Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Rose aka Mirabel



Semenjak mereka bertemu di depan toilet, sosok Mirabel sudah Ben tetapkan sebagai Rose pada dirinya yang setengah sadar ini. Tentu saja hal itu disebabkan karena wanita permen Mirabel yang mengaku-ngaku kepadanya.


Saat kesadarannya makin terkikis, pelayan pria itu memberikan sebuah kode entah kepada siapa dengan hanya menoleh ke samping. Seolah sudah ada yang bersiap sedia memantaunya di kegelapan. Kemudian, Mirabel pun dipukul tengkuknya dari belakang oleh seseorang.


Hingga Ben tidak menyadari jika dirinya sudah berpindah tangan. Bukan lagi dipapah oleh Mirabel, namun digantikan oleh seorang lainnya. Seorang pria mengenakan setelan rapi kini menggantikan posisi wanita itu.


Sedang Mirabel, ia diserahkan kepada soerang pria paruh baya dengan tubuh gempal. Yang sudah mereka ajak kerja sama sebelumnya.


Pelayan pria yang pertama membantu Mirabel saling pandang dengan pria yang mengenakan jas hitam. Keduanya saling mengkode dengan mengangguk bersamaan.


Lantas berjalan dan meninggalkan Mirabel di tangan pria gemuk  tadi. Pria mata keranjang yang sedang menjamah tubuh Mirabel dengan pandangan matanya yang mesum dan kurang ajar.


Hingga saat ini,


Ben yang sudah setengah sadar berpapasan dengan ‘Rose-nya’ di depan lift. Rose-nya yang ia sebut tentu adalah Mirabel yang sedang tak sadarkan diri.


Kebetulan sekali, pintu lift jadi tak kunjung terbuka. Sehingga mereka masih sempat berpapasan di sana.


Ben yang setengah sadar pun akhirnya menyadari jika saat ini yang memapahnya bukan lagi Rose aka Mirabel. Sudah berganti dengan sosok lelaki.


Emosinya tersulut saat pandangannya yang kabur dan samar mendapati Rose aka Mirabel itu sudah berada dalam dekapan pria lain.


Ben tidak rela! Kesadarannya pun ia tarik paksa, walau ia belum jelas memandang.


“Erghh…!” Pria bertopi koboi itu pun berhasil melepaskan diri dari dua pria yang menjaganya.


Kebetulan mereka sedang lengah. Tak menyadari perubahan pada Ben karena terlalu fokus menatap ke depan.


“Singkirkan tangan kotormu dari wanitaku!” erang Ben pada si pria gempal.


“Tidak!” sergah pria gemuk itu cepat. Ia pindahkan posisi Mirabel menjadi agak ke belakang, menghindar dari pandangan Ben.


Meskipun ia menolak dengan tegas. Wajahnya tetap tak dapat menyembunyikan rasa gugup dan khawatir jika rencananya akan gagal. Tidak rela pria tua itu jika angannya untuk menikmati tubuh indah ini terbuang terbawa angin.


“Bagaimana ini?” bisiknya pada kedua pria di belakang Ben. Jujur saja, ia mulai bingung dan ketakutan.


Ben yang setengah sadar seperti ini saja sudah cukup membuatnya tertekan. Ditambah saat tangannya menyodor ke depan plus sorot mata tajam yang menuntut. Pria gemuk itu semakin gemetar, takut rencananya gagal.


“Kembalikan wanitaku!” seru Ben lagi dengan tidak sabar. Meski dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, nadanya terdengar serius dan membahayakan.


Dua pria di belakangnya pun mulai menilai jika Ben bukanlah pria sembarangan. Nyatanya, sudah di ambang batas kesadarannya seperti ini saja, Ben masih dapat melepaskan diri dari pegangan mereka yang lumayan kencang.


Juga, masih menyadari dan mengklaim kepemilikannya. Walau sebenarnya tidak benar. Mirabel bukanlah Rose yang dia maksud.


Ben tetap berusaha keras melawan tubuhnya sendiri untuk bisa mendapatkan wanitanya kembali.


Kejar-kejaran langkah pun terjadi. Ben maju, mengejar untuk meraih Mirabel. Namun pria gemuk itu mundur seraya menghindari wanita itu dari tangkapan tangan Ben.


Terus saja begitu sampai kesabaran Ben habis. Meskipun sedang setengah sadar seperti ini, sepertinya limit sabar yang ia punya tetap tidak berubah. Tetap saja sedikit!


“Aw… aw… aawww!” Menjerit pria gemuk itu saat tangannya berhasil dikunci di depan dada. Ben berhasil menghentikan langkah si pria gempal.


