Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Memekak telinga



“Kau begitu kaget, hem?! Mereka sepasang kekasih!” Ben terkekeh ketika mengatakan hal ini. Sepertinya hal seperti ini pun menjadi hal baru yang Rose ketahui. Mungkin Rose tahu, namun agak terkejut karena melihat pemandangan ini secara langsung. Tapi tidak apa-apa! Ada banyak hal yang akan dia ketahui lagi ke depannya. Ben membelai kepala wanita itu dengan sayang.


Rose mengerutkan alisnya di depan sembari berpikir. Pantas saja tadi orang itu menatapnya begitu sengit saat Anggie mendekatinya. Mungkinkah cemburu?!


Tetap saja, yang lainnya tak dapat memberikan komentar apa pun. Anggie dan Zayn aka Zayna itu, meskipun seorang wanita, kedua orang itu termasuk jajaran atas orang-orang terkuat di dalam geng Harimau Putih. Yang bersama mereka yang lainnya saat ini, meskipun masih tergolong yang terkuat, namun masih kalah kemampuan perangnya ketimbang dua orang itu.


Apalagi jika sudah menggunakan seragam mereka untuk berperang melawan musuh, wajah genit milik Anggie dan ekspresi datar milik Zayn pasti berubah serius. Marahnya mereka cukup membuat nyali lawan menciut. Hal itu yang membuat rekan mereka begitu menghormati keduanya. Dan jangan sampai juga mereka membuat masalah dengan dua wanita satu-satunya di dalam kelompok mereka itu. Konsekuensinya akan merepotkan.


“Ahh!” Rose memiliki pemikirannya sendiri sembari melengkungkan sudut bibirnya. Ben kemudian mengerutkan alis tatkala tangan mungil wanita itu meninggalkan lengannya. Rose tiba-tiba menyelak di antara Anggie dan Zayn lalu merangkul mereka berdua.


“Ayo kita berteman!” serunya penuh semangat pada dua wanita itu.


Anggie dan Zayn saling tatap dengan ekspresi bingung.


“Sebelumnya aku berpikir bahwa hanya akan ada aku, wanita sendiri di tempat ini. Ternyata ada kalian! Aku jadi lega. Aku senang akhirnya bisa memiliki teman wanita di sini!” Menoleh ke kanan dan ke kiri, Rose memamerkan senyum polosnya kepada mereka berdua.


Ketika Anggie memberikan senyum canggungnya, dia juga tengah berpikir sebaiknya bagaimana. Selain merasa tidak nyaman dengan predikat nyonya bos yang Rose sandang, dia juga takut Zayn akan semakin menjadi cemburunya.


“Jangan khawatir, aku tidak tertarik padanya sama sekali! Di hatiku hanya ada Ben seorang,” serunya saat melihat wajah waspada Zayn padanya. Rose bahkan berani menjentikkan telunjuknya ke dagu wanita maskulin itu.


Awalnya Ben merasa tidak senang tatkala memikirkan jika perhatian Rose akan terbagi pada kedua anak buahnya itu. Ben sudah cemburu di awal mengenai kedekatan yang akan Rose jalin dengan mereka. Tapi setelah mendengar kekasihnya itu menyebutkan namanya barusan, Ben segera berhenti sambil menyembunyikan senyum puasnya. Rose masih mengingat dirinya ternyata.


“Kalau begitu, aku tunjuk kalian berdua untuk menjadi pelatih bela dirinya!” Dia segera membalikkan badan, disusul yang lainnya secara mendadak. Ben membuat keputusan yang efisien dengan tepat. Kekasihnya itu pasti akan menyukainya.


“Ide bagus!” Rose segera menyetujuinya dengan wajah bersemangat. Dia melepaskan rangkulan di bahu Anggie dan Zayn kemudian bertepuk tangan sendiri.


Melihat kekasihnya itu begitu senang, Ben merasa bersyukur. Lalu ia memandang ke sekeliling Rose, dimana anak buahnya hanya diam. Ben memelototi mereka, memberi isyarat agar ikut bertepuk tangan seperti yang Rose lakukan. Pada akhirnya, riuh juga dengan tepuk tangan dan senyum kaku dari para bawahan pria bertopi koboi itu.


Anggie dan Zayn bahkan tak luput dari incaran mata bosnya. Mereka juga ikut bertepuk tangan sambil mengapit wajah puas dan ceria milik Rose. Keduanya sebentar bertukar pandang. Bos besar sudah memberi titah, maka tugas negara harus dijalankan. Mereka harus profesional. Keduanya saling mengangguk pelan.


