
Relly mulai menceritakan perihal keluarga Zayn dan masalah yang ada di sana. Tentu saja Ben mengenal ayahnya Zayn, Johan. Mereka memang orang-orang kepercayaan Tuan Danu pada masanya.
Dari Johan yang kecewa karena Tuan Danu lebih memilih Ben, untuk mejadi ketua, ketimbang dirinya. Lalu Johan memutuskan untuk mengundurkan diri. Kemudian menjadi manusia setengah waras, karena tidak rela jabatan kosong itu tidak berpihak kepadanya.
Dan tentu saja, puncaknya adalah, ketika ibunya meninggal. Zayn menjadikan Ben sebagai sumber kekacauan hidupnya.
Jangankan Ben, bahkan Relly sendiri, yang mendapatkan informasi ini dan menceritakannya secara langsung saja, dibuat terpukul. Tidak menyangka dengan nasib buruk yang menimpa saudara mereka.
Bahkan Rose yang baru mengenal mereka semua, dan baru sedikit mendengar sekelumit masa lalu mereka saja, ia sudah dapat membayangkan apa yang dirasakan kedua orang itu.
Ben dan Relly, adalah dua sosok yang paling dekat dengan Zayn selama ini. Sebelum kehadiran Anggie. Meskipun begitu, hingga saat ini, mereka tetaplah seperti saudara. Jauh di lubuk hati mereka masing-masing.
Perasaan itu sebenarnya sangat terasa, bahkan bagi Rose yang merasa menjadi orang asing, di antara mereka semua.
Rose dapat melihatnya. Jelas! Dari perasaan kecewa dan rasa bersalah yang perlahan menguasai jiwa mereka. Nampak, alis mereka bertaut kepedihan. Kening mereka pun berkerut kesedihan.
Detik ini, Ben, amarahnya makin meningkat pesat. Giginya gemerutuk di dalam rongga mulut, menahan gejolak luar biasa setelah mendengar semuanya. Disandarkan Ben kepalanya ke sofa. Karena rasa pening yang menyerang, pria itu memejamkan mata.
“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Relly dengan segala kegelisahannya.
Zayn sudah terlalu berbelok dari jalan yang seharusnya. Sudah terlalu banyak masalah yang dia lakukan. Namun… tidak bisa sepenuhnya juga, mereka bisa menyalahkan hal itu kepadanya.
“Apakah… seharusnya aku tidak menerima tawaran ‘ayah’ saja, waktu itu?” Ben memberikan jawaban dengan sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Nadanya lemah, bahkan berulang kali, dia menghela napas.
Ayah yang dimaksud, tentu saja Tuan Danu, pemimpin mereka sebelum Ben. Sebab, Tuan Danu memang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, oleh Ben yang tak memiliki keluarga.
“Tidak boleh ada penyesalan dalam hidup ini, Ben!” tutur Rose bijak. Meskipun tadi, wanita itu sempat menghela napas begitu berat.
Dibuka Ben matanya yang semula tertutup rapat. Masih sambil menyandarkan kepalanya di sofa, Ben menoleh ke arah Rose. Begitu juga Relly, mereka mengalihkan pandangan pada sosok Rose. Yang duduk di sofa tunggal, di antara mereka berdua.
“Jika sebuah penyesalan berguna, jika sebuah penyesalan berharga, maka tidak akan ada penjahat, tidak akan ada orang jahat di dunia ini!” imbuh Rose sambil memandang ke arah mereka berdua, secara bergantian.
Sayang, penyesalan sebesar apa pun tetaplah tidak ada gunanya!
“Karena penyesalan muncul belakangan, bukan di depan. Jika muncul penyesalan lebih dulu, maka orang-orang jahat itu akan menyesali perbuatan mereka, sebelum mereka melakukannya!”
Ben masih bergeming. Hanya henyak dalam diamnya dengan tatapan kosong. Entah kemana dan sedang memikirkan apa pria itu saat ini?!
“Pikirkan saja apa yang harus kalian lakukan ke depannya!” Netra abunya menatap sendu pada kedua orang itu.
Pada Ben dan Relly, yang kini tengah mengheningkan cipta, atas realita yang ada.
“Hah!” Satu tarikan napas dalam ia embuskan melalui mulut. Ditiupkan Ben campur aduk perasaannya saat ini. Namun hal itu tidak juga membuat hatinya merasa lega.
