
Dari ruangan pribadinya, meskipun dia marah, meskipun dia
kesal karena sudah diperlakukan seperti tawanan. Ben tetap memikirkan nasib
Rose di luar sana. Pria itu tidak bisa tenang sama sekali memikirkan bagaimana
Rose menghadapi keadaan seorang diri, tanpa dirinya.
Akan tetapi, hatinya berusaha mengerti maksud dari tindakan
Rose kali ini. Namun bukan berarti juga dia akan menolerirnya. Semuanya tetap
harus berjalan sesuai aturan, ingat, kan!
Ben sudah berencana, dia baru saja memikirkan hal ini
barusan. Hukuman ganda yang belum jadi ia sebutkan, akan ia lipat gandakan
sekalian. Akan menjadi tiga kali lipat. Sesuai dengan dugaan Rose. Dan wanita
itu belum mengetahuinya.
Dia berjalan menuju kaca jendela. Kaca yang berlubang,
akibat ulah penyusup yang sengaja menembakkan pelurunya ke sana. Ben berdiri
tegap sambil menyilang tangan di dada. Dia juga ingin tahu, pertunjukkan apa
yang akan Rose sajikan untuknya.
Ben lihat, wanita itu kesusahan menarik atensi semua orang.
Pantas saja, karena suaranya tidak seberapa besar dibandingkan dengan keadaan
yang terlampau kacau.
Heh! Sepertinya untuk hal ini pun, Ben harus melatihnya. Agar
suara yang keluar dari mulut wanita itu terdengar bulat dan yang pasti dapat
didengar oleh semua orang yang ia hadapi nanti.
Ben punya cara. Mungkin agak kotor caranya. Barusan dia
memikirkannnya sambil tersenyum miring. Nanti… mereka akan melakukannya… di
atas ranjang.
Hah! Rasanya tak sabar dia menantikan hal itu. Pria
eksentrik itu selalu punya pemikiran yang di luar dugaan orang biasa.
“Hey, kau! Ke sini!” serunya pada salah satu yang berjaga,
yang jaraknya paling dekat dengannya. Lubang itu membuat suara Ben jadi
terdengar keluar.
Merasa dipanggil, dia menoleh ke belakang. Ternyata bos
besarnya memang memanggilnya. Sebab arah pandangan mata itu hanya menuju
kepadanya saja. Dengan gugup, dia pun mendekatkan diri pada bos besarnya itu.
“Ya, Tuan!” Berbagi jarak aman dengan takut-takut. Jelas
sekali di wajah anak buahnya itu.
Sedangkan yang lain, tetap fokus berjaga sambil melihat ke
arah depan. Mereka seperti tidak begitu sadar, jika Ben saat ini sedang
melakukan kontak dengan salah satu di antara mereka.
“Ke sini!” Memerintah dengan penuh penekanan sambil menahan
kesal. Siapa juga yang tidak takut menghadapi orang seperti dia itu?!
“Kau takut aku akan merampas senjatamu, lalu berusaha
melarikan diri, begitu?”
Anak buah itu mengangguk dengan takut-takut.
“Heh! Bodoh!” Ben tersenyum sinis. Terasa sangat menghina
dengan aura dinginnya.
Bagaimana bisa dia melarikan diri, sedangkan dirinya saja
dikunci seperti ini. Meski pintunya memiliki sistem otomatis menggunakan remot
kontrol. Namun tetap tidak bisa dibuka, jika pintu itu dikunci secara manual.
Jadi… tolong anak buahnya itu agar berpikir secara rasional!
Ben kesal sendiri jadinya.
“Ambilkan pengeras suara, dan berikan pada Rose!” titahnya
tak memedulikan lagi kebodohan anak buahnya.
“Ap- apa Tuan?” Takutnya dia salah mendengar, makanya lebih
baik dia bertanya ulang.
Ben mendengkuskan napasnya dengan cara yang paling kasar.
Hidung dan bibirnya sampai berkerut menahan sabar.
Oh, ayolah! Mereka masih ingat, kan! Jika dirinya ini adalah
manusia dengan kesabaran yang terbatas. Ben kunyah udara sampai habis di mulut.
“Jika aku sampai mengulangi untuk yang ketiga kalinya,
siap-siap saja habis kau di tanganku nanti!” geram Ben ketika memberi
peringatan.
Jangan salahkan dia nanti setelah ini semua selesai. Lihat
saja! Semua orang yang membuatnya kesal, mesti menanggung akibatnya. Rose juga
sama. Tanggung sendiri karena sudah menjadi wanita pembangkang.
