!” tutur anak gadis itu dengan begitu polos.
“Jadi, kau gugup bertemu dengan Mama, hemh?” Berjongkok Rose demi mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tinggi anak perempuannya.
“Hu’umh!” angguk Berly dengan cepat. “Karena Mama terlalu cantik hari ini!” imbuhnya dengan wajah polos.
“Apa kau tahu? Mama jaa-uh lebih gugup karena melihatmu lebih cantik daripada Mama hari ini!” balas Rose seraya mencubit kecil dagu sang putri.
“Baiklah! Kalian berdua memang sangat cantik! Tapi aku yang paling tampan di sini!” sela Baz sembari menyentak kedua sisi jas dengan dagu terangkat naik. “Tapi sayangnya, pria paling tampan ini ingin berpamitan pada kalian!” Pria itu juga berlutut menyamai posisi mereka berdua.
“Baz, apa maksudmu?” tanya Rose heran.
Sementara Berly yang sudah tahu, hanya terdiam. Dipeluknya lengan sang ibu, lalu menatap paman kesayangannya itu.
“Maaf! Aku harus kembali, Rose! Ada urusan mendesak di sana, dan aku harus terbang dua jam lagi!”
“Apa begitu mendesak?”
Baz mengangguk sembari menipiskan bibir. Ada sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan. Dengan jujur. Pada wanita itu.
“Kau tidak mau menungguku naik ke altar?”
“Maaf!” lirih Baz menjawabnya dengan penuh penyesalan.
“Baiklah, kalau begitu!” Diembuskan Rose napasnya begitu panjang.
Merasa tak berdaya karena tidak bisa mencegah temannya itu pergi, di momen pentingnya. Padahal, ia ingin sekali semua orang berkumpul di hari bahagianya ini.
Ketiganya pun berdiri. Baz lantas memberi pelukan pada Berly dan Rose secara bergantian. Mengecup kening anak itu penuh kasih sayang. Lalu berkata dengan lembut. “Kau harus tumbuh menjadi anak yang hebat, cantik dan pintar! Kalau ada kesempatan, datanglah mengunjungi Paman di sana. Oke?!”
“Aku pasti akan sangat merindukan Paman!” balas Berly murung.
Bagaimanapun juga, ikatan keduanya tidak bisa diremehkan. Semenjak lahir hingga sekarang, sosok lelaki yang paling dekat dengan Berly adalah Baz.
Bahkan, Berly tidak sedekat ini dengan Victor. Paman dari pihak ibunya. Anak perempuan bermanik hitam itu, seperti sudah memiliki ikatan batin dengan paman yang selalu merawat dan menjaganya semenjak masih dalam bentuk janin.
Kasih sayang tulus yang Baz berikan pun telah merasuk ke sumsum Berly. Sehingga anak kecil itu sulit sekali melepaskannya.
“Paman juga pasti akan sangat merindukanmu, Sayang! Jika waktu Paman luang, Paman janji, Paman akan datang lagi ke sini. Lalu, kita akan bermain bersama, sampai puas!”
Diulurkan Baz jari kelingkingnya, lalu Berly mengaitkannya dengan jari kelingkingnya yang mungil. Mereka membuat simbol janji yang akan mereka tepati.
“Ingat Paman-!” Baz pun jadi mengernyitkan alis tatkala melihat ekspresi wajah anak gadis itu menjadi sangat serius. “Laki-laki yang dipegang adalah ucapannya!” Seketika, Rose dan Baz pun tergelak bersama.
Lucu sekali mendengar bocah sekecil itu bisa mengatakan kalimat yang begitu dewasa! Plus mimik wajah serta suaranya yang dibuat menjadi sangat serius. Berly! Berly!
“Tenang saja, Berly! Kau pasti bisa memegang ucapan Paman!”
Pria itu pun beralih memandang ibu dari si anak gadis. Wanita yang rambut pirangnya dibiarkan terurai dan bergelombang di belakang bahu dan mahkota kecil di atas kepalanya.
“Rose, aku pergi!” Tanpa permisi, Baz memberi sebuah kecupan dalam pada kening wanita cantik itu. “Selamat, ya!” ucapnya setelah melepaskan ciuman penuh makna tersebut.
