
“Mengurus peliharaan!”
“Ben! Apa maksudmu?!” Rose memukul dadanya lagi tidak terima. “Jadi maksudmu aku ini adalah peliharaanmu, begitu?!”
“Turunkan aku!”
“Ayo cepat turunkan aku!” pintanya lagi ketika Ben tak juga bergeming.
“Turunlah jika kau masih kuat berjalan!” Diturunkan Rose dari gendongannya yang seperti sepasang pengantin baru.
“Eh... eh!” Lutut Rose terasa lemas. Untung saja dia berpegangan pada lengan Ben lagi dengan cepat. Jika tidak, mungkin saja ia sudah tersungkur ke bawah.
“Tidak jadi!” Rose menggeleng dengan wajah memelas. “Gendong!” Lalu meminta dengan wajah imutnya.
Pria bertopi koboi itu memijit pangkal hidungnya sebentar. Bagaimana mungkin dia menolak wajah menggemaskan itu?! Sebenarnya dia sedang menyamarkan senyum dan merona di pipi dengan memalingkan wajahnya ke samping.
“Makanya dengarkan aku!” omel pria itu sambil mengangkat tubuh kekasihnya itu kembali. Digendong Rose sambil berjalan menuju kamarnya.
Sedang yang ditinggalkan di pinggir lapangan,
Plak!
“Dasar bodoh!” umpat Anggie pada pria yang baru saja ia pukul kepalanya.
“Kenapa hal seperti itu saja mesti kau tanyakan, sih! Pantas jika kau terus sendiri!” tambahnya sambil berjalan meninggalkan tempat itu pula.
Anggie heran, kenapa masih ada saja laki-laki yang tidak peka seperti Relly! Untuk apa mempertanyakan urusan bos mereka dengan Rose? Bukankah sudah jelas, jika sekarang waktunya untuk mengurus kekasih!
Wanita seksi itu jadi berpikir jika Relly benar-benar perlu dikasihani! Seperti otaknya tak mampu memproses, untuk mengetahui bagaimana cara memperlakukan wanita. Pantas saja jika sampai saat ini dia belum mempunyai seorang kekasih.
“Hey! Kau sedang menyumpahiku, ya!” Relly pun meneriakinya.
“Telingaku sakit!” gerutu Anggie sambil memasukkan jari kelingking ke telinganya sendiri.
Kembali pada sepasang kekasih sebelumnya,
“Buka pintunya!” pinta Ben ketika mereka sudah mencapai pintu kamar Rose.
“Ahh!” Rose paham jika saat ini kedua tangan Ben sedang bertugas menggendong dirinya. Maka dari itu dia yang membukakan pintu.
Kriet
Keduanya pun masuk. Namun Ben tetap tak menurunkan Rose meski mereka sudah mencapai pinggir tempat tidur.
“Turunkan aku, Ben! Turunkan!” Sepasang kakinya meronta-ronta karena Ben tak kunjung melepaskannya.
“Aku malu, tubuhku berkeringat semua! Aku pasti bau!” serunya lagi, tapi kali ini dengan suara pelan. Bahkan setengah wajahnya hampir ia sembunyikan di dada bidang milik Ben.
Ya, ampun! Ben tersenyum kecil. Ternyata ini yang jadi permasalahannya! Tentu saja lelaki itu tidak keberatan. Toh, suatu saat mereka juga akan bertukar peluh, kan! Tapi, hey... kenapa pikirannya jadi ke arah sana!
Ben buru-buru menurunkan Rose, mendudukkan wanita itu di pinggir tempat tidur. Jangan sampai Ben kecilnya merespons pikirannya barusan.
Mungkin karena tidak tidur semalaman jadinya dia berpikiran kotor seperti ini!
Tapi bila diingat-ingat, dia memang sudah lama sekali tidak menuntaskan kebutuhan biologisnya. Sudah sangat lama. Dan ini merupakan pencapaian tersendiri baginya. Ben bangga, karena ia bisa menahan diri sampai sejauh ini. Dan itu ia lakukan hanya kepada Rose, hanya untuk Rose.
“Ya, sudah! Kau bisa keluar sekarang. Aku ingin mandi.” Rasanya kaku sekali ketika mulutnya mengatakan hal ini. Rose malu sekali.
Padahal angannya, ingin ia menarik pria itu masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan dirinya. Jadilah dia menunduk sekarang, menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“Hey! Ku bilang aku ingin mandi!” seru Rose agak kencang karena Ben tak menghiraukannya.
"Maksudnya... kau mengajakku mandi, begitu?” Telunjuk Ben mengarah ke pintu kamar mandi sambil ia menggoda kekasihnya itu.
