
Untuk meninjau proyek resort yang sedang dibangun di sana, maka Daniel dan Della, harus menginap di penginapan lain, yang terdekat dan juga mempunyai fasilitas yang berkelas.
Maka, sebuah resort yang letaknya tak seberapa jauh, mereka pilih agar, masih bisa mereka jangkau, dengan berjalan kaki, proyek mereka itu. Dan lagi, fasilitas yang ditawarkan pun, cukup memuaskan.
Dan, meskipun Daniel dan Della sudah bertunangan lama, mereka tidak pernah sekalipun berada di dalam satu kamar. Bahkan, jika Daniel tinggal di salah satu president suite di hotel yang dia kelola, Della tidak pernah ia izinkan, untuk menginap di kamarnya.
Wanita itu pun, akan pulang ke apartement mewahnya. Satu di antara tempat tinggal lain, yang ia dan ayahnya itu miliki.
Kadang kala, ia pulang dengan perasaan kesal. Sebab, masih saja, belum bisa mendapatkan pria itu, secara utuh.
Maka, di tempat ini pun, mereka memesan tiga kamar. Untuk Daniel, Della dan Emilio.
Jangan lupa, jika, pengawal pribadi itu, masih bersama dengan mereka! Selalu dan akan terus menjadi bayang-bayang pasangan Daniel dan Della.
“Oh, Sayang! Apakah kau tidak mau beristirahat di kamarku? Rasanya pasti nyaman sekali, tidur di dalam pelukanmu!” ucap Della ketika mereka sudah sampai di depan pintu kamarnya.
Wanita itu tidak mau melepaskan pelukannya pada Daniel. Tidak rela, rasanya.
Padahal, mereka sudah datang ke tempat indah seperti ini. Tapi, tetap saja, harus dijalani dan dinikmati seorang diri. Tidak seperti pasangan umumnya, yang akan menghabiskan hari-hari berdua saja, di dalam kamar.
“Hm… sayang sekali! Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku tangani. Lalu, ada meeting satu jam lagi. Aku harus tetap menghadirinya, meskipun sedang berada di sini.”
Dengan perlahan dan lembut, Daniel melerai pelukan Della padanya. Mengalihkan rengkuhan tangan tunangannya itu, agar berpegangan pada lengan seseorang di sampingnya lagi.
Ya! Sekarang Della merangkul lengan Emilio. Entah sadar atau tidak! Yang jelas, Della, tidak mengalihkan pandangannya sama sekali pada Daniel. Dengan tatapan memohon yang teramat sangat. Oh, ayolah!
“Sayang, kita baru saja sampai setelah menempuh belasan jam penerbangan. Dan kau, masih memikirkan pekerjaan?!” tanya Della. Mulutnya meringis tak percaya.
Dan, Emilio hanya melirik keduanya dalam diam. Ia tidak punya hak apa-apa sama sekali, untuk turut ikut campur di dalam pembicaraan pasangan itu.
Di sini, ia hanya digunakan dan dipekerjakan, Emilio menyadari hal itu.
Tidak bisakah, tunangannya itu, meninggalakan urusan pekerajaan. Dan hanya berfokus kepadanya. Toh, apa yang Daniel jalankan, adalah jabatan palsu. Meski, apa yang ia kerjakan selalu benar.
Jika pun Daniel sudah bosan dengan pekerjaan itu, Della bisa memberikannya pekerjaan lain. Atau, hal apapun yang pria itu minta. Asal, Daniel, harus menjadi miliknya dulu. Harus melayaninya, sampai puas.
Hotel mewah yang Daniel kelola, serta proyek pembangunan resort ini, adalah sebagian kecil dari apa yang Della dan ayahnya punya. Jadi, hal ini tidak seberapa penting baginya. Karena pun, masih ada dan banyak, orang-orang andal yang bisa mengurus itu semua, tanpa adanya sosok Daniel sekali pun.
“Aku tidak ingin mengecewakan amanat ayahmu!” Diusap Daniel, pipi Della dengan lembut. Seolah mengandung banyak kasih sayang.
Padahal, itu hanya tipuan. Semuanya terasa semu, bagi Daniel sendiri.
“Tapi-“ Della memegang tangan kekar yang akan turun dari pipinya. Namun, sanggahannya belum jadi keluar dari mulut, lantaran Daniel sudah memotongnya.
“Aku janji, besok, hariku adalah milikmu. Kita akan bersenang-senang seharian.” Menggenggam jemari Della yang sedang menggenggam tangannya sembari tersenyum.
“Lagipula, sekarang sudah malam. Kau beristirahatlah! Oke!” Diusap Daniel ibu jarinya pada punggung tangan Della, sebelum ia melepaskan pegangan tangan mereka. Lantas, ia memandang sendu, pada wanita yang menjadi tunangannya itu.
