
Selama merasakan serangan dadakan itu, Daniel terus berusaha menahan diri, agar, tidak terlihat kesakitan di depan Berly. Ia membiarkan anak kecil itu, terus mengoceh tentang ibunya. Sementara dia, menahan sakit.
“Hey, i- ini sudah malam! A- apakah kau tidak ingin kembali ke Mamamu? Kalian menginap di sini juga, kan?” tanya Daniel tak lama. Sambil menahan nyerinya. Sambil sesekali menyipitkan mata serta mengerutkan kening.
Pertanyaannya, memutus celoteh lucu, seorang anak kecil mengenai ibunya itu.
Berly lantas menengadah, menatap wajah, yang sedang memangkunya saat ini. Menyadari hal itu, dengan cepat Daniel mengubah ekspresi kesakitannya, dengan tersenyum.
Senyum pahit yang ia samarkan sampai matanya menyipit.
Entah kenapa, pening yang begitu hebat ini, datang mendadak juga menyerang dengan begitu hebat. Seolah mereka merupakan sekelompok pasukan perang, yang sedang menusuk-nusuk bagian dalam kepalanya.
“Kau mengusirku?” tatap Berly tajam.
Ia jadi ikut menyipitkan mata, tapi bukan karena sakit seperti Daniel. Anak kecil itu, sedang menatapnya curiga.
“Kau pasti sudah bosan mendengar mendengar semua ceritaku!”
“Ya, ampun! Bukan begitu!” Tuduhan si anak perempuan, membuatnya tergelak, di tengah rasa sakit yang masih terus menyerang. Ia, kembali menengadahkan kepala untuk mengembuskan suara tawa renyahnya.
Kemudian, ia mengubah mimik wajah menjadi lebih serius. Sedikit mengangguk juga menipiskan bibir. Tangannya, kali ini, ia letakkan di pipi Berly. “Dengar! Aku hanya mengkhawatirkanmu juga orang tuamu. Di sini terlalu berangin, kau bisa sakit, jika terlalu lama di sini. Dan… mamamu pasti sangat khawatir, sekarang. Karena aku yakin, kau sudah menghilang sejak tadi, bukan?”
Berly menatapnya lama. Mengerjap dengan tatapan polos beberapa kali, sampai ia akhirnya berbicara. “Kan, ada kau di sini bersamaku! Kau melindungiku dari angin kencang, jadi, aku pasti, tidak akan sakit.”
Anak perempuan itu kembali memeluk Daniel. Pun, semakin erat pelukan yang ia buat dengan tangan, yang masih belum panjang. Setelah menempelkan wajahnya kembali pada dada bidang tersebut, ia lalu berucap lagi. “Kau akan selalu menjagaku, kan? Jika begini, Mama pasti tidak akan khawatir!”
Sumpah demi apapun! Daniel baru, merasakan aliran hangat seperti lava, banjir di dalam sanubarinya.
Setiap kalimat yang diucapkan oleh anak kecil itu, telah mengisi sebagian kecil ruang hampa di dalam dirinya. Menenangkan, mendamaikan, juga membahagiakan. Yang jelas, ada haru yang tercipta dalam suasana yang begitu menghanyutkan ini.
Dan seolah, semua ucapan Berly, seperti mantra. Yang ternyata, bisa membuat sakit kepalanya mereda. Pun, secara tiba-tiba.
Meskipun, selama ini ia tinggal bersama dengan Della. Juga berinteraksi dengan yang lainnya. Daniel juga pernah bertemu dengan beberapa anak kecil, seumuran Berly. Tapi, ia tidak merasakan apapun, tidak ada perasaan spesial seperti, yang tengah menelusup ke setiap sudut sanubari.
Daniel terkekeh sebentar. “Bagaimana mamamu tahu, jika, saat ini, kau sedang bersamaku?”
“Mungkin saja, mamamu berpikir, kau sedang dibawa oleh orang jahat. Mungkin saja, mamamu sedang menangis karena kau tidak juga kembali.” Ia sampai perlu menelengkan kepala, untuk membujuk si kecil kembali, pada keluarga yang pasti, sedang sangat menanti.
