Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Merangsang memori



BYUURRR


Seseorang langsung menyusul Rose, masuk ke dalam kolam renang itu.


Langkah Baz terhenti, saat dirinya, kalah gesit dari gerakan Daniel, yang begitu cepat seperti kilat.


Tanpa berpikir panjang, tanpa memedulikan Della yang hendak menahannya, serta pandangan orang-orang terhadap dirinya. Kaki Daniel bergerak sendiri. Bukan otaknya, tetapi hati yang membuat sepasang kaki itu melangkah, sedemikian cepat.


Daniel bergerak bak Flash, meninggalkan tunangannya, yang segera berwajah suram.


Sungguh pun, apa yang ditakuti Della, seperti, akan segera datang.


Sayangnya, kolam renang itu, tidak begitu dalam, sehingga, Rose bisa segera berdiri dengan tegak, lantaran ketinggian air, hanya sampai dadanya.


“STOP!” Diraup Rose wajahnya yang bersimbah air kolam, sambil berteriak keras juga dengan jemari tangan yang merentang ke depan. Nampak, jari-jari lentik itu, bahkan, masih gemetar.


“Berhenti di sana! Jangan bergerak, walau satu langkah pun!” Wanita itu mempertegas. Dilebarkan matanya saat pandangan mulai terlihat jelas.


Rose benar-benar memperingati Daniel alias Ben, dengan sangat-sangat serius.


Ia tidak ingin didekati. Ia tidak mau berbagi jarak dengan orang, yang sudah sangat lama ia rindukan, namun sekarang, terasa asing baginya.


Mungkin, sebenarnya, karena realita sedang mendesaknya untuk bangun dan menerima takdir ini.


Takdir apalagi? Bahwa dia harus kehilangan Ben, tepat di depan matanya lagi? Bahkan dengan jelas?


Sebab, rasanya, lebih menyakitkan, saat ditinggalkan untuk orang lain. Ketimbang kehilangan Rose yang kemarin dulu. Paling tidak, ia masih memiliki harapan supaya Bennya kembali.


Interupsi Rose sontak saja, membuat mulut Ben auto mengatup. Setiap kata yang akan keluar, berupa sebuah pertanyaan, lantas tertelan kembali ke tenggorokan.


Daniel, alisnya sedikit mengernyit. Lantaran ia bingung dengan ekspresi defensive, yang Rose tujukan pada dirinya.


Padahal mereka baru saja bertemu, namun, mengapa, wanita yang ia pikir adalah ibu dari Berly itu, malah seakan sangat menghindarinya?


Kapan dia telah berbuat salah?


“Aku tidak butuh bantuan siapapun. Jika kau ingat…, bahkan, aku sudah pernah selamat saat terjun ke laut,” ucap Rose parau seraya memalingkan wajahnya ke samping.


Melarikan pandangan terluka, yang makin lama makin menguluti setiap bagian hati dan nurani.


Rose tidak bisa, Rose belum siap. Dalam pikirannya, wanita itu merasa, ia hanya perlu, melarikan diri sebentar dari hadapan semua orang.


Ia perlu menenangkan, menjernihkan pikirannya, yang semerawut, kacau dan tak tertahankan.


Wanita itu, lantas berbalik pergi. Membelah riak air yang tak begitu dalam. Meskipun begitu, Rose ingin sekali tenggelam ke dalamnya. Agar, ia bisa melarikan diri, dari kenyataan ini.


Kenyataan yang tak ia harapkan sama sekali. Di mana, Ben kembali, hanya saja, pria itu sudah menjadi orang lain dan sudah menjadi milik oran lain. Meski, ia belum tahu apa penyebabnya.


Ada gelombang air mendekatinya di belakang. Tapi, wanita itu tidak begitu menyadari. Sebab, ia sedang sibuk dengan perasaannya sendiri. Hingga….


“Ekh!” Rose terkejut.


Ditolehkan wanita itu kepalanya perlahan, sambil merasakan tangan seseorang tengah menyampirkan jasnya ke bahu.


Netranya mendapati, wajah tampan dan tegas yang selama ini ia rindukan, ada di depan matanya saat ini. Namun sungguh ironi, tangannya tak dapat menggapai wajah itu.


