
Di resort yang letaknya menghadap ke pantai, sebuah pesta perayaan baru saja berlangsung. Aula yang biasa digunakan sebagai restoran resort tersebut pun, disulap menjadi tempat acara dengan sedemikian rupa.
Pihak panitia memilih tempat ini karena nuansanya terasa lebih segar. Tamu yang hadir bisa memilih untuk menikmati pesta di dalam maupun di luar ruangan, di mana terdapat kolam renang yang menghadap ke arah pantai juga.
Ada pun tamu yang kebetulan sedang menginap di sana, dipersilahkan bergabung dengan pesta tersebut. Bersama dengan beberapa tamu undangan dari berbagai pihak.
Beberapa mobil baru saja berhenti di lobi depan resort tersebut, setiap supir turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu bagi orang yang duduk di bangku penumpang.
Setelah keluar lebih dulu, Victor lalu membantu istrinya itu keluar dari mobil dengan memegangi tangannya bak seorang gentleman. Hingga muncullah putra mereka kemudian.
Sebagai tuan rumah dari acara tersebut, juga sebagai bintang malam ini, kehadiran Victor sangat dinantikan. Seorang manajer yang bertangggung jawab di sana, ditemani dua orang pegawai lainnya, nampak berdiri di depan pintu lobi, demi menyambut kehadiran tuan mereka.
Victor yang ditemani anak dan istrinya pun memberikan senyum hangat kepada mereka semua. Kemudian dia mulai maju, seraya membimbing istri dan putranya untuk melangkah bersama.
Di mobil kedua, seorang dengan pakaian eksentrik khasnya keluar tak lama kemudian.
Siapa lagi?! Tentu saja, dia adalah Ben. Pada kesempatan kali ini, ia memilih untuk mengenakan setelan jas dan celana hitam. Kemeja polos berwarna merah maroon, sengaja ia pilih agar menjadi kontras di balik jas hitam pekatnya.
Ia membuka dua mata kancing kemejanya. Membuat sebagian dadanya yang bidang, padat dan liat mengintip dari balik kemeja itu. Sehingga kesan yang ditonjolkan tidak hanya wajah tegas dan tampannya saja, tapi juga tubuhnya yang seksi.
Dan yang jelas, Ben tidak akan meninggalkan topi koboi yang menjadi identitas dirinya. Mau acara formal, nonformal, atau pun sehari-hari, pria itu akan tetap memakainya.
Kecuali tidur, ya! Tidak mungkin, kan, dia tidur sambil memakai topi bulat dan lebar itu!
Khusus malam ini, Ben tidak mengenakan kemeja bunga-bunga kebangsaannya. Sebab, kemeja yang ia pakai, sepasang dengan gaun yang membalut tubuh Rose saat ini.
Sebuah gaun tak berlengan dengan lapisan tile berwarna senada di bagian dada sampai ke pinggang. Lalu, selebar 1 cm pada lingkar pinggang gaun tersebut, ditaburi kristal yang berkilau.
Bagian roknya yang ketat membalut sampai ke mata kaki. Meskipun begitu, Rose tetap dapat memamerkan kaki jenjangnya yang mulus dengan sebuah belahan panjang sampai ke paha kirinya.
Begitu menyambut uluran tangan Ben, kaki putih mulus itu memamerkan diri saat ia keluar dari pintu mobil. Lantas ia raih lengan kekar kekasihnya itu sebagai pegangan.
Rose merangkulnya dengan erat. Sebab ia memilih stiletto dengan hak yang agak tinggi daripada yang biasa ia pakai. Sedang tangan lainnya, tengah menggenggam clutch berwarna perak.
Ben menurunkan pandangan kala kekasihnya itu sudah siap berada di sisinya. Dengan perhatian, pria itu menyibak sejumput rambut Rose ke belakang bahunya. Rambut pirang yang dibuat sedikit bergelombang.
Rose agak terkejut, atapannya menjadi agak linglung sesaat. Hatinya mendadak terenyuh dengan perhatian yang tiba-tiba ini. Namun tak lama, karena setelah itu kalimat yang Ben lontarkan membuat ia memberengut kesal.
“Rambutnya menghalangi pandangan mataku!” ucap pria itu pelan, sambil melirikkan bola matanya ke bagian dada Rose. Yang padahal tidak terlalu terbuka.
Bagian atas gaun itu membungkus rapat dadanya. Tidak ada celah sedikit pun bagi Ben untuk mengintip ke dalam sana.
Dasar otak mesum! Kekasihnya itu… selalu saja! Heh
Pria dengan topi koboi itu tersenyum samar kala ia menegakkan kepalanya kembali.
