Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Karma



Saat ini, Mirabel tengah berjalan, untuk  kembali lagi ke kamarnya. Tidak, bukan! Ke kamar yang ia dan ibunya tempati.


Dalam langkahnya yang terburu-buru, napas wanita itu naik turun dengan cepat. Masih dirasakannya ketakutan yang begitu hebat.


Sesekali, ia pun merinding saat mengingat bagaimana tuan itu mengancamnya.


Sungguh! Wujud Ben yang tadi ia temui, sangat-sangat menakutkan. Meski penampilan dan pakaiannya, sangat menggoda imannya.


Mirabel masih ingat saat Ben mengancamnya, untuk tidak mengganggu hidup Rose lagi. Jika Mirabel melanggarnya, maka Ben tak akan ragu untuk menghancurkan hidupnya sampai menjadi debu.


Bahkan, pria itu mempraktekkan bagaimana kepalan tangannya bergerak. Meremat angin di depan mereka, seolah sedang menggenggam batu, kemudian membuatnya hancur sampai menjadi butiran pasir. Lalu terbang bersama angin.


Pria itu juga mengatakan hal apa yang terjadi pada Tuan Rogh saat ini. Tentu saja Mirabel mengingatnya. Pasti ibunya juga. Tentang siapa pria itu.


Ben mengatakan telah memberi hukuman kepada pria tua bangka itu. Ia juga tak akan ragu untuk menghancurkan hidup siapa saja, yang sudah berani menyakiti Rose. Bahkan sebelum bertemu dengannya sekali pun.


Kemudian Ben mengusirnya begitu saja. Juga tidak mau menerima makanan yang sudah ia bawa. Pria itu bilang, khawatir Mirabel akan memberikan sesuatu lagi kepadanya.


Huh!


Hatinya langsung digerogoti rasa kesal kala mengingat hal itu. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, perasaannya langsung dijungkir balikkan dengan rasa gelisah yang membara.


Ben mengingatkan, bahwa karma akan selalu ada.


Karma!


Kata itu seolah terus terngiang di telinga. Mengusik jiwa dan batinnya yang semula tenang. Mirabel jadi teringat kejadian semalam. Saat ia malah berakhir dengan seorang pria tua gendut itu.


Tanpa sadar pula, tangannya yang masih memegang baki, memegang dengan cengkeraman kencang. Mirabel mulai memikirkan dosa apa yang telah ia dan ibunya lakukan terhadap Rose. Serta, menghubungkan kejadian malam ini dengan hal itu.


Mirabel menggeleng cepat. Tak menerima asumsi itu masuk menjelajah di dalam otaknya.


Mungkinkah, tuan itu mengetahui apa yang terjadi padanya semalam?


Sepertinya tidak! Karena kamar yang tuan itu tempati dengan Rose, tetap tertutup dan sunyi, saat mereka melewatinya subuh tadi.


Juga, Mirabel masih ingat, sebelum ia tak sadarkan diri, bahkan Ben sudah kehilangan sebagian kesadarannya. Sampai-sampai mengira bahwa dirinya adalah Rose.


Wanita itu menggeleng lagi. Apa mungkin… karma itu ada? Seperti apa yang tuan itu katakan?


Sebab selama ini, ia tidak mempercayainya sama sekali. Mirabel selalu terjerumus dalam ambisi dan keserakahan bersama dengan ibunya.


Dugh~! Crak~! Prang~!


Hilang konsentrasi ketika berjalan, membuat Mirabel tak sadar sudah menabrak seseorang. Seluruh isi di bakinya pun tumpah, jatuh ke lantai. Pecah dan berserakan.


“Ha…!” Bersamaan dengan itu pula, mulutnya terbuka. Menganga lebar, begitu terkejut dengan apa yang terjadi.


Karena, sebelum dua piring roti bakar, segelas jus jeruk, susu, serta secangkir kopi itu menyiram lantai, mereka sempat singgah di tubuh seseorang.


Plak~!


Ia pun langsung mendapatkan tamparan keras di pipinya. Sangat keras, sebab ia bahkan sampai merasakan tulang pipinya terasa nyeri dan kebas. Seperti telapak tangan wanita itu terbuat dari batu.


“Kau-“ pekik Mirabel tidak terima.


“Itu adalah ganjaran yang setimpal, karena tindakan cerobohmu!” seru wanita itu dingin.


Benar! Dia memang wanita!


Karena yang ditabrak Mirabel barusan adalah, Della. Della Moran August yang tengah menatapnya dengan tatapan keji dan mencemooh.


Tidak seperti ketika Rose menabraknya, maka Della bisa berbaik hati. Kali ini, pagi ini, moodnya masih buruk meski Emilio sudah menyenangkannya semalam.


Della masih mengingat akan rencananya yang gagal berantakan.  Dan semua hal yang berkaitan, Della akan melampiaskannya.


Termasuk pada Mirabel. Karena wanita muda itu juga berhubungan dengan apa rencananya yang ada. Meski kegagalan bukan disebabkan olehnya, melainkan oleh anak buahnya sendiri.


Jangan khawatir! Dua pria yang gagal dalam misi mereka itu, saat ini masih menerima hukuman mereka. Dipukuli sampai kehabisan daya, adalah hukum yang mesti diterima, bagi siapa saja yang gagal dalam misi mereka.


Dan itu adalah hukuman kecil untuk misi sederhana. Lain halnya dengan misi berat yang akan mereka jalankan. Nyawa adalah taruhannya.


Sebab wanita itu, tidak peduli sama sekali tentang hal ini. Bagi Della, semua hal adalah permainan. Termasuk dengan nyawa manusia.


