Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mahakarya Rose



Tok~! Tok~! Tok~!


Terdapat suara bising lagi dari arah pintu kamarnya.


“Hehh…” Ben mendesah panjang dan berat melalui mulut yang sedikit terbuka.


Untung saja kali ini ia sudah terbangun dan terjaga kembali. Bahkan pria eksentrik itu tengah memakai kembali celananya.


Tok~! Tok~! Tok~!


Ketukan itu terdengar makin tidak sabar.


“Ck!” Pria itu pun berdecak karenanya.


Sambil memasukkan tangannya ke dalam lubang lengan pada kemejanya, Ben menoleh sebentar pada wanita yang masih terlelap di atas tempat tidur.


Kemudian melihat ke arah pintu kaca, dimana hari sudah berubah menjadi cerah dan terang.


“Hh… hh…” Ia tersenyum kecil bersama dengung dan dengusannya. Dilihat Ben jam dinding pada salah satu spot dinding kamar itu. “Ternyata sudah jam segini!” gumamnya sambil kembali terkekeh.


Jarum panjang sudah menunjukkan angka 9. Sedang si pendek menunjuk, melewati angka 3. Ini sudah hampir jam setengah 10, dan sepertinya Rose belum ada keinginan untuk membuka mata.


Kelelahan dan kurang tidur adalah penyebab utama wanita itu masih terpejam matanya saat ini. Selamam suntuk, Ben telah menyedot habis energi yang wanita itu miliki.


Senyum pria itu makin melebar, makin indah tersemat di bibir seksinya yang penuh. Saat-saat paling indah semalam, Ben akan terus mengingatnya.


Meskipun efek obat yang masih bersarang di tubuhnya, membuat Ben menjadi lebih brutal. Namun, sebisa mungkin pula, ia tidak begitu menyakiti Rose. Berusaha keras pria itu menahan diri, agar tidak menjadi  monster di malam pertama mereka.


Saat ini, tidak hanya hati mereka saja yang sudah menyatu. Namun seluruh jiwa raga mereka telah menjadi satu kesatuan. Utuh, dan semakin utuh Ben rasakan.


Pria itu pun berjanji,  ia tidak akan menjaga cintanya ini selama-lamanya. Cinta yang ia dapatkan setelah sekian lama. Penantian panjang seumur hidupnya. Ben tidak akan menyia-nyiakannya.


Ia juga tidak akan membuat Rose merasa menyesal dengan keputusan, yang Ben yakini pasti dianggap berat untuknya.


Tinggal menunggu waktu sedikit lagi, dan ia akan menikahi wanita ini.


Tidak ada hal lagi yang mesti mereka tunggu sebenarnya! Bukan, bagi Ben maksudnya!


Sejujurnya, ia hanya takut, setelah ini tingkat candu dan ketagihannya pada tubuh Rose akan semakin meningkat. Ben khawatir ia tidak bisa menahan diri setiap kali berhadapan dengan kekasihnya itu. Setelah ini maksudnya!


Sedangkan, jika memang nantinya tertanam benih di dalam rahim wanita itu, Ben tidak akan keberatan sama sekali.


Dan ia berpikir, malah hal itu akan jadi alasan yang kuat baginya, untuk segera menikahi Rose.


Ah…! Ben jadi tersenyum miring saat ide ini terpikir. Ia menggangguk kecil, mungkin saja cara ini bisa ia gunakan untuk secepatnya menikahi kekasihnya itu.


Tok~! Tok~! Tok~!


Ritme ketukan semakin cepat dan menuntut.


Ben mencebik saat menatap pintu kamar yang masih tertutup.


Siapa, sih, yang berani mengganggunya sampai seperti ini? Kesalnya, karena masih berpikir dan terbiasa berada di markas Harimau Putih. Di sana memang tidak ada yang berani mengganggunya, selain Relly.


Sepertinya Ben lupa jika saat ini, ia sedang tidak mempunyai kewenangan sebesar itu lagi. Sebab, kastanya turun karena statusnya yang sebentar lagi akan menjadi seoang adik ipar.


“Tck!” Kembali ia berdecak setelah memutuskan untuk berjalan menuju pintu kamar.  Lalu ia tatap kemeja yang sudah masuk ke dalam tubuhnya.


Heh! Ternyata, karena melamunnya tadi, Ben belum juga mengancingkan kemeja maroonnya.


Lantas ia mengedikkan kepala dan bahunya bersamaan. Dengan tidak acuhnya, ia membiarkan saja dada dan perutnya yang berotot memamerkan diri dengan leluasa.


Kriet~!


Pintu kamar ia buka setengah. Kemudian maju dan menjadi pengganti pintu lainnya, dengan berdiri tepat di ambang pintu. Dan tangannya masih menahan handle-nya di dalam.


Ia tidak membiarkan siapa pun yang datang itu melihat apa yang terdapat di dalam kamarnya. Kamar yang masih menguarkan aroma percintaan ia dan Rose semalam.


“K- kau-“ Suara Mirabel langsung tercekat setelah melihat penampakan indah yang ada di depan matanya.


Matanya jujur sekali dengan keserakahan ingin memiliki. Terpesona pada wajah dan tubuh Ben yang menawan, dengan tidak tahu dirinya.


Tangannya yang kurang ajar, bahkan saat ini sedang gemetar. Terlepas sedikit dari cengkeraman baki yang dipegangnya. Dan seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri, seolah ingin menggapai dan menyentuhkan tangannya itu ke dada dan perut yang keras dan liat.


