
Sambil memarkirkan mobilnya ke arah dalam, Ben jadi sedikit mengenang tentang hari itu.
Saat itu, Tuan Danu masih ada, selaku pemimpin Harimau Putih. Sedangkan ia, masih merupakan tangan kanan beliau, yang posisinya sama seperti Johan aka ayah dari Zayn.
Tuan Danu memanggil keduanya, Ben dan Johan. Pada saat itu, Ben sedang berada di luar. Sedang menjalankan tugas di perbatasan. Tuan Danu mengatakan, jika ada hal penting yang perlu ia sampaikan, juga ia putuskan setelah itu.
Maka, tanpa berpikir panjang, Ben segera pergi ke tempat yang dimaksud oleh pemimpinnya, kala itu. Beruntunglah, tugasnya membantu beberapa ekonomi kecil yang diancam oleh para lintah darat, yang mengatasnamakan Harimau Putih, sudah selesai.
Ketika datang, di tempat ini, sudah berkumpul Tuan Danu beserta beberapa anggota yang lainnya. Yang biasa berjaga di samping pemimpinnya saat itu. Johan pun sudah ada di sana.
Dan ternyata, dirinya yang paling belakangan datang.
Ben pikir, sudah terjadi perbincangan serius sebelum ia sampai. Sebab, ia menilik, ekspresi Johan nampak tegang. Namun anehnya, raut wajah Tuan Danu terlihat tetap tenang.
“Hh… baiklah! Lakukan saja, sesuka hatimu!” Bersamaan dengan helaan napas yang kedua kali. Kemudian Tuan Danu memutuskan. Dengan pasti dan penuh rasa yakin. “Kau bebas, sekarang!”
“Terima kasih, Tuan!” Johan lantas berdiri lalu beranjak dari sana.
Saat melewati Ben, ia tak memandangnya. Hanya menepuk lengan kirinya pelan, kemudian berlalu begitu saja dari sana.
Alis Ben menukik, mengernyit dalam ketika menoleh, melihati kepergian rekannya itu. Juga, saat mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Danu, yang masih duduk tenang. Dan malahan, kini tengah tersenyum, menyambut kedatangan dirinya.
“Kemarilah!” Sepasang alisnya naik, mengajak Ben mendekat ke arahnya. Sebelah tangannya kemudian, terangkat, bertengger di atas sandaran sofa, yang tengah ia duduki.
Ben mengangguk samar seraya berjalan mendekat. Alisnya yang menukik belum juga ia luruskan. Selama ia belum mendapatkan penjelasan dari situasi yang ada.
Ketika Ben duduk, Tuan Danu menaikkan tangan kanannya yang bebas. Menengadahkan telapak tangannya pada salah seorang di belakang.
Mata di bawah alis yang masih menukik itu pun mengikuti gerakan tangan juga anak buah yang datang mendekat, bersama sebuah berkas, di tangannya.
“Bacalah!” pinta Tuan Danu, sambil menyerahkan setumpuk kertas itu kepada Ben.
Dengan ragu, Ben menerimanya. Lantas ia buka dan ia baca, halaman demi halamannya.
Kembali ke masa kini, dan berada di sisi lain. Di dalam sebuah mobil yang tengah melaju, berisikan tiga orang di dalamnya.
Sementara Relly mengemudi, Baz memilih duduk di bangku belakang. Karena di sebelah pria yang menjabat sebagai sopir, saat ini, ada Anggie. Yang matanya sedang sibuk, berkutat dengan lembaran-lembaran kertas di tangan.
Berkas yang Ben baca kala itu, adalah berkas yang sama yang sedang Anggie baca sekarang.
“Itu adalah sekumpulan bukti, penyelewengan wewenang serta pengkhianatan yang dilakukan oleh ayahnya Zayn,” beritahu Relly pada Anggie dengan sekali lirik. Karena kemudian, ia berkonsentrasi mengemudi lagi.
