
“Oke, oke! Sekarang, aku tidak akan tersenyum lagi! Aku janji!” Tangan Ben yang masih menggenggam tangannya pun ditarik-tarik oleh Rose.
Ia berjanji, tapi nyatanya bibirnya semakin ingin melengkung. Semakin ingin tersenyum.
Ben pun berbalik. Melihat gelagat sang istri yang tak serius, ia lantas mencondongkan tubuh lalu berbisik di telinga istrinya itu.
“Kalau kau berani menggodaku lagi, tunggu saja..., aku selalu punya hukuman yang pantas untukmu!” ancam Ben dengan seringai.
Ketika Ben hendak menarik diri, Rose malah menatap kedua mata lelaki itu dengan berani. Lantas, mencengkeram dua sisi jas di bagian dada dan menahannya. Sehingga, wajah mereka kini benar-benar berhadapan. Sangat dekat.
“Aku justru sudah sangat merindukan hukuman darimu, Tuan!” Bibir Rose yang ranum pun menyeringai.
Hh! Dengkus singkat terdengar kala Ben kembali tersenyum jahat.
Wanitanya ini, memang sudah berubah! Dia bukan lagi Rose Benneth yang dulu polos dan malu-malu. Sekarang, wanita yang ada di hadapannya ini, adalah Rose Callary yang sudah menjelma menjadi wanita berani.
Bahkan, menghadapinya sekalipun.
Perlu diketahui, pasangan Ben dan Rose memang tidak saling menyentuh selama mereka bertemu kembali. Meski Ben tidak tahan, tetapi Rose mengingatkan untuk menahan diri sampai mereka menikah secara resmi.
Agar, bunga-bunga yang mulai bermekaran, benar-benar terasa indah saat musim semi hadir dan mereka rasa pada malam pertama pernikahan mereka.
“Kalau begitu! Nantikan saja, hukuman dariku!” balas Ben dengan kerling mata licik.
Jarak yang sangat dekat itu, membuat para hadirin mengira mereka akan berciuman. Kontak fisik pertama yang dilakukan setelah keduanya resmi menikah.
Para orang tua pun lekas menutup mata anak-anak mereka, supaya tidak menyaksikan adegan tidak senonoh yang belum pantas dinikamati oleh mereka yang belum cukup umur.
Akan tetapi, pasangan tersebut malah saling menjauhkan diri. Rose mendorong tubuh kekar Ben, kemudian mereka saling menjaga jarak. Dan kembali menempatkan microphone di dekat mulut.
“Maafkan aku, Rose! Karena tidak mendengar semua tangis dan keluh kesahmu, selama ini.”
Dengan terdengarnya suara serius itu, semua orang menjadi terkejut. Ternyata, kedua mempelai melanjutkan ungkapan cinta yang tertunda.
Anak-anak pun melepas tangan para orang tua yang menutup mata mereka.
“Maaf, karena aku pernah melanggar janjiku untuk selalu berada di sisimu. Dan maaf, karena sudah membuatmu menderita selama ini.
“Namun, terima kasih karena kau sudah bersedia menungguku. Tidak melupakanku dan tetap mencintaiku.
“Dan terima kasih, Rose! Terima kasih karena telah mengubah hidupku yang hitam, putih dan abu-abu. Menjadi penuh warna dan indah, tanpa awan kelabu.
“Sekali lagi terima kasih, karena telah membuatku merasakan hangatnya sebuah keluarga. Dan bahkan, memberikanku sebuah keluarga yang utuh.”
Pada kesempatan kali ini, Ben menatap Berly yang tengah bergabung bersama Victor dan Bella. Rose jadi mengikuti tatapan penuh kasih suaminya.
Ketiganya saling melempar senyum di bibir, serta melimpahkan cinta di mata. Sehingga memenuhi hati dengan perasaan penuh cinta kasih.
Bella dan Anggie, menitihkan air mata tanpa mereka sadari. Keduanya, sebagai sahabat wanita yang menjadi saksi dari berlikunya jalan cinta yang Ben dan Rose, nampak terharu atas pencapaian penuh perjuangan ini.
Jangan tanya Rose!
Tentu saja, dia adalah orang pertama yang terharu dan sedih mendengar penuturan sang suami. Semua kenangan mereka, dari yang manis sampai yang paling pahit pun jadi terkenang kembali.
Sambil menyeka air mata di ujung mata, Rose maju sampai berada di hadapan Ben. Menempatkan telapak tangan kanan di pipi, lalu mendekatkan mic-nya ke bibir.