“Ada apa? Mengapa kalian semua bertepuk tangan?” tanya Relly yang baru datang. Dia bergabung dalam riuhnya tepuk tangan yang belum selesai itu.


Senyum ceria Rose yang semula tersemat di bibirnya perlahan menjadi kaku, ditambah dengan ekspresi kebingungan. Dia menoleh ke sekelilingnya lagi, ternyata semuanya bertepuk tangan. Menatap wajah kaku semuanya, tepuk tangan perlahan bertempo pelan.


Suara berisik dari koridor itu memancing mata-mata anggota Harimau Putih yang sedang berada di tempat mereka masing-masing mengalihkan perhatian. Mereka sudah mendengar kabar Ben yang sudah kembali. Melihat ada pria bertopi koboi di sana, mereka sudah tentu yakin jika itu adalah bosnya. Tak ada lagi yang berpenampilan eksentrik seperti itu di sana.


Tapi tatapan mereka kembali teralihkan pada sosok cantik dengan rambut pirang di tengah kerumunan. Begitu cantik hingga tanpa sadar mereka semua menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan saking terpukaunya. Mulut mereka menganga menikmati anugerah indah itu. Namun Ben belum menyadari hal ini.


“Baik, Tuan!” Mereka semua menjawab serempak.


“Sampai bertemu besok!” bisik Rose pada dua calon pelatihnya itu. Wajahnya yang ceria dan bersemangat membuat kaku di wajah Anggie dan Zayn mengendur. Mereka terlihat lebih santai.


“Baik!” jawab wanita seksi itu juga sambil berbisik. Anggie dan Rose saling menunjukkan ibu jari mereka ke udara. Lalu Zayn juga sudah bisa merubah sedikit kaku senyum di bibirnya. Mereka berdua pun berjalan menuju arah yang mesti dituju.


Rose selesai melambaikan tangannya pada dua punggung yang sekarang membelakanginya. Anggie dan Zayn sudah berjalan menjauh.


Tinggallah Relly seorang diri di sana bersama pasangan itu. Mulut Relly bergumam menanyakan kepergian rekannya satu persatu.


“Ayo! Aku akan menunjukkan kamar yang akan kau tempati.” ajak Ben pada Rose seraya mengulurkan tangan. Dia mengacuhkan Relly yang kebingungan.


“Oke!” Rose tak ragu untuk menyambut tangan itu. Mereka berjalan lagi meninggalkan Relly sendirian. Keduanya bergandengan tangan di bawah tatapan sedih seseorang.


Sepertinya hidupnya ini ditakdirkan untuk selalu sendirian! Relly bergumam sedih sambil menundukkan kepalanya, setelah seorang bawahan berjalan melewatinya sambil membawa koper milik Rose. Dia benar-benar sendirian!


Baru beberapa langkah, Ben menghentikan laju kakinya. Begitu pun Rose menyusul lalu menatapnya heran. Ada apa sebenarnya? Rose memperhatikan wajah Ben dengan penuh minat.


Naluri pria itu kuat, ia merasa ada banyak pasang mata memperhatikan ke arahnya. Namun Ben belum mau menoleh. Pria kuat itu hanya memperhatikan dan merasakan dalam diamnya saat ini.


Rose yang memperhatikan hal ini pun mulai bertanya dengan hati-hati ketika melihat wajah tidak senang Ben.


“Ada apa?” lirih dia bertanya.


Bawahan Ben yang membawa koper Rose pun mulai membaca situasi mengenai berhentinya langkah bos besarnya itu. Kemudian dia menggigit kuku jarinya sendiri dengan ekspresi ketakutan.


Mati! Mereka semua cari mati! Baru saja nyawa Relly terselamatkan. Sekarang lagi-lagi ada banyak orang yang sepertinya akan rela menyumbangkan nyawa mereka kepada bos besarnya itu.


Dia ingin memberikan kode kepada rekan-rekannya itu, karena bagaimana pun juga jiwa solidaritasnya masih tinggi. Namun dia juga tidak mau salah jalan. Takutnya nyawanya akan terancam karena hal ini. Jadilah hanya diam sambil gemetar dirinya saat ini sambil menantikan apa yang akan terjadi.


Dor!


Hingga akhirnya suara tembakan pecah memekak telinga.