“Aku tidak pernah melihat Mama menangis, selain menangisi Papa!” Anak kecil itu berkata polos seraya mengedikkan kedua bahunya. Masih di dalam pelukan itu.
“Mama tidak pernah menangisi aku! Hem!” tambah Berly dengan nada kesal. Ia pun memajukan bibir bawahnya.
Astaga! Daniel benar-benar dibuat terhibur malam ini. Dia kembali tertawa mendengar hal itu.
Namun, dalam hati, pria itu menyebutkan, tentang bagaimana wanita itu memiliki cinta yang begitu besar, kepada prianya.
Sungguh beruntung, pria yang selau dirindukan ibu dari anak kecil ini! Karena bahkan, sudah lewat beberapa tahun, juga tanpa kabar sekali pun, wanita itu selalu menunggunya, dan tanpa mengurangi rasa cinta yang dia punya.
Bisa saja, dia memilih untuk menjalani hidup baru, dengan seorang laki-laki. Memulai lembaran baru, demi memberikan kasih sayang yang sempurna, seperti apa yang diharapkan sang anak.
Ada banyak jalan dan pilihan yang wanita itu bisa tempuh, untuk bisa menjalani hidup ini dengan lebih baik. Tanpa harus menjalani nestapa itu, seorang diri. Juga mengorbankan, impian sang anak untuk memiliki seorang ayah.
“Bagaimana, jika, kali ini dia benar-benar menangis?!”
“Ku rasa, tidak akan!” Bahkan anak kecil itu menggeleng dengan penuh keyakinan.
Daniel tidak ingin tertawa lagi. Maka, dia hanya meloloskan tawa kecilnya, sebentar. “Bagaimanapun juga, kita harus tetap kembali. Ini sudah larut, untuk anak kecil sepertimu, berkeliaran di luar.”
“Tidak mau!” tolak Berly dengan tegas. Ia bahkan makin erat memeluk pria itu. Mengunci dengan jari-jari kecil yang mencengkeram pada punggung si lelaki.
“Heehhmm….” Diembuskan napas dengan begitu dalam, seraya pria itu menipiskan bibirnya. Ternyata, anak kecil ini, cukup keras kepala!
“Oke! Kalau begitu…,” Daniel menarik si bocah, yang menempel erat pada tubuhnya. Meskipun perlu usaha, lantaran Berly tetap memaksa, sampai mencengkeram baju yang ia kenakan.
Akan tetapi, pria itu juga tidak mau kalah. Yang jelas, tenaganya pasti akan menang untuk menangani bocah itu.
Sedangkan Berly, merasa, sudah sangat nyaman berada di pelukan pria dewasa, yang baru saja ia kenal. Meskipun begitu, kenyamanan yang Daniel tawarkan padanya, benar-benar menggiurkan.
Rasanya seperti sedang ditawari, untuk merasakan hangatnya cinta ayah, yang selama ini ia ingin tahu.
Berly tidak ingin jauh, atau terlepas dari pria itu. Perasaan sedih pun menjalar, kala Daniel mencoba menjauhkan diri darinya. Ia merasa, seperti akan ditinggalkan. Dan Berly tidak mau akan hal itu.
Tapi ternyata, Daniel tidak benar-benar melepaskannya. Pria itu hanya mengubah posisinya, karena Daniel tengah berusaha berdiri. Lalu, tetap mempertahankan Berly di dalam pelukan.
“Aku akan mengantarmu, ke kamarmu! Tetap saja, tidak baik membuat orang tua khawatir.”
Sebelum Berly mengeluarkan protesnya lagi, Daniel kembali berbicara. “Kau masih menginap di sini, kan?” Setelah Berly mengangguk, ia pun melanjutkan. “Jika kau masih ingin bertemu denganku, datang saja! Itu kamarku! Aku masih beberapa hari di sini!”
Daniel memalingkan tubuh, menunjuk dengan wajah, pada kamar yang berada tak jauh di belakang mereka.
Bukannya tidak tahu! Daniel mengetahui, apabila, anak kecil ini, belum mau berpisah dengan dirinya. Maka, hanya hal ini yang mampu ia tawarkan, untuk membujuk si anak perempuan.
“Benarkah? Kau tidak bohong?” Dijauhkan Berly wajahnya dari posisinya, yang sedang berpegang erat pada sekitar bahu Daniel. Ia melirik dengan tatapan menginterogasi.