Sekarang, gilirannya bicara!
“Aku cuma mau bilang…, terima kasih karena kau tetap hidup dan selalu menyimpanku di dalam hati. Terima kasih karena terus mencintaiku!”
Tutur kata tulus itu pun ditutup dengan tatapan penuh cinta. Dari keduanya.
“Cium! Cium! Cium….” Semua orang pun berteriak penuh semangat.
Sebenarnya, tanpa perlu aba-aba dari para tamu yang datang. Dua sejoli itu memang sudah siap untuk saling menyerang.
Menutup pernyataan cinta mereka dengan sebenar-benarnya. Dengan sebuah tautan indah, pengecapan manis nan romantis dari bibir pasangan suami istri itu.
Ada yang bersorak girang. Ada juga yang masih tersenyum haru menatap keduanya. Ada juga yang mendadak diliputi perasaan menyesal dan rasa bersalah.
Dia adalah Della!
Jika tidak tahu bahwa Ben adalah suadara kembarnya, mungkin saat ini dia sudah murka luar biasa. Namun, karena sudah mengetahui kenyataannya, kini Della merasa sangat menyesal.
Menyesal karena telah memisahkan sebuah bentuk cinta sejati yang nyata. Yang ingin sekali dilihatnya dan ingin ia punya.
Emilio pun ditatapnya dari samping. Lalu menatap perutnya yang sudah mulai buncit. Kemudian, wanita itu mengusap lembut perutnya. Di sana, calon bayinya pasti sedang tumbuh dan berkembang.
Sambil tersenyum dan memandang sebentar ke arah Emilio, Della berharap, ia pun bisa memiliki cinta sejati. Sama seperti saudara kembarnya.
Emilio tahu bahwa dirinya diperhatikan. Lelaki itu lantas merangkul sosok yang kini sudah resmi jadi istrinya. Lalu menghadap ke depan lagi, tetapi keduanya tersenyum diam-diam.
Ada pun sosok Felipe yang tak henti-hentinya menyeka pelupuk mata. Penuh haru dan kebahagiaan setiap sudut hatinya, saat ini.
Tidak hanya menemukan sang putra yang telah lama menghilang. Tetapi, ia bahkan bisa menyaksikan hari bahagia dan menjadi saksi momen sakral tersebut.
Langit pun ditatapnya, berharap sang istri yang entah sekarang berada di mana, bisa melihat momen bahagia ini juga.
“Ayah!” gumam Rose senang saat dilihatnya sosok Tuan Benneth telah berdiri di samping sang kakak. Lalu, mengangguk ke arahnya sambil tersenyum.
Seolah, itu adalah ucapan selamat dalam diam.
Rose melihat, tidak ada ibu dan saudara tirinya di sisi sang ayah. Namun, ia juga tak peduli. Yang terpenting adalah kehadiran ayahnya di sana. Di momen bahagianya. Ia pun membalas anggukan sang ayah.
Di sisinya, tatapan Ben bersirobok dengan tatapan Ana. Cinta pertama yang juga merupakan keluarga baginya juga. Seorang adik yang selalu ia sayangi dan ia jaga.
Keduanya pun saling lempar senyum. Ben kemudian mengenang, saat pernikahan Ana dulu, ia yang mendapat lemparan bunga.
Pun, seperti adiknya itu berharap dan berdoa supaya ia juga bisa memiliki sebuah cinta.
Kini, semua itu terwujud. Ben telah mendapat dan memiliki apa yang Ana harapkan. Wanita cantik itu pun saling memandang dengan suaminya, lantas mengedip pelan seraya menganggukkan kepala.
Bersama sosok suami yang Ben kenal juga. Yang dulu pernah jadi rivalnya dalam mendapatkan Ana. Pasangan suami istri itu nampak memberi ucapan selamat, lewat tatapan mata mereka yang tulus.
Ben mengangguk, membalasnya dengan senyum tipis. Padahal sebenarnya, dalam hati ia benar-benar berterima kasih. Berkat doa dan harapan mereka, Ben kini bisa memiliki kebahagiaan.
Kini, adalah saatnya melempar bunga.
Semua yang hadir telah bersiap di sisi panggung sebelah kiri. Bahkan, anak-anak pun tak ketinggalan ingin mengikutinya. Termasuk Berly. Anak dari pasangan pengantin itu sendiri.
“Siap-siap, ya! Aku akan melempar bunganya!” seru Rose yang sudah berbalik dan membelakangi mereka semua.
