
Mereka yang tengah berkelahi pun jadi menoleh ke asal suara. Terutama Ben, yang sangat hafal dengan suara merdu namun kadang juga memekak telinga.
‘Rose!’ gumamnya dalam hati.
Sambil menghadap ke arah wanita yang baru saja datang, ia usap sebelah matanya dengan kasar. Lalu bergantian dengan yang satunya lagi. Sambil memicing, mencoba melihat dengan lebih jelas lagi.
Saat ini, ia merasa seperti ada kabut yang menutupi pandangan matanya. Buram. Muram. Samar. Sampai ia kembali mengusap kedua matanya lagi. Hanya bayang-bayang semu dengan siluet gaun merah maroon yang dapat ia tangkap melalui pandangan matanya.
“Kau… Rose?” tanya Ben yang terus menggerakkan urat-urat matanya. Masih berharap jika pandangan matanya menjadi lebih jelas dan nyata.
Perlahan ingatannya kembali dengan benar saat menilai apa yang tengah dikenakan oleh wanita di hadapannya ini. Mereka memakai pakaian yang senada. Ben ingat, ini adalah pemintaannya sendiri. Agar mereka terlihat matching dan kompak sebagai pasangan.
Jadi tadi itu… bukan Rose-nya? Jadi tadi itu siapa?
Ben mulai bertanya-tanya, siapa gerangan wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya, tadi. Bahkan wanita itu sudah sempat ia perjuangkan dengan begitu kerasnya.
Ya, ampun! Ben benar-benar merutuki dirinya sendiri. Kalau begitu dia sudah memperjuangkan wanita yang salah.
Pria itu kini sungguh kebingungan. Ditukikkan Ben alisnya dengan begitu dalam. Dan sungguh! Ia sangat ingin menghajar wanita yang sudah mengaku-ngaku menjadi kekasihnya itu.
“Heh! Untunglah, kau masih selamat!” sindir Baz halus pada Ben, ketika dia baru saja sampai di sana. Sepatu hak tinggi milik Rose masih berayun di tangannya.
Napasnya agak terengah karena berlari mengejar Rose, yang langkahnya sangat cepat.
“Kau?” Wajah Ben jadi ikut mengerut saat mendengar suara itu.
Yang jelas ia familiar dengan suaranya. Biasanya, ia anggap sangat mengganggu. Dia pasti Baz Peterson, saingan cintanya.
“Bagaimana kalian bisa bersa-… ugh~!”
Momen itu pun dimanfaatkan dengan baik oleh salah satu dari mereka yang menjadi lawan Ben saat ini. Lekukan kaki Ben ditendang dari arah belakang, sehingga lelaki itu jatuh melutut ke lantai.
Bagaimana Baz dan Rose bisa bersama sekarang? Hal itulah yang ingin Ben tanyakan. Pasalnya, samar-samar ia melihat stiletto milik Rose berada di tangan pria itu. Dan… Ben tidak suka.
Namun pertanyaan itu harus tertelan kembali ke dalam tenggorokan, lantaran dirinya dilumpuhkan.
“Hey, apa yang kalian lakukan kepada kekasihku?!” teriak Rose marah. Ia lempar clutch silvernya ke sembarang arah.
Yang nyatanya, lemparan itu mengarah pada Baz kembali. Hingga pria itu mesti melakukan hal yang sama seperti tadi.
“Hk…!” Sambil memegangi stiletto milik Rose, Baz pun menangkap tas kecil yang baru saja mengudara itu.
“Memangnya aku ini tempat penitipan barang, atau tempat pembuangan sampah?! Heh~!” gerutu Baz kesal.
Bukan ada-ada saja lagi, tapi wanita itu memang seenaknya saja, pikirnya.
Baz mencibir, apalagi saat melihat bagaimana Rose sangat memedulikan pria lain, meskipun notabene itu adalah kekasihnya sendiri.
Lihat saja! Bagaimana wanita itu begitu bersemangat berjalan ke arah sana!
Apa mungkin, Rose sekarang sudah tertular virus si raja tega, Benny Callary?!
Karena ia sudah menjadi kekasihnya, dan mereka sudah banyak menghabiskan waktu bersama?! Jadi sekarang, pola pikir dan sikap mereka menjadi sama?! Mungkinkah begitu?
Heh~!
Sekali lagi, bibirnya mencibir ketika melihat Rose menghambur ke arah Ben, kemudian melutut di sisinya. Malah kemudian memandang nyalang, pada dua pria yang tengah berdiri, bersiap untuk menyerang lagi.
Seperti induk semang yang tengah melindungi anaknya! Begitu bagaimana Rose merangkul, melindungi Ben dengan tangannya.
Meskipun kesal, Baz tetap meletakkan benda-benda yang ia pegang dengan hati-hati, ke lantai. Kemudian ikut berbaur dengan pasangan kekasih itu.
Baz siap dengan ancang-ancang pada kedua tangan yang mengepal di depan dada. Rose dan Ben pun beranjak berdiri. Mereka pun melakukan hal yang sama.
Posisi dua pria tadi saling berseberangan. Mereka lalu berpandangan dengan kedua mata yang menyipit, seperti membuat kode yang hanya mereka ketahui.
Benar! Karena mereka harus segera menyelesaikan misi ini. Dua orang yang baru saja datang, yakni Baz dan Rose, mereka tidak ketahui. Namun insting mereka mengatakan, mereka harus menyingkirkan dua orang itu, agar mereka bisa membawa pria yang menjadi target mereka. Yang tak lain adalah Ben tentunya.
“Rose, sebaiknya kau bawa kekasihmu sekarang! Aku bisa menghadapi mereka berdua sendirian,” seru Baz sambil tetap berwaspada. Menghadap ke depan, dan hanya sekali lirik ketika berbicara.
