Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Membuat Strawberry Cheese Cake



“Oh, itu!”


“Tadi, saat sedang mandi aku bertanya padanya-“


“Apa kau bilang?! Kalian mandi bersama?” Victor langsung memotongnya dengan nada bicara yang meninggi.


Dadanya naik turun menahan emosi, sebab pernyataan yang barusan Ben ucapkan. Apa-apaan?!


Meskipun dia juga adalah seorang lelaki, rasanya, jika mendengar hal itu mengenai adiknya sendiri, hatinya gemetar juga. Victor seperti ingin menerkam temannya itu sekarang.


Pria itu sudah seperti ayah yang sedang menjaga putri kesayangannya. Sangat ia jaga, sampai hatinya selalu bergetar khawatir setiap saat.


Padahal ayah kandung mereka sendiri, tidak memikirkan anak-anaknya sama sekali. Dia terlalu sibuk dengan siluman yang menjadi ibu tirinya, serta memanjakan putri yang bukan darah dagingnya sendiri. Sungguh ironi!


“Ck! Kau ini belum apa-apa sudah emosi! Makanya, dengarkan aku dulu sampai selesai!” Ditatap Ben malas pria itu.


“Ya! Kau bisa cepat tua, Sayang!” sahut Bella dari kursinya.


“Tentu saja aku bertanya pada adikmu itu dari luar pintu kamar mandi! Mana mungkin dia mengizinkan aku masuk!” jelas Ben, namun terdengar seperti keluhan.


“Ha… ha… ha!” Victor terbahak dengan keras. Pun diikuti Bella yang meletakkan tangannya di mulut untuk menahan tawa.


“Jadi kalian belum melakukannya?” tanya Victor mempertegas keadaan. Dan malah mengorek dan menyulut luka yang selama ini Ben tahan.


“Ck!” Bibir Ben mencibit menahan kesal.


Bisa-bisanya dia tertawa!


Padahal jika mau, Ben bisa saja melakukannya! Hanya saja, dia ingin melakukan hal itu atas dasar keinginan bersama. Tanpa ada paksaan sama sekali.


Andai saja pria itu tahu niat baiknya ini! Pasti mulut kurang ajarnya itu akan berhenti tertawa.


“Kau ini pa- yah… sekali!” Mulut Victor seketika bungkam saat disorot tajam oleh istrinya itu.


Bisa-bisanya dia menertawakan hal seperti itu, dan malah, berkaitan dengan adiknya pula! Benar-benar keterlaluan!


“Kau pikir aku tidak mampu, heh?!” Ditegakkan punggung Ben sambil membola matanya.


Ben tidak dapat diam lagi, ketika harga dirinya sebagai lelaki diinjak-injak seperti ini!


Siapa bilang dia tidak mampu?! Sudah dia katakan, bahwa Ben hanya tidak mau!


Semua orang juga tahu, dulu, wanita yang ia bayar untuk memuaskan kebutuhan biologisnya, akan pulang dalam keadaan lemah tak berdaya. Karena Ben tidak memberikan mereka kesempatan untuk mengistirahatkan diri barang satu jam saja.


Semua wanita itu harus pergi dari hadapannya, setelah kepuasannya tersalurkan.


Bisa-bisanya Victor mengatakan dirinya tidak mampu! Padahal orang itu tahu sendiri bagaimana kinerjanya! Huh!


“Jadi bagaimana?” tanya Victor hati-hati, di bawah tatapan tajam istrinya.


Maksud hatinya adalah untuk mengalihkan topik, karena situasinya sudah tidak kondusif lagi. Bisa-bisa dia diterkam oleh dua orang menakutkan di hadapannya ini.


Disandarkan Ben punggungnya kembali sambil mendengkus. Melepas kekesalannya pada Victor melalui tiupan napas kasar dari hidungnya.


“Apa Relly sudah mengatakan jika kami mengalami masalah di gudang senjata?” tanya Ben mulai mengubah wajahnya menjadi serius.


“Ya!” Karena ketika Relly menghubunginya pertama kali, ia pun langsung menjelaskan runut kejadiannya dari awal sampai akhir, mengapa adiknya itu bisa dituduh sebagai pengkhianat di sana.


“Akan memakan waktu jika kami mengejar bagian produksi. Masalahnya, stok senjata yang tersisa sudah sangat menipis. Hanya cukup untuk persediaan kami saja. Tidak ada persediaan lagi untuk para pemesan.”


“Maka Rose pikir, dengan adanya tambahan kas masuk, kami bisa mencari stok senjata dari tempat lain. Paling tidak, kami tidak kekurangan persediaan senjata di sini,” jelas Ben panjang lebar.


Victor mengangguk, mengerti kemana arah cetusan ide adiknya itu. Tidak dengan Bella, yang ikut mengangguk saja sebagai formalitas. Urusannya terlalu rumit untuk ia pikirkan.


Bahkan ia serahkan urusan perusahaan kepada kakaknya. Bella tidak mau ambil pusing, karena dia sudah cukup repot dengan Bervan, kala itu.


“Pintar juga anak itu!” Victor masih mengangguk ketika menatapi adiknya yang masih berlari, mengelilingi lapangan. Tonjolan pipinya terangkat naik, kala dia menyunggingkan senyum bangga pada adiknya itu.


