Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Di atas penderitaan orang lain



Sarapan pagi ini terasa berbeda bagi Ben. Terasa lebih nikmat bahkan sampai ke dalam hati. Rasa-rasanya, sudah lama sekali ia tak merasakan sarapan bersama seperti ini. Berkumpul bersama satu keluarga seperti ini, tidak bisa ia lakukan lagi, setelah dia dan Rose memutuskan tinggal di markas.


Ketika tinggal di rumah Victor, mereka selalu sarapan bersama setiap hari. Tidak hanya sarapan, bahkan mungkin setiap kali waktu makan. Adalah hal yang langsung menyentuh ke dasar hatinya, lantaran pria itu sejak lahir dan tumbuh di panti asuhan.


Dan yang membuat hidangan-hidangan itu terasa berbeda adalah… nikmatnya sambil menyaksikan kekasihnya itu melaksanakan latihan pagi, mengelilingi lapangan.


Tidak hanya itu, setiap sesi latihan Rose pagi ini akan dikali dua. Itu adalah hukuman ganda yang telah Ben putuskan dengan pemikirannya yang bijak.


Rasakan saja, karena wanita itu sudah berani membangkang! Rasakan juga, karena dia juga sudah menyiksanya berulang kali! Sampai Ben junior harus menangis tanpa air mata, karena tidak mendapatkan jatah!


“Dasar pria jahat! Seenaknya saja bersenang-senang di atas penderitaan orang lain!” teriak Rose dengan umpatannya. Sambil berlari, Rose meneriaki Ben penuh emosi.


Seperti biasa, Rose hanya memakan sepotong sandwich sebagai sarapannya. Lalu mulailah dia berlari lima putaran… tidak, sekarang sepuluh putaran. Karena pria itu telah menambahkan hukumannya hari ini menjadi dua kali lipat.


Atas dasar tindakan berani yang diambilnya ketika kedapatan penyusup di markas ini.


Sungguh tidak berdasar! Karena menurut Rose, tidak satu pun tindakannya salah. Rose yang membangkang perintah Ben untuk tetap di kamar dan terjun dari lantai atas, semua itu dia lakukan karena terlalu mengkhawatirkan kekasihnya.


Lalu… yang dia lakukan itu tidak salah, kan! Dasar orang kejam! Sudah seram, lalu kejam lagi! Hih!


Wanita itu sengaja memamerkan wajahnya yang merengut kesal, ketika berlari melewati Ben dan segenap orang yang bersamanya.  Dia bahkan mendengus dengan keras agar suaranya sampai terdengar.


Rose tidak peduli! Dia benar-benar kesal!


Ditarik Ben lengkung bibirnya dengan tanpa berdosa sama sekali. Ben sengaja mengangkat gelas bertangkai dengan isi jus orange kesukaan Rose, di samping wajah. Kemudian dia membalas seruan kekasihnya itu. “Semangat, Sayang!”


“Jika Rose sampai sakit dan kelelahan karena hal ini… aku akan menghajarmu!” tegur Victor dibarengi dengan ancaman.


Benar saja! Keluarga kecil kakaknya itu tengah sarapan di pinggir lapangan bersama dengan Ben. Mereka duduk di atas kursi santai yang sudah dipersiakan, dengan satu meja besar berada di tengah di antara Ben dan Victor.


Lengkap dengan sebuah payung besar melindungi kepala mereka semua dari siraman panas mentari yang semakin terik.


Wajar jika Rose terlihat sangat kesal. Pasalnya, hal itu adalah ide kekasihnya sendiri, untuk melakukan sarapan sambil melihatnya latihan.


Sungguh ironi dalam sebuah kenyataan! Ketika yang lainnya tengah asyik dengan sarapan dan santapan mereka. Rose malah sedang menguras peluh dengan latihan kerasnya.


Heh! Dasar pria kejam dan licik! Entah sudah keberapa ratus kali wanita itu mengumpati kekasihnya sendiri.


Sambil melirik tajam pada Ben, Victor membuka mulutnya lebar, menerima suapan salad dari tangan Bella.


“Mama, aku juga ingin disuapi seperti Papa!” protes anak kecil yang duduk di antara keduanya.


“Hh… baiklah!” Bella sempat tergugu mendengar ucapan putranya. “Satu kali saja, ya!”


