
Kejadian tengah malam tadi, menyisakan kekacauan yang tidak
sedikit. Ada beberapa korban terluka juga, namun beruntunglah tidak sampai
memakan korban jiwa. Mereka yang terluka kebanyakan akibat terkena tembakan Ben
yang tidak tentu arah. Sebagian lagi, luka-luka karena saling tubruk, ketika
berusaha mengamankan diri.
Amukan Ben yang juga sampai merusak fisik bangunan. Selain
ruangan Ben yang pintunya rusak karena dijebol olehnya sendiri. Lapangan itu
kini memiliki banyak lubang, dua lampu sorot yang berdiri di pinggir lapangan
pun dibuat tumbang. Beberapa pintu kamar di bangunan seberang juga tak luput
jadi sasaran.
Pertama kali, dalam sejarah panjang Harimau Putih, masalah
yang kelompok itu miliki benar-benar merusak solidaritas dan loyalitas
anggotanya. Mereka jadi saling mencurigai. Parahnya… sampai menuduh orang yang
belum tentu bersalah.
Entahlah… Relly seperti kehabisan kata-kata untuk
menggambarkan semua yang terjadi. Kenapa anak buahnya itu sampai kehilangan
akal dan memilih untuk mempercayai semua omong kosong yang belum terbukti.
Pria itu, saat ini tengah berada di lapangan tembak, tempat
evakuasi semua rekan, berikut para korban yang terluka. Mereka semua
ditempatkan di sana untuk sementara waktu.
Sampai hampir subuh ini, bosnya, orang yang telah membuat
kekacauan ini, masih belum juga sadarkan diri. Ben masih terbaring, memejamkan
mata dengan nyaman di kamar Rose. Sebab wanita itu yang memintanya.
Biarkan orang-orang memperbaiki pintu ruangan Ben yang
rusak. Sementara Rose bisa merawat bosnya itu dengan leluasa.
Relly memikirkan apa yang Rose katakan kepadanya ketika
kekacauan itu terjadi. Dia adalah asisten Ben. Orang yang paling bosnya itu
percayai. Maka saat ini, ketika bosnya itu tidak ada dan tidak berdaya, dialah
yang harus mengemban tanggung jawab untuk membereskan semua kekacauan yang ada.
Relly bangun dari lamunannya. Berdiri tegap sambil menyapu
pandangannya pada semua orang. Anak buahnya itu ada yang terluka, ada juga yang
sedang merawat luka rekannya. Ini adalah kejadian terparah yang pernah dia
alami sepanjang hidup bergabung dengan Harimau Putih.
Masalah datang bertubi-tubi, sedangkan tak satu pun solusi
mereka temukan.
Diembuskan napasnya yang berat bersama beban dan pikiran
yang bergelayut di dalam diri. Sambil mengatur strategi dan rencana untuk
memperbaiki semua ini.
Termasuk… reputasi Rose yang dirusak akibat picisan kosong
dari mulut kotor anak buahnya. . Relly pun angkat kaki dari sana.
Di lain sisi di markas itu,
Waktu bagi mereka seakan sangat berharga. Sampai tidak ada
waktu untuk beristirahat sedikit pun untuk beristirahat. Bukan atas perintah
siapa pun. Melainkan atas inisiatif mereka sendiri, pintu rusak Ben juga kaca
jendeka yang berlubang lekas diperbaiki.
Rose yang berada di ruangan sebelah pun tidak dapat mencegah
keinginan mereka. Sebab mereka pun ingin segera menyelesaikan masalah yang
lainnya setelah ini. Masalah gudang logistik dan masalah penyusup harus segera
ditangani.
Sebab bos besar yang biasanya menjadi otak perancang rencana
saat ini sedang tidak sadarkan diri. Sedangkan masalah sudah jadi sebesar ini.
Sudah pasti, ada pengkhianat yang bergelung di dalam selimut
solidaritas mereka. Makanya mereka harus segera bergerak tanpa menunda-nunda
lagi.
Lalu… yang wanita itu bisa lakukan saat ini hanyalah
memandangi wajah kekasihnya. Ben yang terpejam matanya dengan wajah damai.
Sangat kontras dengan sangar dan seram ekspresi yang dia miliki ketika tengah
malam tadi.
“Ben…,” seru Rose pelan sambil mengusap pipi dan rahangnya
yang kokoh.
