
"Kemana aku harus mencari mereka?" gumam Baz ketika ia baru saja keluar dari pintu yang Ben lewati tadi.
Kepalanya menoleh, bola matanya bergulir mencari-cari. Paling tidak, ia harus menemukan salah satu di antara keduanya. Entah itu Ben, ataupun Mirabel.
Jika rekannya itu tidak ia temukan, paling tidak, ia bisa menanyakannya pada wanita ular itu. Pasti dia mengetahuinya!
Baz menelusuri lorong itu. Mengikuti jejak yang ia tidak tahu sebenarnya adalah jejak yang Ben tapaki menuju ke toilet tadi. Kedua alisnya mengernyit, mengerut dalam kala menyaksikan sesosok di kejauhan.
"Wanita itu-?"
Ada apa dengannya? Karena rasa penasaran yang memberontak, Baz pun memutuskan untuk mendekati.
"Dia-?" Ditunjuk Baz Mirabel yang sedang berada dalam rangkulan seorang pria paruh baya, bertubuh gempal pula. Kerutan alisnya makin dalam kala melihat wanita itu sedang dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Oh! Dia kekasihku, Tuan! Dia terlalu mabuk sampai pingsan begini!" Buru-buru pria tua itu menimpali.
Dia sudah mendapatkan pesan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada siapapun, jika ingin menikmati tubuh indah di tangannya ini.
Melihat belahan dada yang begitu menggiurkan, hampir saja air liurnya menetes tanpa izin.
Tidak, tidak bisa! Dia harus berakting sebaik mungkin. Apalagi ia sudah dipesankan kamar oleh orang yang memberinya perintah.
Sungguh, ia seperti baru saja mendapatkan jackpot besar!
"Oh..." Mulut Baz langsung membulat tanpa bersuara. Dia pun segera mengangguk seolah mengerti situasinya.
"Wajahnya mirip dengan seseorang yang ku kenal. Tapi setelah ku perhatikan, sepertinya bukan," jelasnya sambil pura-pura menengok wajah Mirabel yang jatuh ke bawah.
"Kalau begitu silahkan..." Baz menghela tangan, mempersilakan orang itu untuk melanjutkan langkahnya, bersama Mirabel tentu. "Maaf, aku sudah mengganggu jalan Anda, Tuan!" tambahnya sopan.
"Tidak masalah! Kalau begitu saya duluan. Saya harus segera membawa kekasih saya ke kamar untuk beristirahat."
Baz membalasnya dengan tersenyum. Bahkan agak sedikit membungkuk saat kembali membiarkan pria tua itu melangkah dan melewatinya. Bersama Mirabel di rangkulannya.
Kening Baz berkedut. Meskipun sebagai sesama manusia, harusnya ia membantu menyelamatkan wanita ular itu. Tapi mengingat bagaimana licik dan mencurigakan tatapannya pada Ben, ia jadi melupakan sisi manusiawinya.
Biarkan saja! Besok pasti akan terjadi sesuatu yang menggemparkan.
Heh! Pria itu tersenyum smirk dengan salah satu sudut bibir terangkat naik.
Tunggu dulu! Dia tidak bisa senang dulu sekarang! Masih ada hal yang mesti ia selesaikan.
Lalu kemana perginya pria itu? Jika tidak ada bersama dengan wanita ular itu, lalu, dimana keberadaan Ben sekarang?
Baz memutar tubuhnya. Ia melangkah lebar menuju toilet, yang letaknya tidak jauh dari posisi ia berdiri saat ini.
Mungkin saja Ben ada di sana! Meskipun instingnya tidak yakin.
Pintu toilet itu ia buka. Dan, tak ada satu makhluk pun ia dapati di sana.
"Ben!"
"Ben!"
Lalu, untuk memastikannya lagi, dibuka Baz setiap kubikel yang pintunya tidak dikunci. Karena pada kenyataannya, semua kubikel itu memang tidak berpenghuni.
"Kemana dia?!" Baz mulai khawatir.
"Heh!" Dia menghela napas dengan kasar. Ditatapi pantulan dirinya sendiri pada cermin. Dia yang sedang berkacak pinggang dengan gurat kekhawatiran yang memenuhi wajah.
"Ck! Astaga! Aku seperti ayah yang sedang mengkhawatirkan putraku sendiri saja!" erangnya kesal sendiri sembari menghempas kedua tangannya dari pinggang.
Waktu pun seolah memburunya. Baz langsung ambil langkah seribu. Ia keluar dari sana. Lantas membiarkan instingnya menuntun langkah yang ia buat lebar dan cepat.
Mengapa ia merasakan hal buruk akan terjadi?!
Memikirkan hal ini, Baz pun jadi bertambah resah dan gelisah. Ia meraup wajahnya dengan kasar sambil terus berjalan. Semoga hal ini hanya perasaanya saja.
Di aula pesta,
Semua hal nampak berjalan lancar. Para tamu undangan pun kini tengah menikmati berbagai hidangan yang disediakan. Tidak sedikit juga yang berbincang mengenai bisnis mereka atau juga banyak hal lainnya.