“Tapi apa perlu, kau menamparku sampai sekeras itu?! Memangnya kau pikir, kau siapa? Hah?” Sambil memegangi pipinya, Mirabel berteriak kencang. Memandang nyalang pada wanita beserta seorang pria muda di belakangnya.


Plak~!


“Jaga ucapanmu!” Itu Emilio yang memperingati.


Ah, tampan juga!


Masih sempat-sempatnya pula, Mirabel berpikir seperti itu dalam keadaan seperti ini. Padahal pria itu baru saja menempatkan tangannya di pipinya, dengan keras.


Hatinya mengeras kembali saat mengalihkan pandangan pada keduanya. Terutama ke arah Della yang tengah mengetatkan rahang bersama mata yang memicing tajam.


Mirabel mencoba tak gentar, meski hatinya mendadak membeku karena tatapan yang wanita itu layangkan.


Sungguh! Batinnya menggigil karena wajah menyeramkan itu.


Rasanya seperti barusan ia sedang menghadapi Ben. Atmosfernya terasa pekat dan kelam, sama ketika tadi Ben mengancamnya.


Kenapa aura mereka begitu mirip?! gumam Mirabel dalam hati. Sambil memegangi kedua pipinya yang sekarang merasakan panas yang sama.


Bahkan, untuk tamparan yang kedua, terasa lebih menyakitkan. Mungkin, karena dia adalah seorang pria. Jadi tenaga yang dikeluarkan juga berbeda.


Kedua pelupuk Mirabel mulai mengkristal. Mulai basah oleh air mata.


Bukan karena sakit saja yang menusuk sampai ke dalam tulang pipinya. Namun Mirabel merasa harga dirinya pun diinjak-injak sampai habis. Karena sudah menjadi tontonan saat ini.


Ia merasa sangat malu! Sangat-sangat malu, ketika orang-orang yang lalu-lalang mulai membicarakan dirinya yang tidak tahu diri.


“Bukannya minta maaf, tapi dia malah berteriak!”


“Iya, ya! Benar-benar tidak tahu malu!”


“Ya, tidak tahu etika sama sekali!”


Bola mata Mirabel bergulir memandang sambil terus mencuri dengar apa saja yang mereka katakan. Dan semakin mendengar, semakin pula hati dan harga dirinya kesakitan.


Wanita ini benar-benar sial! Tidak! Hidupnya sial sekali sejak semalam!


Rencananya gagal, ditiduri oleh pria tua, lalu diusir dan diancam oleh pria incarannya. Dan sekarang, sudah ditampar keras, ia pun harus merasakan malu yang luar biasa. Mirabel lalu menggeram karena kesal.


“Biar saya bersihkan!” Dengan perhatian, Emilio maju selangkah lagi. Mengambil sapu tangan di saku jasnya, lantas mengelapi bekas selai cokelat dari roti bakar, juga basahan dari minuman yang tumpah, mengenai gaun nonanya.


Della pun membiarkan saja, pengawal pribadinya itu menunduk, membersihkan, dan yang pasti adalah menyentuh setiap bagian tubuhnya yang basah dan kotor.


Karena ia sibuk memandang tajam. Namun bukan ke arah Emilio. Tapi pada Mirabel. Seolah, sepasang mata yang terus berkilat itu ingin menelan sosok Mirabel bulat-bulat.


Dalam hati pun, Mirabel bergumam, apa wanita itu tidak risih sama sekali disentuh di sana-sini, tubuhnya. Bahkan kadang menyentuh area sensitif dari tubuh seorang wanita.


“Sebaiknya kau pulang! Kembali! Nasibmu akan semakin buruk, jika kau terus berada di sini!” tatapan Della sungguh memperingati.


“Ayo, Emilio! Pakaian ini tidak layak dibersihkan. Lebih baik dibuang,” ucapnya lagi pada pengawal pribadinya, sambil berlalu pergi begitu saja. Ia melewati pengawal pribadinya itu tanpa memandang lagi.


Wanita itu juga mendengus, melirik sinis pada Mirabel bersama keangkuhan dan keagungan yang dimilikinya.


Krek~! Krek~!


Sengaja, ia jejakkan sepatu hak tingginya pada pecahan beling yang berserakan di lantai. Seolah ia tak takut pada apapun.  Bahkan jika hanya beberapa pecahan yang sanggup melukai.


Della sanggup menghancurkan hal itu sampai berkeping-keping. Sama, seperti nasib pecahan kaca yang ia hancurkan dengan hak tingginya yang runcing.


Namun, meski pakaiannya kotor dan basah, tidak mengurangi keanggunannya sama sekali. Bahkan ketika berjalan, Della tetap disoroti oleh banyak pasang mata. Karena kecantikannya.


Menatap wanita itu pergi, bibir Mirabel mengerut dan gemetar. Bukan saja auranya yang membuat dirinya terus menggigil ketakutan. Tapi juga dengan kalimat yang ia ucapkan.


Seakan ada makna tersirat dalam kata-kata yang ia ucapkan. Namun Mirabel yang bodoh dan hanya tahu uang itu, tidak mengerti sama sekali apa maksudnya.


Hanya saja, jika kalimat itu dikolaborasikan dengan ucapan Ben yang sebelumnya. Makin membuat Mirabel menjadi resah.


Benarkah karma itu ada? Benarkah, jika saat ini ia sedang menerima karmanya?


Mirabel lantas berlari dari tempatnya. Bersama dengan resah dan gelisah yang saat ini tengah ia rasakan. Juga rasa malu yang tak terkira, sebab orang-orang masih melihat dan membicarakannya.


Bersambung…


maap gaes, semalem pulangnya kemaleman,, jadi langsung bobo gegara kecapean


hari ini aku bayar dengan update lebih banyak ya,, tapi nanti, aku nganter anak sekolah dulu ya