Oh! Ya, ampun! Daniel tergelak sebentar.
“Baiklah! Kalau begitu, aku akan membuktikannya kepadamu! Tapi, kau ingat, kan, menginap di mana kamarmu?”
“Ya, aku ingat!” Kembali, Berly melingkarkan tangannya dengan erat lagi, ke leher pria itu.
Maka, Daniel membawa anak di dalam gendongannya itu, menuju kamarnya. Masuk melalui teras kamar, lalu menutup pintu, setelah ia masuk ke dalam kamar yang baru saja, ia tempati.
“Benar, ini kamarmu?” tanya Berly sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang yang masih tertata rapi. Hanya ada satu koper pula, berdiri dengan tenang, di dekat nakas.
“Tentu saja! Memangnya kamar siapa lagi?!”
“Sampai kapan, kau menginap di sini?” tanya Berly lagi.
“Mungkin, satu minggu ke depan. Aku baru saja sampai dua jam yang lalu.”
Clek~!
Dan tanpa terasa, mereka sudah berada di luar kamar Daniel di sisi yang lain. Di mana, pintu kamar tunangannya, berada di sisi kiri.
“Besok aku ulang tahun yang keempat. Kau bisa datang, kan, ke ulang tahunku?”
Pertanyaan Berly, tidak dapat ia dengar dengan baik. Lantaran terdengar dari dalam, suara-suara nikmat, akibat suatu peraduan. Yang jelas, Daniel tahu, apa itu.
“Itu suara apa?” tanya anak kecil itu, dengan polosnya.
Daniel auto membulatkan mata. Ia tidak menyangka, jika, Berly juga akan mendengarnya.
Langsung saja, pria itu berjalan dengan terburu-buru. Menjauhkan jangkauan dengar mereka dari sana. Agar, indera pendengaran Berly, tidak tercemari dengan hal yang tidak seharusnya ia dengar.
Bahkan, sampai mendengar hal itu pun, ia tidak merasakan apa-apa. Daniel tidak merasa sakit hati, sama sekali karenanya.
Ini sungguh aneh! Pria itu tersenyum ironi, sambil menggeleng samar.
“Jadi… kau bisa, kan, datang ke ulang tahunku?” tanya anak kecil itu lagi, karena tadi, ia belum mendapatkan jawaban.
Sedangkan untuk apa yang baru saja ia dengar, Berly tidak memertanyakannya lagi. Toh, dia juga tidak terlalu peduli. Fokusnya saat ini, hanya pada jawaban yang sedang sangat, ia nanti-nanti.
Ia ingin, pria yang menggendongnya saat ini, menghadiri, ulang tahunnya besok malam. Berly merasa, Daniel sudah begitu spesial di hatinya. Meski, mereka baru saja berkenalan.
“Ekh… maaf! Bisa kau ulangi pertanyaanmu?” Sebab Daniel terlau sibuk dengan pemikirannya, tentang hubungan serta perasaan, yang ia punya, dengan Della. Yang notabene adalah tunangannya sendiri.
Berly sedikit kesal. Kesabarannya sudah diuji. Lantas, ia memutar bola matanya jengah. Meskipun begitu, ia tetap mengulangi pertanyaannya lagi.
Karena hanya untuk Daniel, Berly mau bersabar.
Sungguh pun, sebenarnya, sifat anak ini, sangat menuruni sifat ayahnya.
“Besok, kau bisa, kan, datang ke ulang tahunku?”
“Ohh!” seruan itu terdengar begitu girang dan tidak menyangka. “Tentu saja! Aku pasti akan datang!”
“Tapi, apakah mamamu tidak akan marah, karena kau sudah mengundangku?” tanyanya kemudian. Diiringi rasa penasaran.
“Tidak! Tenang saja! Jika Mama marah, aku juga akan marah padanya!” seru anak perempuan itu dengan sungguh-sungguh. Dan menimbulkan tawa dari mulut yang menggendongnya.
Mereka lantas berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Berly. Dari belakang, sosok keduanya, benar-benar, seperti seorang ayah yang sedang menggendong anak perempuannya.
Bersambung…