Dirinya terlalu terkejut dengan hadiah yang Baz berikan. Rose tahu bahwa itu adalah sebuah kecupan selamat tinggal. Benar-benar selamat tinggal, karena terasa sekali Baz seperti sedang melepaskan semuanya.
Seluruh perasaan cinta Baz padanya yang masih bertahan hingga sekarang. Sama seperti Rose mempertahankan cintanya pada Ben.
Rose berusaha memahami perasaan Baz yang pasti terasa sangat berat. Maka dari itu, ia tak mencegah Baz yang hendak pergi menghindar.
Ditatapnya punggung Baz yang semakin menjauh menuju pintu. Dengan nanar dan penuh prihatin. Semoga saja, pria baik itu juga akan menemukan kebahagiaannya sendiri! harap Rose dalam hati.
Maaf, karena ia tidak pernah bisa membalas perasaan tulus Baz sama sekali!
“Mama!” panggilan Berly menerbangkan lamunannya bersama angin.
“Ya! Ada apa, Sayang?”
“Papa memintaku memberikan ini pada Mama!” Diserahkan Berly sebuah kertas kecil terlipat pada ibunya.
Rose menerima benda itu dan membukanya. Ternyata adalah sebuah surat kecil bertuliskan tangan sang calon suami.
Wanita itu pun tersenyum setelah selesai membacanya.
“Papa bilang apa?” Si kecil pun penasaran.
“Rahasia!” Rose pun tersenyum penuh arti seraya mencubit pelan hidung putrinya.
“Mama-!” Maka, Berly pun terus mengejar supaya diberitahu rahasia yang terdapat pada isi pesan tersebut.
Sementara di luar pintu, Baz baru benar-benar menutup pintu tersebut setelah melihat interaksi ibu dan anak itu. Kemudian, ia pun melangkah sambil membawa senyum.
“Bukannya aku tidak mau melihatmu sampai kau naik ke altar, Rose! Aku takut, nanti aku tak bisa menahan diri dan membawamu pergi. Ch!” Pria itu lantas tersenyum konyol.
Menertawai dirinya sendiri. Dia yang pada akhirnya tetap kalah dalam pertarungan cinta ini. Dalam perjuangan yang sudah dilakukannya tanpa henti.
Baz yang sudah sabar dan optimis akan diterima oleh Rose, setelah kemungkinan Ben kembali setipis benang jahit.
Sayangnya, untuk saat ini, takdir sedang berpihak pada pasangan itu. Halang rintang telah dilalui mereka, dan pada akhirnya mereka tetap bersama.
Baz menyadari, bahwa itu barulah benar-benar namanya cinta sejati.
“Aku kalah, aku akui itu! Tapi….” Baz lantas membuka layar ponselnya. Lalu dikirimnya sebuah gambar pada seseorang. “Tapi aku menang kali ini, Tuan! Karena aku yang pertama melihatnya secantik itu!” Seringai muncul di bibir sembari ia terus berjalan.
Ting~!
Di kamar lain,
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel seorang pria. Lelaki dengan tuksedo putih dan tak ketinggalan topi koboi-nya.
Siapa lagi? Pria itu adalah Benny Callary, calon pengantin lelaki.
“Sial! Dia main curang rupanya!” gumam Ben kesal.
Dilihatnya pesan yang Baz kirim padanya. Foto Rose dengan gaun pengantin yang diambilnya ketika wanita itu sedang berbincang bersama Berly.
Bersama satu pesan lagi yang membersamainya. ‘Dia cantik sekali, kan?’
“Kalau tidak ingat jasanya selam ini, pasti sudah aku hajar dia!” erang Ben sambil terus memperhatikan foto calon pengantinnya yang begitu menawan.
“Dia memang cantik! Dan hari ini…, sangat cantik!” Jempol tangan kiri Ben mengusap wajah Rose pada layar gawainya.
Bahkan Relly pun tidak ia izinkan untuk bertemu dengan Rose. Meskipun memiliki kepentingan khusus. Atau siapapun, termasuk Victor sekali pun.
Sebab, Ben ingin, dia adalah laki-laki pertama yang melihat betapa cantiknya Rose hari ini. Orang lain? Tidak boleh! Titik!
Bersambung...