Sekarang baru bisa dibilang sempurna penampilan Rose kali ini. Pandangannya untuk menikmati indah sepanjang bahu dan tulang selangka Rose yang terbuka, jadi terganggu dan terhalangi karena beberapa helai rambut yang tergerai ke depan.
Tapi… kalau Rose mau, boleh juga! Mereka bisa memesan kamar malam ini! Uupss…
Scene romantis ini tentu saja membuat iri beberapa orang di belakang mereka. Baz dan Eric yang baru saja turun dari mobil yang sama, juga memiliki tatapan cemburu yang sama di mata mereka.
Tentu saja! Karena mereka berdua menyukai wanita yang sama. Yang tak dapat mereka gapai pula.
Dan yang paling membara adalah tatapan Mirabel yang baru saja turun pada mobil paling ujung. Dia berangkat bersama dengan ibu dan ayah tirinya, Tuan Benneth.
Nyonya Mira nampak berusaha mendekatkan diri dengan suaminya itu lagi. Ia meraih lengan Tuan Benneth untuk ia rangkul ketika berjalan nanti. Sibuk dengan urusannya, Nyonya Mira tidak menyadari jika putrinya saat ini, sedang termakan api amarah dan gelisah.
Gaun hitam yang Mirabel kenakan, ia cengkeram kuat pinggirannya sampai kusut. Ia lampiaskan rasa cemburu dan iri yang menguasai lewat cengkeraman tangan itu.
Heh! Sayang sekali, dia tidak nampak lebih cantik dari Rose malam ini! Karena memang dia tidak ada persiapan untuk membawa gaun terbaiknya. Baik dia dan ibunya tidak terpikirkan sama sekali, jika akan menghadiri sebuah pesta seperti ini.
Maka dari itu, yang mereka kenakan saat ini hanya sebuah gaun sederhana dari sebuah butik biasa. Yang padahal, Rose pun memakai gaun dari tempat yang sama. Bahkan gaun yang Mirabel kenakan pun tidak kalah cantiknya, dari apa yang Rose kenakan malam ini.
Hanya saja, karena kecantikannya yang sudah menguar, Rose nampak lebih bercahaya dan bersinar dengan apa yang ia kenakan. Dengan niat dan hatinya yang jahat, Mirabel jadi tetap akan terlihat suram, meski apa pun yang ia kenakan. Meski itu adalah sebuah gaun mahal sekali pun.
“Tunggu dan lihat saja nanti! Sekarang kau boleh tersenyum bangga bediri di sampingnya. Tapi nanti… kau jangan menangis saat aku sudah berhasil merebut posisimu saat ini! Heh!” gumam-gumam Mirabel sendirian. Kepalanya sedikit tertunduk, dengan mata menyipit, menatap tajam ke arah pasangan Ben dan Rose di depan.
Kalimat yang ia ucapkan terdengar seperti janji atas ambisi yang belum lama ia buat sendiri.
Melihat, setiap orang berpasangan, dia pun tidak mau kalah. Maka, buru-buru Mirabel mengambil langkah menuju Baz dan Eric yang sudah akan memulai langkahnya.
Bagaimana pun juga, ia tetap harus mempunyai muka di hadapan semua orang. Jika Ben belum bisa ia dapatkan, paling tidak, saat ini, antara Eric atau pun tuan yang satunya harus ia dapatkan untuk menjadi pasangannya.
“Bisakah aku menjadi pasangan salah satu dari kalian malam ini?” tanya Mirabel yang baru saja mencegat jalannya dua pria itu. Dia bertanya sambil memasang wajah sok cantiknya.
Baz dan Eric auto saling berpandangan. Seolah tengah bertanya pada satu sama lainnya. Lantas dengan kompaknya mereka menatap ke depan lagi, menatap Mirabel dengan diam dan ekspresi tak terbaca.
Tapi Baz yang membuka mulutnya lebih dulu.
“Maukah kau menjadi pasanganku malam ini?”
Bersambung…
Selamat tahun baru… bab baru di tahun yang baru, walaupun telat sih, bukan di tanggal satu,, hehe
Yang jelas, setelah ini aku ga punya jatah libur lagi,, hiks,, jadi tenang aja teman-teman, aku pasti update setiap hari,, doain biar aku semangat terus ya manteman,,,
Hayo,, abang baz milih siapa buat jadi pasangannya?? Apa mendadak kepalanya geger otak trus nerima Mirabel jadi pasangannya??
Yuk,, ikutin terus ceritanya ya manteman,,,