Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Jagoan atau preman



“Apa maksudnya itu?” tanya Daniel tanpa meluputkan kernyit di alis.


“Mama baru saja bercerita, tentang Papa yang tidak pernah aku lihat!” Anak kecil itu tetap memandang lurus ke lautan.


Tidak pernah melihat? Jadi anak kecil itu, tidak pernah melihat ayahnya?


Daniel merasa sangat menyesal karena hal ini. Ia pun jadi teringat kata-katanya tadi, mengenai, kedua orang tua si kecil. Sungguh, tadi itu, ia belum mengetahui kenyataan menyedihkan ini.


Namun, Daniel tetap diam dan kooperatif, untuk setia mendengarkan. Pria itu, terlanjur penasaran, dengan isi cerita, tentang ayah dari anak kecil tersebut.


“Dari kecil, Mama selalu bilang Papa sedang bekerja di luar negeri dan sulit kembali. Tapi, aku ingin Papa pulang, walau cuma sebentar saja, untuk menemuiku. Aku ingin melihat bagaimana tampan dan gagahnya Papaku, seperti Mama sering menceritakannya kepadaku.”


“Lalu?”


“Aku ingin seperti teman-temanku, punya Papa dan Mama. Bisa jalan-jalan bersama, makan bersama, foto bersama- yah, walau aku masih punya seorang paman, yang sudah seperti papaku sendiri. Tapi, itu, kan,  masih beda, dia bukan papaku.” Anak kecil itu menggeleng dengan lesu.


Haahh…. Anak kecil itu nampak menghela napas dengan begitu berat. Seraya menjepit bibirnya, sampai menjadi sangat rapat.


“Mama tadi bilang, jika sebenarnya, aku sudah kehilangan papaku sejak aku masih di dalam perut Mama.”


“Bagaimana bisa?” Daniel membelokkan kepalanya secara tiba-tiba. Sangat penasaran, ternyata, ia bisa mendapati cerita yang begitu nelangsa.


Jadi bahkan, anak perempuan itu, belum pernah bertemu dengan ayahnya!


“Waktu itu, Mama dan Papa mengalami kecelakaan. Mobil Papa meledak. Demi menyelamatkan Mama, Papa harus jatuh ke laut di pinggir jurang. Padahal Papa belum tahu, kalau Mama sedang mengandung aku.”


“Jadi, papamu sudah meninggal?” tanya Ben antusias.


“Belum!” Digelengkan Berly kepalanya dengan sangat lemah, seraya menundukkan kepala.


“So?” Saking bingungnya, Daniel sampai perlu menelengkan kepalanya.


“Kata Mama, waktu itu jasad Papa tidak ditemukan. Jadi, Mama menganggap Papa hanya menghilang.”


“Sampai sekarang?”


“Hm… hm…!” angguk Berly polos.


“Aku tidak yakin! Tapi sepertinya, mamamu sangat mencintai papamu. Tapi… sudah bertahun-tahun begini, sepertinya tidak mungkin papamu kembali.”


Berly auto murung mendengar hal ini. Makin dalam ia menundukkan kepalanya.


“Ekh! Maksudku… kenapa mamamu tidak mencari papa baru saja untukmu. Seperti, paman yang kau ceritakan tadi, misalnya?!” Daniel jadi salah tingkah. Merasa besalah karena ucapannya barusan. Ia yakin, anak perempuan itu, pasti merasa semakin sedih mendengar hal itu.


“Ahh! Ide bagus!” seru Berly seraya dengan cepat, mengangkat kepalanya kembali. Ia bahkan langsung menoleh pada Daniel.


“Tapi, aku tidak tahu Mama akan menyetujuinya atau tidak.” Wajah Berly pun berubah lesu kembali. “Aku tahu pamanku sangat menyukai Mama, tapi sepertinya, Mama tidak menyukai pamanku.”


“Aku sering melihat Mama menangis sendirian di kamar. Sambil memeluk topi Papa. Aku pikir, Mama pasti sedang merindukan Papa, sama seperti aku.”


“Tapi… setelah tahu ceritanya begini, aku jadi tahu, pasti Mama merasa sangat kehilangan Papa setiap malam.”


“Jadi, bagaimana? Kau ingin pamanmu itu jadi papamu atau tetap ingin menunggu papamu kembali, seperti Mama?” Daniel pun mendesah. Mendengar cerita si anak perempuan, membuat hatinya ikut resah.


Sreekk~!


“Aku tidak tahu! Yang jelas, aku mau Papa!” seru si anak kecil sambil menjatuhkan kakinya ke pasir. Sepasang kaki yang masih mungil itu, melurus di atas halusnya pasir pantai. Pun, kedua tangannya juga terjatuh di samping badan.


Daniel pun membisu. Ia tidak dapat melerai perasaan campur aduk yang tengah dirasakan anak kecil tersebut. Rasanya, ia ingin membantu, antusias ingin memberikan solusi dari permasalahannya.


