Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Paska rusuh



Kejadian tengah malam tadi, menyisakan kekacauan yang tidak


sedikit. Ada beberapa korban terluka juga, namun beruntunglah tidak sampai


memakan korban jiwa. Mereka yang terluka kebanyakan akibat terkena tembakan Ben


yang tidak tentu arah. Sebagian lagi, luka-luka karena saling tubruk, ketika


berusaha mengamankan diri.


Amukan Ben yang juga sampai merusak fisik bangunan. Selain


ruangan Ben yang pintunya rusak karena dijebol olehnya sendiri. Lapangan itu


kini memiliki banyak lubang, dua lampu sorot yang berdiri di pinggir lapangan


pun dibuat tumbang. Beberapa pintu kamar di bangunan seberang juga tak luput


jadi sasaran.


Pertama kali, dalam sejarah panjang Harimau Putih, masalah


yang kelompok itu miliki benar-benar merusak solidaritas dan loyalitas


anggotanya. Mereka jadi saling mencurigai. Parahnya… sampai menuduh orang yang


belum tentu bersalah.


Entahlah… Relly seperti kehabisan kata-kata untuk


menggambarkan semua yang terjadi. Kenapa anak buahnya itu sampai kehilangan


akal dan memilih untuk mempercayai semua omong kosong yang belum terbukti.


Pria itu, saat ini tengah berada di lapangan tembak, tempat


evakuasi semua rekan, berikut para korban yang terluka. Mereka semua


ditempatkan di sana untuk sementara waktu.


Sampai hampir subuh ini, bosnya, orang yang telah membuat


kekacauan ini, masih belum juga sadarkan diri. Ben masih terbaring, memejamkan


mata dengan nyaman di kamar Rose. Sebab wanita itu yang memintanya.


Biarkan orang-orang memperbaiki pintu ruangan Ben yang


rusak. Sementara Rose bisa merawat bosnya itu dengan leluasa.


Relly memikirkan apa yang Rose katakan kepadanya ketika


kekacauan itu terjadi. Dia adalah asisten Ben. Orang yang paling bosnya itu


percayai. Maka saat ini, ketika bosnya itu tidak ada dan tidak berdaya, dialah


yang harus mengemban tanggung jawab untuk membereskan semua kekacauan yang ada.


Relly bangun dari lamunannya. Berdiri tegap sambil menyapu


pandangannya pada semua orang. Anak buahnya itu ada yang terluka, ada juga yang


sedang merawat luka rekannya. Ini adalah kejadian terparah yang pernah dia


alami sepanjang hidup bergabung dengan Harimau Putih.


Masalah datang bertubi-tubi, sedangkan tak satu pun solusi


mereka temukan.


Diembuskan napasnya yang berat bersama beban dan pikiran


yang bergelayut di dalam diri. Sambil mengatur strategi dan rencana untuk


memperbaiki semua ini.


Termasuk… reputasi Rose yang dirusak akibat picisan kosong


dari mulut kotor anak buahnya. . Relly pun angkat kaki dari sana.


Di lain sisi di markas itu,


Waktu bagi mereka seakan sangat berharga. Sampai tidak ada


waktu untuk beristirahat sedikit pun untuk beristirahat. Bukan atas perintah


siapa pun. Melainkan atas inisiatif mereka sendiri, pintu rusak Ben juga kaca


jendeka yang berlubang lekas diperbaiki.


Rose yang berada di ruangan sebelah pun tidak dapat mencegah


keinginan mereka. Sebab mereka pun ingin segera menyelesaikan masalah yang


lainnya setelah ini. Masalah gudang logistik dan masalah penyusup harus segera


ditangani.


Sebab bos besar yang biasanya menjadi otak perancang rencana


saat ini sedang tidak sadarkan diri. Sedangkan masalah sudah jadi sebesar ini.


Sudah pasti, ada pengkhianat yang bergelung di dalam selimut


solidaritas mereka. Makanya mereka harus segera bergerak tanpa menunda-nunda


lagi.


Lalu… yang wanita itu bisa lakukan saat ini hanyalah


memandangi wajah kekasihnya. Ben yang terpejam matanya dengan wajah damai.


Sangat kontras dengan sangar dan seram ekspresi yang dia miliki ketika tengah


malam tadi.