Sungguh pun, Rose tidak dapat menahan gejolak ini. Di samping tubuhnya, di dalam air, dikepalkan Rose tangannya dengan kuat. Mata yang hendak menangis, ia perintahkan untuk menjadi kuat, walau hanya sebentar saja. Maka, bibirnya yang menjepit dengan keras, adalah usaha wanita itu menahan segala perasaan sedih ini.


Rose tidak mau menangis di depan Ben, yang saat ini, sedang menjadi Daniel. Pun, ia tidak ingin terlihat aneh, sebab pria itu pasti, tidak akan tahu, apa penyebabnya meluruhkan begitu banyak air mata.


“Aku sudah terlanjur, tercebur ke dalam air. Jadi paling tidak, terimalah sedikit ketulusanku!” sebut Daniel sambil sekali lirik pada sepasang mata abu-abu itu.


Akan tetapi, Rose tidak tahu, jika ternyata, tatapan menyedihkan itu, berpengaruh, sangat berpengaruh pada nurani Ben, yang sejak tadi kacau.


Ia tidak tahu, kenapa ia harus begitu peduli terhadap wanita ini?


Padahal wanita yang hendak ia tolong, sudah memakai jaket, jadi, meskipun ia kedinginan, masih ada sesuatu yang melapisi tubuhnya, dari angin malam yang menusuk. Apalagi, dalam keadaan tubuh yang basah.


Namun, tangan dan kakinya tetap bergerak untuk melakukannya. Seolah, ia ingin memberikan kontribusi apapun terhadap apa yang saat ini, tengah wanita itu alami. Seperti hal itu adalah sebuah kewajiban, maka ia mesti memberikan, kehangatan lagi, bagi ibu dari Berly itu.


Melihat penolakan Rose tadi, Baz segera berlari memutar ke sisi kolam yang lain. Ia sudah menuggu Rose datang ke tepian kolam, untuk membantunya naik ke daratan.


Benar! Wanita itu, lantas berbalik dari sana, tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan Daniel. Namun, ia tak menolak jas yang tersampir di bahunya.


Diterima Rose uluran tangan Baz dari atas. Yang kemudian, bisa membuatnya mentas, dari kolam nestapa masa lalu.


“Daniel!” Della memanggilnya dari pinggir kolam. Sudah ada Emilio juga di sana. Yang mendapatkan perintah, untuk menarik tunangannya itu, dari dalam kolam.


Panggilan itu pun, membuat Daniel, harus mengakhiri tatapan intens dirinya, pada punggung basah Rose, yang sedang menjauh.


***


Daniel kembali sebentar  ke kamarnya, untuk mengganti pakaian. Meski, Della berusaha sangat keras, untuk menahannya pergi, pria itu, lebih mengeraskan diri lagi, untuk tetap pergi ke sana.


Seperti alasan Della yang tidak masuk akal, untuk melarangnya datang ke sini. Sekarang pun begitu. Makanya, membuat Daniel semakin penasaran untuk mengetaui, makna apa, yang terkandung, di dalam semua kejadian ini.


Tentang Berly, ibunya, tatapan semua orang, serta sikap aneh Della. Yang menentang dengan sangat keras, untuknya kembali lagi ke sana.


Pada akhirnya, Daniel kembali ke pesta yang belum usai itu. Semua orang masih bertahan di sana, selain wanita itu. Padahal, lelaki yang tadi mengantarnya saja, sudah kembali lagi, ke acara makan malam ini.


Niat Daniel adalah, untuk menggali informasi apa saja yang bisa ia dapat.


Sebab, terlalu banyak hal aneh yang terasa, di dalam hatinya. Yang berhubungan dengan keluarga itu. Terutama, tentang Berly dan juga ibunya. Wanita itu, yang ia dengar dipanggil dengan sebutan Rose.


Mungkin saja, kan? Bisa jadi, mereka semua, memang berkaitan dengan siapa dirinya di masa lalu!


***


Keesokan hari,


Rose tengah menunggu-nunggu di dalam kamarnya. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, sambil menggigiti kuku jarinya, dengan gelisah.


Selamam, jas basah milik pria itu, juga pakaiannya sendiri, sudah ia berikan pada pihak resort untuk di laundry. Kilat, agar ia bisa segera mengembalikannya.


Ia sudah memikirkan hal ini sejak semalam, hingga pagi tadi. Apa yang harus ia lakukan dengan semua kenyataan ini?


