Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Trik di belakang



Esok hari datang disebabkan oleh rotasi dan revolusi bumi pada matahari. Pagi berganti siang lalu malam hari. Hingga hari berikutnya pun datang, mengganti hari kemarin yang suram.


Rumah Victor kemarin diselimuti awan kelabu, serta dirundung perasaan yang menyesakkan dada. Namun, pada pagi menjelang siang hari ini, aura rumah itu nampak secerah langit biru. Gumpalan awan putih yang membentang, membalut terik matahari dengan teduh yang terasa sampai ke hati.


Mungkin karena mereka sudah meluapkan perasaan masing-masing, makanya hari ini semua wajah nampak lebih santai dan tenang. Pun meski dua orang sempat turun tangan untuk menghajar satu orang lainnya.


Tapi, di antara ketiga orang itu, mereka sudah nampak berbicara seperti biasa kembali. Ben, Baz dan Victor, mereka malah sudah mengobrol serius mengenai masalah yang terjadi di markas Harimau Putih.


Tuan Benneth dan Eric yang tidak mengerti duduk permasalahannya pun memilih menyingkir dan mengobrol bersama.


Sementara Bella, sibuk di dapur bersama beberapa pelayan, untuk menyiapkan makan siang. Dan Rose yang bertugas mengajak putranya bermain.


Jangan tanya Nyonya Mira dan Mirabel!


Mentang-mentang sekarang mereka sedang menjadi tamu di rumah ini, mereka tidak mau mengotori tangan sama sekali.


Ibu dan anak itu tidak mau membantu, atau pun sekadar basa basi pada Bella yang cukup kerepotan mengurus keperluan semua orang.


Seperti sudah watak mereka untuk selalu berperilaku seperti majikan, di mana pun mereka berada. Termasuk saat tinggal bersama Rose dulu. Malah Rose yang mereka perdaya untuk menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Sedangkan mereka, sibuk bersenang-senang di luar sana.


“Bibi, bersiaplah! Aku akan menendang bolanya sekarang!” seru Bervan pada Rose.


Bocah itu tengah mengambil ancang-ancang, untuk menendang bola sepak yang berada di hadapannya. Ia akan melesatkan bola itu ke gawang yang sedang Rose jaga.


Bervan tengah menimbang, bagaimana teknik yang akan dia gunakan untuk membuat bola itu melewati Rose, yang berjarak beberapa meter di depan.


Jangan sampai bola yang ia tendang nanti, tertangkap oleh bibinya. Sehingga ia tidak bisa mencetak gol.


Bibi dan keponakan itu, saat ini sedang bermain bola bersama di halaman depan yang lebih luas dan lapang. Sebab di halaman belakang, terdapat banyak pot bunga dan tanaman. Jika mereka bermain bola di sana, takutnya mereka akan memecahkan beberapa pot bunga atau tanaman kesayangan Victor.


Dua-duanya sepakat, untuk menghindari omelan ayah dari Bervan itu. Tidak mau telinga mereka sakit mendengar ocehan jangka panjang dari mulut pria yang sekarang sudah bugar.


“Oke!” Rose mengacungkan jempolnya ke depan dengan wajah serius.


Ia bahkan berlagak bak seorang keeper sungguhan. Kaki dan tangannya terbuka lebar, sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya ke kanan kiri. Wanita itu merundukkan tubuh, ia sudah siap siaga menerima serangan dari keponakannya itu.


Duak~!! Whussshh~!


Bervan berhasil menendangnya. Dan bola itu pun melayang di udara, lalu melambung ke sisi kanan gawang yang Rose jaga.


“Goolll!!” teriak Bervan. Anak kecil itu melompat-lompat girang. Lalu dia menghampiri bibinya yang juga meneriakkan hal yang sama.


“Goolll! Yeah, Bervan! Kau hebat!”


Prok~!


Begitu dekat, Rose langsung merunduk, menanti keponakannya untuk melakukan aksi high five bersama.


“Tapi, kan, Bibi kalah! Kenapa Bibi malah senang?” Bervan menghentikan tawa kemengannya sebentar untuk bertanya.


“Bibi senang karena keponakan Bibi ternyata hebat juga dalam bermain bola,” ucap Rose sambil mengacak rambut bocah itu gemas.


“Benar, kan, aku hebat?” Sambil menunjuk dadanya sendiri dengan kepalan tangannya.


“Tentu saja! Keponakan Bibi pasti hebat!” Rose tersenyum sendu. Lalu ikut tertular tawa Bervan yang riang.


“Yeay, aku hebat!”


“Iya, kau hebat!”


Bahkan bibi dan keponakan itu sama-sama berjingkat senang. Melompat-lompat sambil berseru girang, sehingga membuat suasana di halaman depan menjadi ramai. Hanya karena mereka berdua.


“Ch! Kekanakan sekali!” Dari teras rumah, Mirabel mencibir pasangan itu.