Akan tetapi, ia pun tidak cukup memiliki pengalaman, tentang hal itu. Bahkan, ia sendiri, sedang lupa ingatan, dan tidak tahu, siapa dirinya yang sebenarnya.


Yang jelas, dalam keadaan dan situasi sedih seperti ini, seseorang, bahkan tidak hanya anak kecil. Pasti… membutuhkan sebuah pelukan.


Berly lantas mengangguk, walau, wajahnya masih cemberut.


“Ayo, sini!”


Anak perempuan itu menopangkan tangannya ke pasir, sehingga tubuhnya menjadi sedikit terangkat. Kemudian, ia akan menggeser tubuhnya, ke arah Daniel.


Sejenak, ia menghentikan gerakannya. Lalu, memaku pada posisinya saat ini. Berly menyipitkan mata seraya menatap curiga pada Daniel. “Kau… bukan penculik, kan?”


Dan pria itu pun auto tertawa. Ia sampai perlu menengadahkan kepala, untuk melepaskan tawa gelinya. Bahunya naik turun berulang kali, seirama dengan gelak yang terdengar.


Dia sudah sampai begitu empati terhadap cerita si anak kecil. Tapi, dia malah dicurigai? Oh, sungguh! Itu sangat menggelikan sekali.


“Sebenarnya, Mama tidak mengizinkan aku bicara sembarangan dengan asing. Kata Mama, banyak orang jahat di luar sana.”


“Dan jika kau adalah orang jahat yang ingin menculikku, akan aku pastikan, wajah tampanmu itu akan dibuat hancur oleh tangan Mama.”


Daniel makin tergelak. Makin kencang, makin renyah suara tawanya. “Memangnya, Mamamu itu jagoan… atau preman?” Kala bertanya, Daniel pun tidak menghentikan tawanya sama sekali.


“Hm…, mungkin, dua-duanya.” Sambil menjawab dengan wajah berpikir, Berly pun mendudukkan diri di atas pangkuan Daniel. Lalu, ia pun menambahkan, seraya menerima pelukan dari tangan hangat pria itu. “Kadang aku melihat Mama seperti jagoan, kadang juga seperti preman.”


Daniel meredakan tawanya. Menangkup tubuh anak kecil itu, menghalau angin laut yang bertiup dengan kencang. Agar tak membuatnya sakit dan masuk angin.


Serta, mengurai kesedihan yang saat ini, tengah dirasakan oleh si anak kecil itu. Mungkin juga, pelukannya ini, bisa mewakilkan, pelukan sang ayah yang masih menghilang.


Yang padahal, anak manis dan cantik yang sedang berada di pangkuannya saat ini, adalah putrinya sendiri. Dan bagi Berly, pelukan hangat seorang ayah yang sangat ia rindukan. Sebenarnya, saat ini, tengah ia dapatkan. Setelah sekian lama.


“Apakah kau pernah melihat Mamamu memukul seseorang?” tanya Daniel penasaran.


“Sering!”


“Se-ring?” Daniel baru mendengar ada wanita yang begitu kejam dan suka main tangan. Sebab, wanita yang dikenalnya, Della, adalah wanita lemah lembut dan tidak kasar sama sekali.


Mungkin, Daniel hanya tidak pernah mengetahui sisi mengerikan Della, yang begitu ditakuti banyak orang. Karena wanita itu, memakai topeng lugu, di hadapannya.


“Tapi, Mama tidak sembarangan memukul orang.” Mendengar ini, Daniel semakin penasaran. Jadi, apa yang dilakukan wanita itu?


“Mama akan menghajar orang-orang yang berbuat jahat. Apalagi yang suka mengganggu wanita. Ku pikir, namanya cukup terkenal di daerah tempat tinggal kami.”


Ben selesai dengan ber’oh ria, lantas ia pun bertanya. “Memangnya, siapa nama mamamu?”


Pada saat ini, semuanya serasa bergerak lambat, pun dengan angin yang bertiup serta ombak yang menggulung ke tepian. Seolah, mereka semua, bentangan alam itu pun sedang menanti, datangnya momen ini.


Detik-detik, di mana Daniel, akan mendengarkan nama yang begitu bermakna.


“Mama?”


“Ya, mamamu! Kedengarannya, dia seperti super hero, ya, di daerah kalian. Aku jadi penasaran, ingin tahu siapa namanya!”


“Mamaku… Rose Callary. Namanya cantik seperti bunga mawar. Seperti wajah Mama yang cantik dan….”


Anak kecil itu, meneruskan ceritanya, mengenai sang mama. Sedangkan, ia tak menyadari, jika saat ini, pria yang sedang merangkulnya, sedang mengernyitkan alis, memejamkan mata, serta seluruh wajah yang mengerut.


Karena mendadak, Daniel merasakan, kepalanya berdenyut hebat. Setelah Berly mengucapkan nama itu.


Seperti, nama tersebut, telah merangsang, sesuatu di dalam diri Daniel dengan begitu kuat.


Bersambung…