Akhirnya, ia bisa berpikir dengan benar, Setelah merasa lebih relaks dan tenang, dalam menghadapi kenyataan ini.


Nampak terluka dan menghindar, nyatanya, bukanlah sebuah solusi. Rose berpikir, untuk menghadapinya dengan kuat. Seperti selama ini, ia telah begitu kuat dan sabar untuk menunggu Ben kembali.


Bertanya langsung, apa dan kenapa, mungkin akan sulit. Paling tidak, ia bisa menemuinya dulu. Untuk lebih memastikan, apakah pria itu, benar-benar sudah melupakannya.


Juga, hal lain di balik semua ini.


Maka, disambar Rose tas kecil berisi jas yang sudah bersih, dari atas tempat tidurnya.


Jas yang sudah menunggu untuk mendapatkan sebuah keputusan, apakah, ia akan kembali lagi, ke pemiliknya atau tidak.


Kali ini, ia bisa bergerak dengan bebas, karena Berly sedang ikut dengan kakaknya. Mereka akan mencoba untuk melakukan snorkeling. Dan putrinya itu, sudah tidak sabar untuk melakukannya.


Karena pagi tadi, Rose masih merasa kurang baik perasaannya, maka, dia memutuskan untuk tidak ikut. Jadi Baz menawarkan diri untuk menjaga dan mengawasi putri kecilnya itu.


Sementara ia sendiri, saat ini, akan menyelesaikan permasalahan pelik ini.


***


Daniel kembali ke kamarnya, siang ini, dalam keadaan kusut. Sejak pagi, ia sudah meninjau proyek pembangunan resort. Dan sikap Della, makin mengusik dirinya. Setelah kejadian semalam.


Wanita itu, makin posesif tidak karuan. Tidak mau melepaskan tangannya, bahkan untuk sedetik pun. Padahal, tadi itu, ia sedang bekerja.


Dirinya jadi tidak leluasa bergerak karena Della selalu saja, menggandeng tangannya dengan erat. Padahal lokasi proyek ini, masih nampak begitu terjal dan kasar, sehingga mereka akan terjatuh atau tersandung, jika saja mereka tidak melangkah, atau menapak dengan hati-hati.


Keributan dan pertengkarang pun tak terelakkan. Pria itu sudah menahan sabar sejak lama. Tentang semua pertanyaan yang ia punya, mengenai siapa sebenarnya dirinya ini.


Dan dengan sikap aneh Della juga betapa tunangannya itu tidak suka, dirinya bertemu lagi dengan Berly, membuat Daniel meledak akan amarahnya.


Dengan marah, Daniel memertanyakan hal itu. Kenapa? Kenapa dia tidak boleh berhubungan dengan Berly lagi? Apa yang sebenarnya Della sembunyikan darinya?


Karena tidak bisa menjawab, maka Della hanya semakin marah dan merajuk. Wanita itu, menutupi kenyataan dirinya, yang tidak sudi mengungkapkan kebenaran dengan mengamuk dan berucap tidak jelas pada Daniel.


Della, wanita itu sepertinya, sudah menyadari, apabila, anak yang bernama Berly itu, sebenarnya adalah darah daging dari Daniel yang sebenarnya adalah Ben, dengan kekasihnya, Rose.


Dengan kenyataan ini, wanita itu, makin kalang kabut. Makin ketakutan, apa yang sudah menjadi miliknya, akan direbut kembali. Padahal, ia sudah mendapatkan pria itu dengan susah payah.


Daniel tidak mengerti, ia hanya semakin marah dengan perdebatan mereka, yang makin tidak jelas fokus utamanya. Maka, pria itu pun memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya, setelah mereka sampai di area parkir.


Ia tinggalkan tunangannya itu, di dalam mobil. Bersama dengan pengawalnya. Tidak peduli lagi, Della yang masih menjerit dan meneriakkan namanya. Daniel tetap berjalan cepat, sambil membuka kancing jasnya dengan kasar.


Seperti sesak napasnya, karena emosi yang memuncak itu.


Saat sudah sampai di dalam kamar, pria itu lantas melepaskan jasnya yang berwarna biru. Lalu menyampirkannya, pada salah satu sofa yang terdapat di sana.


Ada sebuah kulkas kecil di sudut kamar. Daniel pun menghampirinya. Ia merasa tenggorokannya begitu kering, setelah melakukan perdebatan panjang tadi. Dengan Della.