Daniel menarik koper miliknya sendiri. Dan, hal ini, memang ia lakukan sejak mereka berangkat. Pria itu, tidak merepotkan siapapun, sama sekali. Meski, ada Emilio di antara mereka, yang sebenarnya bisa ia suruh-suruh, tanpa ada perlawanan. Karena tentu, Della akan mengecamnya.
Pria itu, hanya, tidak suka merepotkan orang lain.
Kamarnya terletak di sebelah kanan kamar Della. Sedang kamar Emilio, berada di sisi kirinya.
Clek~!
“Bye!” ucap Daniel lembut setelah menyeret kopernya masuk ke dalam. Pun, bersama dirinya yang sudah berada di balik pintu.
Clek~!
Pintu itu pun tertutup perlahan. Pun, menutup pandangan Della dari senyuman hangat Daniel.
Heehm…. Wanita yang masih memeluk lengan Emilio itu lantas menghela napas lelah.
Memanglah, ia sudah tidak bisa memaksa tunangannya!
“Padahal, dia yang mengantarkan, tapi dia juga, yang masuk duluan! Ch!” gerutunya seraya berdecak pelan.
Bagaimana pun juga, kali ini, yang bisa Della lakukan, hanyalah menanti dan menunggu permainan. Sebab, yang memegang kendali permainan kali ini, adalah Daniel, tunangannya.
“Ayo, masuk!” ajaknya lalu, pada Emilio. Yang tangan kanan dan kirinya, tengah memegang koper milik Della, juga miliknya sendiri.
“Baik, Nona!” angguk pria itu patuh.
Seorang pegawai membukakan pintu untuk mereka. “Silahkan, Tuan, Nona!”
“Karena Daniel tidak mau menemaniku malam ini, jadi, kau yang harus menemaniku!” ucap Della memerintah dengan acuh tidak acuh.
“Dengan senang hati, Nona!” jawab Emilio masih dengan nada patuh. Ia pun ikut terbawa saja, tarikan Della pada lengannya.
Meski apapun keadaannya, Emilio tetap senang. Karena pada akhirnya, nonanya itu, akan tetap berakhir, dengan memilih dirinya. Untuk menghabiskan malam, juga melepaskan penat dengan sebuah pergulatan panas.
Pegawai itu lantas undur diri, setelah menyerahkan kunci kamar milik Emilio. Sambil berjalan, ia jadi merasa agak pusing setelah bertemu tiga orang tadi.
***
Benar memang, jika saat ini, malam sudah menjelang.
Perayaan kecil-kecilan keluarga kecil Victor dan Bella pun telah usai, dengan penutup sebuah makan malam yang hangat.
Sementara pasangan suami istri itu berkumpul dengan anak-anak mereka, untuk melakukan sesi foto bersama. Rose dan Berly, nampak menyingkir.
Ibu dan anak itu, duduk bersama, pada sebuah bangku panjang, yang tersedia, di taman, masih di area acara makan malam itu berlangsung, di resort yang mereka tempati, saat ini.
Harapan dan doa telah Rose sampaikan, jadi, saat ini, adalah waktunya, untuk menemani sang putri.
“Mama! Kapan kita bisa foto seperti itu?” tunjuk Berly pada keluarga sepupunya.
Yang sedang menikmati momen hangat juga kesempurnaan dari sebuah keluarga. Putri kecil itu, hanya tidak tahu, apabila, Kak Bervan-nya, pernah mengalami apa yang sedang ia alami saat ini.
Namun, badai segera berlalu, ketika kita sabar melewati dan menerima cobaan yang datang itu. Kini, keluarga kecil itu, hanya sedang menikmati buah hasil, dari kesabaran juga doa yang tak putus.
Diikuti Rose arah telunjuk putrinya itu mengacung. Tatapannya berubah sendu, wajahnya pun mendadak gemetar.
Sebenarnya, sejak awal, Rose ingin menolak ajakan kakaknya. Sebab, ia ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan menjurus, yang akan dilontarkan oleh sang anak.
Batin Rose, benar-benar belum menyiapkan jawaban apapun untuk semua hal itu. Ia bahkan, belum memilih jawaban yang tepat, yang mana yang semestinya ia berikan pada Berly.
“Memangnya, Papa bekerja di mana? Kenapa Papa tidak pulang-pulang, sampai aku sebesar ini?” tanya lagi anak kecil yang pipinya mulai memerah, karena terkena dinginnya angin malam.
“Berly-!”
“Ma! Aku pasti punya Papa, kan, seperti orang lain? Seperti Kak Bervan dan Ellia?” Lagi, pertanyaan Berly semakin menusuk hatinya. Dan membuat Rose semakin menjepitkan bibirnya menahan tangis.