Di saat seperti ini saja, Ben masih memiliki tenaga yang luar biasa kuat dirasa pria malang itu.


Ya, ampun pria ini! Tangannya yang menekuk rasanya sudah mau patah.


“Berikan dia kepadaku!” titah Ben sambil menggeram.


Ia tidak suka jika wanitanya disentuh oleh pria lain. Apalagi yang menyentuhnya adalah tangan kotor penuh bakteri kenistaan.


Dua pria itu terus berjaga di belakang Ben. Mencari celah dan waktu yang tepat untuk bisa menangkap Ben kembali. Karena mereka tahu pria itu memiliki skill dan tenaga yang tidak biasa.


Hingga ketika…


Ting~!


Mereka menjagalnya, memegangi seraya menariknya dengan kuat. Sehingga kuncian tangan Ben pada pria gemuk itu pun terlepas.


“Aarrghh…!” Ben memberontak. Ia meronta dengan sisa kekuatan dan kesadaran yang masih bertahan.


“Cepat pergi dari sini!” perintah salah satunya pada pria gemuk itu.


Sejurus kemudian, ia mengunci lengan Ben lalu menyudutkannya ke dinding di samping lift. Topi koboi yang Ben kenakan sampai jatuh karena tubuhnya dihentak dengan keras ke dinding.


Wajahnya menyamping dengan pipi terhimpit ke dinding, karena pria itu juga menekan tengkuk belakangnya. Gerakannya sangat akurat dan profesional. Seperti pria itu sudah sangat terlatih sebelumnya.


“Kembalikan Rose padaku!” erang Ben masih tidak terima. Ditatapinya pria gemuk itu dengan penuh amarah. Namun ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang dibawa oleh pria gemuk itu. Ben masih menyangka jika dia adalah Rose, kekasihnya.


Pria gemuk itu tak perlu menjawab apa-apa lagi, pikirnya. Kepada siapa pun.


Ia hanya perlu lekas pergi dan menghilang dari hadapan pria menakutkan itu. Pintu lift yang masih terbuka lalu dimasukinya sambil menyeret langkah Mirabel yang masih pingsan.


Antara tidak sabar dan masih ketakutan, pria gempal itu memencet tombol agar pintu lift cepat tertutup kembali.


“Sht!” umpatnya kesal. Tangannya begitu gemetar hingga ia tidak dapat memencet tombol itu dengan benar.


Astaga! Dia sangat gugup sekarang. Jantungnya sudah menggebu-gebu di dalam sana bercampur takut dan khawatir.


Bisa saja pria kuat itu dapat melepaskan diri dari pria-pria yang menjaganya, lalu merebut wanita ini darinya. Hal itu makin membuatnya paranoid.


Dan…


Ting~!


Untunglah pintu lift akhirnya bisa tertutup kembali. Dan ia hanya bisa menatap sekilas pada dua orang yang masih berusaha mengendalikan Ben di luar sana.


Dan pada saat itulah, amarah Ben membuncah. Wanita yang ia pikir adalah Rose-nya telah dibawa pergi. Perkara itulah yang memicu murka dirinya.


“Aaarghhh…!” Dia mengerang dengan keras sambil mencoba melepaskan diri.


Ben memberontak, kedua tangannya ia gerakan ke atas supaya bisa terlepas dari tangan lain yang mengekangnya.


Pria yang tadi mengunci Ben pun mundur beberapa langkah. Ia mengambil ancang-ancang berseberangan dengan pria yang satunya. Mereka bersiap untuk melumpuhkan Ben kembali.


Namun, di sisa kesadarannya ini, meski pandangan matanya masih buram dan tidak jelas, Ben tetap berusaha melawan. Kadang pula ia bertahan ketika keduanya menyerang secara bergantian.


Bagh~! Bugh~! Bagh~! Bugh~!


Perkelahian itu memang tidak seimbang karena Ben dalam performa yang tidak maksimal. Walau sebenarnya, kekuatan dalam setiap serangan pria itu masih sama seperti pria normal lainnya.


Hanya saja, terkadang dia lengah karena pandangannya tidak jelas menatap ke depan. Maka tubuhnya pun jadi menerima beberapa kali pukulan dan tendangan.


Hingga akhirnya…


“BEN!!!”


Bersambung…


Nah ini baru siapa yang dateng……hehe


Jangan salah kira orang lagi ya bang!


Ayo teman-teman,,, dukung terus ceritaku ya


dan terima kasih banget buat kalian yang masih setia ikutin cerita-cerita aku..


Keep strong and healthy ya semua,,,