
maaf ya, baru update malam... aku perlu menyiapkan diri untuk menulis bab ini, juga bab selanjutnya,, dimana ini merupakan konflik-konflik puncak,,
belum siap kehilangan babag Ben,, hiks hiks
Bab ini ku buat sebanyak 2700 kata, jadi maaf ya kalo kepanjangan,,,
Benar memang, jika Ben dan Rose tidak melewati jalan yang sebelumnya. Ketika mereka berangkat, tadi. Sebab, si pria mengajak Rose ke suatu tempat yang indah. Masih di sekitar areal perbukitan itu.
Dulu pun, setelah selesai bertemu dengan Tuan Danu dan mendengarkan semuanya dari beliau, mengenai pengkhianatan yang Johan lakukan. Ben juga pergi ke sana.
Apalagi, setelahnya, Tuan Danu memberikan sebuah mandat, bahwa, beliau akan pensiun sebentar lagi. Dan Benlah, yang akan menjadi pemimpin selanjutnya. Menggantikan beliau.
Siap, tidak siap. Mau, tidak mau. Ben harus menerima perintah juga permintaan Tuan Danu.
Namun sebelum itu, ia mesti menyiapkan jiwa raganya terlebih dahulu. Terutama batinnya, yang juga tak siap untuk kehilangan sosok Tuan Danu, yang sudah seperti ayah baginya.
Sebuah spot pinggir jurang sedang Ben tuju, untuk mereka, menghabiskan siang hari, lalu menunggu petang datang. Mentari yang bergerak ke sisi barat, ingin mereka lihat. Vista indah itu, ingin mereka nikmati bersama.
Sepanjang perjalanan, setelah keluar dari area villa, mereka sibuk bercengkerama mengenai bagaimana keduanya bertemu dengan Zayn tadi.
Bagaimana berdebar jantung Rose, dari mereka datang, sampai mereka keluar dari villa. Apalagi saat Zayn mulai murka karena terprovokasi oleh ucapan kekasihnya.
Rose sudah membayangkan, jika saja, akan terjadi pertarungan saat itu.
Hal ini pun menjadi salah satu alasan bagi Ben, untuk mereka pergi ke sana. Tidak hanya dirinya yang perlu menyegarkan otak dan pikiran, namun kekasihnya pun memerlukan hal yang sama.
Ketegangan yang tadi sempat mereka rasakan, mesti diobati, dengan sesuatu yang membuat hati merasa tenang dan damai kembali.
“Tapi, Ben-!” Tiba-tiba, ia terpikirkan sesuatu. Ketika Ben menoleh, ia pun melanjutkan ucapannya yang tertahan. “Tidakkah, ini terlalu aneh!”
“Apanya yang aneh?” Sambil menyetir, pria itu pun menukikkan alisnya. Raut wajahnya berubah serius.
“Saat ini! Rasanya sangat aneh! Tidakkah kau merasakannya?” tanya Rose seraya menggeleng kecil. Sejak awal, ia sudah mengernyitkan alis ketika hal ini, mampir ke dalam benaknya.
Meskipun, Ben sempat makin memperdalam, kernyit di alisnya, pria itu lantas menanggapi ucapan Rose. “Benar! Memang aneh!” Seraya mengangguk-angguk kecil.
“Benar, kan? Memang aneh! Aku yakin, kau pasti sudah merasakannya! Instingmu, kan, kuat!” Cerah di wajah Rose, mengetahui, jika kekasihnya itu merasakan apa yang dia rasakan.
“Benar! Aneh memang!” Ben mengangguk. “Karena aku belum kau cium, dari tadi!” katanya dengan santai.
Sempat-sempatnya pula, pria itu mengangkat alisnya seraya melebarkan senyum tak bersalah, sama sekali.
Kemudian, dia fokus menyetir lagi. Meski, lengkung mengesalkan di bibir itu, belum juga luntur. Mungkin juga sengaja, pria itu! Heh!
“Ben!” amuk Rose dengan nada tinggi.
Bisa-bisanya, di saat seperti ini-
Oh, astaga! Si tuan seram minta dipukul rupanya!