Anak kecil itu mengangguk cepat. Kemudian membuka mulut, dan membiarkan garpu yang penuh dengan salah sayuran masuk ke dalamnya. Bervan lalu mengunyah dengan riang.


“Hh… hh… sudah pasti dia akan kelelahan!” Bahu Ben naik turun dengan tawa yang tertahan. Mana ada manusia di dunia ini, yang tidak lelah menjalani serangkaian latihan berat seperti itu?!


“Tapi… aku bisa menjamin jika dia tidak akan sakit!” sanggahnya sambil melemparkan lirikannya ke samping. Di mana sudah terdapat sebuah meja dengan beraneka macam hidangan di atasnya.


“Itu semua untuk Rose?!” seru Victor seraya membola matanya.


Ditahan tangannya di depan mulut, karena hampir saja ia menyemburkan apa yang saat ini sedang dikunyahnya. Victor tidak percaya!


“Tentu saja! Khusus untuknya!” jawab Ben santai sambil menggigit buah apel yang baru saja dia ambil. Mulutnya terbuka lebar, sampai buah yang berwarna merah tua itu menghilang separuhnya.


“Sebanyak itu?” tanya Victor yang masih tidak percaya. Apa adiknya serakus itu? Kenapa dia tidak tahu?


“Biasanya tersisa dua tiga piring saja!” Dianggukkan Ben kepalanya seraya membuka matanya lebar, agar terlihat lebih meyakinkan. Meski nada bicaranya terdengar santai.


Mulut Victor yang menganga lantas diisi oleh suapan salad oleh Bella, lagi. Dia benar-benar tidak percaya jika adiknya serakus itu dalam menghabiskan makanan!


“Kau harus makan yang banyak, jika energimu juga berkurang banyak! Masa pepatah seperti itu saja kau tidak tahu!” sebut Bella sambil menyuapkan salad ke mulutnya sendiri.


“Kalau begitu, aku harus makan yang banyak supaya menjadi kuat!” gumam Bervan sendiri. Lalu dengan bersemangatnya dia melahap sisa sandwich di tangan.


Anak kecil itu menangkap apa saja yang para orang dewasa perbincangkan. Dia tahu jika bibi kesayangannya itu ingin menjadi kuat, makanya melakukan banyak latihan. Lalu Bibi Rose-nya akan makan yang banyak setelah semua latihannya selesai.


Bervan mendeskrispsikan, jika dia harus banyak makan, karena ia perlu banyak energi untuk melakukan banyak latihan! Sebagai laki-laki, anak kecil itu merasa keren saja tidak cukup. Dia perlu menjadi kuat untuk melengkapi nilai kerennya.


“Bervan! Kau mau kemana?” teriak Bella seraya berdiri. Ibu satu anak itu terlihat khawatir dengan anaknya yang tiba-tiba berlari dari tempat duduknya.


“Aku ingin menyusul Bibi! Aku akan latihan bersamanya!” teriak Bervan dan menggerus kekhawatiran Bella.


“Sudahlah! Tidak apa-apa, Sayang! Anak lelaki memang harus banyak latihan, supaya bisa melindungi wanitanya nanti!” Ditarik Victor tangan istrinya itu agar lekas duduk kembali. Usapan lembut ibu jarinya berikan pada punggung tangan Bella, memberi efek menenangkan.


Meski masih resah, wanita itu pun membiarkan putranya itu mengekori Rose di belakang. Sambil melahap sisa salad di piringnya, Bella menatap setiap pergerakan putranya itu. Tak melepas pandangan untuk mengawasinya selalu.


Ben mengangguk setuju pada pernyataan temannya. Kemudian menggigit apel di tanganya yang tinggal separuh.


“Kau sudah bertanya pada Rose mengenai ‘potong gaji’ yang ia berikan sebagai hukuman?” tanya Victor pada Ben ketika mendadak mengingta sesuatu. “Apa maksudnya mengatakan hal itu?”


Tentu saja pembahasan ini mengarah pada putusan potong gaji yang Rose berikan pada mereka semua yang bersalah. Kepada si biang keladi penyebar gosip, juga kepada mereka semua yang mulutnya laknat telah menghinanya habis-habisan.


Jika dijumlahkan, total potongan yang akan masuk ke dalam kas markas cukup besar. Wajar jika semua orang ingin tahu apa alasannya.


“Oh, itu!” sahut Ben acuh seraya melahap gigitan terakhir apel di tangannya.


Bersambung…