
“Bagaimana mungkin, Tuan?!” Relly pun memikirkan hal yang sama dengan Zayn dan Anggie.
Dia pun tahu bagaimana solid kelompok mereka. Makanya dia seperti sulit untuk mengakui hal ini.
“Kita lihat saja nanti!” sahut Ben singkat.
Meskipun semula ia pun merasa tak percaya. Tapi semua kemungkinan mesti mereka waspadai. Dan untuk mengetahui lebih jelasnya, maka mereka harus membuktikannya sendiri.
“Tapi kau harus merahasiakan hal ini! Hanya kita, Zayn, Anggie dan Rose yang bisa saling bertukar informasi.”
“Nona Rose?” tanya Relly heran.
Tak!
Ben mengetuk kepala asistennya itu dengan pistolnya. “Kau lupa, sudah ku katakan jika Rose yang memiliki ide ini.”
“Baik, Tuan!” Relly mengusap nyeri di kepalanya sambil mengangguk.
Dia berpikir jika nona Rose hebat bisa sampai berpikir ke arah sana. Padahal tidak satu pun di antara kami yang memikirkan hal itu.
“Lalu apa yang akan kita lakukan di gudang logistik?” tanyanya kemudian.
“Tidur!”
“Wahh,, terima ka-“ Dan tidak jadi kalimat itu diselesaikan setelah Relly diancam dengan bola mata besar bosnya. Ben melotot padanya.
Padahal dia sudah kegirangan barusan. Dia pikir, paling tidak dia bisa mengistirahatkan diri sebentar saja. Ternyata mereka masih harus kerja rodi.
“Kita harus mencari jejak lewat rekaman CCTV lebih detail lagi. Pasti ada yang terlewatkan!” Ben menatap dingin lurus ke depan, lalu melanjutkan. “Lalu aku ingin kau mencari alamat IP email misterius itu. Mungkin dia mengetahui sesuatu, atau mungkin dia adalah dalang dari masalah ini! Aku ingin tahu apa motifnya!”
Benar apa yang bosnya katakan. Relly pun berpikir begitu. Dia jadi penasaran, musuh mana yang sudah berani menjejalkan tangan kotornya ke wilayah mereka.
***
Hari sudah menjelang siang ketika Rose selesai melakukan latihannya. Rambut pirangnya sudah sangat lepek. Tentu saja dengan pakaian olahraga yang dikenakannya, sudah basah kuyup oleh keringat sekarang.
“Aku lelah! Sumpah demi apa pun aku sangat, sangat lelah!” Rose kembali membentangkan dirinya di pinggir lapangan.
Sebenarnya sangat panas terik matahari yang menyiram ke seluruh tubuhnya. Tapi ia tak peduli, hanya wajahnya saja yang ia tutupi dengan lengan supaya penglihatannya tidak silau.
Tubuhnya terasa remuk, sakitnya sekujur badan. Ya, ampun!
Rasanya ia ingin menyesali keputusan yang sudah dia pilih. Jadi ini yang dimaksud Ben akan terasa berat dan menyakitkan. Pantas saja waktu itu Ben sempat mencegahnya. Ternyata perjuangannya akan seberat ini! Huh
“Baru satu hari dan kau ingin menyerah?!” Anggie berjongkok sembari memayungi Rose agar tidak kepanasan. Terutama di bagian wajahnya. Wanita seksi itu dapat melihat jika sebenarnya Rose sedang menahan silau.
“Kau sedang mengejekku?” Rose sedikit mengintip dari balik lengannya.
“Wajahmu kelihatan sekali seperti sudah ingin menyerah!” Anggie mengakhiri ucapannya dengan kekehan yang menjengkelkan sampai di telinga Rose.
Apakah kelihatan sekali? Apakah dia terlihat seperti orang putus asa? Tidak... tidak... tidak! Ini tidak benar! Dia tidak boleh kehilangan semangatnya.
Bukankah dia sendiri yang bertekad besar untuk bisa menjadi kuat dan hebat agar pantas bersanding dengan Ben?! Berarti dia tidak boleh kehilangan motivasinya! Rose harus bangkit kembali.
“Tapi aku lelah!” Pada akhirnya dia hanya bisa mengeluh saja, kan! Izinkan dirinya untuk mengeluh sekali ini saja, hari ini saja.
Anggie makin tertawa mendengar penuturan jujur darinya. “Itu wajar jika kau sebelumnya tidak pernah berolahraga sama sekali. Nanti juga akan terbiasa. Tubuhmu akan beradaptasi dengan kebiasaan baru, dan menjadi lebih kuat ke depannya. Itu pun jika kau terus melakukan latihan secara rutin.”