“Ben!” protes Rose dengan suara kencang.
“Hah! Untunglah!” Rose mengusap dadanya merasa lega, karena ia pikir Ben sudah menanggalkan pakaiannya di dalam sana. Heh! Sepertinya otaknya mesti disapu bersih! Apa sih yang sebenarnya dia pikirkan!
“Apa yang kau pikirkan? Heh!” tanya Ben seraya mendekat. Rona merah di wajah kekasihnya itu sungguh membuatnya ingin segera menerkamnya.
“Tidak! Aku tidak memikirkan apa pun!” Rose menggeleng cepat, mencoba mengelak.
Tapi semakin waspadalah dia ketika Ben sudah menghentikan langkahnya dan kini sedang mencondongkan tubuh ke arahnya.
“Ap- apa yang kau lakukan?” tanya Rose sambil menahan gugupnya setengah mati.
“Apa yang aku lakukan?” Rose mengangguk dengan cepat saat ditanya balik.
“Nanti kau juga akan tahu!” Pria itu tersenyum misterius tepat di depan wajahnya. Senyum yang menurut Rose amat membahayakan. Rose pikir, sebaiknya Ben marah saja, dari pada tersenyum aneh seperti ini. Senyumnya yang begini lebih terasa mengerikan!
Rose sudah memundurkan tubuhnya kala Ben mengukungnya di pinggir tempat tidur itu. Khawatir pada apa yang akan dilakukan kekasihnya itu, meskipun sebenarnya dia juga ingin.
Ingin apa, sih, sebenarnya! Dia bahkan tidak tahu apa yang laki-laki itu inginkan.
“Kau mau tahu apa yang akan aku lakukan?”
Rose mengangguk, tapi lalu menggeleng cepat. Mau... tapi tidak usah, tidak perlu!
Tawa kecil lolos dari bibir seksi Ben yang membuat Rose mengalihkan perhatiannya ke arah situ.
Ya, ampun! Mau sampai kapan imannya digoda seperti ini?! Tahan Rose, tahan! Tapi bibir itu terlalu menggoda!
“Aku akan melakukan... “ Pria itu sengaja menghentikan kalimatnya dengan senyum simpul.
Kemudian tangannya membelai lengan Rose yang kosong tak berbalut setelan olahraga. Lalu turun ke jemari dan menyebrang sampai menyentuh pahanya. Rose memejamkan mata dengan kuat, bingung harus menikmati atau melawan.
Ada senyar khusus yang membuatnya mesti memejamkan mata sembari menikmati gelenyar itu.
“Heng?” Tiba-tiba tangan Ben sudah berlabuh di bawah kakinya.
Dilihatnya Ben tengah berlutut, lalu dengan telaten dia membuka sepasang sepatu yang tadi ia gunakan untuk berlatih. Dahi Rose mengernyit, tapi ia urungkan untuk bertanya.
Sampai saat Ben kembali menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar mandi.
“Ben, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” Rose meronta lagi di gendongannya. Tapi Ben malahan tertawa.
Apanya yang lucu?! Rose kesal tapi juga khawatir sebenarnya.
“Ben, ini bukan waktunya untuk bercanda! Cepat, turunkan aku!” Rose makin panik ketika menyadari dirinya akan diletakkan di dalam bath tube yang sudah terisi penuh.
Tapi... tidak! Ben tidak memasukkannya ke dalam bath tube itu. Sikap aneh Ben ini malah membuat Rose terheran-heran memandanginya.
“Aku sudah menyiapkan air hangat. Ku harap suhunya cukup, tidak kepanasan. Berendam selama setengah jam bisa membuat tubuhmu yang lelah menjadi lebih rileks.” Ben menjelaskan setelah mendudukkan Rose di pinggir bath tube itu.
“Ah, ya! Terima kasih!” Rose mengangguk tanpa sadar. Dia masih terperangah oleh sikap manis kekasihnya itu. Ternyata Ben tidak memiliki niat tidak senonoh terhadap dirinya. Malahan pria itu bermaksud baik menyiapkan air hangat dengan begitu perhatiannya.
“Tapi... jika kau berubah pikiran, aku bersedia mandi di kamar mandi yang sama denganmu,” ucap Ben sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Menggoda Rose selalu seru dan menyenangkan baginya.
“Ben!” Rose yang sudah sadar pun protes dengan teriakannya yang melengking.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya manteman,,
Like, vote dan komentar kalian untuk cerita ini ya 😉
Terima kasih 🙏
Keep strong and healthy semuanya 🥰