
Pada akhirnya, Rose menggiring semua orang untuk berkumpul di kamar rawat kekasihnya.
Sebab, keberadaan mereka semua di lorong rumah sakit, sungguh mengganggu mobilitas semua orang yang ingin lewat.
Entah itu orang-orang yang ingin membesuk, anggota pasien yang perlu lalu lalang atau para tim medis yang sedang sibuk menjalankan tugasnya berpindah dari satuan ruangan ke ruangan yang lain.
Sejak Felipe bertanya pada Rose tentang perkenalan dirinya. Rose pun segera menjawab bahwa dia saja yang akan menjelaskan siapa sosok Felipe pada keluarganya.
Akan tetapi, begitu mereka berjalan, sosok yang akan diperkenalkan malah pamit undur diri.
Felipe mendapat telepon darurat. Maklum saja, orang itu adalah sosok penting dengan segudang urusan. Yang tidak semua orang ketahui.
Sudah sangat bagus, Felipe datang sendiri untuk minta maaf dan menjelaskan secara langsung perihal masa lalunya yang berhubungan dengan sosok Benny Callary.
Sekarang dia pergi, maka semua orang dapat mengerti. Hanya saja, putranya yang baru saja diakui masih tetap tak mengemukakan apapun. Selain diam seribu bahasa, meski saat Felipe berpamitan padanya.
“Maaf semuanya, aku harus segera pergi! Maaf juga aku belum memperkenalkan diriku secara resmi!” pamit lelaki berumur itu pada semua orang.
Felipe lantas memandang Ben dan Rose secara bergantian. Tersenyum bibirnya disertai tatapan hangat kala bersirobok pandangannya dengan wanita bersurai emas. Ia mengangguk kecil pada Rose, menatap penuh makna.
Kemudian, berlutut Felipe di hadapan Berly. Anak perempuan manis dengan netra hitam keabuan.
“Sayang, Kakek harus pergi dulu!” ucap Felipe lembut seraya mengusap rambut halus Berly dari puncak kepala sampai ke bahunya. “Tapi Kakek berjanji akan kembali lagi secepatnya! Kakek belum bermain dengan Berly, kan?!” Sekarang, tangan yang mengusap turun ke dagu, lalu membelai pipi chubby anak kecil itu. Dengan penuh kasih sayang.
“Bye, Berly! Nanti kita bertemu lagi, ya?!” Selepas mengatakan hal itu, Felipe berdiri tegak lagi. Lalu tersenyum untuk yang terakhir kalinya pada semua orang.
Lantas, pria itu berbalik dan berjalan tanpa menoleh lagi.
Sementara, si anak kecil yang tadi berinteraksi dengannya, masih bergeming dengan bola mata terbuka lebar.
“Kakek?” gumamnya pelan. Sembari menatap punggung tegap lelaki tua yang wajahnya mirip dengan sang ayah.
Ada getar-getar tidak asing yang sedang dirasakan dadanya. Berly ingat, merasakan hal ini juga saat pertama kali bertemu dengan Ben, pria yang saat itu ia ketahui bernama Daniel.
Di saat mereka belum mengetahui satu sama lain, bahwa mereka terikat dalam hubungan darah.
“Ma-!” panggil anak kecil itu pada Rose yang mendekat. “Dia..., kakekku?” tunjuk Berly pada titik kecil punggung Felipe yang hampir menghilang.
Rose melihat Ben sebentar. Sama seperti Berly, kekasihnya itu juga menatap lurus pada titik yang sama. Tak bersuara, tak membuka mulutnya. Hanya ada tatapan penuh makna tersirat di mata hitam legam itu.
“Benar, Sayang! Dia kakekmu!” jawab Rose sembari tersenyum lembut. Kemudian mengusap kepala anak perempuannya.
“Ayo, kita jalan lagi!” ajaknya pada semua orang.
Rombongan itu pun kembali melanjutkan langkah mereka. Pasangan ibu dan anak, Rose dan Berly pun kembali mendorong kursi roda Ben dengan kompak. Bersama-sama.
Meninggalkan sosok Della yang tengah murka di tempatnya berada. Sebagai badut dadakan, mahakarya Rose. Hukuman yang wanita itu beri pada Della, atas semua perbuatannya.
Sudah kesekian kali Della menghentak kakinya ke aspal. Sangat kesal begitu melihat sang ayah pergi, tanpa menoleh padanya.
Padahal ada sosok anak perempuan yang sedang sangat menderita di dekatnya. Namun, sang ayah seolah begitu tak peduli dan tetap berlalu pergi.
