
“Sepertinya, sekarang aku belum bisa melakukan apa pun.”
Zayn tengah melakukan panggilan secara sembunyi-sembunyi. Kebetulan Anggie sedang lengah, kekasihnya itu sedang berlatih Muai Thai sendiri, di atas ring. Makanya, Zayn menyelinap menuju loker untuk melakukan panggilan ini.
Di bagian timur markas, tepatnya seratus meter ke belakang dari ruangan pribadi Ben, memang terdapat aula latihan bela diri indoor. Peralatannya pun lengkap untuk semua cabang olahraga. Tinggal setiap anggota yang menentukan, ingin melakukan latihan bela diri apa. Atau biasanya, dia berlatih bela diri yang ia kuasai.
Sengaja pula, Zayn membuka pintu loker tempatnya meletakkan tas dan pakaian ganti. Dia menyembunyikan kepalanya di balik pintu besi berbentuk persegi itu. Dan kebetulan pula, loker saat ini sedang sepi. Jadi dia benar-benar sedang memanfaatkan situasi.
Tidak ada satu orang pun, yang boleh mengetahui perihal dirinya saat ini! Dirinya yang sudah menjadi pengkhianat di antara semua rekannya.
“Bukan karena aku tidak becus! Nona saja tahu jika aku sedang dicurigai saat ini.” Wanita maskulin itu nampak tengah mengomel pada gawainya.
Dari isi pembicaraan mereka, sepertinya Zayn sedang tidak berkomunikasi langsung dengan Della. Wanita mengerikan yang menjadi penyokongnya saat ini. Sebenarnya, mereka hanyalah musuh yang saling membutuhkan. Karena, musuh dari musuh adalah kawan.
Zayn ingin hidup Ben hancur. Maka Della pun menginginkan hal yang sama. Hanya saja, wanita mengerikan itu terobsesi pada raga rekan sekaligus pemimpinnya. Entah karena apa, Zayn pikir, ia tak perlu tahu alasannya. Yang penting, tujuannya tercapai!
Dalam pembicaraannya itu, Zayn melaporkan mengenai dirinya yang mulai sering tidak diikutsertakan dalam beberapa rapat. Sudah begitu, ia sedikitnya merasa jika Rose mulai berubah sikap kepadanya. Meski masih samar, namun Zayn dapat merasakannya. Hanya Anggie yang masih bersikap seperti biasa.
Ben dan Relly tidak menunjukkan emosi apa pun setiap kali bertemu dengannya. Tapi hal itu makin membuat kesimpulannya semakin kuat, karena seharusnya, mereka banyak bertanya kepadanya.
Bahkan tentang masalah di perbatasan pun, Ben tidak menanyakannya lebih lanjut. Pria itu terkesan diam, tak mau tahu. Zayn malah merasa kepercayaan Ben mulai luntur karena hal itu. Karena biasanya, pemimpinnya itu akan bertanya secara mendetail, setiap kali terjadi masalah.
“Sampai saat ini, mereka belum ada rencana untuk keluar. Secepatnya, setelah mendapatkan kabar, aku akan langsung menghubungimu. Agar nona bisa segera bertemu dengan orang itu.”
Tap! Tap! Tap!
Zayn belum menyadari jika terdapat suara tapak kaki semakin mendekat ke arahnya. Sepasang kaki jenjang dan gemulai tengah melangkah dengan pinggul yang meliuk-liuk.
“Ya, tenang saja! Sesuai janji, aku akan segera mempertemukan Nona Della dengan orang itu.”
Dan Zayn masih belum menyadari jika suara tapak kaki itu makin jelas dan makin dekat arahnya. Dia masih sibuk melakukan panggilan. Mungkin, indera pendengarannya sedang lengah untuk menangkap suara. Karena terlalu fokus pada panggilan itu.
“Baiklah, aku tutup!”
Digeser Zayn tombol merah untuk memutus panggilan, sambil tangannya menutup pintu loker itu kembali. Kepalanya masih menunduk, sibuk mengunci layar ponsel.
“Akh…!” pekiknya kaget kala menyadari sudah ada Anggie di sebelahnya.
Wajah wanita maskulin itu berangsur pucat dan sedikit panik. Mimik terkejut sangat jelas di sana. Namun segera… Zayn menarik napas dalam untuk menetralisir segalanya.