Pria itu lantas menyandarkan sebelah tubuhnya pada bingkai kusen pintu. Namun salah satu kakinya menyilang ke belakang. Tetap menjaga agar pintu itu tidak semakin terbuka lebar.


Ia melipat tangannya di depan. Menelengkan kepala sedikit, sambil menatapi wanita itu dari atas sampai bawah. Sampai beberapa kali.


Jelas! Bukan tatapan ramah yang pria itu layangkan. Namun tatapan dingin yang mencemooh dengan sentuhan jijik.


Kali ini, trik apa lagi yang ingin wanita itu keluarkan?!


Heh! Ben mendengus bersama cibiran di bibirnya.


Melihat tatapan tidak bersahabat itu, Mirabel segera menyadarkan diri. Ia meremat dengan keras, pinggiran baki yang ia genggam. Demi melupakan niatnya barusan.


Dalam keadaan sadar seperti ini, pria itu selalu nampak dingin dan galak. Namun dalam keadaan setengah sadar semalam, tuan itu begitu lembut saat berbicara dengannya.


Ah, Mirabel jadi ingin merasakan saat-saat itu lagi! Apalagi… jika tuan itu memperlakukannya dengan lembut pula… di atas ranjang.


Ia menggigit bibir bawahnya, sebentar memandang Ben dengan tatapan sensual.


“Eherm… eherm…” Berdehem wanita itu sambil mengingat tujuan awal ia datang ke sini.


Semoga pria itu tidak mengingat kejadian semalam. Tidak mengingat dirinya yang sudah dianggap sebagai Rose oleh pria itu.


Mirabel masih berharap akan hal itu!


Sementara ia harus terus memperbaiki sikap dan hubungannya dengan Ben. Wajahnya kembali serius dan berubah menjadi lebih ramah. Tidak ada tatapan sensual yang menginginkan itu lagi.


“Aku ke sini membawakan sarapan untuk kau dan… Rose!” serunya sambil melirik ke arah dalam. Bola matanya berkeliaran, mencoba mencari tahu bagaimana keadaan di dalam sana.


Dan seperti apa rupa Rose saat ini, apakah saudara tirinya itu benar-benar menghabiskan malam dengan pria incarannya itu atau tidak.


Sedangkan, yang seharusnya menikmati malam indah itu adalah dirinya sendiri. Sebab, gairah dan kepanasan yang tubuh Ben rasakan, adalah usahanya. Jadi, sudah seharusnya dia yang menghabiskan malam indah bersama Ben!


Tidak adil rasanya, karena malah Rose yang menikmati hasil kerja kerasnya itu!


Mirabel kembali kesal dalam hati, ketika mengingat hal ini. Terlebih, dia malah mendapati dirinya sudah dinikmati oleh seorang pria tua gendut dan jelek. Dalam keadaan tidak sadar, pula.


“Apa yang kau ingin tahu?” tatap Ben tajam sambil menurunkan pandangan.


“Hng…?” Mirabel langsung mengalihkan pandangan kepadanya, karena terkejut dengan teguran itu.


“Kau pasti sangat ingin tahu, apa yang terjadi antara aku dan Rose semalam, kan?!”


Ben sengaja menurunkan tangan yang semula menyilang di depan. Menyimpannya ke dalam saku celana, lantas sedikit membusungkan dada, demi memamerkan mahakarya Rose pada tubuhnya.


Pergerakan kecil itu, ditangkap oleh sepasang mata milik Mirabel. Kesengajaan yang Ben lakukan, membuat bola matanya bergerak, menatap ke arah sana.


Dilihat wanita itu, beberapa bekas cakaran serta gigitan kecil yang Rose lakukan kala menahan nyeri dan nikmat yang datang dengan bersamaan.


Pun, dapat dipastikan, jika rasa serangan itu sangat luar biasa Rose rasakan. Sebab Ben juga merasakan hal yang sama. Pengalaman pertama bagi Rose yang belum pernah tersentuh, terjamah oleh laki-laki mana pun, memberikan sensasi luar biasa padanya.


Tatapan iri dan dengki semakin menyala, berkobar pada mata yang mengerling di hadapan lelaki itu. Ben tersenyum sinis, saat Mirabel belum mau berhenti menatapi tubuh atasnya yang setengah terbuka.


Heh!


“Kau pikir…” Ben mencondongkan tubuhnya ke depan. Menetapkan wajahnya tepat di hadapan wanita ular itu. Lalu berbisik dalam, kemudian. “…aku tidak tahu, dengan apa yang sudah kau lakukan padaku, semalam.”


Sementara Mirabel belum pergi dari rasa terkejutnya, ia kembali disengat perasaan takut yang aneh dan begitu hebat. Segera menyerang segala bentuk keberanian yang ia punya, dan ia bawa ke sini.


Matanya berlalak sambil menahan napas. Karena rasanya, untuk menghirup udara pun ia kesusahan. Merasa tertekan dengan aura suram dan kelam yang pria itu keluarkan.


Bersambung…


Author mau pergi dulu ya manteman… masih kentang ini sebenarnya, tapi suami udah ngeburu-buruin aja.. upss, aku malah curhat,, hehe


Nanti agak malaman aku lanjutkan lagi yaw..


Terimakasih untuk yang sudah selalu ikutin cerita ini,, sayang selalu aku sama kalian..


Keep strong and healthy ya semuanya