“Ayah keterlaluan sekali! Paling tidak, ayah bisa, kan, berpamitan dulu padaku?!” protesnya kesal sendiri. “Atau, lebih bagus lagi kalau ayah minta pada wanita itu, untuk menghentikan hukuman konyolku ini!” tambahnya dengan wajah cemberut.
“Tapi ayah malah langsung pergi! Huh, kesal! Ayah keterlaluan!” keluhnya lagi bak seorang anak kecil.
“Emilio!”
Sosok yang sejak tadi setia berada di sampingnya pun diteriaki dengan kencang. Seperti, sosok tersebut adalah pelampiasan segala keluh kesah dan amarahnya, yang tak tersampaikan.
“Ya, Nona!”
“Kenapa dari tadi kau diam saja, sih?! Kenapa kau tidak menanggapi ucapanku sama sekali? Kupingmu sudah tuli, ya?!” semburnya pada si lelaki.
“Hah!” desah wanita itu dengan mulut terbuka.
“Apa kau tidak bisa menghiburku saja, Emilio?!” Della berucap lagi sambil menahan sabar.
“Saya akan menghibur Nona, setelah pulang dari sini,” balas Emilio seraya memalingkan wajahnya yang merona.
Hah! Della kembali mendesah, tetapi kali ini amat panjang dan terdengar lelah.
Tentu saja Della paham betul kemana arah dan tujuan ucapan pengawalnya itu. Dia sangat tahu!
Akan tetapi, apakah harus di saat-saat seperti ini? Haruskah dalam kondisinya saat ini, Emilio berpikiran ke arah sana?!
Yah, walau sebenarnya, Della sendiri pun juga menginginkannya!
Mungkin ada baiknya juga! Pening dan tekanan emosinya bisa mereda setelah bersenang-senang dengan bodyguard-nya itu.
Lagipula, Della pun menyadari bahwa hanya Emilio saja yang tidak membuatnya bosan. Sedangkan, pria-pria yang biasa menghibur, tidak ada yang
pernah bermain dengannya lebih dari dua kali.
“Okelah kalau begitu!” sahut Della seolah-olah dia malas dan tidak tertarik.
Padahal sebenarnya, ia pun sangat menginginkan hal itu. Karena bagi Della, hanya dengan bersenang-senang seperti itu, ia dapat membangkitkan mood-nya kembali.
Ah! Kepalanya mendadak terasa semakin pening karena memikirkan banyak hal.
“Ada apa, Nona?” Emilio lekas bertanya dengan khawatir. Sebab sang nona terlihat mengurut keningnya sambil mengernyitkan alis.
“Tidak apa-apa! Kepalaku mendadak pusing sekali!”
Mungkin karena panas matahari juga semakin terik, jadi dirasakan Della kepalanya semakin berputar dan pening yang kian meningkat.
“Tapi wajah Nona terlihat pucat. Apa tadi Nona tidak sarapan?” Emilio bertambah khawatir karena baru menyadari perubahannya warna kulit wajah sang nona.
Hatinya pun mendadak cemas berlebihan.
“Sudahlah! Aku tidak apa-apa! Tapi mungkin istirahat sebentar, lebih baik!” Della pun lekas memaksakan langkahnya yang gontai.
Wanita itu mulai merasa hilang keseimbangan. Namun, ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
“Biar saya bantu, Nona!” Dan Emilio selalu selangkah lebih maju dalam hal inisiatif.
Apalagi jika menyangkut tentang nona yang ia layani. Dengan lahir dan batinnya.
Pria itu dengan sigap merangkul Della, agar mudah memapahnya. Namun, baru juga direngkuh tubuh ramping itu, Della mendadak menjatuhkan seluruh bobot tubuhnya ke bawah. Wanita itu hilang kesadaran.
“Nona! Nona!” panggil Emilio berulang kali sembari mempertahankan Della agar tak jatuh ke tanah.
Setengah berlutut Emilio menahan tubuh Della yang hampir ambruk. Dalam posisi itu, ia pun mengecek napas dan denyut nadi sang nona.
“Syukurlah, Nona hanya pingsan!”
Pria itu pun lekas membawa Della dalam gendongannya. Mengangkat tubuh semampai sang nona di depan ala bridal, menuju siapapun yang dapat membantu mengobati nonanya tercinta yang mendadak tak sadarkan diri.
Sambil terus berharap, bahwa nonanya akan baik-baik saja.
Begitu setianya Emilio, tapi sayangnya, Della tidak juga melihat perasaan tulusnya itu.
Bersambung...