Dia, kan, sedang berbicara serius! Kenapa pula, tanggapannya harus ke arah sana?!
Ck! Wanita itu pun berdecak, sambil membuang pandangannya ke samping. Ke jalanan. Melihat pemandangan di sisi kiri jalan, rasanya bisa membuat hatinya sedikit lebih baik.
Mudah-mudahan saja, kesalnya ini, lekas hilang!
Tapi bagi si pria, lengkingan suara Rose tadi, hanya, bagaikan angin lalu belaka. Bahkan, Ben kembali tersenyum dengan mudahnya. Makin lebar pula kurva di sana.
Begitu Rose memalingkan wajah darinya, sebenarnya, Ben memasang wajah seriusnya kembali. Bahkan kali ini, lebih serius dari pada biasanya.
Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat. Ia remat dengan kuat, stir berbentuk lingkaran, dengan sarung kulit berwarna putih. Senada dengan cat yang body-nya.
Ada emosi yang teraliri. Dari dalam lubuk hati, menjalar ke urat saraf dan nadi. Pada lengan yang kokoh dan berotot itu, lalu berakhir pada sepasang telapak tangannya.
Ketika, Rose menoleh lagi padanya, walau sebentar, hanya untuk menunjukkan wajah kesalnya, dengan cepat, Ben mengubah ekspresi di wajah tegas itu.
Ia kembali tersenyum lebar. Bahkan, matanya ikut mengerling, semakin menggoda. Dengan tujuan, membuat kekasihnya itu menjadi semakin kesal.
Otomatis, Rose pasti akan memalingkan wajahnya kembali.
Dia pun jadi bisa berkonsentrasi dengan pikirannya saat ini.
Ben! Pria itu sebenarnya, sebelum Rose mengungkapkan hal ini pun, dia sudah memikirkannya lebih dulu.
Sudah terbesit pikiran itu sejak mereka mulai meninggalkan villa. Rasanya terlalu lancar untuk mereka keluar dari sana. Bahkan sampai bisa pergi menjauh seperti ini.
Apakah… mungkin saja, Zayn benar-benar hanya ingin membuat pengakuan, dan tanpa mempersiapkan rencana apa pun?
Pada saat itu saja, dia bisa membuat kekacauan sampai separah itu pada markas mereka. Pada kelompok mereka!
Lalu, bagaimana mungkin semuanya berjalan dengan lancar, sampai sejauh ini?!
Tapi… mau dipikirkan berapa kali pun, rasanya, tidak mungkin!
Dan, hal ini pun menjadi batu ganjalan tersendiri, di dalam hatinya.
Yang mereka tidak ketahui adalah, seberapa besar kebencian yang kini Zayn miliki. Terlebih, setelah ayahnya, Johan, wafat. Setelah, ia ditinggalkan di dunia ini, seorang diri.
Betapa Zayn membencinya dan tidak ingin melihat satu kebahagiaan pun Ben miliki.
Tentu saja, pemikiran Ben benar! Karena… karena sepasang kekasih itu, tidak sadar, belum mengetahui, apabila, sudah ada sesuatu yang siap menggemparkan hidup mereka. Terselip, terpasang, pada mobil yang mereka tumpangi, saat ini.
***
Setelah berbicara, Anggie langsung menyerang Zayn dengan beberapa pukulan. Dan sepertinya, wanita itu, tidak memiliki niat untuk berhenti sama sekali.
Anggie terus menyerangnya dengan membabi-buta. Memberi pukulan, dimana pun yang bisa ia jangkau, bahkan kedua kakinya pun ikut menendang secara bergantian.
Setiap serangannya begitu cepat. Sehingga, Zayn sempat kuwalahan untuk mengimbanginya.
Seperti, latihan gila yang sudah Anggie jalani beberapa waktu belakangan ini, sedang ia praktikan bersama dengan Zayn.
Berkas di tangan masih ia remat, dengan begitu kuat. Seolah, gulungan kertas itu adalah pemicu, setiap gerakannya yang gesit dan mematikan.
Relly dan Baz pun memilih untuk membiarkan hal ini terjadi. Memberikan waktu pada Anggie, untuk meluapkan segala perasaan yang ia miliki.