Anggie cukup terkejut, namun ia sudah berusaha memahaminya, melalui halaman-halaman yang sebelumnya ia baca.
Hk~!
Ia menahan napasnya sebentar. Mengatur emosinya, lantas meneruskan membaca lagi. Tapi, tak lama ia bertanya. Tetap sambil membaca. “Mengapa benda ini ada pada dirimu? Kenapa Tuan Ben tidak menyimpannya? Atau memberitahukan hal ini sejak lama, kepada Zayn?”
“Tuan Ben juga baru mengetahuinya setelah Tuan Johan memutuskan untuk pensiun dari kelompok kami. Dan dia tidak tahu sama sekali jika pemimpinnya sendiri, Tuan Danu, sudah mengetahui seluruh tindak tanduknya saat itu.”
“Ini amanat Tuan Danu sendiri. Bahkan, Tuan Ben tidak diizinkan untuk memberitahukan hal ini kepada siapa pun. Hanya aku yang tahu.”
“Tuan Danu tidak ingin, Tuan Johan dicap sebagai pengkhianat oleh sesama rekannya. Bagaimana pun juga, sudah banyak jasa yang dia berikan untuk Harimau Putih. Bahkan sebelum Tuan Ben bergabung.”
“Anggap saja, dia sudah tidak punya utang budi. Begitu yang Tuan Danu sampaikan.”
“Mengenai berkas ini ada padaku… ini, Tuan Ben sendiri yang menyerahkannya padaku. Tuan memintaku untuk membakarnya. Karena dia tahu, jika hal ini diketahui, pasti hanya akan menimbulkan luka, terutama bagi Zayn.”
“Tapi ternyata, semuanya berakhir seperti ini! Hah! Anak itu malah salah jalan! Sungguh disayangkan! Untunglah, aku masih menyimpannya. Jadi, berkas ini bisa ku tunjukkan langsung ke hadapan anak itu.”
“Agar dia sadar dan membuka matanya!”
Relly selesai menjelaskan.
Ia mengakhiri kalimat-kalimatnya dengan ******* napas berat.
Tentu saja! Hal ini bukan hal yang mudah untuk mereka semua lalui. Terlebih, mengingat bagaimana kedekatan dia, Tuan Ben juga Zayn sebelumnya.
Mereka sudah seperti keluarga, tapi malah menyakiti sesame anggota keluarganya, sampai seperti ini. Sungguh ironi!
Padahal, inginnya Relly, mereka tetap bisa akur dan rukun lagi. Seperti sedia kala. Sebelum isu pengkhianat mencuat. Dan bahkan, ia berharap, masalah ini tidak pernah ada.
Di belakang, Baz mendengarkan dengan saksama. Dia pun pernah salah jalan. Pernah melakukan aksi balas dendam yang salah. Namun beruntunglah, ia bertemu dengan Ben, dan pria aneh itu meluruskan kembali jalannya.
Sebagai orang yang pernah melakukan hal yang sama, Baz pun berharap, jika Zayn akan menemukan kebenarannya terlebih dahulu, sebelum dia menyesal nantinya.
Kembali ke sisi Ben dan Rose,
“Sudah jam 12!” ujarnya sambil mengalihkan pandangan ke depan. Lalu menggulirkan bola mata ke sekitar.
Ternyata, hampir tiga jam mereka berkendara. Lama juga, ya!
Wanita itu pun menaikkan kedua tangannya, untuk sekadar meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Kaus putih polos di balik jaket kulitnya pun terangkat naik. Sampai memperlihatkan sebuah titik menggoda di tengah perutnya yang rata.
“Hem! Kau sedang menggodaku, sekarang?” tanya Ben kemudian, seraya menelengkan kepala. Mengedip pelan, mengerling, sembari menerbitkan senyum-senyum menggoda. Tapi tetap menawan, tentunya.
Hk~!
Rose yang kaget, langsung refleks menurunkan kedua tangannya. Lantas pusarnya itu ia tutupi dengan dua-duanya telapak tangan, miliknya.