Ekspresinya terutama. Ia tidak boleh terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Meskipun benar adanya. Zayn tidak akan membiarkan Anggie mencurigainya.
Harus ada satu orang yang perlu ia genggam. Ia pegang sebagai jaminan untuk mengecoh keadaan jika saja dia berada dalam kondisi darurat. Jadi orang itu bisa ia gunakan untuk dijadikan alibi. Dan Anggie adalah orang yang tepat.
Kekasihnya itu adalah seseorang yang tulus. Anggie juga sangat penyayang. Dia juga sangat memercayainya. Maka dari itu, Zayn yakin Anggie akan tetap berada di pihaknya sampai akhir.
"Kenapa kau terkejut? Memangnya, aku ini hantu?!" tegur Anggie. Alisnya mengernyit bingung.
“Kau sedang apa di sini? Bukannya tadi sedang latihan? Ehm… maksudku… kau tidak meneruskan latihanmu lagi?” Meskipun sudah berusaha sebaik mungkin, gugupnya masih belum sepenuhnya hilang.
Anggie sempat memicingkan mata sejenak. Ketika menangkap sedikit keanehan dari kekasihnya itu. Sembari menelisik, sembari menjawab mulutnya dengan kepala mengangguk. “Aku memang masih latihan.”
Kemudian ia mengontrol air mukanya lagi. Berekspresi biasa, seolah Anggie tidak menemukan apa pun di raut wajah khawatir kekasihnya.
“Makanya aku ke sini, karena tidak menemukanmu di depan. Kau lupa, jika aku membutuhkan teman sparing?” Tambahnya kemudian dengan wajah tenang. Diselipi nada manja ciri khasnya.
“Oh, ya! Maaf, aku memang lupa!” Diusap Zayn puncak kepala Anggie dengan penuh kasih sayang. Sambil meniupkan napas kelegaan. Lega dia, karena sepertinya, Anggie tidak mencurigainya sama sekali.
Wanita seksi itu tersenyum senang saat Zayn melakukannya. Lengkung bibirna lebar sampai mengangkat tonjolan di pipinya. Ceria wajah Anggie, sudah seperti anak anjing yang sedang dibelai majikannya.
Kepalanya bahkan mengejar, menikmati gerakan telapak tangan yang bergoyang-goyang, di atasnya. Anggie terlihat sangat menyukai apa yang sedang Zayn lakukan.
“Kalau begitu, ayo kita latihan lagi!” ajak Zayn sebelum Anggie mulai bertanya ini itu mengenai panggilannya tadi. Takutnya, Anggie sudah mendengar sebagian pembicaraannya lalu ikut curiga terhadap dirinya.
Dia mesti buru-buru mengalihkan pikiran Anggie. Supaya kekasihnya itu lupa dan tidak perlu bertanya mengenai apa pun.
Didorong paksa tubuh wanita seksi itu dari belakang. Tadi, Zayn sudah menyimpan ponselnya terlebih dahulu ke dalam loker. Jadi saat ini, kedua tangannya sudah bebas untuk bisa menggiring Anggie pergi dari sana.
“Tu-“ Diembuskan Anggie napas tidak berdayanya. Tubuhnya hanya terus terdorong sehingga kakinya mengikuti dengan langkah yang terseret.
Sekali dia menoleh ke belakang. Kemudian menatap ke depan lagi. Menatap udara kosong dengan mata menyipit.
Sebenarnya siapa mereka semua yang tadi disebutkan oleh kekasihnya?! Anggie jadi bertanya-tanya dalam hati.
Oh! Mungkin saja, mereka yang dipertanyakan oleh Zayn, adalah sanak saudara wanita maskulin itu! Dirinya dilanda kebingungan. Namun, aura pisitif menguasai pikirannya. Anggie tak ingin memusingkan hal yang tadi sempat ia dengar. Jadi dia memilih untuk tidak bertanya.
Sesuai perkiraan Zayn, Anggie tidak menaruh kecurigaan pada dirinya. Wanita itu hanya mempertanyakan dalam hati, siapa orang yang namanya Zayn sebutkan tadi! Karena nama itu terasa asing dan Anggie baru saja mendengarnya.
Meninggalkan pasangan itu,
Di sisi lain, Rose tengah melakukan latihan menembak bersama dengan kekasihnya. Seperti biasa, karena dia masih pemula, headphone terutama mesti dia kenakan, agar suara keras tembakan tidak menyakiti indera pendengarannya.