“Ben…,” seru Rose pelan sambil mengusap pipi dan rahangnya


yang kokoh.


Pria itu seakan sedang berdamai dengan alam bawah sadarnya


tanda-tanda untuk segera bangun.


Padahal Rose tahu, jika pria itu adalah orang yang sangat


waspada. Biasanya, dalam keadaan normal, Ben sudah pasti akan segera membuka


mata ketika mendapatkan sebuah pergerakkan halus sekali pun.


Tapi saat ini, pria itu seperti tak peduli, mau Rose


mengelus atau pun memukulnya, dia tetap ingin memejamkan mata.


Sejak awal, Rose tak bergeming, dan terus menjaga Ben di


sisinya. Dia duduk di pinggiran ranjang, menyamping menghadap ke arah wajah


tampan Ben. Segera dia membalikkan badan, membelakangi Ben di tempat tidurnya.


Rose sudah tidak tahan lagi. Dia tidak tahan dengan semua


perasaan yang dimilikinya saat ini. Tangis Rose pecah, di dalam tangkupan kedua


tangannya di wajah. Bulir kristal bening yang menggenang dan tertahan sejak


tadi pun, perlahan tumpah.


Sakit. Pilu. Terluka. Sedih dan khawatir menjadi satu di


dalam hati. Semua hal menyakitkan itu menganak sungai di pipinya. Membasahi,


membanjiri wajahnya yang kusam akibat kekacauan malam tadi. Rose sampai belum


sempat membersihkan diri, saking dia bergelut dengan perasaannya sendiri sejak


tadi.


Semua ketegaran dan keberanian yang ia tunjukkan pada semua


orang sebenarnya hanya topeng belaka. Sebab ini adalah percobaan pertamanya


menghadapi masalah dengan cara berpura-pura terlihat kuat.


Tapi apa dia punya pilihan lain? Apa ada cara selain dia


berpura-pura begitu?


Karena… jika dia tidak pura-pura begitu, semua orang akan


makin menginjaknya. Mereka akan mengatakan jika dirinya hanya bisa berlindung


di balik Ben saja.


Sudah begitu, mereka tidak akan bisa menemukan cara untuk


menangani Ben yang murka. Jika Rose hanya berdiam diri saja.


Pada dasarnya, dia adalah seorang wanita biasa. Semua hal


yang terjadi menimpanya tidak mudah untuk ia terima dan ia hadapi begitu saja.


Masalah pertama, dan yang paling pelik ia rasa. Belum tentu semua orang dapat


menghadapinya.


Siapa? Wanita mana yang tidak terluka dan sakit hati sampai


dihina seperti itu di depan banyak orang? Terlebih dia juga punya pengalaman


dan trauma pahit masa lalu. Sudah bagus dia tidak gemetar ketika menghadapi


semua itu sendirian.


“Ben! Ku mohon, bangunlah! Aku membutuhkan dirimu saat ini,”


ucapnya di tengah tangis pilu itu.


Meski tak memandang wajah kekasihnya, Rose tetap menaruh


banyak harap pada tuan seramnya itu.


Rose terluka, jelas! Tapi yang paling dia khawatirkan saat


ini adalah bagaimana nanti.


Bagaimana jika setelah Ben bangun nanti, semua orang akan


menyalahkannya?! Akan menuntut kekasihnya itu untuk semua kerusakan dan korban.


Atau yang lebih parahnya lagi, mereka berdua bisa sampai diusir dari sini


karena masalah ini terkait dengan dirinya juga.


Rose tidak tahu harus bagaimana. Rose kebingungan saat ini.


Baiklah! Tidak apa-apa jika dia yang diusir, tapi bagaimana


dengan Ben? Bagaimana dengan pria itu?


Dia adalah pemimpin di sini. Dia adalah ketua geng mafia


besar ini. Harga dirinya pasti akan sangat terluka. Dan Rose juga tidak mau


melihat, jika sampai lelakinya itu mau menundukkan diri di depan mereka semua.


Sebab, bagaimana pun juga, semua ini terjadi juga karena


mulut laknat mereka.


Mengingat hal itu, Rose jadi geram, dia marah. Tapi harus


bagaimana dia membalas mereka semua dengan cara yang… elegan.


Tok! Tok! Tok!


Di tengah isak tangis yang belum juga usai, suara  ketukan pintu memanggilnya.


Bersambung…