Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Alarm



🎶🎶🎶🎶


Dering-dering nyaring berbunyi dari ponselnya yang sejak semalam pun memejamkan mata seperti dirinya. Rose dipaksa bangun oleh suara berisik dari samping telinganya itu.


Lalu dia mendudukkan diri sambil terus menguap sebab matanya masih belum ridho untuk terbuka. Rose masih sangat mengantuk. Sangat, sangat mengantuk.


“Perasaan, aku tidak pernah menyetel alarm di ponsel!” gumamnya heran di tengah usaha menyadarkan diri sendiri. Dia mengambil gawainya untuk menghentikan laju dering yang terus berlanjut.


Rose memang sudah terbiasa bangun pagi. Wanita itu memiliki jam biologisnya sendiri. Hal itu terjadi karena pengalaman menjadi upik abu di rumahnya sendiri. Ketika dia menjadi pelayan untuk ibu dan saudara tirinya.


Rose sudah terbiasa, jadi ia merasa tak memerlukan alarm atau semacamnya. Dia cukup percaya diri untuk bangun bahkan dini hari ketika pekerjaan memang benar-benar menumpuk dibarengi masa sekolahnya dulu.


“Ya, ampun! Ini bahkan belum bisa dibilang pagi, kan?!” Kepalanya tiba-tiba berdenyut ketika melihat jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Matahari saja masih belum menampakkan diri, bukan?! Pantas saja dia masih mengantuk sekali.


“Aku tidak pernah memasang alarm jam segini!” katanya lagi sambil menguap dengan gaya malas-malasannya. Sepertinya Rose belum benar-benar pergi dari alam bawah sadarnya. Dia bahkan berniat merebahkan diri lagi.


🎶🎶🎶🎶


“Ya, ampuuuun!” desahnya berirama frustasi ketika mendengar suara itu lagi.


Dering yang sama, melodi yang sama dengan nada yang sama pula, sehingga membuat tidur nyenyaknya terganggu. Rose menendang selimut yang baru saja ia balutkan ke tubuhnya lagi. Disambarnya ponselnya yang berisik itu, lalu ia mematikan kembali alarm yang sedang berbunyi.


Setelah pertengkaran dirinya dan Ben kemarin, Rose tidak keluar ruangan itu sama sekali. Dia sibuk membereskan dan menata rapi semua barang-barang yang dia bawa. Termasuk pakaian dan perintilan kecil seperti beberapa bingkai foto dirinya beserta keluarga kecil kakaknya.


Padahal ada juga foto dia dan juga Ben, tapi Rose memutuskan untuk menutup bingkai foto itu di atas meja, lantaran ia masih kesal dengan kekasihnya itu. Nanti saja dia akan memasangnya, ketika mereka sudah berbaikan lagi.


Sampai malam datang, bahkan batang hidung orang itu tak nampak juga. Makan malam pun Relly yang datang mengantarkan. Meskipun Relly mengatakan jika tuan seramnya itu memiliki banyak pekerjaan. Tapi apakah dia percaya? Pikir Rose, lelaki itu hanya sedang menghindarinya saja.


Untung saja, terdapat kamar mandi di dalam kamarnya itu. Sehingga dia tidak perlu sampai keluar ruangan pribadinya sama sekali. Diselimuti perasaannya yang kacau, Rose lebih memilih berkutat dia dalam kamarnya sendiri. Menikmati masa-masa menyenangkan diri sendiri yang nanti mungkin tak akan ada banyak waktu untuk bisa ia lakukan.


Tak mau terlalu ambil pusing karena sampai hampir larut malam pun laki-laki itu tidak muncul juga. Rose memilih untuk mengistirahatkan diri. Wanita itu memutuskan untuk memejamkan matanya dengan sisa perasaan kesal yang masih dia miliki. Sebab Rose tahu, bahwa hari esok adalah hari pertamanya berlatih.


Dan untuk tuan seramnya itu, tunggu saja! Dia akan pelit kata maaf kali ini! Jangan harap!


Dan saat ini, ketika fajar saja belum datang, dia sudah benar-benar sadar. Tapi mengapa dia sudah dibuat heran?!