Sudah lebih dari lima menit, Ben dan Baz belum juga kembali. Untuk ukuran seorang pria, itu sudah merupakan waktu yang cukup untuk sekadar menuntaskan urusannya di kamar mandi. Tapi saat ini, mereka belum juga kembali. Hal ini pun membuat seseorang menjadi khawatir.
Sudah tiga kali Victor melihat ke arah jam tangannya dengan resah. Ia berpikir, ini sudah waktunya untuk ia menyusul kedua pria itu.
Ekspresi terakhir yang ia lihat pada wajah kakak iparnya, membuat Victor tidak bisa tidak ikut khawatir dan terus memikirkannya.
Entah apa yang terjadi?! Namun ia tidak bisa menerkanya sama sekali.
Melihat ke arah depan, nampak Eric dan Tuan Benneth, mertuanya, tengah asyik dengan obrolan mereka sendiri. Dia pun jadi merasa tidak berat untuk meninggalkan tempat untuk sementara waktu.
"Aku permisi sebentar!" pamitnya pada mereka berdua.
Mungkin karena pembicaraan mereka terlalu serius, maka keduanya hanya mengangguk untuk menanggapinya.
Baru saja beberapa langkah ia beranjak dari sana, sebuah suara pun menghentikan langkahnya.
"Papa! Papa mau kemana?" tanya Bervan sambil menghampiri.
Nampak pula Bella dan Rose di belakang sosok putranya. Mereka berjalan dari arah kolam renang dan nampak kelelahan. Menjaga satu anak kecil yang super aktif itu memang luar biasa menguras tenaga. Huft...
"Ya, Victor! Kau mau kemana? Kenapa berjalan ke arah sana?" Bella pun membeo pertanyaan putranya. Alisnya sedikit berkerut karena wajah suaminya itu nampak tidak baik.
Rose mengangguk polos, menyetujui tanya yang diajukan ibu dan anak itu. Karena pertanyaannya sudah terwakilkan oleh pertanyaan Bella dan Bervan.
"Rose..." Kemudian Victor menjelaskan duduk permasalahannya. Sejak Ben pergi kemudian Baz menyusulnya hingga saat ini mereka belum kembali. Dan yang paling penting adalah keanehan ketika keduanya pergi.
Orang itu! Wanita itu!
Entah mengapa Rose langsung berpikir ke arah sana. Biang keladi dari semua masalah yang menimpa Harimau Putih. Dan bahkan dia tidak memikirkan Mirabel sama sekali. Rose tidak berpikir bahwa saudara tirinya itu adalah pelakunya.
Sebab, dengan segala upaya ekstrem yang dilakukan wanita itu, Rose langsung yakin jika saat ini pun berkaitan dengannya.
Tidak hanya lelaki, insting wanita pun tajam terhadap pesaingnya. Rose bahkan tidak tahu sejak kapan ia memberi gelar 'pesaing' kepada wanita itu. Wanita yang bahkan belum pernah dijumpainya, tapi sudah mengincar kekasihnya.
Meskipun Baz, Relly bahkan Ben sendiri sekalipun tidak menganggap ucapannya kala itu mengenai hal ini. Namun ia tetap menyimpan spekulasinya ini. Hingga detik ini, dimana instingnya itu semakin kuat.
"Kalau begitu, aku akan menyusul mereka!" putus Rose. Diangkat kanan-kiri gaunnya, agar ia bisa melangkah dengan lebih lebar.
Dia sudah tidak sabar. Rose ingin segera bertemu dengan kedua pria itu. Sehingga ia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan semoga saja tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
"Biar Kakak temani!" seru Victor sambil menahan lengan adiknya itu sehingga menghentikan langkahnya.
Bagaimanapun juga Rose adalah adik perempuan, yang harus ia jaga dan ia lindungi. Atmosfernya sungguh tidak enak dan mengandung banyak energi negatif yang menekan. Bahkan untuk bernapas pun rasanya sulit dan tidak bebas. Maka dari itu, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada adiknya, satu-satunya.
"Tidak, Kakak!" Tangan Victor lalu disingkirkannya. Kemudian Rose genggam sembari menggeleng. Dan genggaman tangan itu pun disatukan dengan tangan Bella yang baru saja ia ambil.
"Lebih baik Kakak menjaga Bella dan Bervan di sini. Kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Oke!" ujar Rose sembari mengguncang genggaman tangan kakak dan kakak iparnya yang masih bersatu dengan tangannya sendiri.
"Tapi, Rose-"
Wanita berambut pirang itu langsung menganggukkan kepala untuk memotong kekhwatiran Bella.
"Tidak apa-apa! Lebih baik kalian tetap di sini. Acara ini milik kalian. Akan berpengaruh jika kalian tidak ada, para tamu pasti akan bertanya jika salah satu dari kalian tidak ada di tempat."
"Sedangkan aku, acara akan tetap berjalan dengan lancar walau aku menghilang lama atau sebentar."
"Tunggu saja kabar dariku! Bila memang benar terjadi masalah, aku akan segera menghubungi Kakak!"
Rose tidak menunggu jawaban dari dua orang itu. Ia lantas setengah berlari, keluar melalui pintu yang hendak Victor lewati.
Bersambung...