Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Tidur siang



Seorang pria masih mengguyur dirinya di bawah pancuran air dingin. Seperti yang Rose perkirakan, pria itu baru saja selesai bermain solo untuk menuntaskan hasratnya yang tadi datang dan menggila. Maklum saja, dia itu sudah puasa sangat lama.


Ben mematikan shower kala sudah selesai dia membilas diri. Pria itu membalutkan handuknya sampai ke pinggang sebelum keluar dari kubikel kaca tempatnya mandi barusan.


"Benar-benar merepotkan! Sampai kapan aku harus begini?!” desahnya sembari mengeringkan rambut dan berjalan keluar.


Ben tersenyum penuh ironi kala ia melihat jam dinding di kamarnya. Ternyata dia sudah menghabiskan waktu cukup lama di dalam sana. Sudah 20 menit, dan ia yakin Rose pasti sudah bosan menunggunya.


Setelah selesai memakai baju dan celananya kembali, Ben melempar handuk yang ia pakai ke keranjang di sudut kamar.


“Awas saja jika dia seperti itu lagi! Aku tidak akan menahan diri seperti tadi!” omelnya sendiri, sambil berjalan menuju pintu rahasia yang menghubungkan ruangannya dengan kamar kekasihnya.


Harus ia akui, tubuh Rose memang tidak seseksi mereka yang pernah ia tiduri. Tapi semua yang ada di diri Rose itu cukup. Tidak berlebihan dan tidak membosankan sama sekali. Baru menyentuh bibirnya saja, dia sudah ketagihan bukan main.


Ben tergugu sendiri saat ia membuka pintu rahasia itu. Tak lama, ia pun tertegun melihat kekasihnya itu sudah terlelap dengan mulut menganga lebar. Satu kakinya bahkan menempel ke dinding.


Ben kembali lagi ke dalam ruangannya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Kemudian ketika kembali, wajahnya terlihat menjadi lebih bersemangat.


“Kena kau!” Pria itu tersenyum licik sambil menggigit bibir bawahnya, saat dia mulai membidik kamera ponselnya ke arah Rose.


Alih-alih menyimpan foto manis dan cantik wanita itu, Ben merasa pose ini paling bagus untuk ia simpan. Pose Rose yang sekarang bahkan terlihat lebih seksi daripada yang tadi ketika wanita itu baru saja selesai mandi.


Pasalnya, wanita itu benar-benar membiarkan kakinya yang hampir terekspos semua itu terbuka lebar. Rose mengenakan kaos oblong kebesaran yang paling nyaman ia pakai, dan hanya hotpants yang membalut sampai setengah pahanya.


Ben pikir, Rose yang sekarang ini malahan benar-benar terlihat menggoda. Jangan hiraukan mulutnya yang menganga. Karena pria itu pikir, ia akan lebih leluasa menempatkan bibirnya dan menguasai seluruh rongga mulutnya dengan pose seperti itu.


Pria itu menutup mulutnya dengan satu kepalan tangan memandangi Rose yang menggemaskan. Tidak mau dia membuat kekasihnya itu sampai terbangun.


“Aku yang terlalu lama atau dia yang kelelahan?” Ben tersenyum kecil saat memandangi hasil jepretannya tadi.


Hoaamm!


“Sepertinya aku juga butuh tidur!” Ben menutup mulutnya yang sedang menguap. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang.


Akhirnya Ben ingat, jika dia belum tidur sama sekali sejak kemarin. Pantas saja jika sekarang dia mengantuk sekali. Dia pun merasakan matanya sampai berair saking mengantuknya. Bergabung dengan Rose adalah ide menarik yang muncul di benaknya saat ini.


Tapi sebelum itu, ia harus melakukan sesuatu agar tidak ada yang mengganggu istirahat mereka. Dia mengirimkan pesan pada Relly terlebih dahulu.


Setelah itu, Ben membenarkan posisi tidur kekasihnya itu dan mengangsur dirinya di sana. Ben jadikan lengannya sebagai bantalan kepala Rose, jadi dia mudah untuk memeluknya. Dalam posisi berpelukan ini, Ben menyusul Rose terlelap ke alam mimpi.


***


Relly, Anggie dan Zayn tengah sibuk memperhatikan keseluruhan kamera pengawas di markas mereka ini. Ketiganya nampak berkonsentrasi dengan bagian mereka masing-masing.


Drrt... Drrt...


Relly merasakan sebuah getaran dari jaketnya. Iya yakini bahwa itu adalah sebuah pesan karena getarannya berangsur singkat. Ia alihkan tangannya dari mouse yang terhubung ke layar monitor. Diambilnya gawai itu dari dalam saku jaketnya.