Bahu Anggie ditepuk oleh seseorang. Lalu payungnya pun diambil alih oleh orang itu. Dia menempatkan telunjuknya di bibir, supaya Anggie tetap diam. Wanita seksi itu paham dan segera melangkah mundur. Dengan amat, sangat pelan.
“Kalau sudah tahu aku tidak pernah berolahraga, kenapa kalian semua menyiksaku sampai seperti ini?! Aku lelah tahu! Aku lelah sampai rasanya ingin mati saja! Tubuhku sakit semua, apa kalian tahu rasanya?! Tidak, kan! Tulangku rasanya remuk semua, bahkan seluruh persendianku pun terasa lemas.
“Apa kalian tahu jika saat ini, untuk bangun saja aku tidak punya tenaga?! Kalian benar-benar kejam! Kalian benar-benar tega! Paling tidak, berikan latihan yang ringan saja dia permulaanku ini! Kenapa harus langsung seberat itu! Kalian pasti sengaja melakukannya, kan?! Ya, kan?!”
Orang itu memindahkan payung yang ia pegang ke tangan Anggie kembali di pertengahan Rose yang berteriak dengan emosional.
“Eh?” Wanita itu kaget sebab mendadak tubuhnya melayang di udara. Dan karena sedari tadi Rose tidak membuka wajahnya, maka dia tidak tahu siapa-siapa saja yang sekarang berada di sana. Wajahnya tak tertutupi lengan lagi, tapi sekarang membentur dada bidang seseorang.
“Be- Ben!” Dia menatap wajah orang yang kini tengah menggendongnya di depan. Betapa terkejutnya Rose bahwa orang itu ternyata adalah kekasihnya.
“Relly!” Bola matanya langsung bergerak saat merasakan kehadiran manusia lain. Dia menemukan sosok asisten kekasihnya di sisi yang lainnya.
“Kalian!” Rose pun mendengkus seraya menatap kesal pada Relly dan Anggie yang tengah menertawakan dirinya.
Malu! Oh, sudah pasti! Jelas saja dia malu sekali sekarang ini! Berarti sejak tadi semua keluhannya yang meledak-ledak itu didengarkan oleh orang lain. Tidak apa-apa jika hanya Anggie, tapi ini termasuk dengan kekasihnya sendiri. Sungguh, Rose ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut sekarang juga!
“Turunkan aku! Ayo cepat turunkan aku!” Dia pun berusaha keras untuk bisa lepas dari tangan Ben. Pikirnya, lebih baik segera melarikan diri sekarang.
“Diam!”
“Tidak mau! Turunkan aku sekarang! Ayo, turunkan aku!” Saat ini Rose meronta sambil memukul-mukul dada bidang kekasihnya.
“Diam, atau nanti tanganmu akan sakit!” Ben memperingati sambil menggulirkan bola matanya ke bawah. Melirik sedikit keberadaan kekasihnya. Kekasihnya yang baru saja merengek bak anak kecil.
“Ahh! Benar juga!” gumam Rose yang mulai merasakan nyeri pada kepalan tangannya. Kenapa dia melupakan hal ini?! Harusnya dia ingat jika tubuh kekasihnya itu sekeras batu karang.
“Kenapa kau tidak bilang?!” Wanita digendongan Ben protes pada Anggie sambil merapatkan giginya.
“Aku juga baru tahu!” Dengan tak acuh Anggie hanya mengedikkan kedua bahunya.
“Nona Rose lucu sekali!” Relly tergugu mengingat nonanya meracau tadi.
“Tutup mulutmu!”
“Tutup mulutmu!”
Bersamaan dua pasang mata segera memelototinya. Bagi Relly, Ben dan Rose adalah dua keberadaan yang mengancam.
Oke! Relly menyimpul jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran.
Srrttt! Ditarik resleting kasat mata, guna menutup rapat mulutnya.
Dia sungguh paham harus bagaimana. Anggie yang berada di seberangnya menahan geli melihat hal ini. Dan membuat Relly jadi kesal. Namun dia tidak dapat melampiaskannya.
“Relly sudah menemukan sesuatu. Kalian lanjutkan bertiga dulu. Aku akan menyusul nanti. Pastikan tidak ada yang mengetahui selain kalian!” Ben memandangi kedua anak buahnya itu kala memberi perintah. Dan yang pria itu maksud, bertiga, bersama dengan Zayn.
“Lalu Tuan?” Relly bertanya dengan wajah polos.
“Mengurus peliharaan!” sahut Ben sembari berjalan menjauhi keduanya. Dengan Rose di tangan.
Bersambung...