Putrinya terlampau dewasa untuk ia terus menerus berbohong seperti ini!
Rose tahu, pasti Berly sudah menyimpan sebuah kecurigaan, namun anak kecil yang masih polos itu, bingung untuk menyatakannya bagaimana.
Oh, Tuhan! Apa yang harus ia lakukan?!
Sementara kristal bening, mulai mencair dari pelupuk matanya, dengan tidak sopan. Padahal, ia sudah berniat, tidak akan menangis, jikalau, putrinya akan bertanya mengenai hal ini lagi.
“Mama menangis?” Yang dimasud anak kecil itu adalah, apa yang membuat mamanya menangis. Apa alasannya.
“Berly, tolong peluk Mama!” Direntangkan Rose kedua tangannya ke hadapan sang putri. Seraya tak bisa, membendung lagi, perasaan pedih ini. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya sekarang?
Setelah, ia berusaha untuk tetap tegar dan memendam sakit ini sendirian. Apakah sudah tepat waktunya, untuk mengatakan, bahwa putrinya itu, tidak memiliki ayah.
Bukan! Maksudnya, ayahnya, masih menghilang entah kemana. Yang bahkan, kemungkinannya sangat kecil, untuknya kembali.
Sebab selama ini, Rose hanya berpegangan pada keyakinan dan harapannya saja. Sedangkan, hasil pencarian dan penelusurannya selama ini, tidak juga membuahkan hasil.
Tanpa ada keraguan, Berly lantas memeluk ibunya. Masuk ke dalam kehangatan, yang hanya bisa ia rasakan satu-satunya di dunia ini. Pelukan seorang ibu, yang menguatkan, punya tingkat kenyamanan tak terkira.
Lantas, Rose merengkuh, mendekap erat tubuh sang putri. Berly pun mendekap punggung ibunya, seluas tangannya mampu. Ia benar-benar menempelkan wajahnya, pada dada ibunya, yang terbungkus, sepotong gaun berwarna pink lembut. Senada dengan yang dikenakan Berly saat ini.
Hanya saja, Rose tidak pernah meninggalkan jaket kulit hitam, ciri khasnya. Benda itu, selalu melekat, entah dengan benar di tubuhnya, atau sekadar melingkar di pinggang.
“Berly, Mama ingin membuat pengakuan! Tapi Mama harap, kau tidak akan marah setelah Mama selesai bercerita,” ucap wanita itu, seraya mengayun-ayunkan tubuhnya bersama tubuh sang anak di dalam dekapan. Dalam tempo lambat yang menghanyutkan.
Tangan Rose pun tidak berhenti, mengelus, kepala Berly. Ia juga meletakkan dagunya pada ubun-ubun sang bocah, benar-benar menempelkan tubuh mereka sangat erat. Sebagai pelipur, dari segala keraguan dan keresahan yang tengah Rose rasakan.
Sekarang, bukan lagi seorang ibu yang sedang memberikan energi, semangta untuk sang anak. Tetapi, Rose sedang menyedot energi putrinya, untuk limit keberaniannya yang sudah menyentuh batas minimum.
Dianggukkan Berly kepalanya, dalam pelukan. Dekapan yang amat erat itu, bahkan, tidak mengganggunya sama sekali. Malah, anak perempuan itu, seperti makin nyaman, seperti sedang sangat terlindungi, oleh sebuah selimut tebal.
“Janji?”
“Hem… janji!” Rose merasakan, anggukkan itu semakin terasa meyakinkan.
“Baiklah! Sekarang Mama akan memulainya…,” Merasakan anak kecil itu memutar kepala untuk menengadah, maka Rose menurunkan pandangan, seraya bertanya dengan matanya. Ada apa?
“Tolong jangan lama-lama!” Anak kecil itu, langsung menolehkan kepalanya kembali, setelah mengajukan permintaannya.
Tsh! Hah…, decak Rose seraya tertawa sendiri.
Oh, lucunya anak ini! Selalu saja, dalam hal kesabaran, anak ini memang menuruni, 100% gen dari ayahnya. Si tuan seram yang tidak sabaran.
Oh, sungguh! Rose benar-benar berharap mereka bisa bertemu lagi. Meski harapannya sangat kecil, ia rasa. Sebab, ia dan putri kecilnya, sudah sangat merindukan orang itu.
“Oke! Oke!” Dan Rose pun, mulai menceritakan kisah itu. Tentang kejadian nahas yang terjadi 4 tahun lalu.
Entahlah! Ia tidak tahu! Bagaimana, putrinya, akan merespon ceritanya, nanti?!
Bersambung…