Kedua pria itu tidak ada niat untuk ikut campur sama sekali. Mereka memerhatikan dengan serius, dari depan mobil yang tadi mereka naiki.
Menyilangkan tangan di depan. Bokong mereka pun disandarkan nyaman, pada kap depan mobil SUV hitam tersebut.
Dan ketika, Anggie melayangkan satu tendangan kaki kanan, Zayn berhasil menangkapnya. Ia menyekap kaki kanan Anggie di pinggang. Lalu, menahannya dengan begitu kuat.
Sehingga, Anggie tidak dapat bergerak. Dan hanya bisa bertumpu pada satu kaki.
Wanita seksi itu sudah berusaha menggerakkan kakinya, membuat gerakan memutar agar kaki kanannya itu bisa terlepas.
Tapi Zayn, benar-benar menahannya. Dan otomatis, membuat mereka berdua, kini, berdiri, saling berhadapan. Dalam jarak yang amat dekat.
Dapat dilihat, keadaan keduanya, kini sudah berantakan. Wajah dua wanita itu sudah tidak polos seperti semula. Sudah ada bekas-bekas lebam di sekitar wajah mereka.
Pun, sudut bibir keduanya, sudah sama-sama mengeluarkan darah.
Kali ini, mereka benar-benar… benar bertarung.
Tidak ada yang mereka tahan seperti biasanya. Ketika mereka melakukan latihan di markas, bersama. Pada saat ini, tidak ada yang mereka tahan sama sekali.
Zayn dengan perasaan benci yang buta dan menggila. Dan Anggie, yang kalut, dalam perasaan kecewa yang begitu besar.
Melihat hal ini, Relly lantas bangun dari sandaran nyamannya. Ia hendak menghampiri Anggie, namun segera Baz menahannya.
Pria itu menggelengkan kepala, sebagai tanda. Bahwa ini bukan waktunya, bagi mereka untuk ikut campur. Berikan waktu bagi keduanya, sedikit lagi.
Pada akhirnya, Relly pun menurut. Ia kembali mundur, lalu kembali ke posisinya semula. Memerhatikan dua wanita itu lagi.
“Hh… hh… hh… “ Sambil terengah-engah, Anggie menyeka bekas cairan merah di sudut bibirnya. Sambil pula, melayangkan tatapan tajam pada orang di depannya.
“Jadi… semuanya… hanya perkara balas dendam? Hah!” tanyanya kemudian.
Dengan mulut yang setengah terbuka, berusaha menghirup udara. Guna membantu kinerja hidungnya meraup oksigen, agar begitu banyak ia dapat.
Akibat pertarungan sengit itu, keduanya tidak sadar, jika saat ini, mereka sudah mencapai bibir pantai. Sepatu yang mereka kenakan pun, sudah dilumuri pasir pantai yang setengah basah, sampai ke celana.
Pasir pantai itu, ikut terbang bersama sepak terjang yang mereka lakukan.
“Apa urusannya denganmu?! Cuuhh!” sahut Zayn, seraya meludahkan darah segar yang merembes dari sudut bibirnya. Ke samping.
“Apa urusannya denganku? Heh!” Dipalingkan Anggie, wajah muaknya ke samping. Lalu, ia pun segera mengubahnya dengan ekspresi kecewa yang teramat sangat, kala menatap ke depan kembali. Ke arah Zayn berada, yang sedang menatapnya juga.
“Jadi… selama ini, kau anggap aku apa?” Satu dengusan kasar terdengar, kala bibir itu setengah mencibir, penuh ironi.
Deg
Mata Zayn mengerjap pelan. Saat ditusuk oleh sebilah pedang tak kasat mata. Dadanya, hatinya.
Benar! Karena sibuk berkutat dengan balas dendamnya, ia jadi melupakan, dan mengesampingkan perasaannya terhadap Anggie.
Memang, baginya, Anggie sudah seperti soulmate baginya. Belahan jiwanya, selama mereka berada di markas.
Tapi, belakangan ini, ia memang tidak memikirkan wanita seksi itu sama sekali. Bahkan, tanpa sadar, alam bawah sadarnya seperti meminta untuk melupakannya.