Maka, sebuah botol air mineral ia ambil. Untuk ia nikmati kesegarannya. Mengisi ulang ion-ion positif yang tadi sudah menghilang, terbawa keringat juga emosinya.


Duk~!


Diletakkan Daniel botol air itu di atas kulkas dengan kasar. Sampai, botol itu memuncratkan isinya keluar. Membasahi sebagian kecil taplak kulkas berbentuk bunga.


“Haahhh!” Pria itu lantas mengembuskan kekesalannya melalui mulut yang terbuka.


Meninggalkan botol yang masih terbuka itu. Tangan Daniel pun beralih pada kancing kemeja putihnya.


Ternyata, dengan membuka jas saja tidak cukup untuk mengurangi gerah dan panas akibat emosinya tadi. Daniel pun membuka dua buah kancing kemejanya. Sehingga, dadanya yang bidang, liat dan kokoh, mengintip dari sana.


Masih tidak cukup, maka ia membuka kancing lengan, kemudian melipatnya asal, sampai ke siku.


Srreeekkk~!


Digeser Daniel pintu kaca yang menghubungkan kamar itu, dengan teras kecil. Yang langsung terhubung ke pantai dan dapat melihat langsung, debut ombak di sana.


Lantas, ia mendudukkan diri pada salah satu kursi rotan. Bersandar, menengadahkan kepala, serta meluruksan kakinya yang panjang.


Lelah, penat dan emosional yang tadi ia rasakan, sedang dinetralisir. Dengan menghirup udara segar angin pantai, yang menurutnya selalu terasa lebih sejuk, daripada pantai mana pun yang pernah ia kunjungi.


Seperti tadi malam, ia sedang merelaksasi diri bersama alam yang begitu tenang.


Satu menit, dua menit…, sampai limat menit Daniel begitu santai melepaskan beban yang tadi bergelayut di bahu serta pikiran.


Saat memejamkan mata, bayang bayi perempuan yang biasa datang pada mimpinya, pun hadir, ia tersenyum. Hingga tiba-tiba, bayi itu membesar dan berubah wujud menjadi sosok Berly.


Anak perempuan itu tersenyum manis padanya. Senyum yang Berly berikan, saat mendapatkan hadiah ulang tahun darinya. Begitu lebar, begitu senang. Sampai, tanpa sadar, Daniel tersenyum saat ini, di kala matanya masih memejam.


Dan, bayangan yang muncul terakhir adalah, bayang ibu dari Berly, Rose. Nampak, pandangan terluka Rose ketika mereka berdua berada di kolam renang.


Akan tetapi, bukan dialog yang sama yang keluar dari mulut Rose, seperti sat itu.


‘Kenapa kau tidak kembali padaku? Padahal aku sudah menunggumu begitu lama!’


Wajah sayu dan lesu itu pun berpaling. Lalu kembali pada adegan yang seharusnya, ketika seorang lelaki menolong dan membantunya mentas dari kolam itu.


“Tunggu! Hey, tunggu! Apa maksud ucapanmu? Jelaskan padaku, apa maksud ucapanmu!” teriak Daniel, baik di dunia ilusinya, serta di kehidupan nyata saat di mana dirinya masih memejamkan mata, saat ini.


Pegangan kursi rotan itu pun ia cengkeram pada kedua sisi tangannya. Lantas pria itu membuka mata dengan cepat. Membola begitu besar, sambil ia berusaha menegakkan duduknya kembali.


Daniel masih berpegangan dengan kuat, saat ia berusaha menetralisir napasnya yang terengah. Dan, pada saat itu juga, matanya menangkap sebuah objek. Punggung seorang wanita. Yang menduduk di pasir pantai, tak jauh dari teras kamarnya itu.


Seperti tadi malam, kakinya bergerak sendiri. Berjalan ke arah objek itu berada. Melangkah sambil membawa pening yang mendadak datang, setelah ia membuka mata.


Bahkan, dengan langkahnya yang terhuyung pun, ia tetap berjalan sambil memegangi kepalanya yang diserang rasa sakit yang hebat.


Merasakan ada langkah kaki yang mendekat, Rose pun segera berwaspada. Diambilnya ancang-ancang dengan bertumpu pada pasir, jadi ia bisa sedikit mengangkat bokongnya.