“Tuan!” Dia melihat nama si pengirim.


“Tuan Ben?” tanya Anggie yang mendengar gumaman Relly. Dan pria itu mengangguk menjawabnya.


Hanya Zayn yang tetap diam, namun matanya melirik sekilas. Wanita maskulin itu masih sibuk memperhatikan kotak-kotak layar di depannya.


“Ada apa, ya?” Pria itu menelengkan kepalanya. Dia enggan tapi juga penasaran.


Dengan matanya yang sudah menghitam seperti mata panda, Relly membuka pesan tersebut. Khawatirnya ada hal penting atau perintah selanjutnya yang akan disampaikan oleh bosnya itu. Padahal matanya sudah lelah sekali untuk melihat tulisan-tulisan kerdil di ponselnya itu.


“APA?!” Relly berteriak kencang sekali.


Bugh! Bugh!


Anggie dan Zayn refleks memukul punggungnya bersamaan, saking terkejutnya mereka berdua.


Plak!


Sekarang Anggie memukul kepalanya karena masih saja berteriak sehingga menyakiti telinganya dan juga kekasihnya.


“Apa perlu sampai berteriak segala?! Kau ini laki-laki, tapi mulutmu sudah seperti wanita!” omel Anggie sambil berkacak pinggang di depan Relly.


“Kau lihat saja sendiri, kenapa aku sampai berteriak begini!” Sambil mengelus kepala dan punggungnya bergantian, satu tangannya yang lain menunjukkan layar ponselnya yang menyala kepada rekan wanitanya itu.


Dari : Tuan Ben


Lanjutkan tugas kalian!


Dan jangan ada yang berani mengetuk apalagi masuk ke ruanganku dan Rose. Aku mau tidur siang dulu dengannya. Jangan ganggu kami! Mengerti!!


Anggie melafalkan pesan itu dengan wajah serius. Tapi kemudian dia tergelak setelah membacanya.


“Kenapa kau tertawa begitu?! Lihat di ujungnya, apa perlu sampai memakai dua tanda seru begitu!” Relly menunjuk-nunjuk pesan Ben dengan emosional.


“Bos keterlaluan sekali! Kita diperintahkan untuk bekerja, tapi dia malah seenaknya tidur dengan nona Rose! Aku, kan, juga ingin...”


Plak!


“Ingin apa?! Kau jangan macam-macam, ya! Aku bisa menembak otakmu yang kotor itu, jika kau berani berpikir yang tidak-tidak tentang nona Rose!” Anggie menunjuk-nunjuk wajah Relly dengan garangnya. Embusan napasnya pun sudah pendek-pendek menahan emosi.


“Aku bisa gegar otak, jika kau memukul kepalaku terus!” Sambil meringis kesakitan, Relly mengusap bagian kepalanya yang sakit.


“Tentu saja aku ingin-“


Plak!


“Dengarkan aku dulu!” omel laki-laki itu ketika kepalanya dipukul kembali.


Zayn di belakang mereka tetap berkonsentrasi, tapi tidak tahan juga dia untuk tertawa.


“Diam! Jangan pukul aku sebelum aku selesai bicara!” Kini giliran Relly yang mengacungkan telunjuknya ke arah Anggie.


“Aku ini juga laki-laki! Laki-laki normal! Ingat itu!” Relly memperingati dengan wajah galak.


"Aku juga ingin... bisa tidur siang dengan seorang kekasih, seperti tuan!” Dikerucutkan bibirnya ketika mengatakan ini dengan wajah memelas.


“Astaga, ya ampun, Relly!” Spontan Anggie tertawa. “Ku pikir apa!”


“Makanya dengarkan aku dulu! Jangan main pukul-pukul saja!”


“Wajahmu memang pantas untuk dipukul!” Anggie puas menertawai.


“Kau!” Relly menggeram marah.


“Sudah, jangan ribut lagi!” Tangan Zayn bergerak cepat berselancar di atas keyboard. “Lihat! Apa yang aku temukan!”


Relly dan Anggie pun melupakan pertikaian mereka, lalu bergerak mendekat.


Bersambung...


Kira-kira Zayn nemu apa ya???


Maaf ya satu bab dulu malam ini, lambungku masih bermasalah 🙏


Ayo, kasih like, vote sama komentar kalian,, siapa tau aja aku sembuh gara-gara liat banyaknya dukungan dari kalian 🤭


Keep strong and healthy ya semua 🥰