Lalu fokus, pada tujuan hidupnya. Yaitu, balas dendam.
Zayn sampai melupakan keberadaan Anggie, melupakan sosoknya.
“Kau sudah membuatku menjadi orang paling bodoh di dunia ini!” Mata Zayn terbelalak kala Anggie meneruskan ucapannya. Terlebih, bola mata itu sekarang, mengkristal.
“Kau membiarkan aku tidak tahu apa-apa sama sekali, tentang kehidupanmu. Tentang, luka apa yang sudah kau derita selama ini. Padahal, aku selalu menceritakan apa saja, tentang kehidupanku. Bahkan tentang masa laluku, sekali pun. Aku sudah mengatakan semuanya, padamu.”
“Tapi… bagaimana denganmu? Apa yang sudah kau bagi, tentang dirimu padaku?” Anggie berhenti sebentar, berharap Zayn akan menjawabnya. Namun, wanita maskulin itu malah tetap diam.
Hanya, melepaskan kaki kanan, yang tadi ia tahan. Kemudian, Zayn menurunkan pandangan, seraya menoleh ke samping.
Rasanya, tidak kuasa, ia untuk menatap wajah yang sedang, sangat emosional saat ini. Zayn tak sangggup, untuk mengalihkan pandangan, pada wajah yang ia yakini, mulai banjir air mata.
Semuanya, semua hal yang Anggie katakan padanya, adalah sebuah kebenaran. Tapi… memang ia tidak terbiasa, juga diamanatkan oleh ayahnya, untuk tidak menceritakan apa pun, tentang kehidupan pribadinya. Sama sekali, pada siapa pun.
Meski, ia sudah sangat memercayai orang itu.
Dan karena Zayn sangat menurut pada ayahnya, maka, setiap perintah yang keluar dari mulut Johan, pasti akan Zayn laksanakan. Dengan baik.
Hingga, ia tidak menyadari, akan jadi seperti ini, efeknya. Terutama, pada kekasihnya, Anggie. Ia tidak tahu, bahwa akan sekecewa itu, Anggie padanya.
Namun… yang terjadi, sudah terjadi. Dan akan terjadi. Semuanya sudah terlanjur. Dia sudah masuk ke dalam jurang, yang begitu dalam ini.
Zayn tahu, bahwa dia tidak akan bisa kembali. Seperti dulu, atau mentas dari keadaan ini.
“Sudahlah! Hal itu tidak penting lagi, saat ini!” Segera, ia beranikan diri, untuk menatap wajah Anggie. Tersenyum sinis, demi menyembunyikan segelintir luka, yang sebenarnya juga ia rasakan. Kala melihat wajah sedih Anggie.
Lantas, wanita seksi itu pun menggelengkan kepalanya. Mendengus dengan tidak percaya.
“Dia sudah membuatku menjadi yatim piatu. Aku telah kehilangan kedua orang tuaku. Rumah, tempat pulang bagiku.” Melihat raut tenang di wajah Anggie, Zayn yakin jika wanita itu pasti sudah mengetahui segalanya. Bahkan tentang kematian ayahnya, belum lama ini.
Maka, dia pun melanjutkan. Dengan penuh keyakinan, juga, wajah puas percaya diri.
“Tentu saja, aku harus membalaskan dendam ini! Nyawa… dibayar dengan nyawa!” Zayn sempat mencondongkan tubuhnya agak ke depan, demi mempertegas ucapannya. “Kau pasti tahu, pepatah ini, kan!”
“Zayna!” teriak Anggie marah.
Dan Zayn tahu, wanita itu sudah sangat murka padanya. Ketika, Anggie menyebutkan nama aslinya. Karena, Anggie pasti akan melakukan hal yang sama, setiap kali dia sedang sangat marah, contohnya seperti saat ini.
Bak~!
“Baca ini!” Berkas kusut yang masih ia pegang, Anggie berikan pada Zayn. Ia bahkan sengaja meletakkannya di dada wanita maskulin itu. Agar Zayn, segera membacanya.