“B- baik, Tuan!” Rasanya dia ingin buang air di celana jika
sudah seperti ini.
sedang bermain nyawa dengan seorang musuh. Namun nyali mereka tidak sebesar
itu, untuk menghadapi Ben secara langsung.
Pun bagi anak buahnya sendiri, Ben tetaplah sosok yang menakutkan. Seperti apa yang para
musuhnya itu bayangkan dan pikirkan. Termasuk Rose yang menyebutnya tuan seram.
Meski dalam hati dan Ben sendiri tidak mengetahuinya.
Jangan sampai tahu, malah! Terkikik wanita itu setiap kali
memikirkan hal ini.
Kembali ke masa sekarang, dimana tadi anak buah yang Ben
perintahkan melesat dengan cepat. Lalu kembali dengan tempo yang sama juga.
“Ini, Tuan!” Diserahkannya pengeras suara toa yang mampu
didapatkannya secepat mungkin.
Terpikirkan olehnya untuk membawa ini, sebab bendanya kecil
dan mudah dibawa. Sedangkan kegunaannya nanti lumayan bisa membuat suara Nona
Rose menggema di antara semua orang di lapangan.
“Kau ini!” Ben pejamkan matanya dengan gigi bergemerutuk
berusaha menahan diri dengan sisa kesabarannya. Dia itu bodoh atau apa, sih?!
Sepertinya Ben perlu melakukan beberapa perubahan ke
depannya. Untuk masalah perekrutan anggota baru, akan ia adakan psikotes
terlebih dahulu sebelum tes-tes yang lainnya. Ben merasa jika anggotanya
rata-rata berIQ jongkok. Contohnya saja Relly dan orang ini.
Apa mungkin karena mereka terlampau sering berkelahi, lalu
dihantam di kepalanya, mereka jadi bodoh seperti ini?! Atau mungkin, memang
rata-rata yang masuk ke dalam kelompoknya ini hanya mengandalkan otot bukan
otak?!
Ben geram sendiri jadinya. Pokoknya dia tidak mau tahu! Hal
ini mutlak harus dilaksanakan ke depannya. Harus ada psikotes dalam perekrutan
anggota. Atau ia perlu melakukan seleksi ulang pada para anggotanya? Akan ia
kategorikan dari yang pintar sampai yang benar-benar bodoh. Agar bisa saling
membantu satu sama lain.
“Berikan pada Rose! Bukan padaku, bodoh!” hardik Ben
setengah menggeram. Jika sudah bodoh, ya bosoh saja. Jangan ditambahkan bodoh
lagi, pikirnya kesal.
“B-baik, Tuan!” jawabnya cepat. Secepat itu juga langkah
kakinya menuju Nona Rose di lapangan.
Ben kembali berdiam di sana. Berdiri tegak, membuka kakinya
selebar paha, seakan sedang bersiap memasang kuda-kuda. Ben bersidekap di depan
dada. Memandangi punggung Rose yang terlihat dari kejauhan.
Hatinya ikut berdebar, menanti Rose akan membuka suara.
Kalimat apa yang akan terlontar, serta reaksi apa yang akan orang-orang itu
berikan pada wanitanya itu.
Ketika orang yang diberi perintahnya tadi kembali, Ben
memanggilnya lagi. Dengan takut-takut anak buahnya itu datang mendekati.
‘Apanya yang salah?’ Sambil terus berpikir, menanyakan
dirinya sendiri.
“Jika sampai terjadi sesuatu di luar kendali kalian, segera
lepaskan aku dari sini!” perintah Ben tegas.
“Baik, Tuan! Kami mengerti!” Pria itu mengangguk lalu
kembali ke posisinya semula.
Meskipun Ben dalam keadaan menjadi tawanan saat ini, dia
tetap harus mengendalikan situasi. Yang jelas, jangan sampai Rose terluka. Walau
itu adalah keputusan wanita itu sendiri, tapi Ben juga akan tetap menyalahkan
dirinya atas ketidak-berdayaannya ini.
Dia lelaki, jadi dia yang seharusnya bertanggung jawab atas
semua keadaan. Tapi sekarang… untuk pertama kali di dalam hidupnya, dia
diperlakukan seperti tawanan.
‘Heh! Bagus, Rose! Kau memang luar biasa!’ Tersenyum sinis
dan konyol pria itu menatap lurus keluar jendela.
Lalu didengarkannya Rose mulai menggunakan pengeras suara.
“Tes! Tes!”
“Ok! Halo semuanya!”
Bibirnya tersenyum mendengar suara merdu itu. Namun matanya
menatap tajam, menunggu, menanti pertunjukannya dimulai.
Bersambung…