“Tck! Sombong sekali!” decak Ben tidak suka. Walaupun sebenarnya, tubuhnya sudah mulai tidak tahan dengan gejolak luar biasa itu.
“Tapi-,“ tukas Rose bingung harus membuat keputusan bagaimana.
Di satu sisi ia tidak tega meninggalkan temannya itu sendirian. Juga tidak yakin apakah Baz mampu menghadapi dua orang itu sendirian.
Lalu, di sisi lain, ia sudah sangat khawatir dengan kondisi Ben yang nampak tidak baik sama sekali. Peluh sebesar biji jagung sudah memenuhi dahinya. Dan sejak tadi, Rose memerhatikan jika tubuh kekasihnya itu semakin melemah. Dia tidak sekuat dan segagah Ben yang biasanya.
Ada apa dengan kekasihnya itu? Rose ingin sekali bertanya.
“Aku masih bisa bertahan. Kita singkirkan mereka dulu!” Ben segera memberi keputusan.
Ego dan harga dirinya, tidak mengizinkan ia untuk bergantung pada seseorang. Apalagi orang itu adalah saingan cintanya sendiri. Jika ia menyerah sekarang, maka harga dirinya akan sangat terluka.
“Terserah!” sahut Baz malas.
Apa yang tengah pria itu rasakan, tanggung sendiri! Yang penting, tadi dia sudah mencoba menawarkan diri.
Rasanya terlalu malas, jika harus berdebat dengan orang yang keras kepalanya, seperti dia. Huh~!
“Baiklah, kalau begitu kita bisa bekerja sama!” seru Rose pada Ben.
Wanita itu tahu, jika kemampuannya belum begitu bagus jika dibandingkan dengan Ben dan Baz. Pasti masih sangat jauh. Tapi paling tidak, ia sudah memiliki bekal dan dasar ilmu bela diri.
“Ya!” angguk Ben pada tatapannya yang sayu.
Maka, Baz maju ke arah pria yang menjadi lawannya. Juga, Rose dan Ben yang kini sudah berhadapan dengan pria yang satunya lagi. Sekarang mereka terbelah menjadi dua kelompok.
Perpaduan Ben dan Rose saat menghadapi lawannya, nampak bak sebuah koreografi yang indah. Keduanya tidak menyerang secara terpisah. Namun menjadi satu kesatuan tatkala melemparkan sebuah bogem mentah ataupun sebuah tendangan.
Kadang mereka saling berpegangan tangan untuk meninju lawan. Kadang mereka saling memeluk untuk memberi tendangan dari depan. Perut dan rusuk orang itu pun tak luput dari sikutan yang Rose berikan.
Sambil terus menyerang orang yang menjadi lawannya, mata Baz sesekali menatap ke arah dua sejoli itu. Bibirnya kembali mencibir karena kesal.
Tidak di markas, di rumah Victor, dimana pun, bahkan di sini sekali pun, ketika mereka bertarung, selalu saja dijadikan tempat untuk ajang pamer kemesraan.
Bugh~!
“Sial!” umpat Baz ketika pipinya terkena tinju.
Heh! Bisa-bisanya, gara-gara melihat pasangan kekasih itu, ia jadi lengah. Dan orang yang sudah berhasil memukulnya, nampak tersenyum samar.
Mungkin orang itu merasa puas karena sudah memberikan tanda di wajah tampannya!
Tapi tidak ada yang kedua kali! Baz tidak akan membiarkan tangan orang itu menyentuh wajahnya lagi. Tidak! Bahkan tubuhnya sekali pun!
Bagh~! Bugh~!
Tidak hanya Baz yang bersemangat untuk melumpuhkan lawannya. Namun pasangan Ben dan Rose juga sama. Pada detik itu juga, mereka tak berhenti menyerang. Tak memberikan ruang dan waktu bagi mereka untuk melawan atau sekadar bertahan.
Hingga, keduanya tersudut bersamaan. Mereka kembali berpandangan. Seperti hanya perlu mata mereka saja yang berbicara. Karena memang, sejak tadi, tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir keduanya. Mereka seperti sudah saling mengerti tugas dan hal apa yang mesti mereka lakukan masing-masing.
Ting~!
Pintu lift di depan mereka terbuka. Tidak ada yang tahu, kapan dan siapa yang sudah menekan tombol di sana.
Dua pria misterius itu pun memasukinya dengan cepat. Lantas menutup pintu ruang sempit itu kemudian.
Rose hendak menyusul dan mengikuti mereka masuk ke dalam sana, namun Baz menahan dengan mengulur sebelah tangan ke depan. “Jangan!”
Ditolehkan Rose kepalanya sambil mengernyit bingung. “Kita harus mengejar mereka! Agar bisa mengetahui siapa orang yang berada di balik semua ini.”
“Sampai sini saja, semuanya sudah jelas! Daripada mengejar mereka, lebih baik kau urus kekasihmu itu!” Karena semuanya nampak semakin jelas di mata Baz.
Ini pasti ulah Della Moran August. Sebab, pria-pria yang mereka lawan tadi bisa dibilang cukup kuat dan profesional. Jadi, tidak mungkin jika Mirabel yang melakukannya! Punya uang darimana dia bisa menyewa orang-orang terlatih seperti mereka?! Baz tidak yakin akan hal itu.
Keduanya pun mengalihkan pandangan ke belakang. Dimana Ben sudah jatuh melutut dengan napas terengah-engah, satu tangannya pun menopang ke lantai. Seperti beban tubuhnya saat ini sudah sangat berat ia rasa. Dan sudah tidak sanggup lagi untuk ia tahan gejolak yang semakin menggila di dalam sana.
“Ben!” seru Rose khawatir sambil menghampiri kekasihnya itu.
Bersambung…