Ketika Zayn mulai membuka lembaran pertama, mulut Anggie pun bersuara. “Apa yang terjadi pada kedua orang tuamu, bukan salah Tuan Ben. Tapi memang karena itu, takdir Tuhan! Coba kau pikirkan lagi, dimana salahnya Tuan Ben, terhadap hidupmu?!”
“Perkara ayahmu mengundurkan diri, dan tidak menjadi pemimpin Harimau Putih, kau sendiri, bisa membacanya! Dia sendiri yang sudah berkhianat terhadap pemimpin kita yang terdahulu.”
“Tidak! Ini tidak mungkin!” desah Zayn seraya menggeleng lemah.
Lembaran terakhir dibacanya sambil mendengarkan penjelasan Anggie. Lalu, ketika selesai, tangan kirinya jatuh dengan lemah, ke bawah, ke samping tubuhnya, sambil mencengkeram erat berkas itu.
Tatapannya berubah nanar dan bergoyang. Ia tertunduk, dengan benaknya yang begitu kacau.
“Secara tidak langsung… kau telah… melakukan hal yang sama, seperti… yang ayahmu lakukan, Zayn! Kalian pengkhianat, sama-sama berkhianat pada tempat, yang isinya, keluarga kalian sendiri.”
Anggie berucap pelan, penuh penekanan, agar orang yang di depannya mengerti dan benar-benar menyadari dengan apa yang sudah ia perbuat.
Bahwa, semua ini, adalah salah!
Dilangkahkan kakinya dengan perlahan. Menapaki pasir pantai yang otomatis meredam suara langkahnya. Ia bergerak mendekat ke arah Zayn.
“Kembalilah, Zayn! Tebus semuanya dengan kembali kepada kami!” ujar Anggie tulus sembari mencoba menyentuh bahu wanita maskulin itu.
Ia masih berharap, pada Zayn, juga pada rekan-rekannya yang lain, agar, masih mau menerimanya kembali. Sebab, bagaimana pun juga, Zayn sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi saat ini.
Bagaimana pun juga, masih ada rasa yang terpupuk, untuknya mengiba pada sosok itu.
“Tidak!” Tapi Zayn langsung menepis tangannya. Zayn langsung menatapnya dengan kebingungan, juga, dengan gelengan kepala yang tidak berhenti.
Baiklah! Ia memang sedang mencoba mengerti, sedang mencoba memahami situasi yang ternyata, tidak sesuai dengan yang ada di dalam pikirannya.
Tapi… bukan itu yang penting, saat ini!
Semuanya sudah terlambat! Sudah sangat terlambat! Ia sudah tidak bisa kembali lagi. Dengan apa yang sudah diperbuatnya.
Karena mungkin… orang itu, sudah-
“Kenapa, Zayn? Apanya yang tidak?” Anggie masih mencoba mendekati.
Brugh~!
Tapi kemudian, Zayn malah mendorong tubuhnya, sampai terjatuh ke bawah.
“Tidak bisa! Semuanya sudah terlambat! Aku tidak bisa kembali lagi!” ucap Zayn terus menerus setelah melakukan hal itu. Tatapannya saat ini, nampak kosong dan frustasi.
Dor~!
Satu tembakan melayang, dan mengenai bahu kiri Zayn.
“Aakhh!” Wanita itu pun memekik sakit. Berikut tubuhnya yang sempat ikut terhuyung ke belakang. Ia memegangi bahunya, yang mulai mengeluarkan darah.
Tentu saja, Anggie ikut kaget. Dia melihat ke arah, dimana tembakan itu berasal. Dan… tembakan itu berasal dari tangan Relly.
Pria yang sudah menahan geram sejak tadi. Lalu tidak tahan lagi, ketika melihat Anggie dijatuhkan ke bawah. Padahal nampak. Anggie sedang berniat baik kepada Zayn.
Namun, pria itu, memang tidak mengetahui fokus apa yang sedang keduanya bicarakan. Ia hanya tidak tahan, melihat wanitanya disakiti.
“Relly! Apa yang kau lakukan?” seru Anggie tidak terima, sambil mencoba berdiri.
Saat teriakan itu berdengung, Relly dan Baz pun menghampiri.