Arahnya dari belakang, maka dia bisa menendang kaki orang itu dari bawah dengan gerakan memutar. Atau bisa juga dengan memberikan satu pukulan telak, setelah ia berhasil berdiri.


Rose sudah bersiap, dan langkah itu pun semakin jelas terasa getarannya, pada pasir-pasir yang saat ini ia tapaki, menggunakan telapak tangan.


Satu, dua, tiga! Rose menghitung dalam hati, sebelum ia melayangkan serangannya.


Tubuh yang masih menduduk itu berputar, dengan tumpuan kedua tangan. Kaki kirinya menekuk, memberi ruang pada kaki kanan yang memanjang dan mengikuti putaran tubuh.


Dek~!


Serangan itu, tepat mengenai tulang kering seseorang dan membuat tubuh itu hilang keseimbangan.


“Aakhh!” Orang itu bahkan memekik karena refleks dari sakit yang ia rasakan.


“Hhaa….” Rose menganga, karena orang yang ia serang ternyata adalah Ben, atau pria yang disebut dengan nama Daniel, sekarang.


Rose telah sangat terlatih, ia pun sudah mempunyai refleks yang bagus. Maka, masih sempat wanita itu bangun untuk menahan Daniel, agar tidak benar-benar terjatuh.


Sayangnya, bobot Daniel yang begitu besar, hilang keseimbangan, juga dengan kepala yang sedang berdenyut, membuat lelaki itu tidak dapat mempertahankan posisi diri. Dan Rose pun tidak dapat menahannya.


Duk~! Bugh~!


Keduanya pun terjatuh dalam posisi Daniel yang berada di atas tubuh Rose. Tubuh kekar itu menimpa seluruh tubuh Rose, sampai wanita itu memekik dan kesulitan bernapas.


Masih dapat dirasakannya, tubuh itu tetap kekar terjaga, massa otot-ototnya pun tidak berkurang. Tubuh itu, masihlah tubuh Ben yang ia kenal. Juga sudah Rose hapal.


Menyadari ia telah menjadi beban untuk seseorang, maka, sambil menahan sakit di kepalanya itu, Daniel berusaha bangun. Mengangkat kepala yang berada di samping wajah Rose, dengan susah payah.


Kini, wajah Daniel sudah berada di atas wajah Rose. Wanita itu memerhatikan mata yang mengerut saat memejam, juga ekspresi kesakitan.


Ada apa dengannya? Apakah tendangannya tadi benar-benar keras? Apakah benar-benar menyakitkan? Atau jangan-jangan, tulangnya ada yang patah?


Mendadak khawatir, Rose lantas bertanya. “Hey! Kau tidak apa-apa? Apakah tendanganku menyakitimu?”


“Ugh~!” Daniel ingin menjawab, namun, sakit di kepalanya malah semakin hebat.


Dan sebelum tubuh besar itu menimpanya lagi, maka Rose mendorongnya sekuat tenaga. Menggulingkan tubuh Daniel di atas pasir.


Akan tetapi, dengan cepat pula, tangan Daniel meraih pinggang Rose, sehingga mereka jadi berguling bersama. Lalu, tubuh Rose pun kini, bergantian, menjadi berada di atas tubuh pria itu.


Rose ingin melepaskan diri, ingin bangun dan menduduk untuk mengecek keadaan, pria, yang bahkan saat ini, masih mempertahankan ekpresi kesakitannya. Namun, Daniel tidak melepaskan rengkuhannya sama sekali.


Dan makin sakit ekspresi di wajah itu, makin kuat pula tangan Daniel mencengkeram pinggangnya.


Baiklah! Melewatkan rasa rindu akan sentuhan pria itu, Rose perlu mengedepankan tentang apa yang terjadi padanya, sekarang.


“Apa yang terjadi? Kau kenapa, sebenarnya?” tanyanya.


Diletakkan Rose kedua telapak tangannya di dada pria itu, demi menopang tubuhnya, agar tidak terlalu menimpa tubuh Daniel. Juga demi melihat wajah yang masih memiliki ekspresi kesakitan itu.


“SShhss…,” ringis Daniel seraya menambahkan kerutan di mata yang memejam. “Ku mohon, biarkan, tetap seperti ini, sebentar saja!” pinta pria itu kemudian.


Tanpa membuka mata. Karena ia sedang merasakan, stimulus-stimulus paksaan yang sedang menyerang, juga merangsang memori otaknya.


Bersambung…