Wajah wanita itu tengah memberengut kesal. Sejak tadi, kekasihnya yang overprotektif itu, tidak mau pergi. Tidak masalah jika dia hanya memperhatikan dan mengarahkan dari samping. Atatu membantunya membidik dengan benar.
Ayolah! Dia ingin sekali cepat mahir menembak!
Akan tetapi, yang dilakukan si tuan seram yang mesum itu adalah, terus saja menggodanya. Ben terus menempel di belakang punggung. Sambil terus menggelitik tengkuk Rose, dengan bibirnya yang seksi dan bervolume.
“Ku mohon, Ben! Hentikan!” protes Rose. Ia menurunkan senjata apinya lagi.
Selalu… saja begini! Pria itu selalu bertindak semaunya, dimana pun, kapan pun.
“Bagaimana aku bisa konsentrasi jika kau terus menggodaku, Ben?” Wanita itu masih mengungkapkan protes dan kekesalannya.
Ben mengedikkan kedua bahunya dengan sikap tak acuh. Tak memedulikan dan tak bosan dengan protes keras yang sudah Rose layangkan. Aroma wangi tubuh wanita itu memiliki afrodisiak alami yang memabukkan bagi Ben.
Harusnya, Rose berterima kasih. Karena yang dia lakukan hanya sampai sebatas itu. Rose harus tahu jika ia sudah menahan diri dengan sangat keras. Untuk tidak melemparkan wanita itu ke ranjang.
“Harusnya, kau memberiku pujian!” cetus Ben dengan lagak tidak acuhnya.
“Untuk apa?” tanya Rose dengan suara rendah.
Pujian untuk apa? Dia benar-benar tidak habis pikir. Hal apa yang mesti diberi pujian dari pria itu? Sedangkan, sejak tadi saja, pekerjaannya hanya mengganggu saja!
“Karena aku hanya menciummu di sana!” ujar Ben dengan santainya. Bahkan kedua alisnya terangkat naik. Wajahnya sungguh tidak berdosa sama sekali.
“Lalu?” Wajah Rose mulai berkerut dan napasnya putus-putus dengan cepat. Ia semakin tidak percaya.
Memangnya dia mau menciumnya dimana lagi? Apa tidak cukup mengganggunya seperti ini di muka umum?
“Aku bisa saja menciummu di bagian lain. Atau di banyak tempat, jika kau mau!”
“Be-“ Tapi pria itu sudah maju terlebih dahulu. Mencondongkan tubuhnya kea rah Rose. Sehingga wajah mereka saat ini jadi berhadapan.
Cup~!
Sebuah kecupan singkat Ben curi dari bibir ranum Rose.
“Kau diam saja, aku sudah sangat tergoda. Makanya, jangan membuatku menunggu lama. Aku sudah sangat menahan diri selama ini, jika kau ingin tahu!” ucap pria itu setelah menarik diri beberapa senti ke belakang. Wajahnya kini masih berhadapan dengan wajah kekasih cantiknya itu.
Bagaimana pun juga, wajah Rose tidak dapat dikondisikan jika sudah seperti ini. Jadi wanita itu segera berpaling, membelakangi Ben. Tak sanggup ia menatap pandangan yang berkabut itu lebih lama lagi.
Ia yakin, jika saat ini wajahnya saja sudah merona. Pertahanan yang Rose bangun, takutnya akan runtuh. Lalu ia terbuai oleh setiap gelitik bibir Ben, yang ia akui hal itu juga memabukkan baginya.
“Tapi ini di tempat umum, Ben!” cicit Rose di depan.
Duh! Wajahnya sudah benar-benar panas saat ini!
Ben segera membalikkan tubuh Rose lagi, sehingga mereka berhadapan. “Jadi kita bisa melakukannya di kamar? Kalau begitu,ayo-“
Semangat pria itu langsung diputus oleh kekasihnya sendiri. Tangan yang tadi ia tarik, dihempas oleh Rose. Wanita itu tak bergeming, ia malah mematung di tempat.
“Bagaimana jika kita taruhan?”
Bersambung…
Taruhan apa hayo? Emangnya Rose udah mau ya…
Mau ngapain? Mau makanlah…. Haha
Padahal babang ben udah ga sabaran itu...