Pria itu seakan sedang berdamai dengan alam bawah sadarnya
tanda-tanda untuk segera bangun.
Padahal Rose tahu, jika pria itu adalah orang yang sangat
waspada. Biasanya, dalam keadaan normal, Ben sudah pasti akan segera membuka
mata ketika mendapatkan sebuah pergerakkan halus sekali pun.
Tapi saat ini, pria itu seperti tak peduli, mau Rose
mengelus atau pun memukulnya, dia tetap ingin memejamkan mata.
Sejak awal, Rose tak bergeming, dan terus menjaga Ben di
sisinya. Dia duduk di pinggiran ranjang, menyamping menghadap ke arah wajah
tampan Ben. Segera dia membalikkan badan, membelakangi Ben di tempat tidurnya.
Rose sudah tidak tahan lagi. Dia tidak tahan dengan semua
perasaan yang dimilikinya saat ini. Tangis Rose pecah, di dalam tangkupan kedua
tangannya di wajah. Bulir kristal bening yang menggenang dan tertahan sejak
tadi pun, perlahan tumpah.
Sakit. Pilu. Terluka. Sedih dan khawatir menjadi satu di
dalam hati. Semua hal menyakitkan itu menganak sungai di pipinya. Membasahi,
membanjiri wajahnya yang kusam akibat kekacauan malam tadi. Rose sampai belum
sempat membersihkan diri, saking dia bergelut dengan perasaannya sendiri sejak
tadi.
Semua ketegaran dan keberanian yang ia tunjukkan pada semua
orang sebenarnya hanya topeng belaka. Sebab ini adalah percobaan pertamanya
menghadapi masalah dengan cara berpura-pura terlihat kuat.
Tapi apa dia punya pilihan lain? Apa ada cara selain dia
berpura-pura begitu?
Karena… jika dia tidak pura-pura begitu, semua orang akan
makin menginjaknya. Mereka akan mengatakan jika dirinya hanya bisa berlindung
di balik Ben saja.
Sudah begitu, mereka tidak akan bisa menemukan cara untuk
menangani Ben yang murka. Jika Rose hanya berdiam diri saja.
Pada dasarnya, dia adalah seorang wanita biasa. Semua hal
yang terjadi menimpanya tidak mudah untuk ia terima dan ia hadapi begitu saja.
Masalah pertama, dan yang paling pelik ia rasa. Belum tentu semua orang dapat
menghadapinya.
Siapa? Wanita mana yang tidak terluka dan sakit hati sampai
dihina seperti itu di depan banyak orang? Terlebih dia juga punya pengalaman
dan trauma pahit masa lalu. Sudah bagus dia tidak gemetar ketika menghadapi
semua itu sendirian.
“Ben! Ku mohon, bangunlah! Aku membutuhkan dirimu saat ini,”
ucapnya di tengah tangis pilu itu.
Meski tak memandang wajah kekasihnya, Rose tetap menaruh
banyak harap pada tuan seramnya itu.
Rose terluka, jelas! Tapi yang paling dia khawatirkan saat
ini adalah bagaimana nanti.
Bagaimana jika setelah Ben bangun nanti, semua orang akan
menyalahkannya?! Akan menuntut kekasihnya itu untuk semua kerusakan dan korban.
Atau yang lebih parahnya lagi, mereka berdua bisa sampai diusir dari sini
karena masalah ini terkait dengan dirinya juga.
Rose tidak tahu harus bagaimana. Rose kebingungan saat ini.
Baiklah! Tidak apa-apa jika dia yang diusir, tapi bagaimana
dengan Ben? Bagaimana dengan pria itu?
Dia adalah pemimpin di sini. Dia adalah ketua geng mafia
besar ini. Harga dirinya pasti akan sangat terluka. Dan Rose juga tidak mau
melihat, jika sampai lelakinya itu mau menundukkan diri di depan mereka semua.
Sebab, bagaimana pun juga, semua ini terjadi juga karena
mulut laknat mereka.
Mengingat hal itu, Rose jadi geram, dia marah. Tapi harus
bagaimana dia membalas mereka semua dengan cara yang… elegan.
Tok! Tok! Tok!
Di tengah isak tangis yang belum juga usai, suara ketukan pintu memanggilnya.
Bersambung…