Semenjak menggunakan ponsel yang Ben berikan ini, dia tidak pernah sama sekali menyetel alarm di ponselnya. Rose memang biasa bangun pagi, tapi tidak sepagi ini juga, kan!


Sudah pasti ada yang secara sengaja memasang alarm sebanyak ini di ponselnya. Tapi siapa? Memikirkan kemungkinan yang cukup meyakinkan, hanya ada satu orang! Dia menyipitkan matanya.


Rose melirik pintu rahasia dia dengan tajam bak ingin merobohkannya saja. Itu pasti pekerjaan kekasihnya, tuan seram yang selalu bertindak seenaknya. Bahkan sudah berbuat salah saja dia masih belum minta maaf atau menjelaskan sesuatu. Benar-benar seenaknya, kan!


“Tapi kapan dia ke sini? Aku tertidur, kan, sudah malam sekali. Tapi ku rasa tidak ada siapa pun yang masuk ke sini!” Rose memiringkan kepalanya yang sedang meragu. Dia benar-benar berpikir keras.


“Heh! Pria licik itu pasti datang saat aku sudah tertidur! Dasar curang!” sambungnya lagi sambil mendengus ke arah pintu rahasia itu, seakan benda mati itu adalah tuan seramnya.


Akhirnya dia sadar juga betapa tuan seramnya itu dapat melakukan hal apa pun yang dia mau. Kenapa dia mesti melupakan hal ini?! Tuan seramnya itu, kan, sebenarnya makhluk ajaib. Bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.


“Seandainya dia datang semalam dan mau berbicara pun, pasti aku sudah memaafkannya!” Rose masih belum selesai dengan omelannya. Tapi sekarang tangannya sedang berselancar di atas layar ponselnya untuk mematikan puluhan alarm yang terpasang. Pekerjaan yang merepotkan! Dan Rose yakin, jika dia sudah tidak mengantuk lagi sekarang.


Tok! Tok! Tok!


“Aku tak berharap itu dia!” gumam Rose saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


Mulutnya berkata apa, tapi hatinya memikirkan lain. Tetap saja dia berharap yang datang adalah tuan seramnya. Semalaman tak bertemu saja sudah rindu. Meskipun dia masih kesal menyadari kenyataan yang ada. Sesungguhnya, sudah berapa banyak wanita yang lelaki itu tiduri?! Memikirkan ini lagi, Rose pun kesal lagi.


Dia melangkah gontai ke arah pintu itu. Lesu tak bersemangat. Siapa yang datang di jam segini? Tidak tahukah orang itu jika ini masih sangat dan bahkan belum pagi! Sebenarnya tempat ini adalah markas mafia atau rumah sakit, sih? Jam berapa pun selalu ada saja orang yang terjaga matanya!


“Siapa?” tanyanya sambil memutar kunci dan membuka pintunya.


“Hai, Kakak Rose yang cantik!” sapa Anggie dengan ceria sambil melambaikan tangannya.


Ini baru jam empat pagi dan wajahnya sudah sesegar itu? Apa mungkin Anggie tidak tidur sama sekali? Rose membuyarkan lamunannya dengan menggelengkan kepala. Lalu balik menyapa Anggie dengan ramah.


“Hai!” Kaku senyum di wajah Rose, sebab dia belum tahu sebenarnya ini ada apa. Mengapa mereka harus bangun pagi-pagi buta begini?!


Dilihatnya di sisi kiri Anggie, ada Zayn yang sedang berdiri. Wajahnya pun segar seperti seseorang baru mandi. Ya, dimana ada Anggie, di siu pasti ada Zayn juga, si wanita maskulin atau pria cantik. Terserah kalian mau menyebutnya apa!


Tapi apa tujuan mereka ke sini? Rose belum tahu, makanya dia hendak bertanya dengan penampilannya yang masih kusut itu.


“Kal-.”


“Kami masuk dulu, ya!” Lantas Anggie langsung menarik tangan Zayn masuk ke dalam kamarnya, sebelum Rose benar-benar bertanya.