“Yah… aku juga tidak menyangka dia akan berpikir jauh ke depan!” Ben pun mengalihkan perhatiannya.


Cara memandang kedua pria itu sama ketika menatap Rose di kejauahan. Mereka sama-sama senang dan bangga atas ide yang Rose berikan.


Ben pikir, bahkan dari semua cerita yang ia dengar, ketika kerusuhan terjadi malam itu, hanya Rose yang mampu berpikir dengan kepala jernih, di antara semua orang.


Pria bertopi koboi itu tidak tahu jika selama ini ia menyimpan mutiara terpendam!


Tidak karena rasa bangganya kian membesar, lantas Rose diberikan kompensasi atas hukuman ganda, yang tengah ia jalankan.


Ya! Semuanya harus berjalan sesuai aturan! Sesuai dengan titah yang telah dia berikan.


Pria seram dan kejam itu terlalu disiplin sampai Rose terengah-engah mengikuti setiap perintah dan aturannya. Meskipun Rose tahu, hal itu dilakukan semata-mata demi kebaikan dirinya sendiri.


Tapi… rasanya ingin menangis juga setiap kali selesai melakukan sesi latihan pagi yang menyiksa itu. Tubuhnya terasa remuk! Apa pria itu tahu?!


“Aku membawakan sesuatu untukmu!” Ben masuk dari pintu rahasia ketika Rose sedang merebahkan diri usai mandi, membilas peluh sisa latihan.


Satu tangan pria itu terlipat ke belakang. Seperti membawa sesuatu di sana.


Rose sangat ingin membalas senyum lebar pria itu. Namun yang terjadi, kelelaahan menjadikan raut wajahnya menjadi suram. Salah sendiri sudah memerintahkannya untuk melakukan latihan ganda?!


Namun Rose tetap bangun, mendudukkan diri sambil menekuk wajah dan bibirnya. Digeser tubuhnya untuk memberikan ruang bagi tuan seramnya yang menjengkelkan itu, untuk ikut menduduk di atas tempat tidur.


“Semoga saja kau suka!” seru Ben seraya memindahkan tangannya yang semula di belakang punggung, ke hadapan Rose.


Piring kemarik berukuran kecil, menjadi alas untuk sepotong kue cantik.


“Ini adalah makanan favoritku di sini! Cobalah!” Mata berbinar itu mengangkat sedikit alisnya, mempersilakan Rose untuk mencicipi Strawberry Cheese Cake kesukaannya. Dan semua orang tahu itu.


“Kau… suka makanan manis seperti ini?” Bukannya langsung mencoba, Rose malah bertanya dengan nada terheran-heran.


Ben kesal dalam hati. Ekspersi kekasihnya itu sama seperti Baz ketika pertama kali ia tawarkan kue ini. Apakah mereka sedang mengejeknya, hah?


Karena dia adalah seorang pria?


Lalu suka makanan manis?


Apakah itu sebuah masalah?


“Memangnya ada yang salah? Ini juga masih makanan, kan? Apa ada makanan yang harus aku tidak sukai?” tanya Ben balik dan semakin menyodorkan piring kue itu ke depan.


Enggan menanggapi, Rose langsung mengambil sendok kecil di pinggir kue itu, lalu mengambil sebagian dari potongan dan memasukkannya ke dalam mulut.


“Emm….” Rose bergumam ambigu sambil menghabiskan sisa kue di dalam mulut.


Dia mengerjap pelan, menikmati sensani manis asin kue serta rasa asam menyegarkan dari potongan buah strawberry yang dibuat tipis-tipis di atasnya.


Perpaduannya sempurna, dan membuat Rose ketagihan untuk menyuapkan ke mulutnya lagi.


Diambil alih piring kue itu dari tangan Ben. Rose langsung menguasai dan menikmatinya dengan serakah. Bahkan tubuhnya berpaling, tak ingin ada siapa pun yang berebut dengannya.


Ben terkekeh pelan. Dia senang jika Rose pun menyukai makanan favoritnya itu. Pria itu tersenyum sendu, pada wanita yang kini tengah menyuapkan bagian terakhir kuenya.


“Kau mau tambah?”


Rose mengangguk cepat sambil menyodorkan piring yang sudah kosong.


“Sayangnya… itu potongan terakhir!” Pria itu pura-pura tersenyum lemah.


“Kalau begitu, pergi sana! Aku mau istirahat!” Sembari mendorong Ben agar bangkit dari tempat tidurnya. Rose masih merajuk, rupanya!


Tadi, dia melupakan kesalnya karena disogok sepotong kue manis nan menakjubkan. Karena kue itu habis, maka dia kesal lagi sekarang! Huh!


Ben tergugu karena berhasil menggoda kekasihnya itu. “Bagaimana jika kita membuatnya?”


Rose segera menoleh dengan penasaran.


“Kita?” Ben mengangguk.


“Membuatnya?” Mengangguk lagi sambil tersenyum.


“Kau dan aku?” Makin lebar senyum di bibir pria itu.


“Bukan aku, tapi kau!” Ben mendudukkan diri kembali. Dan kini wanita itu sudah tidak merengut lagi seperti tadi.


“Kau bisa membuat kue, dan aku akan memberitahu resepnya!” tawar Ben dengan senyum dan alis yang terangkat naik.


“Bagaimana?” tanyanya lagi memastikan.


Bersambung…