“Zayn, kau tidak apa-apa?!” Anggie kembali mencoba mendekati Zayn. Ingin melihat seberapa parah, luka tembak yang saat ini ia derita.
“Tidak!” Kembali, Zayn menepisnya. Menggunakan tangan kanan yang tidak terluka. Sampai Anggie terjatuh lagi.
“Hey! Apa yang kau lakukan?!” teriak Relly tidak terima saat jarak mereka sudah dekat. Kemudian, ia pun membantu Anggie untuk bangun dari pasir setengah basah itu.
Pada pandangan kosong itu, Zayn masih mengumandangkan hal yang sama. “Tidak bisa! Ini sudah terlambat! Aku tidak bisa kembali!” Dia lalu, terus memundurkan langkahnya. Sampai kakinya menyentuh air laut. Terus dan terus. Sampai kakinya masuk ke dalam air laut, setinggi lutut.
“Hey, mau kemana kau?” seru Baz yang melihat dan menerka, jika Zayn hendak melarikan diri.
“Biar aku saja, Tuan!” Ditahan Anggie, Baz yang akan bergerak untuk mengejar Zayn. Sebab dia tahu, jika mental wanita itu, sekarang, sudah tidak baik lagi.
Mungkin saja, sebenarnya, Zayn sudah menyadari apa saja kesalahannya. Maka, biarlah, dia mencoba membujuknya.
“Zayn, kau mau kemana? Ayo, kembalilah bersama kami!” ajak Anggie seraya mengulurkan tangannya.
Sementara, tubuh Zayn sudah masuk ke air sampai ke pinggangnya.
“Ayo, Zayn! Ayo, kembali bersama kami!” ajak Anggie lagi dengan sabar. Meski, dua pria di belakangnya memandang jengah.
Mereka tidak akan mengampuni, sosok pengkhianat!
“Tidak bisa! Aku tidak bisa kembali lagi!” teriak Zayn membalas Anggie, lalu dengan berani menatapnya. Sekarang, ia sudah tidak berpandangan kosong lagi.
“Kenapa? Kenapa kau tidak bisa kembali?” Meskpin Anggie bertanya lagi, Zayn tidak menghentikan langkah kakinya sama sekali. Ia terus mundur, sampai air terus menenggelamkan tubuhnya.
“Semuanya sudah terlambat! Mungkin saja, dia… sudah mati!”
Blup~!
Pada kata terakhirnya, Zayn menenggelamkan dirinya ke dasar laut. Menurunkan kepalanya, sampai seujung rambutnya pun tidak terlihat lagi.
“Zayn!!! Zayn!!!” teriak Anggie histeris. Tangannya masih menggapai-gapai, ia pun mencoba menceburkan diri ke air, namun sekuat tenaga Relly menahannya.
“Kau dengar tadi?” tanya Baz pada Relly. Sedangkan wanita yang sedang ditahannya itu, sedang meraung-raung tidak terima, dengan cara Zayn pergi.
Dianggukan Relly kepalanya sebagai jawaban. Patuh dan yakin. Mereka memang sama-sama mendengar kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Zayn.
“Kalau begitu, aku pergi dulu!” Baz mengambil inisiatif.
“Baiklah! Aku akan segera menyusul, Tuan!” angguk Relly paham.
Mereka berdua akan memberikan waktu untuk Anggie larut dalam perasaannay sebentar. Sementara Baz bisa bergerak lebih dulu.
Nampaknya, situasinya sudah sangat genting.
Dan ia mulai berpikir, jika, sebenarnya tadi, Zayn hanya sedang mengulur waktu mereka saja.
Hingga, ketika ia sudah berada di samping mobil dan hendak pergi bersama beberapa yang lain.
DDUUAARRRRR!!!!
Suara dentuman keras terdengar, dari suatu arah.
Semua orang yang berada di sana pun terdiam untuk beberapa saat. Pun, dengan Anggie yang mendadak menghentikan tangisnya.
“Tuan Ben!” seru Relly tiba-tiba. Mendadak ia terpikirkan nama itu.
Dan semua mata, langsung mengarah kepadanya.
Bersambung…