Agar tertutup rapat, dan tidak nampak, walau hanya bayangannya sedikit pun.
“Ben!” omel Rose melalui tatapannya. Mata yang membulat besar dan melotot. Tatapan itu melayang ke arah kekasihnya.
Di mana pun, apakah tepat membahas hal-hal seperti itu?! Kesal sendiri wanita itu.
Dan di saat Ben sedang senang-senangnya menertawai Rose, sesosok muncul di teras luas villa itu.
“Kau sudah datang?” sapanya.
Benar! Itu adalah Zayn.
Lantas, Ben dan Rose pun saling berpandangan. Rose tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Pasalnya, taka da mobil siapa pun di sana, kecuali mobil yang mereka kendarai ke sini. Rose malah sempat berpikir, jika, mereka telah datang lebih dulu sebelum Zayn.
Sementara Ben sudah menduga, apabila, bekas rekannya itu, sudah ada di sana, sejak awal.
Ya! Bekas!
Karena, semenjak Zayn memutuskan untuk berkhianat dan menentang dirinya, juga kelompoknya, Ben sudah menghapus, mencoret nama itu dari daftar anggota Harimau Putih.
Zayn bukan lagi, bagian dari kelompok mereka.
Hanya saja… Ben masih mempertimbangkannya, sebagai bagian dari keluarga yang pernah ia anggap, kala itu.
Ditatap keduanya, Zayn yang tengah melipat tangan di depan, sambil menyandarkan sebelah pundaknya ke salah satu pilar besar yang berdiri menjulang dan kokoh dari teras sampai ke lantai atas.
Wanita maskulin itu nampak santai. Pun, dengan nada yang ia keluarkan tadi. Namun, nampak dari kerutan di pinggir matanya. Bahwa dia sedang memandang sinis, terhadap mereka berdua.
Seolah, tiada lagi keramahan murni yang ia miliki. Senyum yang terkembang sekarang, bahkan hanya sebuah cemooh yang tertunda, karena masih terasa halus sindiran kekalahan itu.
Zayn seperti menyatakan, jika mereka telah bodoh, mau masuk ke dalam perangkap yang telah ia buat.
“Masuklah!” Lantas ia berdiri tegak seraya mengajak Ben dan Rose masuk, dengan gerakan kepalanya.
Direntangkan Ben, sebelah tangannya, begitu mereka sama-sama mencapai depan mobil. Setelah berjalan dari arah yang berbeda. Ben membuka telapak tangannya, menunggu Rose menyambut, supaya mereka lekas berpegangan tangan.
Ch~! Decak Zayn sinis dalam gerakan samar. Dan sebelum ia bertambah muak melihat kedua orang itu, Zayn memilih untuk berjalan mendahului.
“Kebetulan, kalian datang jam segini! Kita jadi bisa makan siang bersama!” ujarnya tak acuh. Tanpa menoleh ke belakang lagi.
Tangan yang ia pegangi, Rose peluk lengannya. Wanita itu bahkan mempererat rangkulannya sambil memandang ke arah wajah di empunya lengan, yang sedang ia peluk.
‘Ben!’ serunya tanpa bersuara. Beserta perasaan khawatir yang memuncak.
Mungkinkah? Mungkinkah ini jebakan? Mengajak makan bersama? Mungkin saja, kan, Zayn telah memberikan racun, pada makanan atau pun minuman mereka?
Digelengkan Ben kepalanya pelan. Sembari memberikan usapan penuh kasih sayang, pada pipi halus kekasihnya itu.
Tidak apa-apa! Ada dia di sini. Pasti, tidak akan terjadi sesuatu apa pun pada mereka!
Ben menenangkan Rose dengan senyum serta tatapan teduh yang ia pancarkan.
Hehhh….
Rose pun mengembuskan napas beratnya melalui hidung, sehingga tercipta satu dengusan panjang.
Sungguhkah, begitu? Namun ia tetap tak dapat membendung kekhawatirannya. Saat ini.
Bersambung…