“Kenapa? Kenapa dia tidak menceritakan semuanya kepada kami? Apakah dia sudah tidak menganggap kami sebagai saudara lagi?” gumam Relly sedih.
Kepalanya tertunduk dalam, jauh, sampai dagunya menyentuh ceruk leher. Daripada Ben, Relly lebih leluasa mengekspresikan perasaannya saat ini. Kalut yang ia rasa, nampak jelas pada setiap kerutan di wajahnya.
Tak perlu, tak berguna! Sebab, dengan begitu, orang lain akan tahu titik kelemahannya. Dan, Ben tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Bagaimanapun juga, dia adalah wanita! Kalian harusnya mengingat hal itu!”
Kedua pria itu kembali menoleh padanya. Menatap dengan pupil yang membesar karena rasa penasaran.
“Wanita, akan melibatkan emosi dan hati mereka dalam menghadapi masalah. Ketika terpuruk, mereka paling pandai menyimpan pilu dan menyembunyikan perasaan.”
“Meskipun penampilannya seperti itu, tapi hatinya tetaplah hati seorang wanita. Zayn marah, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Zayn memendam sampai jadi dendam. Zayn tidak menggunakan akal sehatnya dengan benar, karena termakan emosi dan perasaannya sendiri.”
“Dan karena Zayn adalah wanita, makanya dia pandai sekali menutupi perasaannya. Yang sebenarnya sangat amat terluka, mungkin!”
“Yah, ini hanya penilaianku saja! Mungkin kalian punya pemikiran lain!” Rose mengedikkan kedua bahu, tersenyum tipis setelah mengakhiri spekulasinya.
“Tetap saja… kenapa dia tidak bicara apapun pada kami? Paling tidak, biarkan kami mengetahui masalahnya sejak awal. Jadi, dia tidak akan terlanjur salah, seperti ini!” marah Relly.
Bukan pada Rose tentu! Dia hanya sedang meluapkan perasaan kecewa, tidak habis pikir karena Zayn lebih memilih jalan yang salah. Dan malah, sudah tercebur cukup jauh. Sampai Relly tidak tahu bagaimana harus menyelamatkannya.
Sementara Relly meluapkan amarah dan kecewanya, Ben kembali memejamkan mata. Memang, lelaki itu lebih banyak diam.
Tapi dia membenarkan apa yang Relly katakan. Jadi paling tidak, dia bisa menjelaskan kenapa bisa dirinya, dan bukan Johan yang Tuan Danu pilih. Zayn mesti tahu alasannya, jadi dia tidak salah paham, sampai sejauh ini.
Dia harus tahu!
“Ku pikir, Johan mengundurkan diri karena dia benar-benar ingin pensiun!” desah Ben kala matanya masih terpejam. Dan kembali, helaan napas panjang terdengar.
Rose memandangi kekasihnya. Ia tahu, jika hal ini pasti terasa amat berat baginya. Jarang sekali melihat tuan seramnya yang hebat itu, terlihat tak berdaya seperti ini.
Seperti gumpalan awan mendung tengah memayungi wajahnya. Suram dan muram, aura yang dipancarkan pria itu. Rose dapat melihat bahu kekasihnya, sejak tadi merosot lesu.
Memenuhi benak mereka dengan semua penyesalan dan perasaan tak karuan yang ada, tidak ada gunanya saat ini. Rose menyadari hal itu. Maka, dia berusaha mengalihkan fokus topik pembicaraan mereka.
“Lalu, apakah ada hal lain? Mungkin, mengenai siapa yang membantunya selama ini?”
Dua pria itu seperti disadarkan oleh pertanyaan yang dicetuskan oleh Rose. Karena larut dalam perasaan, Ben dan Relly jadi melupakan hal ini.
Ben, pria bertopi koboi itu lantas membuka mata. Masih bersandar, namun ia mengangkat kepalanya. Menatap Relly dan juga Rose, secara bergantian.
Terutama Relly! Dia yang membawa informasi ini, kenapa bisa lupa?! Asisten Ben itu menegakkan punggungnya kembali.
“Benar!” Suaranya langsung terdengar antusias. Beserta mimik wajah dan pancaran mata yang bersinar. Ben pun jadi ikut menegakkan punggungnya juga.
“Beberapa kali Zayn melakukan panggilan ke luar negeri!” cetus Relly dengan matanya yang terbuka lebar.
Bersambung…