Masalahnya adalah, memang dasar wanita ular itu saja yang tidak bisa mengambil hati anak kecil itu. Caranya cenderung memaksa, sehingga Bervan langsung tidak menyukainya.


Bahkan, pria yang wajahnya menyeramkan itu, memberinya ultimatum agar tidak lagi membuat masalah dengan Rose.


“Tck! Memangnya dia siapa?!” gerutunya pelan tanpa sadar. Sejujurnya, ia masih tidak bisa menerima dipermalukan seperti itu.


Sluurrpp~!


Di samping, nampak Nyonya Mira baru saja menyeruput tehnya sambil melirik ke arah putrinya. Nyonya Mira memperhatikan kemana arah pandangan tajam Mirabel. Kemudian meletakkan cangkir tehnya dengan tenang.


“Wajar saja jika kau tidak bisa dibandingkan dengannya sekarang!” Mirabel langsung menoleh ke arah ibunya.


Tidak ada yang tidak Mirabel ceritakan pada ibunya. Termasuk tentang kejadian semalam. Semuanya, setiap detailnya, Mirabel menceritakan seluruh kronologi kejadian kepada ibunya itu. Makanya Nyonya Mira bisa berkomentar seperti ini.


Lagipula, sudah tercium keanehan saat kekasih dari Rose itu memintanya untuk berdandan secara tiba-tiba. Namun sayang, Mirabel tidak menyadarinya sama sekali. Nyonya Mira berpesan pada putrinya itu, agar tidak bertindak gegabah dalam waktu dekat ini.


“Apa maksud Mama? Bagaimana mungkin aku kalah dari Rose?! Dalam hal penampilan, aku selalu lebih unggul dari pada upik abu itu! Bukannya Mama juga tahu, kan?” erang Mirabel tidak terima.


Ck! Putrinya ini memang tidak sabaran! Kemana otak cerdas putrinya itu? Kenapa dia jadi bodoh sekarang?!


Hh…! Nyonya Mira pun melepaskan napas lelahnya seraya memejamkan mata. Ia perlu menekan kesabarannya sebentar.


“Tuan itu menyuruhmu berkaca, kan?! Kenapa tidak kau lakukan?!” serunya setengah mengomel.


“Mama!” Kenapa pula ibunya itu malahan terlihat kesal?!


“Lihat!” Satu tangannya merentang menunjuk ke arah putri sambungnya dari Tuan Benneth.


Mirabel mengernyitkan alisnya, sebab ia belum mengetahui maksud dari ibunya itu. Melihat kebodohan putrinya itu pun, Nyonya Mira menjadi tidak sabar.


“Dia bukan lagi Rose yang dulu. Lihat penampilannya sekarang! Dia sudah banyak berubah. Pantas jika tuan itu mengatakan jika kau tidak pantas dibandingkan dengannya sama sekali!” celoteh Nyonya Rima panjang lebar.


Mirabel menolehkan kepalanya. Melihati, memindai serta menilai perubahan Rose yang ibunya maksud. Matanya mengerjap pelan, beberapa kali.  Sampai pada akhirnya, ia benar-benar sadar.


Bodohnya!


Dia memang bodoh karena tidak menyadari hal ini sejak awal. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak Rose dan yang lainnya datang?!


“Ya! Dia memang sudah berubah!” tatap Mirabel penuh arti.


Dari segi penampilan saja, Rose bukan lagi wanita kampungan yang tidak tahu style. Kadang Rose terlihat manis dengan pakaian rumahan. Namun ketika datang, ia memiliki kesan tajam yang berbeda dengan celana kulit ketat, serta jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya paling luar.


Rambutnya juga tidak melulu dikuncir kuda atau pun dikepang seperti dulu. Sekarang Rose lebih bebas dengan lebih sering menggerainya. Membiarkannya semakin bercahaya dan berkilau dengan bias sinar matahari yang jatuh tepat di rambut pirangnya yang kuning keemasan.


Ditambah dengan senyum cemerlang dari bibir wanita itu, Rose nampak semakin bersinar. Dan hal itu membuat Mirabel semakian geram dan kesal.


“Bagaimana bisa?!” desahnya kesal sendiri.


“Jika kau masih menginginkan pria itu, gunakan otakmu dengan benar! Sepertinya dia bukan pria sembarangan. Kau tidak bisa terang-terangan untuk mendapatkannya. Gunakan sedikit trik di belakang!” Nyonya Mira, sebagai wanita ular senior pun menasehati dan memberi saran kepada putrinya, si wanita ular junior.


Bagaimana pun juga, ia mempunyai lebih banyak pengalaman daripada putrinya itu!


“Trik, ya? Heh!” Mirabel pun tersenyum sinis sambil memandang ke arah Rose berada.


Bersambung…


Namanya orang tua mah ngajarin yang bener,,, eh, ini mah diajarin yang ga bener doonggs,,


Eh,,, anaknya juga ga ada kapoknya lagi!!


Haduhh,, belum tau dia kalo babang ben udh marah!!