Di bawah panggung, mereka mengangkat tangan tinggi-tinggi. Siap menerima lemparan bunga dari sang mempelai wanita.
“Kalau begitu, aku yang akan memberi aba-aba!” Ben mengambil alih instruksi. “Siap-siap! Satu…, dua…, tiga!” Diakhiri dengan seruan yang begitu kencang.
Akan tetapi, apa yang dilakukan si mempelai wanita adalah, membalikkan badan, turun panggung lalu berjalan ke arah seseorang. Ben mengikutinya dari belakang.
Semua orang lantas mundur dan memberi jalan. Ke mana Rose akan memberikan bunga di tangan.
“Ini, Anggie! Untukmu!”
Siapa sangka, yang diberikan bunga itu adalah sahabatnya sendiri.
Anggie masih begitu terkejut dan tak percaya. Ia menerima sodoran bunga dari Rose, tetapi sebelah tangan menutup mulutnya yang masih menganga.
Lalu tiba-tiba, seseorang lagi sudah berlutut di hadapannya. Tidak hanya Anggie yang terkejut, tetapi semua yang hadir di sana.
Ternyata, bukan hanya sebuah acara pernikahan. Tetapi, ada sebuah lamaran romantis di dalamnya.
Ben dan Rose lantas saling merangkul dan memandang. Keduanya tersenyum penuh makna.
Jika diingat lagi, kertas yang diberikan Ben pada Rose sebelum acara pernikahan mereka dimulai, sebenarnya adalah sebuah misi.
Misi untuk menyatukan Anggie dan Relly.
“Anggie! Di hadapan semua orang aku bertanya…, maukah kau menikah denganku?” Disodorkan Relly sebuah kotak beludru hitam dan sebuah cincin berlian bertahta di sana.
Anggie yang masih membungkam mulutnya pun menganggukkan kepala. Tanpa suara, hanya tangis bahagia yang pecah lalu meluruhkan air mata. Wanita itu semakin membekap bibir yang hendak meloloskan suara tangis.
Spontan saja, Relly bangkit lalu memeluk kekasihnya yang mulai berlinang air mata. Asisten dari Ben itu, lantas berseru kencang sembari meninju udara dengan perasaan girang.
“Yes! Aku diterima!” Lalu, bicara pada Ben dan Rose secara bergantian. “Tuan, aku diterima! Nona, aku diterima!”
Kegembiraan terus berlanjut sampai Relly memakaikan cincin pada jari manis tangan kiri Anggie. Semua orang lantas bertepuk tangan sembari menyelamati mereka berdua.
Anggie dan Rose saling berpelukan. Begitu juga Ben dan Relly. Mereka yang biasanya hidup sendiri, siapa sangka akan memiliki teman untuk menjalani hidup sampai mati.
Pada hari itu, kebahagiaan nyatanya bukan hanya milik Ben dan Rose saja. Melainkan bagi semua orang yang hadir di sana.
Sepasang kekasih yang menyatukan cinta dalam ikatan pernikahan, nyatanya tengah membagi-bagikan kebahagiaan mereka untuk dirasakan dan direngkuh oleh semua orang.
Berly, si anak perempuan menelusup di antara kedua orang tuanya. Ben dan Rose kemudian saling berpandangan dan tertawa kecil.
Lelaki dengan topi koboi itu pun menggendong putri kecilnya yang cantik. Lantas, si mutiara hijau, Berly, mendapat dua buah kecupan manis dari mama dan papanya. Ben dan Rose, yang akan selalu melimpahkan cinta dan kasih sayang. Juga, pada adik-adiknya. Kelak.
Cinta, setiap manusia pasti memiliki perjalanannya sendiri. Jatuh bangunnya mereka punya cerita sendiri.
Hanya saja, setiap manusia harus percaya, bahwa cinta sejati pasti akan datang dan memberikan kebahagiaan. Entah itu cepat, atau lambat. Setiap manusia hanya harus percaya.
TAMAT
Nah, akhirnya selesai juga cerita ini setelah melewati belasan purnama, wkwkwkwkwk
author ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih untuk semua teman dan kakak-kakak sekalian yang masih setia menunggu cerita perjalanan cintanya ben dan rose.
maafkan author atas banyaknya kekurangan pada cerita ini, dan tentunya waktu terbir yang selalu molor,, xixixi (kalau soal ini aku bener-bener minta maaf, ya)
semoga teman-teman sehat selalu, supaya bisa mendukung cerita-ceritaku yang lain,, hehe
keep strong and healthy ya semua...
love you as always,,, saranghae